Tersandar Di Sudut Kota Jogja; Kamis Malam 15 april 2010, Jogjakarta.
Kategori: Goresan CInta
Diposting oleh revolusi_Jalanan pada Senin, 11 Juli 2011
Di atas bumi, dibawah langit bernyanyi jiwa, bersama hembusan angin malam. Tersenyum kecut bersama segunung kegelisahan menentukan jalan yang tak berarah. Seniman jalanan mulai larut dalam buaian malam yang dingin. Bersama anjing-anjing jalanan mencari penghidupan dari sisa-sisa makanan yang terbuang, malam makin larut terdampar dalam alam terang kota yang dulunya menjadi impian, tapi tidak untuk kini, semua telah berubah terhipnotis dalam keangkuhan jiwa.
Kota ini menjadi bersandar para pencari, pecundang dan penjahat kelamin yang berkeliaran. Tersenyum angkuh sepasang pemuda dengan pacarnya berpelukab seakan takkan terlepaskan walaupun mataku tertuju menyaksikan adegan yang mengenaskan. Mencoba berlalu melihat kearah lain ternyata sama ada seonggok manusia bersama sexsualitas yang tergadai menggulung hati nurani dan etika. Berjalan kearah lainnya tidak begitu berbeda adegan yang lebih biadab terjadi pemerkosaan anak di bawah umur seakan menjadi subuah pertunjukan terater malam.
Inikah kemajuan yang aku cari dan mereka dengungkan ketika teknologi menjadi standar kemajuan dan etikapun tegadaikan oleh keanggukan jiwa-jiwa yang seakan-akan tidak akan pernah mati. Uoh begitulah hidup yang meraka dan aku pun mungkin menikmati semuanya,,,
Kutarik langkah menuju ketidakpastian, kugoreskan harap dalam bayang, kutulis cinta diatas angin malam, hingga hiruk pikuk kesendiriin menenggalamkanku pada alur yang mungkin salah aku tempuh...
Ouh...langit malam mentertawakan goresanku ini...
Baca terus » | PDF | DOC | DOCX | Komentar (5) | Senin, 11 Juli 2011
Tersandar Di Sudut Kota Jogja; Kamis Malam 15 april 2010, Jogjakarta.
Kategori: Goresan CInta
Diposting oleh revolusi_Jalanan pada Senin, 11 Juli 2011
Di atas bumi, dibawah langit bernyanyi jiwa, bersama hembusan angin malam. Tersenyum kecut bersama segunung kegelisahan menentukan jalan yang tak berarah. Seniman jalanan mulai larut dalam buaian malam yang dingin. Bersama anjing-anjing jalanan mencari penghidupan dari sisa-sisa makanan yang terbuang, malam makin larut terdampar dalam alam terang kota yang dulunya menjadi impian, tapi tidak untuk kini, semua telah berubah terhipnotis dalam keangkuhan jiwa.
Kota ini menjadi bersandar para pencari, pecundang dan penjahat kelamin yang berkeliaran. Tersenyum angkuh sepasang pemuda dengan pacarnya berpelukab seakan takkan terlepaskan walaupun mataku tertuju menyaksikan adegan yang mengenaskan. Mencoba berlalu melihat kearah lain ternyata sama ada seonggok manusia bersama sexsualitas yang tergadai menggulung hati nurani dan etika. Berjalan kearah lainnya tidak begitu berbeda adegan yang lebih biadab terjadi pemerkosaan anak di bawah umur seakan menjadi subuah pertunjukan terater malam.
Inikah kemajuan yang aku cari dan mereka dengungkan ketika teknologi menjadi standar kemajuan dan etikapun tegadaikan oleh keanggukan jiwa-jiwa yang seakan-akan tidak akan pernah mati. Uoh begitulah hidup yang meraka dan aku pun mungkin menikmati semuanya,,,
Kutarik langkah menuju ketidakpastian, kugoreskan harap dalam bayang, kutulis cinta diatas angin malam, hingga hiruk pikuk kesendiriin menenggalamkanku pada alur yang mungkin salah aku tempuh...
Ouh...langit malam mentertawakan goresanku ini...
Baca terus » | PDF | DOC | DOCX | Komentar (5) | Senin, 11 Juli 2011
“SEPENGGAL BAIT SALAM BUAT IBU”
Kategori: Goresan CInta
Diposting oleh revolusi_Jalanan pada Kamis, 26 Mei 2011
‘Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah…penuh nanah
Seperti udara…kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur,bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu
Seperti udara…Kasih yang sengkau berikan
Tak mampu ku membalas..ibu…ibu…’
(Ibu ; Iwan Fals)
Realitas ini membangunkanku dari terlelap setelah tidur panjang hingga membius dan membungkam kesadaranku. Bingung memulai goresan ini karena takkan mampu mewakili perjuangan hidup dan mati seorang sosok luar biasa yang telapak kakinya surga berada. Ibu kosakata yang takkan bisa digantikan, sebuah peran yang takkan tergantikan, sebuah pengabdian yang kan berbalas syurga, semoga Amiin..!!!. Luar biasa dialah ibu…. Kuurai goresan sederhana ini dengan hati yang lirih dan perlahan air mata tak terbendung, hingga ledakan-ledakan luar biasa didalam dada berkecamuk ketika kupandang wajah sendu seorang ibu jauh disana…
Aku, kalian dan kita semua pasti terlalu angkuh untuk sejenak saja memikirkan air mata darah dan perjuangan hidup mati seorang ibu. Ia telah melahirkan, kesabarannya membawa kita tumbuh dewasa dan mungkin kita telah pergi jauh meninggalkan senyumnya. Tidak pernah dan takkan bisa membalas jasa itu, tidak pernah bisa kecuali hanya setetes saja…
Tiga hari yang lalu tanpa di ketahui dan mungkin mereka sengaja sembunyikan agar seorang anak tetap semangat dan tegar meniti proses hidup disini. Tiga hari yang lalu aku juga terbawa mimpi pulang kekampung halaman berkumpul dengan keluarga hingga cada tawa itu begitu akrab menyapaku…Hingga makhluk yang angkuh ini perlahan mencicipi masakan kesukaan yang biasa dibuatkan oleh ibu. Tapi ketika terjaga itulah sepenggal mimpi pemutaran kisah lalu…
Tertegun menyapa malam hingga kutulis goresan ini “Sepenggal bait salam untuk ibu”. Ternyata seorang ibu yang luar biasa, lagi sakit. Semoga cepat sembuh ya Rabb…!!! Umur memasuki senja tak pernah menghentikannya untuk menggais serpihan-serpihan rezki, hingga lelah yang akut membuatnya tak mampu berdiri untuk beberapa saat lamanya… Teriakanpun melemah tak terdengar lagi,,hanya pasrah menyebut Rabbnya… Hingga kesadaran muncul kembali… Aku tidak mampu membahasakan ini, aku tidak mampu mengurai kisah ini…
Mei 26 2011 senja sore, terpaut rasa rindu yang dalam pada seorang ibu perlahan mendengar suara berwibawa seorang ibu jauh disana. Aku tidak mampu berbasa-basi, hanya diam ketika beliau menceritakan sepenggal kisah ini :
“Tiga hari yang lalu dipenghujung malam ia bangun perlahan untuk memunaikan perintah Rabbnya. Tahajud untuk beberapa rekaat, untuk bekal nanti, katanya !, untuk mendoakan kesuksesan kalian katanya…(air mata tak terbendung lagi kawan). Perlahan nafasku tersentak menggugah rasa dalam hati yang kian terberangus dan terbelenggu oleh mimpi dunia.
Beliau terus menguraikan, ketika perlahan bangun ada rasa yang beda semuanya gelap, hanya ingatan akan Rabbnya pada waktu itu. Terus dipaksakan untuk berdiri hingga hampir terjatuh, ini kali pertama beliau merasakan gejalah ini. Rasa sesak dalam dada ditahan, rasa perih dikepala tetap ditahan, dan bangkit hingga mampu menyelesaikan 3 kali salam sholat malam.
Bapak juga terjaga pada waktu itu beliau juga perlahan menabur benih untuk kehidupan yang kekal. Hingga semuanya selesai bertaqarub dengan Rabbnya. Ibu beliau kembali meraskan tidak seperti biasa hingga beliau berkata mungkin waktu ini takkan lama lagi…Akupun terhenyak diam perlahan air mata mengalir. Semoga tidak terjadi apa-apa ya Rabb, Semoga cepat disembuhkan Yaa Rabb.. Amin…!!!.
Keesokan harinya beliau tidak dizinkan untuk pergi memetik hasil panen dari pertanian yang telah dilakukan turun temurun. Dengannya aku bisa disini, dengannya kami semua bisa merakan apa itu pendidikan walau cuma sedikit saja ilmu yang kami raih…
Terbiasa dengan aktivitas keseharian, beliau masih berpikir sepertinya waktu itu kian mendekat, masih menyempatkan diri untuk pergi keladang. Ditemani oleh seorang tetangga dan bapakpun meninggalkan tugasnya hari ini untuk menemani sang ibu, takut terjadi apa-apa… Ketika memulai aktivitas seperti biasa beliau merasakan kejadian semalam, tetapi terus beliau paksakan memetik hasil panen yang tinggal sedikit.
Hingga ibu tak sadarkan diri di tanah itu tempat mengngais rezki sedikit demi sedikit. Teriakan lirih tak mampu terdengar lagi…Hingga tetangga yang ikut tadi teriak histeris ketakutan apa gerangan yang terjadi… Ibu berkata ia hanya pasrah waktu itu…yang ia ingat anak-anaknnya jauh apakah akan terus konsisten dalam hidup menjadi sholeh dan sholeha…
Perlahan aku tertegun kembali sambil mengingat-ingat sepenggal ayat yang pernah kudengar dulu disebuah surau tua dikampung halaman : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."(Luqman :13).
Perlahan kuusap lagi airmata ini kawan… Mungkin 30 menit lebih beliau tidak mampu berbuat apa-apa dan Alhamdulillah kesadaran itu datang lagi dari nur cahaya Rabbnya.. karena Dia pemilik dan penggenggam setiap ruh dan jasad manusia. Tiga hari berlalu kejadian itu akupun tidak pernah tau karena memang mereka memendam itu, takut jangan-jangan anaknya menjadi putus asa disini. Perlahan terucap lirih semoga ku mampu tetap tegar memberikan yang terbaik untukmu ibu…’’(15.42-16.05).
Bergetar ketika sadar akan bangunan keangkuhan kubangun perlahan saat demi saat. Kisah ini menggugah kesadaran melenyapkan ego akan sesuatu yang dipuja-puja selama ini. Kumulai menoleh kebelakang akan lembaran kisahku dalam siklus hidup penuh kelam coretan yang suram tak mampu dibaca. Aku adalah antitesis dari setiap perbuatan baik atau jahat yang dilakukan, Aku adalah bagaian dari anak dari orang tua yang sangat sayang pada kami. Aku adalah bagian yang berharga ketika doa-doaku mengalir ketika mereka tidak disini lagi… Aku adalah garda terdepan akan membela mereka, tapi jika aku bisa sedikit demi sedikit membuang keangkuhan, merendam ambisi, dan perlahan membangun keikhlasahan dalam sedikit amalan yang ditorehkan…
Berpikir kembali apakah akan mampu mahluk yang telah tergerus ini perlahan membangun bangunan amal. Agar bisa sedikit membuat mereka tersenyum ketika pulang nanti… Atau jangan-jangan aku akan terjerambab dalam lautan dosa hingga menolong diri sendiripun takkan mampu… Na’ubillamindzalik …!!!
Tak ingin tenggelam kulanjutkan lagi membuka sabait lagi fiman agung dari Rabb penguasa yang tak terkuasi oleh keagungan yang menyelimutinya :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu’’.(Luqman :14).
Aku tidak mampu lagi meneruskan goresan ini tidak ada bahasa yang mampu mewakili pengorbanan dan perjuangan mereka. Hingga air mata dan do’a agung menenggelamkanku dalam perenungan yang dalam, terucap lirih sebuah ayat terakhir :
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Al Israa' : 24)
Sudahlah kawan tak patut tenggelam dengan coretan kelam hidup yang telah kau torehkan, karena hari esok dan nanti adalah lebaran baru untukmu bangkit hingga kau mampu melihat mereka tersenyum. Dan mampu dikumpulkan lagi setelah kehidupan yang sesaat ini di syura, dalam ruang yang tak berbatas dan kekal. Amiin Yaa Rabb…!!!
(Sudut senja Jogjakarta, 26 Mei 2011)
Baca terus » | PDF | DOC | DOCX | Komentar (1) | Kamis, 26 Mei 2011
Aku ingin menjadi orang bebas...dengan kayakinanku akan kebenaran...