Pengukuran, Bentuk Pengukuran, dan Skala Pengukuran dalam Pendidikan

Kategori: Pendidikan
Diposting oleh widyastuti pada Kamis, 23 Desember 2010
[3322 Dibaca] [0 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

 PENGUKURAN DAN JENIS INSTRUMEN

Pengukuran dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah measurement merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dalam arti memberi angka terhadap sesuatu yang disebut objek pengukuran atau objek ukur. Mengukur pada hakekatnya adalah pemasangan atau korespondensi 1-1 antara angka yang diberikan dengan fakta dan diberi angka atau diukur. Pengukuran dapat diartikan sebagai proses memasangkan fakta suatu objek dengan satuan-satuan ukuran tertentu.

 

PENGUKURAN DI BIDANG PENDIDIKAN

            Objek-objek pengukuran dalam bidang pendidikan ialah:

1.    Prestasi hasil belajar siswa

2.    Sikap

3.    Motivasi

4.    Intelegensi

5.    Bakat

6.    Kecerdasan emosional

7.    Minat

8.    Kepribadian

Dalam bidang pendidikan, pengukuran memegang peranan yang sangat penting. Data hasil pengukuran dalam bidang pendidikan memiliki arti penting baik bagi sekolah atau lembaga pendidikan, guru maupun bagi siswa dan masyarakat. Bagi guru misalnya hasil pengukuran berfungsi untuk membandingkan tingkat kemampuan siswa dengan siswa-siswa lain dalam kelompok yang diajarnya. Di sekolah  pengukuran dilakukan guru untuk menaksir prestasi siswa. Alat yang digunakan untuk mengukur prestasi siswa pada umumnya  adalah tes yang disebut tes hasil belajar.

 

PENGERTIAN DAN JENIS INSTRUMEN

            Secara umum yang dimaksud instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Pada dasarnya instrumen dapat dibagi dua yaitu tes dan nontes. Yang termasuk kelompok tes adalah tes prestasi belajar, tes intelegensia, tes bakat, dan tes kemampuan akademik, sedangkan yang termasuk dalam kelompok nontes ialah skala sikap, skala penilaian, pedoman observasi pedoman wawancara, angket, pemeriksaan dokumen dan sebagainya.

 

1.    Tes

a.    Pengertian

Secara umum, tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan objek ukur terhadap perangkat konten dan materi tertentu.

b.    Fungsi

Secara umum fungsi tes adalah:

-       Sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa

-       Sebagai motivator  dalam pembelajaran

-       Berfungsi untuk upaya perubahan kualitas pembelajaran

Tes formatif pada dasarnya adalah tes yang bertujuan untuk mendapatkan umpan balik bagi usaha perbaikan kualitas pembelajaran dalam konteks kelas.

-       Dimaksudkan untuk menentukan berhasil atau tidaknya siswa sebagai isyarat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi (tes sumatif)

c.    Penggolongan

Ditinjau dari fungsinya sebagai alat untuk mengukur hasil belajar siswa sebagai efek kegiatan pembelajaran, tes dibedakan menjadi dua golongan yaitu tes awal dan tes akhir. Ditinjau dari aspek psiksis, tes dibedakan menjadi lima golongan:

-       Tes intelegensi, tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk memprediksi tingkat kecerdasan seseorang

-       Tes kemampuan, yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh peserta tes

-       Tes sikap, yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap pre-disposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu respon terhadap objekyang disikapi

-       Tes kepribadian, yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap ciri-ciri khas dari seseorang yang sedikit banyaknya bersifat lahiriah

-       Tes hasil belajar, yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap tingkat pencapaian terhadap tujuan pembelajaran.

Ditinjau dari jumlah peserta yang mengikuti tes, tes dibedakan menjadi tes individual dan tes kelompok. Ditinjau dari waktu yang disediakan bagi peserta tes untuk menjawab butir-butir tes, tes dibedakan menjadi power test dan speed test. Ditinjau dari bentuk respon, tes dibedakan menjadi tes verbal dan tes nonverbal. Ditinjau dari cara mengajukan pertanyaan, tes dibedakan menjadi tes tertulis, tes tidak tertulis, dan tes perbuatan.

 

 

d.    Pengembangan tes sebagai alat evaluasi

Langkah-langkah konstruksi tes:

1)    Menetapkan tujuan tes

2)    Analisis kurikulum

3)    Analisis buku pelajaran dan sumber dari materi belajar lainnya

4)    Membuat kisi-kisi

5)    Penulisan Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

6)    Penulisan soal

7)    Reproduksi tes terbatas

8)    Uji-coba tes

9)    Analisis hasil uji coba

10) Revisi soal

11) Merakit soal menjadi tes

 

2.    Nontes

a.    Pedoman observasi

Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi dapat berbentuk observasi eksperimental yaitu observasi yang dilakukan dalam situasi yang dibuat dan observasi non-eksperimental yaitu observasi yang dilakukan dalam situasi yang wajar.

b.    Pedoman wawancara

Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan tanya jawab baik secara lisan, sepihak, berhadapan muka, maupun dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Ada dua jenis wawancara,yaitu:

-       Wawancara terpimpin

-       Wawancara tidak terpimpin

c.    Angket

Angket pada umumnya dipergunakan untuk menilai hasil belajar pada ranah afektif. Angket dapat disajikan dalam bentuk pilihan ganda atau bentuk skala sikap.

d.    Pemeriksaan dokumen

Untuk mengukur kemajuan belajar siswa dapat juga dilakukan dengan tanpa pengujian tetapi dengan cara melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen.

SKALA PENGUKURAN

             Skala pengukuran merupakan seperangkat aturan yang diperlukan untuk menghitung kuantitatif data pengukuran dari suatu variabel. Dilihat dari bentuk data yang dihasilkan melalui kegiatan pengukuran, maka skala pengukuran dibagi menjadi:

 

1.    Skala Nominal

Adalah pengelompokkan kejadian atau fenomena ke dalam kelas-kelas atau kategori, sehingga yang masuk dalam satu kelas atau kategori adalah sama dalam hal atribut atau sifatnya. Skala nominal merupakan skala yang paling mudah dilakukan karena hanya menempatkan objek pengukuran dengan cara memberikan nomor urut atau label lain. Contoh skala nominal adalah pemberian label 1 dan 2 untukvariabel jenis kelamin di mana laki-laki diberi label 1 dan perempuan diberi label 2.

 

2.    Skala Ordinal

Pengukuran dengan skala ordinal berasumsi bahwa nilai suatu variabel dapat diurut berdasarkan tingkatan atribut atau sifat yang dimiliki oleh variabel yang ada pada unit operasi. Skala ordinal merupakan skala yang membedakan satu jenis data dengan data yang lain berdasarkan besar-kecilnya, tinggi-rendahnya, baik-buruknya, dan sebagainya.

 

3.    Skala Interval

Skala interval menunjukkan tingkat karakter individu dalam suatu variabel. Skala ini mendeskripsikan perbedaan jarak antara titik-titik angka tertentu dengan nilai interval yang sama untuk setiap angka karena menggunakan unit pengukuran yang konsisten.


4.    Skala Rasio

Skala rasio menunjukkan adanya tingkatan atribut variabel, yakni dengan membandingkan nilainya. Skala rasio memiliki interval yang sama antara satu angka dengan angka lainnya. Contoh skala rasio seperti pengukuran terhadap besarnya gaji pegawai atau karyawan, pengukuran panjang benda, pengukuran intelegensi, dan sebagainya.

 

 BENTUK SKALA PENGUKURAN

             Dilihat dari bentuk instrumen dan pernyataan yang dikembangkan dalam instrumen, skala yang dapat digunakan dalam pengukuran bidang pendidikan yaitu:

1.    Skala Likert

Adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena pendidikan. Contoh: pertanyaan positif diberi skor 5, 4,3, 2, dan 1; pertanyaan negatif diberi skor 1, 2, 3, 4, 5 atau -2, -1, 0, 1, 2. Bentuk jawaban skala Likert ialah sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

2.    Skala Guttman

Yaitu skala yang menginginkan tipe jawaban tegas, seperti jawaban benar-salah, ya-tidak, pernah-tidak pernah, positif-negatif dan seterusnya. Pada skala Guttman hanya ada dua interval yaitu setuju dan tidak setuju. Selain dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda, skala Guttman juga dapat dibuat dalam bentuk daftar checklist.

3.    Semantik differensial

Yaitu skala untuk mengukur sikap yang tersusun dalam satu garis kontinum, dimana jawaban yang sangat positif terletak pada bagian kanan garis, sedangkan jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya.

4.    Rating Scale

Pada rating scale, data yang dihasilkan adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam rating scale, responden akan memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah tersedia. Rating scale dapat digunakan untuk mengukur status sosial ekonomi, pengetahuan, kemampuan dan lain-lain. Yang paling penting dalam rating scale adalah kemampuan menterjemahkan alternatif jawaban yang dipilih responden.

5.    Skala Thurstone

Ialah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai dengan jarak yang sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan variabel yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi pernyataan itu dengan konten atau konstruk variabel yang hendak diukur.

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:


belum ada komentar...


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion