DUNIA KAMPUS PENJARA BAGI KREATIVITAS

Welcome

Gerakan moral wujud kepedulian akan mekanisme perubahan yang berlarut-larut dalam ketidakpastian. Masyarakat partisipatif adalah wujud dari hilangnya budaya pesimisme dan apatisme

IDEALISME YANG TERGADAI DALAM LIRIK LAGU IWAN FALS (Analisis Wacana Kritis Lirik Lagu Iwan Fals “Galang Rambu Anarki dan Bento“)

Kategori: Artikel Sosial Budaya
Diposting oleh revolusi_jalanan pada Minggu, 13 Juni 2010
[10151 Dibaca] [16 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

Oleh : Abdul Kholek

BAB. I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Musik merupakan sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari realitas sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada  awalnya kebutuhan lagu digunakan untuk kepentingan upacara adat dan upacara ritual. Tetapi, seiring perkembangan masyarakat musik telah tertransformasi bergeser menjadi sebuah komoditi yang dikomersialisasikan dan menjadi barang ekonomi yang diperjualbelikan.    

Menurut Djohan (2003 : 7-8), bahwa musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide dari otak yang mengandung sebuah sinyal pesan yang signifikan[1]. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks historis. Muatan lagu tidak hanya sebuah gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral atau idealisme dan sekaligus memiliki kekuatan ekonomis.

Perkembangan musik dewasa ini lebih menyesuaikan dengan selera pasar, sehingga industri musik lebih banyak melahirkan lagu-lagu yang laku keras dipasaran, misalnya lagu-lagu pop yang bertemankan percintaan. Hal ini berbeda sekali dengan misi-misi dari musisi yang peduli pada kondisi sosial, misalkan Iwan Fals, Franky Sahilatua, Sawung Jabo, Setiawan Djody, atau pun Grup Musik Kantata, Slank, Edane dan lain-lain. Walaupun demikian perkembangan lagu-lagu yang bertemakan kritik sosial ternyata juga dimanfaatkan oleh industri musik untuk mendapatkan akumulasi modal yang semakin besar.

Iwan Fals merupakan sosok yang cukup konsisten dalam perjuangan menggugat Orde Baru. Kritik-kritik pedas dan lugas selalu dilontarkan dalam setiap karyanya. Wacana kritik dalam karya Iwan Fals ternyata didukung oleh sebagian besar masyarakat terutama lapisan bawah, karena lagu tersebut mewakili dan menyuarakan hati nurani rakyat. Dukungan itu termanifestasikan dengan terbentuknya fans-fans fanatik yang sering disebut Oi (Orang Indonesia). 

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas[2].

Berikut dapat dilihat dalam Tabel 1. Beberapa lagu yang bernada kritik terhadap Hegemoni Rezim Orde Baru :

Tabel 1. Lagu-Lagu Iwan Fals

Bertema Kritik Terhadap Hegemoni Orde Baru

 

No

Judul Lagu

Album / Tahun

Tema Kritik

1

Sarjana Muda

Sarjana Muda / 1981

Kritik terhadap menyempitnya lapangan kerja.

2

Galang Rambu Anarki

Opini / 1982

Kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.

3

Tak Biru Lagi Lautku

Opini / 1982

Kritik terhadap pembangunan yang merusak lingkungan (laut).

4

Siang Seberang Istana

Sugali / 1984

Kritik terhadap kesenjangan dan ketidakadilan nagara.

5

Sore Tugu Pancoran

Sore Tugu Pancoran / 1985

Kritik terhadap  ketidakadilan (potret anak jalanan).

6

Tikus Kantor

Ethiopia / 1986

Kritik terhadap budaya korupsi dalam birokrasi patronase.

7

Wakil Rakyat

Wakil Rakyat / 1987

Kritik terhadap anggota dewan yang tidak memperjuangkan hak-hak rakyat.

8

Lancar

Lancar / 1987

Kritik terhadap pembangunan yang tidak adil.

9

Bento

SWAMI / 1989

Kritik terhadap penguasa / eksekutif

10

Bongkar

SWAMI / 1989

Kritik terhadap penguasa yang otoriter.

Sumber : Album-Album Iwan Fals[3]

            Lagu-lagu tersebut hanya sebagian kecil dari banyak lagu Iwan Fals yang menyuarakan wacana kritis terhadap kehidupan di zaman Orde Baru.                Tema kritik tersebut setidaknya telah mematahkan wacana trilogi pembangunan, karena pemerataan yang diharapkan dari pembangunan tidak pernah terwujud. Pembangunan nasional yang berlandaskan pada ”Trilogi Pembangunan” hanya sebuah narasi besar dan sebuah mitos belaka.

Tetapi keberhasilan lagu-lagu Iwan Fals tersebut dapat juga dilihat sebagai sebuah pemanfaatan isu yang dikonsturksikan dalam bentuk lagu yang akhirnya mengehegemoni masyarakat sebagai pendengar dan juga sebagai konsumen produk industri musik. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya komodifikasi terhadap wacana kritik sosial, sehingga esensi kritik terebut patut dipertanyakan.

Menarik untuk dianalisis dalam paper ini bagaimana sebuah komodifikasi itu hadir dalam lirik-lirik lagu yang bertemakan kritik sosial, dalam hal ini yaitu lagu Galang Rambu Anarki, dan Sore Tugu Pancoran,“. Kondisi ini memperlihatkan adanya pertarungan antara idealisme musisi dan industri musik yang secara tidak langsung menjadi corong utama dalam pemasaran lagu tersebut. Sehingga memunculkan pertanyaan apakah lirik-lirik kritik sosial yang idealis     itu hanya sebuah komoditi untuk kepentingan ekonomi politik kapitalis ?,       atau adakah pesan tersebut menjadi inspirasi bagi perubahan sosial dalam masyarakat ?.

 

1.2.      Permasalahan

Dari uraian latar belakang tersebut yang menjadi permasalahan dalam paper ini yaitu :

1)      Apakah yang di kritik dalam lirik lagu Iwan Fals, Galang Rambu Anarki  dan Sore Tugu Pancoran ? dan Adakah kemungkinan kritik tersebut menjadi inspirasi bagi perubahan sosial dalam masyarakat ?

2)      Bagaimana kritik sosial (idealisme) dalam lirik lagu Iwan Fals, tergadai atau terkomodifikasi oleh kepentingan ekonomi politik industri musik ?

1.3.      Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui dan memahami  kritik sosial dalam lirik lagu Iwan Fals, serta kemungkinan kritik tersebut menjadi inspirasi bagi perubahan. Selain itu untuk mengetahui dan membongkar kepentingan ekonomi politik dibalik lagu-lagu Iwan Fals.  

1.4.      Subjek Analisis 

Paper  ini menggunakan subjek analisis berupa tiga lirik lagu Iwan Fals Galang Rambu Anark, dan Sore Tugu Pancoran. Kritik dalam tiga lagu tersebut merupakan representasi dari kritik terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat pada masa Orde Baru dan berbagai ketimpangan-ketimpangan sosial. Berikut dalam Tabel 2. Lirik lagu-lagu tersebut

Tabel. 2. Lirik Lagu ”Galang Rambu Anarki,

 dan Sore Tugu Pancoran”

Galang Rambu Anarki

(Album Opini ,  1982)

Bento

(Swami II, 1991)

Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal Januari
Menjelang pemilu

Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu
Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM membumbung tinggi

Maafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi

Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu


Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu

 


Galang Rambu Anarki ingatlah

Tangisan pertamamu
Ditandai BBM melambung tinggi


Maafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Anak kami kurang gizi

Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu


Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu.

Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutive
Tokoh papan atas atas s'galanya asyik . . .


Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku menang aku senang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik . . .


Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh . . .  jagonya . ..
Maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku Bento . . .  .Bento . . . . Bento . .  .
Asyik . . . . . . .  ! ! ! ! ! !  Asyik . . . . . .

 

Kritik terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat (keniakan BBM)

Kritik terhadap penguasa yang sewenang-wenang.

Sumber : Album-album lagu Iwan Fals[4]

                1.5.      Metode Analisis

Metode Critical Discourse Analysis (CDA) digunakan untuk menganalisis dan menafsirkan teks-teks lagu sebagai sumber data utama, selain itu menjelaskan tumbuhnya kesadaran akan perubahan sosial dari lirik yang bertema kritik sosial tersebut. Dan digunakan untuk melihat kepentingan apa yang ada di balik lagu-lagu tersebut.  

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.      Kritik Sosial dan Inspirasi Perubahan dalam Lirik Lagu Iwan Fals ”Galang Rambu Anarki  dan Bento“.

Karya seni berfungsi untuk menginventarisasikan sejumlah besar           kejadian-kejadian, yaitu kejadian yang telah dikerangkakan dalam pola-pola kreativitas dan imajinasi[5].  Lagu sebagai bagian dari seni memiliki konteks yang juga menginventariskan kejadian-kejadian, tetapi tidak semua lagu memiliki makna sebagai gambaran terhadap realitas sosial. Hal ini dikarenakan perkembangan dewasa ini lagu atau seni musik lebih dekat pada industri musik dan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan pasar, sehingga pengertian tersebut tidak cukup relevan diera ini.

Lagu Iwan Fals Galang Rambu Anarki dan Bento”  dalam paper ini menggambarkan wacana kritis dari musisi yang mengkonstruksikan dunia sosialnya dalam gubahan lagu yang mewakili kondisi saat itu yaitu dimana Orde Baru. Berikut uraian kritik sosial dan inspirasi perubahan dalam kedua lagu tersebut :

2.1.1.      Galang Rambu Anarki sebuah Kritik Terhadap Kebijakan Pemerintah yang tidak Berpihak Pada Rakyat.

Lagu ”Galang Rambu Anarki”, keluar pada Tahun 1982 dalam Album Opini. Album tersebut menjadi lebih ‘nakal’ liriknya. Lagu Galang Rambu Anarki menyentuh emosi pendengarnya, rupanya Iwan Fals pandai mengambil momen kenaikan harga BBM yang dianggap tinggi saat itu bersamaan dengan kelahiran anak pertamanya menyebabkan harga-harga menjadi melonjak. Lagu tersebut sempat menjadi hits pada waktu itu karena dianggap mewakili suara dan jeritan masyarakat.

”Galang Rambu Anarki ingatlah

Tangisan pertamamu

Ditandai BBM membumbung tinggi...”

            Dalam lirik tersebut menceritakan kelahiran anak Iwan Fals yaitu Galang Rambu Anarki yang dijadikan judul lagu. Bertepatan pada waktu kenaikan BBM yang cukup meresahkan masyarakat pada Tahun 1982-an. Lirik lagu tersebut menekankan sebuah kritik yang cukup tajam, lugas dan cukup berani, apalagi ketika itu posisi negara begitu kuat sehingga kritik yang menyentuh pemerintah bisa saja berurusan dengan pihak keamanan.

Kemudian kritik dalam lagu tersebut dilanjutkan dengan lirik akibat dari kebijakan tersebut seperti dalam kutipan berikut 

”Maafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi..”

 

Ketika dilirik awal sebagai pemunculan isu utama yaitu kenaikan BBM sebagai lirik pembuka. Lirik berikutnya memperlihatkan kondisi yang bakalan terjadi yaitu ”BBM naik tinggi (susu tak terbeli)....,Mungkin anak kami kurang gizi”. Kata-kata yang terkandung dalam lirik tersebut sepertinya mulai masuk    ke ranah realitas sosial dan ranah politik. ”Orang pintar tarik subsidi” merupakan lirik yang menuju pada sasaran yang akan diserang dalam kritikan tersbut yaitu pengambil kebijakan.

Lirik berikutnya merupakan sebuah perlawanan dari realitas yang telah diurai dalam lirik-lirik awal ;

”Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu...

”Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku...” adalah lirik pembebasan yang mengisyaratkan harus adanya perlawanan terhadap kebijakan yang tidak berpihak tersebut. Pengulangan lirik yang terakhir sebanyak tiga kali, mengindikasikan bahwa Iwan Fals  ingin menegaskan perlunya perlawanan terhadap kondisi sosial yang tidak berpihak seperti yang terjadi pada waktu itu.

Lagu tersebut mendapat sambutan yang cukup luas dimasyarakat terutama kalangan masyarakat menengah kebawah, dan juga para aktivis pergerakan. Kritik pedas dan lugas tersebut ternyata membuat pemerintahan pada waktu itu cukup geram sehingga beberapa konser Iwan Fals sempat dicekal, karen dianggap mengganggu stabilitas dan memancing kerusuhan. Teror-teror terhadap Iwan Fals juga hadir dalam setiap waktu. Dalam kutipan berikut saat diwawancari oleh majalah THE ROLLING STONE, mengenai teror yang pernah dialami : Waktu itu kaca rumah saya dipecahin. Saya punya bayi kan waktu itu.  Jadi buat jaga-jaga. Eh keterusan[6].

Dalam setiap Album Iwan Fals selalu ada lagu-lagu yang bertemakan kritik sosial, inilah ciri khas dari musisi tersebut. Lagu-lagu tersebut sempat                di larang pada waktu Orde Baru, dan banyak lagu-lagu yang tidak dipasarkan karena memiliki kritik yang begitu tajam.  Melihat kondisi seperti ini sangat sulit mangatakan bahwa kepentingan ekonomi kapitalis dalam hal ini industri musik menjadi corak utama dalam setiap lagu Iwan Fals. Walaupun demikian sisi-sisi idealisme dalam lirik lagu tersebut masih tetap menjadi warna tersendiri. Sehingga memunculkan asumsi bahwa tedapatnya pertarungan antara musisi yang idealis dengan industri musik yang lebih berorintasi pada pasar.

 

2.1.2.      Bento Sebuah Kritik terhadap Penguasa yang Diktator (Bos Eksekutif).

Bento judul lagu yang menggema di penjuru negeri pada tahun 1990-an. Lagu tersebut memberikan warna perlawanan yang cukup radikal dimasa itu. Hingga penguasa merasa risih dengan konser-konser dan lantunan lagu-lagu yang terlalu kritis mengkritisi pemerintah. Lagu Bento cukup kontroversial menurut Iwan Fals :

”Lagu tersebut menceritakan tentang penindasan. Tapi pada waktu itu di plintir oleh siapa saya nggak tahu. Kan menarik waktu itu Bento muncul singkatan-singkatan  di media. Benteng Soeharto, Benci Soeharto. Buat jualan media itu bagus. Saya sempat bangga juga soal itu. Kan ditulis oleh Koran-koran hahaha…”[7

            Itulah sepenggal catatan dari hasil wawancara wartawan ”The Rolling Stone”. Dalam lirik lagu tersebut bento diibaratkan sebagai penguasa yang memiliki harta melimpah, dan disebut juga sebagai bos eksekutif, berikut kutipan lirik lagu tersebut :

”Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutive
Tokoh papan atas atas s'galanya asyik . . .

Lirik tersebut cukup kena menyerang pemerintah atau bos eksekutif, sehingga konser ke 100 kota batal dilakukan karena dilarang oleh pemerintah, yang dianggap akan membuat kerusuhan dan kericuhan.  Kediktatoran penguasa yang digambarkan dalam lagu tersebut selalu menindas kepentingan orang-orang kecil atau rakayat. Tanpa memperdulikan orang disekelilingnya, sebuah gambaran yang sebenarnya membangkitkan semangat pembebasan diwaktu itu. Hal ini tercermin dalam lirik lagu berikut :

”Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku menang aku senang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik . . .”

Kritikan dalam lagu tersebut dilanjutkan dengan lirik yang lebih nakal lagi yang semakin menyudutkan penguasa pada waktu itu, berikut lirik selanjutnya :

”Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh . . .  jagonya ...”

Semua aksi dan tindakan dilakukan dengan kesewenangan tetapi diikuti oleh pembenaran moral dan keadilan. Inilah gambaran riil dari kuatnya nagara pada waktu Orde Baru.

Orde baru merupakan suatu rezim yang telah memberikan berbagai catatan sejarah panjang dari kekuasaan otoriter yang menghegemoni masyarakat. Kekuasaan negara yang begitu kuat membelenggu sendi-sendi kehidupan setiap warga negara. Kenyamanan dan keserasian yang diciptakan dengan bingkai represif, penggunaan aparat negara dalam penciptaan tatanan tersebut ternyata menjadi bara dalam sekam (bahaya laten), yang akhirnya meledak  menjadi benturan keras antara rakyat dan negara hingga jatuhnya rezim orde baru ditangan rakyat dan kelas menengah pada tahun 1998.

Sebelum terjadinya gelombang perlawanan besar-besaran hingga tergulingnya Orde Baru pada Tahun 1998. Iwan Fals dengan lagu-lagu kritiknya sudah lebih dahulu mengkritik pemerintah. Hal ini juga didukung oleh pendapat Setiawan Djodi “Sebelum orang ngomong apa-apa soal Soeharto saya sudah menyanyian “Bongkar”. Saya sudah menyanyikan “Bento”.[8]

Kritikan tersebut sebagai reaksi terhadap kondisi sosial pada waktu itu, telah menjadi inspirasi bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan karya seni yaitu sebagai motivator kearah aksi sosial yang lebih bermakna, sebagai pencari nilai-nilai kebenaran yang dapat menangkat situasi dan kondisi alam semesta[9].

Selain itu dalam konteks lain pendapat Abdullah Sumrahdi, bahwa fungsi musik rock yang berisikan kritik sosial semacam pelengkap yang menikmatkan, yang menghibur, atau sebagai suatu alat pengingat bagi kesadaran kepada suatu peristiwa atau nilai tertentu.[10]

 Lagu sebagai bagian dari bisnis industri musik, telah memberikan analisis yang berbeda dalam kacamata ekonomi politik. Bahwa kritik sosial tersebut akhirnya telah dijadikan komoditi yang dijual oleh industri musik demi akumulasi modal atau profit. Sehingga esensi dari kritik sudah terkomodifikasi dalam bisnis industri musik.   

2.2.      Idealisme Tergadai ; Komodifikasi Kritik Sosial dalam Lagu Iwan Fals  Galang Rambu Anarki  dan Bento“.

Bahasan ini memperlihatkan perdebatan antara visi idealisme musisi dengan kepentingan industri musik yang selalu menyesuaikan keinginan pasar.   Menurut Adorno ”segala kehidupan musik masa kini didominasi oleh bentuk komoditas yang ditujukan untuk pasar”[11]. Asumsi dasar inilah yang mempertegas mengenai tergadainya idealisme dalam industri budaya dalam hal ini industri musik.

Lagu-lagu Iwan Fals tidak dapat disangkal dan diragukan lagi sebagai bentuk dari kritik sosial. Galang Rambu Anarki dan Bento, merupakan representasi dari gugatan yang selalu menyelimuti lagu-lagu Iwan Fals. Tetapi industri musik telah menjadikannya sebagai barang komersial. Album dari           lagu-lagu tersebut terjual laris dipasaran, keuntungan yang diraih oleh produser musik dan juga musisinya cukup melimpah. Suksesnya album-album tersebut dikarenakan matangnya pemotretan isu oleh musisi dan juga peluncuran album yang telah di setting oleh industri musik, melalui survei dan lain sebagainya. Adorno menggambarkan kondisi ini dimana ”asas pertukaran telah mengaburkan sekaligus mendominasi asas manfaat”[12].

            Pesan moral berupa kritik sosial menjadi bias ketika dihadapkan dengan industri musik yang mengedepankan akumilasi modal yang sebesar-besarnya. Semuanya diobjektivikasi dalam pengertian uang. Pada giliranya hal ini mengandung pengertian bahwa asas pertukaran atau harga tiket, album menjadi asas manfaat yang bertolak belakang dengan pertunjukan musik, asas manfaat sebenarnya yang melatarbelakanginya[13].  

            Komersialisasi musik Iwan Fals yang bertemakan kritik sosial, sama halnya dengan komersialisai musik jazz, yang telah menghilangkan  spirit utama yaitu anti dominasi, hegemoni, rutinisasi, masifikasi, dan tidak lebih dari sekedar McDonaldisasi Jazz[14], dengan tujuan semata-mata mencari profit.   

            Lagu Galang Rambu Anarki” dalam Album Opini Tahun 1982 di produksi oleh Musica Studio. Peluncuran album tersebut dengan lagu yang menyuarakan hati nurani masyarakat, menjadikan lagu tersebut cukup akrab didengar oleh masyarakat khususnya kelas menengah kebawah. Kondisi ini memperlihatkan pandainya Iwan Fals dan Musica Studio mengambil momen keniakan BBM untuk meluncurkan lagu tersebut. Sehingga lagu tersebut lagu keras dipasaran, inilah semangat ekonomi atau etos kapitalis yang akhirnya menghasilkan profit yang tinggi.

            Begitu juga dengan lagu ”Bento” dalam Album Swami II Tahun 1992. lagu tersebut menjadi hits, dan bahkan masih sering terdengar saat ini. Nuansa kritikan tajam terhadap, penguasa yang mulai tidak populer, menjadi konsumsi yang semua kalangan. Dimuatnya di berbagai media masa mengenai lagu tersebut, berkorelasi positif  dengan angka penjualan album yang meningkat tajam.

            Lagu-lagu kritik sosial Iwan Fals digandrungi oleh hampir semua generasi tua hingga muda. Fans-fans ada diseluruh Indonesia yang dulunya menamakan diri ”Fals Mania” kemudian pada Tahun 1999 dibentuk ”Yayasan Orang Indonesia” atau sering disebut Oi (Orang Indonesia). Banyaknya fans fanatik memberikan nilai poin plus bagi industri musik yang akan meraup untung dari setiap lirik yang di rilis oleh Iwan Fals. Sehingga komodifikasi lirik-lirik kritik sosial dalam lagu Iwan Fals tidak terelakkan lagi. Kondisi tersebut seperti yang dikatakan oleh Vincent Mosco, sebagai komodifikasi dimana barang atau jasa yang memiliki nilai guna ditransformasikan menjadi komoditi yang memiliki nilai jual di pasaran[15].

Diakhir tulisan sebenarnya ada pertarungan yang alot antara idealisme musisi dengan industri budaya. Tetapi akhirnya terjadinya kesepakatan antara kedua pihak yaitu untuk memproduksi produk yang kira-kira bakalan laku keras            di pasaran.  Lagu hanya menjadi produksi massal yang manipulatif demi profit yang maksimal. Itulah gambaran dari lirik-lirik lagu Iwan Fals yang bertemakan kritik sosial yang menjadi konsumsi masyarakat. Masyarakat atau penikmat musik tergantung dengan hegemoni lirik-lirik pembebasan yang sebenarnya mengingkari makna kebebasan yang terkadung dalam lirik lagu-lagu tersebut.

            Hal ini sejalan dengan asumsi Adorno, bahwa kebudayaan yang berbasis komoditas sebagai sesuatu yang tidak autentik, manipulatif dan tidak memuaskan. Kebudayaan massa kapitalis terkomodifikasi tidak autentik karena tidak dihasilkan oleh msayarakat, manipulatif karena tujuan utamanya agar dibeli oleh konsumen. Kebudayaan kini sepenuhnya saling berpautan dengan ekonomi politik dan produksi kebudayaan oleh perusahaan-perusahaan kapitalis[16]. 

           

                                                                                                                                                                                              

BAB III

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Lagu Iwan Fals sebagain besar bertemakan kritik sosial, cukup mendapat perhatian dari kalangan pencinta musik dari awal ia berkarir di dunia musik hingga saat ini. Misi-misi kemanusian, menyoroti ketimpangan-ketimpangan, kritik terhadap kesewenangan, ketidakadilan dan masalah sosial maupun masalah politik yang lainnya. 

Industri musik dibelakang nama besar Iwan Fals, telah memperoleh keuntungan yang cukup besar. Tidak hanya industri musik, musisi tersebut juga mendapatkan profit yang cukup tinggi, dengan agendanya menjual misi sosial demi kesenangan publik yang merasa terwakili oleh sentuhan lirik-lirik pembebasan Iwan Fals. Galang Rambu Anarki dan Bento adalah salah satu dari banyak lagu yang menjadi hits dan laris dipasaran.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya manipulasi budaya. Atau dengan bahasa lain, dalam analisis musik pop Adorno, bahwa asas pertukaran mengaburkan sekaligus mendominasi asas manfaat.

 

2.      Saran

Kepentingan ekonomi politik dibalik lagu-lagu yang bertemakan kritik sosial telah mengkaburkan esensi dari pesan moral yang disampaikan, dan terasa bias. Sehingga dibutuhkannya sebuah mekanisme kerjasama yang lebih sportif antara musisi yang idealis dengan industri musik yang beorientasi profit, agar semua kepentingan bisa terwakili dalam setiap produk budaya berupa lagu tersebut. 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Barker, Chris. 2009. Cultural Studies Teori dan Praktek. Kreasi Wacana. Yogyakarta.

Kurni, Novi. 2008. Posisi dan Resistensi Ekonomi Politik Perfilman Indonesia. Fisipol UGM. Yogyakarta.

Nugroho, Heru. 2003. Menumbuhkan Ide-Ide Kritis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Paradigma Sosiologi Sastra. Pustaka Pelajar. Yogjakarta. 

Strinati, Dominic. 2007. Populer Cultur Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Jejak. Yogyakarta.

Sumrahadi, Abdullah. 2010. Menemukan Kritik Sosial Dan Kesadaran Kritis Dari Musik Rock Indonesia. Proram Doktor Sosiologi UGM. Yogyakarta.

 

 

 



[1] Cari di internet djohan, 2003.

[2] Ibid.   

[3]

[4]

[5] Baca Refresentasui Fakta-fakta Sosial dalam Karya. Nyoman Kutha Ratna. 2009. Paradigma Sosiologi Sastra. Pustaka Pelajar. Jogjakarta.  

[6] The rolling stone…

[7] Interview The Rolling Stone Magazine.

[8] Wawancara

[9] Nyoman Kutha Ratna. 2009. Paradigma Sosiologi Sastra. Pustaka Pelajar. Jogjakarta. Hal. 35.   

[10] Abdullah Sumrahadi.  2010. Menemukan Kritik Sosial Dan Kesadaran Kritis Dari Musik Rock Indonesia. Proram Doktor Sosiologi UGM. Yogyakarta. Hal. 35.  

[11] Dominic Strinati. 2007. Populer Cultur Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Jejak. Yogyakarta. Hal. 64

[12] Dominic Strinati. 2007. Populer Cultur Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Jejak. Yogyakarta. Hal. 65.

[13] Ibid. 65.

[14] Heru Nugroho. 2003. Menumbuhkan Ide-Ide Kritis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Hal. 141.

[15] Lihat konsep pendekatan ekonomi politik. Novi Kurni. 2008. Posisi dan Resistensi Ekonomi Politik Perfilman Indonesia. Fisipol UGM. Yogyakarta. Hal. 37

[16] Lihat Kebudayaan Massa ; Kebudayaan Pop. Chris Barker. 2009. Cultural Studies Teori dan Praktek. Kreasi Wacana. Yogyakarta. Hal. 47.



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

24 Desember 2011 pukul 18:38 WIB
KAOS IWAN FALS mengatakan...
analisa yg bagus sob.. sama dg komen tmen2 dibawah.. ko lbh banyak mmbahas sisi komesialisme nya ya ? ===================== sedikit meluruskan : quote : "Dukungan itu termanifestasikan dengan terbentuknya fans-fans fanatik yang sering disebut Oi (Orang Indonesia" ---> Oi itu bukan fans Iwan Fals sob,, Oi itu salah satu Ormas yg ada di negeri ini.. ada AD ART nya.. Iwan Fals adalah salah satu pendirinya.. kalau fans club Iwan Fals ada sendiri ,, spt : Fals Mania (Fama), IFFC, PFS dsb... Salam damai kami sepanjang hari....

21 November 2011 pukul 18:05 WIB
genjitakya_takiya@rocketmail.com mengatakan...
maju terus bang iwan jangan mundur kami mendukungmu......

04 Juli 2011 pukul 19:39 WIB
awan mengatakan...
22 januari

21 Desember 2010 pukul 07:52 WIB
bayu mengatakan...
analisisis yang menarik, tapi ada yang ingin saya tanyakan. Critical Discorurse ini dibangun olleh banyak tokoh, pada analisi kali ini, ini mengacu pada pandangan siapa ya ? Sarah Mills, Zondang atau yang lain ya ?? terima kasih

23 November 2010 pukul 12:31 WIB
abdul kholek mengatakan...
Maaf tuk sobat semua ini hanya...iwan fals pejuang sejati...

30 Oktober 2010 pukul 18:50 WIB
indra mengatakan...
lebih baik orang jelek yang sadar akan kejelekannya daripada orang baik yang pamer akan kebaikannya. terima kasih atas tmbahan pengetahuannya tantang sang dewa protes.

30 Oktober 2010 pukul 18:50 WIB
indra mengatakan...
lebih baik orang jelek yang sadar akan kejelekannya daripada orang baik yang pamer akan kebaikannya. terima kasih atas tmbahan pengetahuannya tantang sang dewa protes.

24 Oktober 2010 pukul 21:01 WIB
oicilacap mengatakan...
kritik ya kritik...bisnis ya bisnis...lha orang ngurus negara juga digaji...ente nulis kayaik begini ya cari rejeki kok di kritikan bang iwan dinilai kapitalis...ente ngaca dong jangan asal jeplak kalau ngomong apalagi analisa segala....kayak lirik lagu....anjing si tuan polan


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion

Aku ingin menjadi orang bebas...dengan kayakinanku akan kebenaran...