DUNIA KAMPUS PENJARA BAGI KREATIVITAS

Welcome

Gerakan moral wujud kepedulian akan mekanisme perubahan yang berlarut-larut dalam ketidakpastian. Masyarakat partisipatif adalah wujud dari hilangnya budaya pesimisme dan apatisme

"DISKURSUS METODOLOGI ILMU SOSIAL"

Kategori: Teori Sosiologi
Diposting oleh revolusi_jalanan pada Senin, 05 Juli 2010
[3833 Dibaca] [2 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

Oleh : Abdul Kholek.

                1. Pendahuluan

Perdebatan dan pertanyaan dasar dimanakah posisi ilmu pengetahuan sosial dalam ilmu pengetahuan. Pertanyaan tersebut berkali-kali ditanyakan semenjak ilmu sosial diciptakan. Ahli ilmu sosial klasik seperti Auguste Comte, Emile Durkheim, Karl Marx, John Stuard Mill, dan Max Weber, merenungkan pertanyaan ini. Setelah melalui diskusi dan debat sepanjang dua abad, pertanyaan ini masih menyertai kita hingga saat ini. Sesungguhnya ini tidak memiliki jawaban yang sederhana

Pertanyaan tersebut melahirkan jawaban ganda sehingga dengan kata lain sosiologi merupakan ilmu yang multi paradigma1. Menurut Collin (1989:134) jika debat apakah ilmu sosial merupakan ilmu pengetahuan datang dari definisi yang terlalu kaku dari ilmu pengetahuan. Ia menandai, “Filsafat modern dari ilmu pengetahuan tidak akan menghancurkan ilmu sosiologi, ini tidak menyebutkan jika ilmu pengetahuan itu mustahil tetapi memberikan gambaran yang lebih fleksibel kepada kita apakan ilmu pengetahuan itu”.

Perdebatan atas pertanyaan tersebut di ringkas oleh Couch (1987:106), sebagai berikut :

Posisi ontologi dan epistemologi posisi dari riset berikut, tradisi riset menyediakan landasan salah satu dari pertengkaran pahit dalam sosiologi kentemporer….Tiap sisi mengklaim jika kerangka berpikir yang mereka promosikan menyediakan arti untuk memperoleh pengetahuan tentang ilmu sosial, dan tiap perhatian terhadap upaya yang lainnya merupakan kesesatan terbaik.…Mereka berselisih mengenai fenomena apa yang harus didatangi, bagaimana cara mendekati fenomena, dan bagaimana cara menganalisa fenomena.

Jawaban atas pertanyaan dan perdebatan menganai apa yang ilmiah dari ilmu pengetahuan sosial ?, akan diurai dalam bahasan di bagian kedua.

2. Tiga Pendekatan Ilmu Sosial

Metode seperti apakah yang tepat untuk digunakan dalam ilmu sosial. Pertanyaan dan perdebatan yang sudah cukup lama. Perbedaan persfektif atau sudut pandang melahirkan tiga pendekatan besar dalam ilmu sosial yaitu : Positivisme, Ilmu Pengetahuan Sosial Interpretatif (ISS), dan Ilmu Sosial Kritis (CSS).

Positivisme merupakan pendekatan yang tertua dan paling banyak digunakan. Miller (1987 : 4) seorang filsuf ilmu mengamati, “Positivisme merupakan pandangan filosofis paling umum dalam ilmu pengetahuan. Belum ada alternatif baru yang luasnya sebanding dengan hal tersebut”. Pendekatan interpretatif berdiri di posisi minoritas dalam debat sepanjang abad. Ilmu pengetahuan sosial kritis kurang umum dilihat di jurnal ilmiah.

Untuk menyederhanakan diskusi, mengenai perbedaan ketiga pendekatan tersebut, dapat dilihat dalam beberapa asumsi dan ide dasar dalam setiap pendekatan. Hal ini terangkum dalam delapan pertanyaan berikut :

  1. Kenapa seseorang harus melakukan penelitian ilmu sosial ?

  2. Apa yang menjadi sifat alamiah atau mendasar dari realitas sosial ? (pertanyan ontologis)

  3. Apa sifat alamiah manusia ?

  4. Apa hubungan antara ilmu pengetahuan dan logika ?

  5. Apa yang menjadi sebuah penjelasan atau teori dari realitas sosial ?

  6. Bagaimana seseorang menentukan sebuah penjelasan itu benar atau salah ?

  7. Bagaimana sebuah bukti yang baik atau informasi faktual terlihat ?

  8. Dimana nilai-nilai sosio-politik masuk dalam ilmu ?

Untuk memudahkan dalam melihat perbedaan antara ketiga pendekatan dalam ilmu sosial dapat dilihat dalam Tabel 1. Pebedaaan tiga pendekatan dalam ilmu pengetahuan sosial, berikut ini :

Tabel 1. 

Pebedaaan Tiga Pendekatan dalam Ilmu Pengetahuan Sosial

No

 

Asumsi Dasar

 

Pendekatan Ilmu Pengetahuan Sosial

Positivisme

Interpretatif

Kritik

1

Tujuan penelitian

Orientasi instrumental

Memahami makna tindakan.

Mengubah dunia (emansipatoris)

2

Dasar alamiah realitas sosial

Realitas itu nyata (fakta sosial)

objektif

 

Realitas apa yang dimaknai oleh orang (konstruksi makna) subjektif

Ketegangan, konflik, atau kontradiksi

3

Sifat dasar manusia

Tunduk pada sistem (terpolahkan, terbentuk oleh kekuatan diluar dirinya)

Makluk kreatif, menciptakan sistem yang fleksibel dengan interaksi sosial.

Manusia itu kreatif, dapat berubah, dan adaptif.

4

Hubungan ilmu pengetahuan dan nalar

Pengetahuan superior dan nalar inferior

Sama kedudukan sesuai domainnya masing-masing

Nalar bertendensi menetralkan fenomena sosial. Pengetahuan harus membangun kekritisan.

5

Kedudukan teori

Generasilasi dan hukum umum

Idografis dan induktif (Mendeskripsikan)

Tidak ada pemisahan teori dan praktek.

6

Penjelasan benar atau salah

Berdasarkan Hitungan matematis, atau statistik.

Berdasarkan kedalaman pemahaman yang diabstraksikan

Ketika pendekatan bisa merubah dunia sosial.

7

Pembuktian informasi aktual

Observasi, survey

Interpretasi (verstehen)

Melihat fakta historis, mengadopsi seperangkat nilai, dan relasi sosial.

8

Nilai sosio-politik dalam ilmu pengetahuan

Free value (bebas nilai), tidak berpihak

Tidak bebas nilai

Ilmu pengetahuan adalah kekuatan dalam mengontrol manusia. Berpihak.

   1. Ilmu Pengetahuan Sosial Positivisme

Positivisme berkembang pada abad 19, ketika Sosiolog Perancis, Auguste Comte (1798-1857) menemukan ilmu sosiologi atau dengan nama lain fisika sosial2. Karya utama Comte Course de Philosophie Positivistic (The Course of Positive Philosophy) dalam enam jilid, masih digunakan hingga kini. Filsuf Inggris John Stuart Mill (1830-1873) mengelaborasikan dan memodifikasi sitem tersebut dalam karyanya A Sistem of Logic (1843). Sosiolog klasik Emile Durkheim (1858-1917) mengarisbawahi sebuah versi dari positivisme dalam Rules of The Sociological Metode (1895) karyanya yang kini menjadi teks book kunci untuk para peneliti sosial positivis.

Positivisme diasosiasikan dengan banyak teori sosial spesifik, yang paling terkenal adalah hubungan terhadap struktural-fungsional, pilihan rasional, dan pertukaran kerangka kerja teori. Peneliti positivis memilih data kualitatif yang tepat dan kadang menggunakan eksperimen, survey, dan statistik. Mereka mencari penelitian yang tepat, terperinci, dan “objektif”, dan mereka menguji hipotesa dengan analisa yang hati-hati dari tindakan.Positivisme melihat ilmu sosial sebagai sebuah :

Metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan logika deduktif dengan observasi empiris yang tepat, dari kebiasaan individual dalam rangka untuk menemukan dan mengkonfirmasi sebuah peralatan dari hukum probabilitas yang dapat digunakan untuk memprediksi pola umum dari aktivitas manusia”.

Pertanyaan Dasar :

  1.  Mengapa seseorang harus melakukan penelitian sosial ilmiah ?

Tujuan utama penelitian adalah penjelasan ilmiah, untuk menemukan dan mendokumentasikan hukum universal dari tingkah laku manusia. Jawaban penting lainnya adalah untuk mempelajari bagaimana dunia bekerja sehingga manusia dapat mengontrol atau memprediksikan suatu kejadian. Selain itu orientasi instrumental. Ini adalah sebuah ketertarikan teknis yang berasumsi pengetahuan dapat digunakan sebagai alat atau instrumen untuk memuaskan keinginan manusia dan mengontrol lingkungan fisik dan sosial.

Pandangan ini dirangkum oleh Turner (1985: 39) seorang pembela pendekatan positifisme yang menyatakan jika “Dunia sosial menerima pengembangan hukum abstrak yang dapat diuji melakui koleksi yang berhati-hati terhadap data”. Dan peneliti tersebut perlu untuk “membangun prinsip abstrak dan model mengenai properti konstan dan tidak lekang waktu dari dunia sosial”.

  1. Apa dasar alamiah dari realitas sosial ?

Positivis memiliki pandangan penting bahwa realitas adalah nyata dan ada “di luar sana” serta menunggu untuk ditemukan. Ide ini mencatat jika persepsi manusia dan intelektual mungkin cacat, dan realitas mungkin susah untuk dicocokkan tetapi hal ini nyata. Realitas sosial tidak acak, ia terpola dan memiliki urutan. Ilmu pengetahuan memberikan kesempatan manusia untuk menemukan urutan dan hukum alam.

Menurut Mulkay (1979 : 21), bahwa :

Dasar hukum observational dari ilmu pengetahuan mempertimbangkan untuk menjadi nyata, pokok, dan pasti karena mereka tercipta dari pabrik dunia alam. Menemukan hukum ini seperti menemukan Amerika, dalam hal keduanya menunggu untuk terungkap”.

  1. Apakah dasar sifat manusia ?

Positivisme mempercayai determinasi absolut, dimana manusia mirip seperti robot atau boneka yang harus merespon hal yang sama. Lebih lanjut, hukum penyebab memiliki kemungkinan. Hukum membutuhkan banyak kelompok orang atau terulang di banyak situasi.

Peneliti dapat memperkirakan tingkah laku yang terprediksi. Dengan kata lain, hukum mengijinkan kita untuk membuat prediksi akurat mengenai seberapa sering tingkah laku sosial akan terlihat dalam sebuah grup yang besar. Tingkah laku manusia terpolakan dan terbentuk oleh kekuatan di luar dirinya.

  1. Apa hubungan antara ilmu pengetahuan dan nalar ?

Ilmu pengetahuan mendapatkan pengetahuan dengan cara yang lebih baik, teruji dan akhirnya menggantikan pengetahuan yang inferior (misalnya sihir, agama, astrologi, pengalaman pribadi dan tradisi). Ilmu pengetahuan membawa beberapa ide dari nalar, tapi ini menggantikan bagian dari nalar yang ceroboh, secara logika tidak konsisten, tidak sistematis, dan penuh bias. Dalam ilmu pengetahuan, norma spesial, tingkah laku ilmiah, dan tekniknya, dapat berulangkali menghasilkan “Kebenaran,” dimana nalar tidak begitu jarang dan inkosisten.

  1. Apa yang merupakan sebuah penjelasan atau teori dari realitas sosial ?

Penjelasan ilmu pengetahuan positifis adalah nomothetic (nomos dalam Bahasa Yunani berarti hukum), berdasar pada sebuah sistem hukum keseluruhan. Ilmu pengetahuan menjelaskan kenapa kehidupan sosial adalah sebuah jalan yang sekarang ini menemukan hukum penyebab.

Positivis percaya jika akhirnya hukum dan teori mengenai ilmu sosial akan terlihat dalam sistem simbol formal, dengan aksioma, akibat wajar, dalil, dan teorema-teorema. Suatu hari, teori ilmu pengetahuan sosial akan terlihat sama dengan yang ada dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Pemenang penghargaan Nobel Steven Weinberg (2001:50) mengekspresikan tampilan nomotetis dalam positivisme dan bagaimana hal tersebut dihubungkan dengan pemikiran positivis ketika ia berkata :

Kami berharap jika di masa mendatang kita akan mendapatkan sebuah pemahaman dari semua regularitas yang kita lihat di alam berdasarkan pada beberapa prinsip sederhana, hukum alam, yang mana semua keteraturan bisa disimpulkan. Hukum ini akan menjelaskan prinsip apapun… dapat disimpulkan secara langsung darinya, dan hal tersebut prinsip menyimpulkan secara langsung tersebut dapat disimpulkan darinya, dan seterusnya… Mungkin harapan terbesar kami untuk sebuah penjelasan akhir adalah untuk menemukan seperangkat hukum alam terakhir dan memperlihatkan jika hal tersebut hanyalah konsistensi logis, teori yang kaya… Ini mungkin hanya terjadi dalam satu atau dua abad”

  1. Bagaimana seseorang menentukan kapan sebuah pernyataan itu benar atau salah ?

Positivisme berkembang sebagai ide pencerahan penting bahwa manusia dapat mengenali kebenaran dan membedakan hal tersebut dari kebohongan dengan menerapkan alasan, dan dalam jangka panjang melewati abad, kondisi manusia dapat mempertajam pemikiran mulai penggunaan alasan dan perburuan kebenaran.

Dalam positivisme penjelasan akan sebuah realitas harus menemui dua kondisi : (1) tidak memiliki kontradiksi logis, (2) harus konsisten dengan fakta yang diamati. Hal ini tidak cukup dibutuhkan juga pengulangan. Beberapa peneliti dapat mengulang atau membuat ulang hasil dari penelitian sebelumnya.

  1. Seperti apakah bukti yang baik dan informasi faktual terlihat ?

Positivisme adalah dualisme mengasumsikan jika fakta yang dingin dan dapat diamati secara fundamental dipisahkan dari ide, nilai, dan teori. Fakta empiris berdiri terpisah dari ide personal atau pemikiran. Kita dapat mengobservasi mereka menggunakan organ perasaan kita (penglihatan, bau, dan sentuhan) atau instrumen spesial yang memperpanjang perasaan (seperti teleskop, mikroskop, dan peralatan Geiger).

Penjelasan ilmiah melibatkan akurasi dan ketepatan keterikatan dari fenomena” (Derksen dan Gartrell, 1992: 1714). Pengetahuan dari mengamati realitas yang ada menggunakan perasaan kita lebih superior daripada pengetahuan lain (seperti intitusi, perasaan emosional, dll). Hal ini mengijinkan kita untuk memisahkan kebenaran dari ide keliru mengenai kehidupan sosial.

  1. Di mana nilai sosiopolitik memasuki ilmu pengetahuan ?

Positivis berargumen untuk sebuah ilmu pengetahuan yang bebas nilai yang objektif. Ada dua makna mengenai istilah objektif : observernya menyetujui apa yang mereka lihat dan ilmu pengetahuan tersebut tidak berdasar pada nilai-nilai, opini, sikap, atau kepercayaan. Positivis melihat ilmu pengetahuan sebagai bagian yang spesial dan terpisah dari masyarakat yang bebas dari nilai-nilai personal, politik dan keagamaan.

2. Ilmu Pengetahuan Sosial Interpretatif (ISS)

Pelopor utama Ilmu sosial interpretatif yaitu dari pemikiran Max Weber (1864-1920) dan filsuf Wilhem Dilthey (1833-1911). Dalam karya utamanya, Einlaitung in Die Geisteswissensshaften (Introduction to the Human Sciences) (1883), Dilthey berargumen jika ada dua jenis ilmu pengetahuan yang secara fundamental : Naturwisenschaft dan larung, atau penjelasan abstrak. Dan terakhir berakar pada sebuah pemahaman empatik, atau versehen.

Berikut pernyataan weber mengenai sosiologi interpretatif :

Kita harus mengatakan “aksi sosial” dimana aksi manusia itu secara subyektif berhubungan dalam makna dengan tingkah laku yang lainnya. Tabrakan yang tidak disengaja antara dua siklus sebagai contoh, tidak harus disebut aksi sosial. Tapi kita akan mendefinisikan sebagai sebuah kemungkinan usaha sebelumnya menjauhi satu sama lain… Aksi sosial adalah bukan satu-satunya aksi signifikan untuk penjelasan akibat sosiologis, tapi hal ini merupakan obyek primer untuk sebuah “sosiologi interpretatif.” (Weber, 1981: 159).

Ada beberapa cabang dari ilmu sosial interpretatif (ISS) yaitu hermeunitik, konstruksionisnisme, etnometodologi, kognitif, idealis, fenomenologis, subyektif, dan sosiologi kualitatif. Sebuah pendekatan interpretatif berasosiasi dengan simbol interaksi. Hal ini kadang disebut sebagai metode penelitian kualitatif.

Secara umum, pendekatan interpretatif merupakan :

Analisa sistematis dari aksi makna sosial melalui detail observasi langsung terhadap manusia dalam seting alamiahnya dalam rangka untuk datang pada pemahaman dan interpretasi terhadap bagaimana manusia menciptakan dan menjaga dunia sosialnya”.

Pertanyaan Dasar :

  1. Kenapa seseorang sebaiknya melakukan penelitian ilmiah sosial ?

Tujuan penelitian sosial interpretatif adalah untuk membangun pemahaman kehidupan sosial dan menemukan bagaimana manusia membangun makna di hidup alaminya. Seorang peneliti interpretative ingin belajar mengenai apa yang berarti atau berkaitan dengan orang yang dipelajari, atau bagaimana seseorang mengalami hidup sehari-harinya.

Peneliti melakukan ini dengan mencari tahu sebuah latar sosial khusus dan melihatnya dari sudut pandang orang yang berada didalamnya. Peneliti membagikan perasaan dan interpretasi terhadap orang yang ia pelajari dari sudut pandang objeknya.

Peneliti interpretative mempelajari makna aksi sosial, tidak hanya pengamatan kebiasaan atau lahiriah dari masyarakat. Aksi sosial adalah aksi terhadap orang yang terikat makna subjektif, ini adalah sebuah aktivitas yang memiliki tujuan atau maksud.

  1. Apa dasar sifat realitas sosial ?

Kehidupan sosial ada sebagaimana manusia mengalami dan memberinya makna. Hal tersebut cair dan rapuh. Orang mengkonstruksikan hal tersebut melalui interaksi dengan orang lain di perjalanan proses dari komunikasi dan negosiasi. Mereka beroperasi berdasar asumsi-asumsi yang belum teruji dan diterima begitu saja sebagai pengetahuan mengenai manusia dan peristiwa disekelilingnya.

Pendekatan interpretative menjaga jika kehidupan sosial ini bergantung pada interaksi sosial dan secara sosial dikonstruksikan oleh sistem makna. Orang memiliki sebuah perasaan terhadap realitas pengalaman internal. Perasaan subjektif terhadap realitas ini penting untuk memegang kehidupan sosial manusia.

  1. Apakah dasar dari sifat alami manusia ?

Manusia biasa terlibat dalam proses menciptakan sistem yang fleksibel dari makna melalui interaksi sosial. Mereka kemudian menggunakan makna tersebut untuk menginterpretasikan kehidupan sosial mereka dan membuat rasa dari kehidupan mereka.

Manusia memiliki alasan tersendiri untuk aksi mereka, dan peneliti butuh mempelajari alasan yang digunakan manusia. Motif pribadi penting untuk diperhatikan meski kadang mereka tidak rasional, sangat emosional, dan membawa fakta yang salah dan prasangka.

  1. Apa hubungan antara ilmu pengetahuan dan nalar ?

Sebuah pendekatan interpretatif berkata jika nalar dan hukum positivis merupakan cara alternatif untuk menafsirkan dunia; yang mana, mereka memiliki sistem makna yang berbeda. Nalar maupun hukum ilmiah tidaklah memiliki semua jawaban. Tidak juga inferior ataupun superior satu sama lain. Di sisi lain, peneliti interpretatif melihat masing-masing sama penting dalam domainnya masing-masing; masing-masing diciptakan dalam cara yang berbeda untuk tujuan yang berbeda.

Nalar seseorang dan rasa realitas muncul dari sebuah orientasi pragmatis dan seperangkat asumsi mengenai dunia. Manusia tidak tahu apakah nalar tersebut benar, tapi mereka harus berasumsi jika hal tersebut benar dalam rangka untuk mendapatkan segala hal selesai. Filsuf interpretatif Alferd Schutz (1899-1959), menyebut hal ini sebagai sikap alamiah.

  1. Apa yang merupakan sebuah penjelasan atau teori dari realitas sosial ?

Teori ilmu sosial interpretatif mendeskripsikan dan menginterpretasikan bagaimana seseorang melakukan kehidupan sehari-hari mereka. Hal tersebut termasuk konsep dan generalisasi terbatas, tapi hal tersebut tidak terpisah secara dramatis dari pengalaman dan realitas dalam dari orang yang dipelajari.

Seorang peneliti interpretatif melaporkan mungkin membaca lebih banyak novel atau sebuah biografi daripada sebuah bukti matematis. Hal tersebut kaya dalam deskripsi detail dan kurang dalam abstraksi. Teori melakukan hal ini dengan mengungkapkan makna, nilai, skema interpretatif, dan aturan hidup yang digunakan orang dalam hidup kesehariannya.

  1.  Bagaimana seseorang menentukan sebuah penjelasan itu benar atau salah ?

Dalam ilmu sosial interpretative, sebuah teori adalah benar jika hal itu masuk akal untuk mereka yang dipelajari dan jika mengijinkan orang lain untuk paham secara mendalam atau memasuki realitas dari mereka yang dipelajari. Teori atau deskripsi tersebut akurat jika peneliti menyampaikan sebuah pemahaman mendalam mengenai cara orang lain menjawab, merasakan, dan melihat sesuatu. Smart (1976: 100) membaca ini sebagai postulat kecukupan: 

Postulat kecukupan menegaskan jika sebuah akun ilmiah dari aksi manusia dihadirkan untuk seorang aktor indivisual sebagai sebuah skrip hal ini harus dipahami terhadap aktor tersebut, dapat diterjemahkan dalam aksi oleh aktor dan lebih jauh lebih comprehensif untuk aktor lainnya pada masa sebuah interpretasi nalar dari keseharian hidup”.

  1. Bagaimana sebuah bukti yang baik atau informasi faktual terlihat ?

Ilmu sosial interpretatif melihat fakta sebagai hal yang cair dan melekat pada sebuah sistem makna dalam pendekatan interpretative ; mereka bukanlah bagian tersendiri, obyektif, dan netral. Fakta merupakan aksi konteks spesifik yang tergantung dari interpretasi dari orang-orang tertentu dengan sebuah latar belakang sosial.

Bukti mengenai aksi sosial tidak dapat diisolasi dari konteks di mana hal tersebut terjadi atau makna diserahkan kapadanya oleh aktor sosial yang terlibat. Sebagaimana Weber (1978: 5) berkata, “Empati atau apresiasi akurat tercapai jika melalui partisipasi simpatik, kita dapat menyerahkan menggenggam konteks emosional di mana aksi mengambil tempat.”

  1. Dimana nilai-nilai sosio-politik masuk dalam ilmu ?

Peneliti interpretatif, sebaliknya, berargumen jika peneliti seharusnya berefleksi, menilai kembali, dan menganalisa cara pandang personal dan perasaan sebagai bagian dari proses untuk mempelajari orang lain. Peneliti interpretatif membutuhkan, setidaknya sekali tempo, untuk berempati dengan dan dan berbagi dengan dan berbagi dalam komitmen dan nilai sosial dan politik dari orang yang ia pelajari.

Penelitian interpretatif melihat nilai dan makna ada di mana-mana dalam segala hal. Peneliti interpretatif mendesak untuk membuat nilai eksplisit dan tidak berasumsi jika seseorang menyiapkan sebuah nilai itu lebih baik atau buruk. Aturan paling baik dari peneliti adalah menjadi “partisipan yang penuh ketertarikan” (Guba dan Lincoln, 1994: 115).

 3. Ilmu Pengetahuan Sosial Kritis (CSS)

Pendekatan ini mengadopsi pemikiran, Karl Marx (1818-1883) dan Sigmund Freud (1856-1939), dan dielaborasi oleh Theodor Adorno (1903-1969), Erich Form (1900-1980), dan Herbert Marcuse (1898-1979). CSS juga diasosiasikan dengan teori konflik, analisa feminis, psikoterapi radikal.

Hal ini juga terikat kepada teori kritis yang pertama kali dikembangkan oleh Sekolah Frankfurt di Jerman pada tahun 1930. Ilmu sosial kritis mengkritik ilmu positivisme sebagai hal yang tajam, anti demokratis, dan tidak humanis pada penggunaan alasannya. Hal ini digarisbawahi oleh esai Adorno, “Sociology and Empirical Research” (1976a) dan “The Logic of the Sosial Sciences” (1976b). Perwakilan terkenal dari sekolah tersebut, Jurgen Habermas (1929), mempertajam ilmu sosial kritis dalam bukunya Knowledge and Human Interests (1971).

CSS mendefinisikan ilmu sosial sebagai proses kritis dalam penyelidikan yang pergi dibalik permukaan ilusi untuk membuka struktur nyata dari dunia materia dalam rangka membantu manusia mengubah kondisi dan membangun dunia yang lebih baik untuk dirinya.

Pertanyaan Dasar :

  1. Mengapa seseorang harus menggunakan penelitian sosial ?

Tujuan dari penelitian kritis adalah untuk mengubah dunia. Penelitian kritis memperkenalkan penelitian untuk mengkritik dan mengubah hubungan sosial. Mereka melakukan hal ini dengan cara menampakkan dan menggarisbawahi sumber dari relasi sosial dan pemberdayaan masyarakat, terutama masyarakat yang kurang berdaya.

Tujuan utama penelitian tersebut untuk pemberdayaan. Kincheloe dan Mc Laren (1994: 140) menyatakan:

Penelitian kritis bisa menjadi pemahaman terbaik dalam kontek pemberdayaan individu. Penyelidikan yang bercita-cita terhadap nama kritis harus terhubung dengan sebuah usaha untuk mengkonfrontasi ketidakadilan dalam masyarakat umum atau lingkungan dalam masyarakat. Peneliti kemudian menjadi sebuah usaha keras transformatif yang kemudian tanpa malu-malu dilabeli “politis” dan tidak takut untuk mengkonsusmsi sebuah hubungan dengan kesadaran emansipatoris.

  1.  Apa dasar dari sifat alamiah realitas sosial ?

Dalam CSS, diasumsikan jika realitas sosial selalu berubah dan perubahan tersebut berdasar pada ketegangan, konflik, atau kontradiksi dari relasi sosial atau institusi. Hal tersebut terfokus pada perubahan dan konflik, terutama paradok atau konflik yang ada dalam cara relasi sosial terorganisir. Paradoks tersebut atau konflik internal membutuhkan lebih dari kebenaran alami dari realitas sosial.

  1. Apakah sifat alamiah dari manusia ?

Peneliti kritis berkata jika manusia memiliki potensi hebat yang belum terealisasikan. Manusia itu kreatif, dapat berubah, dan adaptif. Menurut kreatifitas dan potensi mereka untuk berubah, bagaimanapun juga, manusia bisa menyesatkan, salah perlakuan, dan dieksploitasi oleh orang lain. Mereka menjadi terjebak dalam jaringan makna sosial, peraturan, dan hubungan pertemanan. Mereka gagal untuk melihat bagaimana perubahan itu mungkin dan demikian kehilangan kemerdekaan, kebebasan, dan kontrol terhadap hidup mereka.

  1. Apa hubungan antara ilmu pengetahuan dan nalar ?

Posisi CSS dalam nalar bedasarkan pada ide mengenai kesadaran yang salah jika orang salah dan beraksi melawan kebenaran sejatinya seperti yang didefinisikan dalam realitas obyektif. Pendekatan kritis berkata jika peneliti sosial seharusnya mempelajari ide subyektif dan nalar karena hal tersebut membantuk tingkah laku manusia. Hingga kini, mereka penuh dengan mite dan ilusi yang memberi topeng terhadap dunia obyektif dimana ada kontrol yang tidak imbang antara sumberdaya dan tenaga.

  1.  Konstituen apa yang menjelaskan atau menjadi teori dari realitas sosial ?

CSS berkata jika manusia terdesak oleh kondisi material, konteks kultural, dan kondisi sejarah dimana mereka menemukan diri mereka membentuk keyakinan dan tingkahlakunya. Hingga saat ini, manusia tidak terkunci dalam perangkat tidak terelakkan dari struktur sosial, relasi, atau hukum.

Manusia dapat mengembangkan pemahaman baru atau cara untuk melihat yang membuat mereka mampu untuk mengubah struktur, relasi, dan hukum ini. Pertama mereka harus membangun sebuah visi dari masa depan dan bekerja bersama untuk perubahan, kemudian mereka dapat menerima mereka yang beroposisi dengannya. Dalam sebuah kulit kacang, manusia yang membentuk takdir mereka, tetapi tidak dalam kondisi pilihan pribadi mereka.

  1. Bagaimana seseorang menentukan sesuatu itu benar atau salah?

Teori kritis mencari untuk menyediakan manusia dengan sumber daya yang akan membantu mereka memahami dan mengganti dunia mereka. Seorang peneliti menguji teori kritis dengan secara akurat mendeskripsikan kondisi secara umum dengan cara mendasari struktur dan kamudian mengaplikasikan pengetahuan tersebut untuk mengubah hubungan sosial. Sebuah teori kritis yang baik mengajarkan manusia mengenai pengalaman pribadinya, membantunya untuk memahami aturan historis mereka, dan dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi.

  1. Seperti apa bukti penting atau informasi faktual terlihat ?

Pendekatan kritis mencoba untuk menjembatani jarak antara obyek-subyek. Hal tersebut menyebutkan jika fakta atau kondisi material berada secara independen dari persepsi subyektif, tetapi fakta tersebut bukan teori yang netral. Di sisi lain, fakta membutuhkan sebuah interpretasi dari dalam sebuah kerangka berpikir nilai, teori, dan makna.

  1. Di mana nilai sosiopolitis masuk dalam ilmu pengetahuan ?

Pendekatan kritis berkata sangat sedikit cara pandang yang benar. Cara pandang lain salah atau menyesatkan. Semua penelitian sosial perlu dimulai dengan nilai atau cara pandang moral. Untuk CSS, menjadi obyektif bukan berarti menjadi bebas nilai. Obyektivitas berarti tidak didistorsi, gambaran yang benar mengenai realitas; “hal ini menantang kepercayaan jika ilmu pengetahuan harus dilindungi dari politik. Hal tersebut berargumen jika beberapa politik—politik dari perubahan sosial emansipatoris dapat meningkatkan obyektivitas ilmu” (Harding, 1986: 162).

FEMINIS DAN PENELITIAN POSMODERN.

Penelitian feminis dilakukan oleh orang yang sebagian besar perempuan yang memegang identitas feminis dan secara sadar mengunakan perspektif feminis. Mereka menggunakan teknik penelitian ganda. Metodologi feminis berusaha memberikan suara kepada perempuan dan untuk mengoreksi perspektif berorientasi laki-laki yang mendominasi dalam pembangunan ilmu sosial. Banyak peneliti feminis melihat positivisme sebagai cara pandang lelaki; yang obyektif, logis, berorientasi pada tugas, dan instrumental.

Pendekatan feminis melihat peneliti sebagai mahluk hidup yang secara mendasar bergender. Peneliti perlu memiliki sebuah gender yang akan membentuk bagaimana mereka mengalami realitas dan akhirnya hal tersebut berakibat pada penelitiannya. Selain akibat gender terhadap peneliti individual, asumsi teori dasar dan komunitas ilmuwan terlihat sebagai konteks budaya gender. Gender memiliki pengaruh yang meresap dalam budaya dan membentuk kepercayaan dasar dan terisolasi dari proses sosial penyelidikan ilmiah.

Penelitian posmodern merupakan bagian dari gerakan posmodern yang lebih luas atau mengembangkan pemahaman menganai dunia kontremporer yang termasuk seni, musik, sastra, dan kritik budaya. Ini dimulai dengan kemanusiaan dan berakar pada filososi eksistialisme, nihilisme, dan anarkisme dan dalam ide Heidegger, Nietzsche, Sartre, dan Wittgenstein. Posmoderenisme merupakan penolakan dari mederenisme. Modernisme menunjuk pada asumsi dasar, kepercayaan, dan nilai yang berkembang pada masa Pencerahan. Penelitian posmodern melihat tidak ada pembatasan antara seni atau kemanusiaan dan ilmu sosial.

Laporan posmodern sering memiliki gaya teatrikal, expressif, dan dramatis dari presentasi. Mereka mungkin ada dalam bentuk fiksi, sebuah film, atau pegelaran. Posmoderenis berargumen jika pengetahuan mengenai kehidupan sosial diciptakan oleh peneliti yang mungkin lebih baik dikomunikasikan melalui sebuah lakon pendek atau potongan musikal daripada jurnal pendidikan.

Daftar Referensi :

Ritzer, George. 2008. Teori Sosiologi dari teori sosiologi klasik sampai perekembangan mutakhir teori sosial postmodern. Kreasi Wacana. Jogjakarta.

1 …Karya Ritzer (1972a, 1975b, 1980) tentang status paradigmatic sosiologi, yang dimulai pada pertengahan 1970-an, menjadi dasar bagi persfektif metateoretis yang mengarahkan analisis teori sosiologi. Ada beberapa pardigman yang mendominasi, dengan beberapa pardigma lain yang mengandung potensi untuk meraih status paradigmatis, Ritzer. 2008. Teori Sosiologi dari teori sosiologi klasik sampai perekembangan mutakhir teori sosial postmodern. Jogjakarta. Kreasi Wacana. Hal . 697.

2 …Comte mengembangkan fisika sosial, atau pada tahun 1939 disebutnya sebagai sosiologi (Pickering. 2000). Penggunaan istilah fisika sosial menunjukkan bahwa Comte berusaha membangun sosiologi dengan mengikuti “ilmu-ilmu keras”. Ritzer. 2008. Teori Sosiologi dari teori sosiologi klasik sampai perekembangan mutakhir teori sosial postmodern. Jogjakarta. Kreasi Wacana. Hal 16.

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

24 Mei 2011 pukul 10:50 WIB
ana mengatakan...
makasih karena tulisan ini, sudah banyak membantu..

19 November 2010 pukul 01:17 WIB
iwansyah mengatakan...
penjabarannya bagus.. Tapi saya masih kurang faham dengan positivisme sosial terutama makna yang lebih mudah dan penerapannya


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion

Aku ingin menjadi orang bebas...dengan kayakinanku akan kebenaran...