setio

Welcome

Komunitas Blogger Universitas Sriwijaya

PROPSAL PTK IPA SMP

Kategori: PTK IPA SMP
Diposting oleh setio pada Senin, 28 Mei 2012
[715 Dibaca] [4 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

 

 

 

UPAYA    MEMINIMALISASI   MISKONSEPSI   DENGAN    METODE DEMONSTRASI DALAM MATA PELAJARAN FISIKA PADA

POKOK BAHASAN RANGKAIAN LISTRIK DI KELAS IX. 1

SMP NEGERI 24 PALEMBANG

 

 

 

 

 

 

 

OLEH:

SETIOGOHADI, S.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

KOTA PALEMBANG

 2011

 

UPAYA    MEMINIMALISASI   MISKONSEPSI   DENGAN    METODE DEMONSTRASI DALAM MATA PELAJARAN FISIKA PADA

POKOK BAHASAN RANGKAIAN LISTRIK DI KELAS IX. 1

SMP NEGERI 24 PALEMBANG

 

 

 

I.    PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu yang dikembangkan berbasarkan hasil pembinaan manusia berupa gagasan dan konsep tentang alam sekitarnya yang diperoleh dari pengalamam melalui serangkaian proses ilmiah .oleh sebab itu IPA dapat dipandang sebagia program untuk menanamkan dan mengembangkan kettrampilan ,sikap dan nilai ilmiah dapa siswa 

Pengajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencakup bahan kajian bilogi dan fisika, pelajaran IPA di SD dan merupakan dasar untuk memperlajari IPA ditingkat SMU. Tujuan pembelajaran fisika dalam garis-garis besar prorgam pengejaran  di SMP ialah “Siswa mampu mengusasi konsep-konsep yang saling keterkaitannya serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga lebih menyadari Keagungan Tuhan Yang Mahasa Esa” (Depdikbud, 1994:2). Menurut hasil pengamatan Zamzuri (1990) masih banyak ditemukaan keslahan-kesalahan konsep dasar fisika untuk materi pelajaran kelas IX, untuk itu perlu diadakan perbaikan-perbaikan atau upaya-upaya menghindari kesalahan konsep. Menurut beberapa pakar pendidikan, kenyataannya telah lama masyarakat tidak puas akan hasil pendidikan pengajaran fisika di sekolah sejak dari dasar sampai perguruan tinggi, kemampuan siswa belum memadai, karena pelajaran fisika dirasakan pelajaran yang sangat sulit (herman, 1989:208).

Daya serap pelajaran fisika hanya berkisar antara 34% sampai 35% (Mawardi, 1980:2), hal ini merupakan angka terendah dari seluruh mata pelajaran di SMP kelas IX. Kurangnya tingkat keberhasilan penguasaan materi menunjukkan bahwa konsep-konsep dasar fisika kurang dipahami oleh siswa. Dalam buku pedoman pelaksanaan belajar mengajar kurikulum SMP 1994 (depdikbud, 1994:37) dikemukakan bahwa seorang siswa telah tuntas atau berhasil belajarnya jika mencapai tingkat penguasaan materi pelajaran sebesar 65% atau lebih. Namun Dua dalam pelajaran fisika, karena yang kurang memadai, sehingga guru dalam menyajikan materi pelajaran yang seharunya menggunakan metode demonstrasi hanya dapat dilaksanakan dengan metode ceramah. Akibatnya siswa kurang memahami materi pelajaran fisika dan sering terjadinya kesalahan konspe pada siswa.

Menurut Berg dalam Lukman (1988:73), catat konsep disebabkan adanya pertentangan antara instuisi siswa dan ilmu fisika yang ia kuasai yang terpadu sangat kompleks. Berdasarkan hal tersebut penulis terpanggil untuk melakukan penelitian ini, sebab kesalahan konsep ini sifatnya lama dan sulit untuk diperbaiki, untuk itulah perlu suatu upaya untuk mengatasinya, agar terjadinya kesalahan-kesalahan konsep tidak berlanjut secara terus menerus.

Sehubungan dengan uraian tersebut di atas, maka penulis melakukan penelitian di SMP Negeri 24 Palembang guna mengatasi kesalahan konsep siswa terhadap bahan ajar fisika dengan mengembangkan pengajaran melalui metode demonstrasi dengan cara memanfaatkan sarana laboraturium sebagai alat demonstrasi yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

 

1.2    Ruang Lingkup Masalah

Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah dengan metode demonstrasi dapat meminimalisasi miskonsepsi yang dialami oleh siswa kelas IX. 1 SMP Negeri 24 Palembang ?

            Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah miskonsepsi pada mata pelajaran fisika dalam pokok bahasan Rangkaian Listrik kelas IX SMP.

 

1.3    Tujuan dan Manfaat

Sehubungan dengan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian yang hendak dicapai adalah dapat meminimalisasi msikonsepsi yang dialami oleh siswa dengan melaksanakan pengajaran melalui metode demonstrasi, serta menumbuhkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran fisika.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru-guru maupun siswa SMP Negeri 24 Palembang khususnya tentang usaha meminimalisasi miskonsepsi yang terjadi sehingga tenaga pengajar dapat memberikan penekanan pada bagian yang sering terjadi miskonsepsi agar tidak berlanjut terus.

 

II.            Sajian Definisi            

2.1    Konsep

Menurut psikologi pendidikan, konsep adalah satuan arti yang memiliki sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstrak terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek dapat ditempatkan dalam golongan-golongan tertentu. Menurut Woodroff dalam Amin (1980:14) konsep didefinisikan sebagai ide atau gagasan membuat pengertian terhadap objek-objek benda tersebut. Konsep adalah suatu generalisasi ide abstrak dari pengalaman-pengalaman tertentu Robret dalam Hamalik (1990:198). Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembentukan suatu konsep akan diperoleh objek, pengalaman, generalisasi dan abstraksi. Hal ini sesuai dnegan yang diungkapkan oleh Sund dalam Hamalik (1990:199) pembentukan konsep diperlukan objek, penginderaan dan kesadaran persepsi yang seterusnya secara berulang diperoleh pengertian konsep, jadi pembentukan konsep dimulai dari pengalaman konkret sampai pada proses mental yang abstrak.

 

2.2   Miskonsepsi

Miskonsepsi adalah kesalahan dalam pemahaman konsep yang tidak sesuai dengan apa yang dipelajari oleh siswa, sehingga siswa membentuk sendiri konsep yang baru (Hamalik, 1990:205). Menurut psikologi pendidikan, miskonsepsi dapat terjadi karena siswa tidak memahami apa yang siswa ketahui sebelumnya, yaitu merupakan suatu bentuk anggapan yang diterima hanya berdasarkan perasaan kata hati saja dan tidak berdasarkan pada kebenaran ilmiah. Umunya siswa lebih percaya dengan kata hati daripada kebenaran ilmiah walaupun telah diberikan penjelasan secara ilmiah melalui pengajaran. Perasaan seperti di atas juga ber[engaruh pada penalaran dalam fisika. Miskonsepsi dalam fisika umumnya dapat terjadi karena ada keselarasan antara pemahaman teori dan eksprimen.

 

2.3   Sebab-sebab terjadi miskonsepsi

Terjadinya miskonsepsi disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

a.       Siswa membentuk sendiri kensepsi dari lingkungan sehari-hari

b.      Dalam menerima apa yang diajarkan oleh guru dan mengakitkan dengan pengetahuan yang telah dimilikinya kemudian siswa membentuk sendiri konsepsinya.

Salah satu dari contoh miskonsepsi itu adalah jika sebuah magnet batang dipotong maka siswa menafsirkan kutub-kutub pada magnet menjadi dua bagian, namun sebaliknya bila magent dipotong akan tetap artinya magnet dalam potongan tadi masih memiliki dua kutub utara dan kutub selatan.

 

2.4   Fisika di Sekolah Menengah Pertama

Mata pelajaran fisika di SMP merupakan perluasan dan pendalaman pelajaran di SD, yang mempelajari perilaku dan energi serta keterkaitan antara konsep dan penerapan dalam kehidupan nyata. Maka pelajaran fisika berfungsi mengembangkan ketrampilan-ketrampilan untuk memperoleh dan menerapakan konsep-konsep fisika, mengembangkan sikap dan nilai, serta mengembangkan kecerdasan dan kreativitas siswa, serta memberikan pengetahuan dasar kepada siswa untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tingi, maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Depdikbud, 1994:2).

Tujuan mata pelajaran fisika di SMP ialah agar siswa menguasai konsep-konsep fisika dan saling keterkaitannya, serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sehingga lebih menyadari kebesaran dan kekuasaan pencipta-Nya (Depdibud, 1994:2). Ruang lingkup mata pelajaran fisika di SMP meliputi konsep-konsep dan sub konsep fisika yang diperoleh dari berbagai kegiatan yang menggunakan ketrampilan proses. Untuk melaksanakan fungsi dan tujuan di atas, syarat utama adalah guru yang profesional agar siswa mencapai tingkat keberhasilan dalam belajar fisika.

 

2.5   Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu para siswa untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang benar. Metode demonstrasi yang dimaksud ialah metode mengajar yang memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu. Proses yang diamati secara kongrit sudah tentu lebih jelas dibandingkan bila dipikirkan secara abstrak. Inilah menyebabkan metode mengajar dengan cara demonstrasi vesar sekali manfaat untuk meningkatkan pemahaman para siswa tentang materi yang dipelajari terutama yang bersifat proses.

Adapun prosedur atau langkah-langkah metode demonstrasi berikut :

a.       Guru menyiapkan segala perlengkapan alat peraga didalam kelas.

b.      Guru menunjukkan materi dan topik yang akan dibahas alat-alat yang akan dipakai untuk didemonstrasikan.

c.       Semua siswa diberi kesempatan bertanya tentang materi, pokok bahasan serta diberi kesempatan untuk membaca.

d.      Guru mulai memperagakan topik yang telah ditentukan, ada kalanya dikerjakan oleh siswa yang menurut guru sudah mampu melaksanakannya. Dalam hal ini guru tetap mengawasi serta mengarahkan bila ada kekeliruan.

e.       Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya, guru menjawab setiap pertanyaan para siswa. Dalam situasi seperti ini ada kalanya terjadi tanya jawab segitiga, yaitu antara guru dengan siswa antara siswa dengan siswa yang lain.

f.       Untuk pertanyaan-pertanyaan yang cukup sukar dan penting guru memberi penjelasan kepada siswa serta dilakukan penekanan konsep pada materi tersebut.

g.      Bila pelu guru memberi contoh lain yang ada kaitannya dengan topik yang baru saja diperagakan.

h.      Sesudah semua jelas bagi siswa, maka guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mecoba melaksanakan demonstrasi sendiri.

i.        Beberapa menit terakhir guru menyimpulkan atau membuat ikhtisar jalannya dikontrol oleh guru.

j.        Setelah umumnya selesai maka guru memberikan evaluasi akhir berdasarkan yang telah dipelajari.

 

III.        Metode Penelitian

 

3.1    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 24 Palembang kelas IX.1 semester gazal tahun pelajaran 2008 – 2009.

 

3.2      Variabel Penelitian

Variabel didalam penelitian ini ada dua, yaitu :

a.       Variabel bebas : Metode mengajar demonstrasi dalam gaya meminimalisasi miskonsepsi pada siswa kelas IX. 1  SMP Negeri 24 Palembang.

b.      Variabel terikat : Kesalahan-kesalahan konsep pada pokok bahasan Rangkaian listrik pada mata pelajaran fisika.

 

3.3    Definisi Operasional Variabel

Utntuk menghindari adanya salah pengertian pada masing-masing variabel, maka didefiniskan sebagai berikut :

a.       Metode mengajar demonstrasi merupakan salah satu upaya meminimalisasi miskonsepsi pada siswa kelas IX.1 SMP Negeri 24 Palembang adalah tindakan dalam proses belajar mengajar dimana untuk mengetahui sejauh mana metode demonstrasi dapat mengurangi gejala miskonsepsi supaya guru dapat melaksanakan metode tersebut serta siswa dituntut untuk melakukan pengamatan dari hasil demontrasi sehingga siswa lebih cepat memahami materi yang disampaikan guru.

b.      Kesalahan-kesalahan konsep tentang pemahaman konsep dasar fisika pada mata pelajaran fisika terutama pada pokok bahasan Rangkaian Listrik di kelas IX.1 yaitu kekeliruan dalam memahami atau menangkap informasi tentang konsep yang pernah mereka perlajari.

 

3.4    Populasi dan Sampel Penelitian

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas III SMP Negeri 24 Palembang tahun ajaran 2008/2009 yang terdiri dari 6 kelas. Sampel penelitian ini diambil hanya kelas IX.1 yang berjumlah 36  orang siswa, dan pengambilan sampel dilakukan berdasarkan undian.

 

3.5    Penyusunan Program Pembelajaran

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Menurut Suparman (1996:5)

Penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara profesional.

 

 

 

Persiapan Penelitian

            Persiapan penelitian ini merupakan tugas wajib guru yang harus ada atau dibuat, baik dengan cara membuat baru atau merevisi dari perangkat pembelajaran yang sudah ada.

            Ada beberapa persiapan yang dilakukan oleh penulis didalam penelitian tindakan kelas ini yaitu.

a.       Menyusun rencana pembelajaran (RP)

b.      Menyusun satuan pembelajaran (SP)

c.       Membuat kisi-kisi soal

d.      Menyiapkan soal-soal tes awal dan tes akhir beserta jawaban dari soal

e.       Menyiapkan peralatan untuk melakukan percobaan dalam metode mengajar demonstaris

3.6    Penyajian Program Pembelajaran

Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan ini dilakukan dalam empat tahap, yaitu

1.      Langkah awal

Sebelum memberikan tes awal, penulis terlebih melaksanakan proses belajar mengajar sebanyak dua kali pertemuan dalam satu minggu pada pokok bahasan Rangkaian Listrik.

 

2.      Keadaan awal

Setelah penulis melakukan langkah awal selanjutnya pada keadaan awal, penulis memberikan tes awal dengan menyediakan 10 soal obyektif dilaksanakan pada pertemuan kedua setelah penulis melaksanakan proses belajar mengajar, tujuannya untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesalahan konsep pada siswa di pokok bahasan Rangkaian Listrik dengan cara menghitung nilai rata-rata siswa pada tes awal, dengan menggunakan rumus :

                       M = x 100                          (Suharsini, 1993:89)

Keterangan :

              M    = Nilai rata-rata individu siswa

              x     = Jumlah yang dijawab benar

              N    =  Jumlah soal seluruhnya

 

              Setelah didapat nilai rata-rata masing-masing siswa kemudian dipersentasekan dengan acuan, jika persentasenya diatas 65% maka kelas tersbeut tidak mengalami miskonsepsi, akan tetapi jika didapat persentasi diabwah 65% maka kelas tersebut mengalami miskonsepsi (Depdikbud, 1994). Selanjutnya untuk menguranginya perlu diadakan suatu tindakan.

 

3.      Tindakan tahap I

Setelah penulis menganalisa tahap awal, maka penulis dapat melakukan penekanan konsep pada pokok bahasan yang mengalami miskonsepsi, selanjutnya penulis melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan metode mengajar demonstrasi. Dalam pertemuan pertama kali waktu yang dibutuhkan 2 jam

 

pelajaran, dan sebelum pelajaran dimulai, penulis memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca selama 5 menit.

       Adapun sub pokok bahasan yang akan didemonstrasikan adalah :

1.      Kuat Arus Listrik

2.      Rangkaian Terbuka

3.      Rangkaian Tertutup

4.      Alat Ukur Listrik

Dalam tindakan tahap I ini dilakukan 4 kali peraga yaitu :

a.       Kuat Arus Listrik, yang perlu diamati adalah gejala timbulnya adanya arus listrik melalui alat ukur listrik.

b.      Rangkaian Listrik Terbuka, yang perlu diamati adalah rangkaian terbuka dalam rangkaian listrik  tidak dapat dialiri arus listrik yang ditunjukkan  Amperemeter.

c.       Rangkaian Listrik Tertutup, yang perlu diamati adalah rangkaian tertutup dalam rangkaian listrik   dapat dialiri arus listrik yang ditunjukkan Amperemeter.

d.      Alat Ukur Listrik, yang perlu diamati adalah cara merangkai dan membaca amperemeter dan voltmeter

                 Setelah selesai demonstrasi, selanjutnya dievaluasi melalui tes sebanyak 5 soal essay, kemudian hasilnya dianalisa untuk dilihat peningkatan pemahaman konsep sisa terhadap materi Rangkaian Listrik, dan selanjutnya diambil nilai rata-rata dengan rumus:

           Np =              (Sudjana, 1988:66)

       Keterangan :

       Np = Nilai rata-rata

       n   = Nilai yang diperoleh siswa

       N  = Jumlah skor siswa

       Maka dapat diketahui sejauh mana yang telah dicapai siswa sehingga dapat ditarik kesimpulan tentang ketuntasannya. Untuk menentukan keberhasilan tahap I, nilai yang diperoleh siswa pada tes tindakan tahap I dibandingkan dengan tes keadaan awal, kemudian diadakan tahap releksi I.

 

4.      Tindakan tahap II

Pertemuan kedua ini penulis membutuhkan waktu 2 jam, adapun sub pokok bahasan yang akan didemonstrasikan adalah :

“Hukum Ohm”.

Dalam tindakan tahap II ini penulis melakukan dua kali peraga :

a.       Membuat rangkaian listrik dengan memasang penghubung beberapa benda, yang perlu diamati siswa keadaan nyala lampu.

b.      Membuat rangkaian listrik seri dan paralel, yang perlu diamati siswa keadaan nyala lampu.

Setelah selesai melakukan tindakan tahap II, maka sama seperti tindakan tahap I, penulis memberikan tes sebanyak 5 soal essay dengan rumusan yang sama pada tindakan tahap I. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dilakukan perbandingan antara hasil tes tindakan tahap II dengan tes pada keadaan awal, kemudian diadakan refleksi tahap II.

 

5.      Keadaan akhir

Untuk mengetahui tindakan I dan tindakan II berhasil atau tidak, maka penulis melakukan tindakan akhir yaitu memberikan tes akhir sebanyak 10 soal obyektif, untuk keadaan akhir penulis tidak menghitung persentase soal, akan tetapi peneliti menghitung nilai rata-rata sehingga dapat dilihat sejauh mana peningkatan nilai yang diperoleh dari keadaan awal kemudian pada tindakan tahap I dan II sampai pada keadaan akhir.

 

3.7 Rencana Tindakan

Penelitian ini direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus, dan mengacu pada penelitian tindakan model Kemmis dan Mc Tagart.  Untuk lebih memperjelas fase-fase dalam penelitian tindakan, siklus sepiralnya dan bagaimana pelaksanaannya seperti pada bagan berikut:

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.8    Data dan Cara Pengumpulannya

Data penelitian tindakan kelas ini terdiri dua, yaitu data hasil pengamatan (observasi) oleh observator dan data hasil tes.

Setelah data hasail tes yang diperlukan terkumpul. Selanjutnya peneliti menganalisa data tersebut dengan cara menggunakan nilai perbandingan yaitu nilai tes tindakan I, nilai tes tindakan II dan nilai tes akhir, terhadap tes awal.

Untuk mencari nilai rata-rata masing-masing tes menggunkan rumus sebagai berikut :

            Z =                                     (Surahmad, 1994:286)

Keterangan :

            Z = Nilai rata-rata

            Y = Total nilai yang diperolah

            N = Sampel yang diteliti

Setelah nilai rata-rata tiap tes dihitung maka untuk menentukan ketuntasan belajar dapat dilihat pada nilai yang dicapai siswa, jika hasil tes telah mencapai nilai rata-rata diatas 6,5 maka penelitian ini dapat dikatakan berhasil.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.9  Jadwal Penelitian

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS TAHUN 2008

 

No

KEGIATAN

JULI

AGUSTUS

SEPTEMBER

KET.

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

1

Persiapan

 

V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Langkah Awal

 

V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Keadaan Awal

 

V

V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Tindakan I

 

 

 

V

V

 

 

 

 

 

 

 

5

Refleksi I

 

 

 

 

V

 

 

 

 

 

 

 

6

Tindakan 2

 

 

 

 

 

V

V

 

 

 

 

 

7

Refleksi 2

 

 

 

 

 

 

V

 

 

 

 

 

8

Keadaan Akhir

 

 

 

 

 

 

V

 

 

 

 

 

9

Pembuatan laopran

 

 

 

 

 

 

 

V

V

 

 

 

10

Pengumpulan Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

 

 

11

Seminar Hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.10  Rencana Anggaran

 

 

1.            BIAYA PERSIAPAN

        Transport Rapat Persiapan              …………………….  Rp.   75.000,-

        Konsumsi rapat                ……………………………………  Rp.   30.000,-

Jumlah Biaya Persiapan                                       Rp.   105.000,-

 

2.            BIAYA OPERSIONAL

Perincian berikut berlaku untuk setiap siklus

1.    Perencanaan Tindakan

        Pembuatan alat-alat penelitian                  ……………  Rp. 190.000,-

        ATK                   ………………………………………………..  Rp. 100.000,-

2.    Biaya Implementasi Tindakan

        Pelaksanaan 2 kali tindakan oleh guru

-  Transport guru 2 @ Rp. 20.000,- …………        Rp.   80.000,-

3.    Biaya Observasi dan evaluasi

Dilakukan oleh tim peneliti

        Transport  2 orang Observer…………………. Rp.   60.000,-

        Transport  2 orang Evaluator                  …………….  Rp.   80.000,-

4.    Biaya Analisis dan Refleksi

        Transport    tabulasi  Data

           3 orang @ Rp. 30.000,-        …………..  Rp.  90.000,-

        Transport  Analisis  Data

3 orang @ Rp. 30.000,-         ……………  Rp.  90.000,-

        Transport  Analisis  Data

3 orang @ Rp. 30.000,-         ……………  Rp.  90.000,-

        Transport   Analisis  Data

3 orang @ Rp. 30.000,-         ……………  Rp.  90.000,-

Jumlah Biaya Pelaksanaan Satu Siklus               Rp. 870.000,-

 

3.            BIAYA PELAPORAN

        Biaya Penulisan draf laporan 4 bab

5 hari x 3 orang @ Rp. 150.000 ……………….  Rp.  450.000,-

        Transport 4 orang Pelatihan PTK        ………… Rp.  200.000,-

        Kontribusi Seminar PTK                ……………………….  Rp.  400.000,-

        Pengadaan naskah laporan untuk

Seminar 25 Eksemplar  …………………………..  Rp.  325.000,-

        Perbaikan draf laporan 2 hari x

3 orang @ Rp. 60.000 …………………………….  Rp.  180.000,-

        Penggandaan   dan   penjilidan

Laporan    ………………………………………………  Rp.  100.000,-

Jumlah biaya pelaporan penelitian               Rp. 1.655.000,-

 

 

 

Jumlah seluruh biaya penelitian

 

  1. Biaya Persiapan   ……………………………………………  Rp.    105.000,-
  2. Biaya Operasional  ………………………………………….  Rp. 1.740.000,-
  3. Biaya Pelaporan  …………………………………………….  Rp. 1.655.000,-

Jumlah          ..……………………………………………   Rp. 3.500.000,-

 (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Ammin, Subakti. 1980. Konsep-konsep Fisika. Klaten: PT Intan Pariwara

 

Arikunto, Suharsmi. 1983. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

 

Depdikbud. 1999. Garis-garis Besar Program Pengajaran. Jakarta: Depdikbud

 

Hendro, Samani. 1986.  Pemahaman Siswa SLTP Tentang Beberapa Konsep Fisika. Jakarta

 

Mikrajuddin. 2002.  IPA Fisika Untuk SLTP Kelas 3. Jakarta: Erlangga

 

Suparman, Suyoto. 1996. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi

 

Zamhuri. 1990.  Kesalahan-kesalahan Tentang Pemahaman Konsep Dasar Fisika.  Surakarta: UNS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

07 Oktober 2012 pukul 13:19 WIB
Martha Ncek Chazali mengatakan...
ajarin ya....biar sy jg bs jd kreative

07 Oktober 2012 pukul 12:40 WIB
Martha Ncek Chazali mengatakan...
Bagus sekali....lengkap dan terperinci...

22 Juli 2012 pukul 12:46 WIB
lastri winarti mengatakan...
terima ksh ...........ptknya................. smile

22 Juli 2012 pukul 12:46 WIB
lastri winarti mengatakan...
terima ksh ...........ptknya................. smile


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion