Guru Sejati

Guru Sejati

 

Guru. Digugu dan ditiru, falsafah ini demikian akrab dalam diri kita. Dan memang semestinya begitu, mengingat seorang murid akan demikian mudah mengidentifikasi segala perilaku dan kebiasaan seorang guru. Guru (guru dirumah/orang tua, guru di sekolah formal maupun non formal) mengemban tugas mulia, yaitu mendidik dan membina para murid untuk menjadi anak-anak yang pandai, bermoral tinggi dan berakhlaq mulia. Sehingga seorang guru bukan hanya bertugas mentransfer ilmu untuk menjadikan murid-muridnya hapal dan mengerti materi pelajaran yang diberikan, namun seorang guru juga harus mampu melakukan transfer nilai untuk menjadikan murid-muridnya insan-insan mulia.

Karenanya, seorang gurupun harus memiliki bekal aqidah yang kuat disamping bekal ilmu yang memadai. Sehingga dia mampu mengintegrasikan segala ilmu yang diajarkan kepada para muridnya dengan kekuasaan dan keesaan Allah. Seorang guru biologi dapat menyadarkan akan ke-Agungan Allah Sang Pencipta, ketika menjelaskan berbagai sistem yang terdapat dalam tubuh manusia. Seorang guru kimia dapat mengantarkan muridnya mengenal kekuasaan Allah ketika menjelaskan berbagai unsur dan hasil reaksinya, seorang guru sejarah dapat menunjukkan kepada para muridnya ibroh (pelajaran berharga) dari peristiwa di masa yang lalu, seorang guru bahasa dapat mengajarkan sopan santun dan tatakrama melalui tatacara berbahasa, dan sebagainya. Hingga murid-murid yang dihasilkan adalah murid-murid yang bukan hanya pandai, namun juga murid yang benar-benar mengenal Robbnya dan berakhlaq mulia.

Guru sejati adalah guru yang senantiasa menimba ilmu, hingga ilmunya senantiasa berkembang dan tidak ketinggalan jaman. Berwawasan luas sesuai dengan tuntutan jaman, dan bijaksana. Guru sejati ibarat orang tua. Karenanya, guru sejati adalah guru yang memperlakukan murid-muridnya bagaikan anak-anaknya sendiri. Selalu menyayangi, melindungi dan menjaga perasaan murid-muridnya. Membangkitkan semangat kepada anak-anak yang kurang pandai, dan membuka kesempatan yang luas bagi anak-anak yang memiliki potensi. Sehingga guru akan bersungguh-sungguh berusaha untuk menjadikan murid-muridnya berhasil dalam belajar dan sukses dalam mengarungi kehidupan.

Rosulullah Muhammad SAW, guru yang paling mulia bersabda: "Aku ini kepadamu semua (yakni para sahabat) tiada lain hanyalah sebagaimana seorang ayah terhadap anaknya” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban). Rasulullah bukan hanya berusaha untuk menjadikan para sahabat dan murid-muridnya menjadi faham akan ajaran Islam yang disampaikannya, namun juga sangat ingin menyelamatkan umat dari siksa api neraka.

Guru sejati adalah seperti seorang pemimpin. Memimpin siswa dengan adil dan bijaksana, mengarahkan kepada kebenaran dan melindunginya dari kemaksiatan. Tidak memberi nilai lebih tinggi kepada anak yang lebih disenangi, dan menilai rendah kepada anak yang kurang disenangi, namun memberi penilaian sesuai dengan kadar prestasi yang dimiliki. Tidak memberi nilai lebih tinggi kepada anak yang rupawan, dan menilai rendah kepada anak yang tidak rupawan. Tidak mengajarkan mencuri jawaban yang bukan miliknya, tidak mengajarkan kebohongan demi menutupi kesalahannya, tidak mengajarkan kecurangan dalam menghitung apapun, tidak mengajarkan perkelahian untuk menyelesaikan masalah, dan tidak mengajarkan kemaksiatan lainnya.

Guru sejati memiliki tujuan Robbani. Berusaha mengantarkan murid-muridnya kepada tujuan agung, melakukan segala perbuatan berdasarkan atas keinginan untuk mencapai ridho Allah, bukan hanya untuk mengejar nilai nominal yang diberikan guru, bukan hanya untuk mendapatkan prestasi tetapi hasil curian, dan bukan hanya untuk mendapatkan ketenaran menjadi anak pintar tetapi hasil menipu orang lain. Sehingga seorang murid akan menjadi sadar, bahwa mencari ilmu bukanlah sekedar untuk memperoleh nilai tinggi, mendapatkan prestasi, dan mendapatkan ketenaran, tetapi mencari ilmu adalah salah satu tugas mulia, amat mulia. Yaitu menunaikan kewajiban agama, “Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan”.

Sehingga seorang guru harus melakukan tugasnya dengan ikhlas dan penuh kesabaran, karena dalam menjalankan tugas akan selalu diwarnai oleh berbagai ujian dan cobaan. Ujian dan cobaan yang seharusnya akan meningkatkan kualitas guru sejati, bukan menimbulkan kekecewaan dan keluhan berkepanjangan. Ingatlah! Ketika akan menjadi guru pun, setiap calon guru harus melewati berbagai macam ujian pendidikan untuk dapat gelar seorang guru. Jadi mana mungkin Allah membiarkan seorang guru hidup lurus-lurus saja tanpa cobaan, padahal mereka dituntut menjadi guru sejati yang memiliki kualitas yang harus lebih dari sebelumnya?

Dan sadarilah wahai para guru, penerus generasi bangsa ini, bangsa Indonesia yang telah merdeka tetapi masih terasa dijajah ini! Kecerdasan pola pikir mereka, siswa-siswi didik itu berada di tangan kita, kita para pendidik yang harus menjadi guru sejati. Karena setiap apapun yang guru lakukan terhadap siswanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Dia yang tidak pernah lalai mengawasi kita di hari akhir kelak. Jangan biarkan semangat guru sejati luntur dari hati kita.   

Rabb, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan pula kepada kami yang bathil itu bathil, dan berikanlah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya. Aamiin. Wallahu 'a’laam bishshowwab.

Inspiration from Ummu Shofi’s article.. ^^

 



PDF | DOC | DOCX

Komentar

 


belum ada komentar...

Kirim Komentar Anda:

Nama : Nama Anda (wajib diisi)
E-Mail : E-Mail (tidak dipublikasikan)
Situs : Website, Blog, Facebook, dll
Komentar :
(wajib diisi)
Verifikasi :
<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion