Muhammad Prima Indra

Welcome

Komunitas Blogger Universitas Sriwijaya

Penyuluhan Bahaya Narkoba Serta Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental dan Perilaku di Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Pakjo Palembang

Kategori: Umum
Diposting oleh prima189 pada Jumat, 24 September 2010
[4703 Dibaca] [3 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

LAPORAN

KULIAH KERJA SOSIAL

 

05 Juli s/d 20 Agustus 2010

Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang

 

Penyuluhan Bahaya Narkoba
Serta Dampaknya Terhadap Kesehatan
Mental dan Perilaku.

unsri

                       

Di Susun Oleh            :

 

Muhammad Prima Indra

0707 100 2054

                                   

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA

2010-2011

 

 

 

 

 

HALAMAN PENGESAHAN

 

 

Dibuat Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Menyelesaikan Kuliah Kerja Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Jurusan Sosiologi Universitas Sriwijaya.

 

unsri

 

 

Judul                                :      Penyuluhan Bahaya Narkoba Serta Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental dan Perilaku.

 

 

Nama Mahasiswa     :       Muhammad Prima Indra                

NIM                                :       0707 100 2054

 

 

 

 

 

Mengetahui

 

                                                 Pembimbing KKS 2010                                              Ketua Jurusan Sosiologi

 

 

 

 

 

                                               Dr. Zulfikri Suleman, M.A.                                        Dr. Zulfikri Suleman, M.A.

NIP. 195907201985031002                                       NIP. 195907201985031002

 

 

 

 

RINGKASAN

 

 

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Sehingga pada masa peralihan ini sangat rentan si remaja melakukan perbuatan-perbuatan yang dianggap salah oleh lingkungan sekitar. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja. Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah: pengaruh kawan sepermainan, pendidikan dalam peran orang tua menentukan pendidikan anak, penggunaan waktu luang, dan perilaku seksual.  Kenakalan remaja di perkotaan telah menjurus kepada pemakaian obat-obatan terlarang. Narkoba atau obat-obatan terlarang sangat mudah didapatkan di daerah perkotaan, hal ini yang sangat memprihatinkan karena sasaran utama dari pengkonsumsi narkoba ini adalah anak-anak remaja. Jika tidak dibekali oleh ilmu agama dan fungsi kontrol keluarga yang ketat, maka mungkin si remaja akan terjerumus kedalam lembah hitam narkoba dan akan bermuara pada panti rehabilitasi ataupun lembaga pemasyarakatan untuk melepaskan diri dari ketergantungan obat-obatan terlarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

 

            Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat berupa kesehatan dan keselamatan sehingga Laporan Individu Kegiatan KKS ini dapat terselesaikan dengan baik. Serta sholawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta pengikutnya hingga akhir jaman.

Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi syarat karena telah melaksanakan Kuliah Kerja Sosial yang bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II.A Pakjo Palembang. Dan dalam kesempatan ini pula penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

  1. Bapak Junaidi, Bc.IP, SH, MH, selaku Kepala LAPAS Anak Klas II.A Pakjo Palembang.
  2. Bapak Dr. Zulfikri Suleman, MA, selaku pembimbing Tim KKS UNSRI 2010.
  3. Bapak Jam`an, SH, selaku Kasubsi Bimaswat.
  4. Bapak Giyono, Amd. IP. SH. MH, selaku KPLP.
  5. Pejabat dan staf LAPAS Anak Klas II.A Pakjo Palembang.
  6. Warga Binaan LAPAS Anak Klas II.A Pakjo Palembang.
  7. Keluarga tercinta, dan
  8. Tim KKS Sosiologi Angkatan 2007.

Yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan Laporan Individu Kegiatan KKS ini.

           

Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan, baik itu segi isi maupun tata bahasanya. Untuk itulah penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Akhir kata semoga Laporan Individu Kegiatan KKS ini dapat bermanfaat dimanapun kita berada dan dapat diterapkan pada lingkungan masyarakat pada umumnya.

 

                                                                                   

Palembang,   September 2010

 

 

                                                                                                 

    Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                halaman

Halaman Judul                              .................................................................. i

Halaman Pengesahan                    .................................................................. ii

Ringkasan / Summary                   .................................................................. iii

Prakata                                          .................................................................. iv

Daftar Isi                                       .................................................................. v

Daftar Gambar                              .................................................................. vii

Lampiran                                       ................................................................. viii

 

BAB I

Pendahuluan

      1.1 Latar Belakang                  ..................................................................  1

      1.2 Perumusan Program          ..................................................................  2

      1.3 Tujuan Program                 ..................................................................  2

      1.4 Manfaat Program              ..................................................................  2

 

BAB II

Gambaran Umum Lokasi                         

2.1.   Sejarah Singkat LAPAS Klas II. A Pakjo Palembang .....................  3

2.2.   Keadaan Bangunan Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A ................  3

2.3.   Keadaan Petugas             ..................................................................  5

 

BAB III

Kendala dan Pemecahan

3.1.   Kendala                            ..................................................................  6

3.2.   Pemecahan                       ..................................................................  7

 

 

 

BAB IV

Analisis dan Pembahasan

NARKOBA

      4.1 Pengertian Narkoba          ..................................................................  8

      4.2 Jenis-Jenis Narkoba           ..................................................................  9

      4.3 Peralatan yang Dipakai untuk Narkoba ............................................. 14

      4.4 Tanda-tanda Seseorang Menjadi Pemakai Narkoba .......................... 15

      4.5 Gejala Ketagihan Narkoba ................................................................ 16

      4.6 Faktor Penyebab Penyalahgunaan dan

                   Ketergantungan Narkoba ................................................................  16

      4.7 Akibat Penyalahgunaan narkoba dan

                   Dampaknya Terhadap Mental dan Perilaku ..................................... 22

     

 

BAB V

Penutup

      5.1 Kesimpulan                       ..................................................................  29

      5.2 Saran                                 ..................................................................  30

 

Daftar Pustaka                              ..................................................................  31

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

 

         Gambar

 

Kegiatan Penyuluhan Narkoba                       ............................................ 1.1 – 1.8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
  L
            A
            M
            P
            I
            R
            A
            N
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                        

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1   LATAR BELAKANG

 

            Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997, tentang Narkotika : Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

            Narkoba (narkotika dan obat-obatan berbahaya) sudah sejak lama dikonsumsi manusia, baik dalam bentuk sederhana. Semakin lama pemakai narkoba makin meluas di berbagai belahan dunia, termasuk indonesia (Hakim, 2004 dalam Hutahuruk, 2007). Obat terlarang ini telah banyak beredar dan dipergunakan oleh berbagai kalangan terutama remaja. Dimana pada masa remaja ada banyak faktor yang mempengaruhi persepsi individu terhadap penyesuaian sosialnya (Makarao, 2003 dalam Hutauruk, 2007)

            Berdasarkan laporan Narkoba Dunia dari UNODC tahun 2006 jumlah penyalahguna narkoba di dunia sebesar 200 juta orang dan terus mengalami peningkatan, sedangkan di Indonesia jumlah kasus tindak pidana untuk kasus narkoba tahun 2006 sebesar 16.252 orang dan mengalami peningkatan sebesar 6,8% menjadi 17.355 pada Desember 2007, data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2007 diketahui 3,2 juta orang Indonesia adalah pengguna narkoba. Setiap tahun jumlah pengguna narkoba bertambah 1 juta orang.

            Sama halnya dengan Palembang tahun 2007 kasus narkoba terutama di kota Palembang menempati ranking teratas dibandingkan data kasus kabupaten / kota se-Sumsel, yakni terdapat 400 kasus (BNN, tahun 2008). Sedangkan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang pada bulan Juni 2008 terdapat kasus narkoba yang terdiri atas 90 orang narapidana dan 28 orang tahanan.

            Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia melaporkan bahwa dari 31.635 tindak pidana narkoba 35% dari mereka adalah remaja yaitu usia 15 hingga 24 tahun. Hal ini dikarenakan usia remaja merupakan tahapan perkembangan dimana individu mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa, akibatnya remaja pada umumnya serba ingin tahu dan cenderung mudah dipengaruhi termasuk dalam mencoba-coba narkoba (Indra,2001 dalam Hutauruk,2007)

 

 

Bentuk Kegiatan

Dalam memberikan penanganan dari berbagai kasus yang terjadi pada lapas anak klas IIA, maka kami peserta kuliah kerja sosial (KKS) dengan tema “Mewujudkan generasi muda yang kreatif, inovatif dan berjiwa sosial”. Sehingga  adapun program yang di dilaksanakan yaitu Penyuluhan Narkoba dimana Tim KKS UNSRI bekerja sama dengan Yayasan Intan Maharani selaku narasumber.

 

1.2 PERUMUSAN PROGRAM

            Dari uraian latar belakang diatas, permasalahan yang dapat dirumuskan adalah diperlukannya suatu penyuluhan atau sosialisasi secara intensif dan berkala tentang dampak negatif dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

 

1.3 TUJUAN PROGRAM

Memberikan pengetahuan tentang bagaimana besarnya efek negatif daripada positifnya  dalam penyalahgunaan Narkoba kepada anak – anak didik terutama pada kasus narkoba di LAPAS anak klas II. A pakjo Palembang.

 

1.4 MANFAAT PROGRAM

Diharapkan setelah mengikuti penyuluhan ini dapat berbagi informasi dengan teman-teman yang lain tentang bagaimana besarnya dampak negatif dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang yang tidak hanya berdampak pada kecanduan tetapi dampak-dampak sosial yang akan dihadapi

 

 

 

 

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI

 

2.1  SEJARAH SINGKAT LAPAS KLAS II A PALEMBANG

            Dalam rangka mengembalikan narapidana anak agar dapat hidup selaras dengan tatanan masyarakat, diperlukan pembinaan dan bimbingan agar setelah selesai menjalani masa pidananya mereka akan dapat hidup dengan masyarakat dengan tidak melanggar hukum lagi, menjadi warga masyarakat yang baik dan berguna serta turut aktif dalam kegiatan pembangunan. Untuk itu pembinaan dan bimbingan tersebut dipandang perlu untuk membina khusus anak.

            Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A terletak di Jl. Inspektur Marzuki Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Ilir Barat I Kotamadya Palembang diatas areal tanah seluas 27.580 m2 dengan bangunan seluas 2.343 m2. Berdiri sejak tahun 1968 dengan kapasitas sebaganyak 500 orang. Pembangunan gedungnya dimulai dari tahun 1972 dengan sebutan Lembaga Pemasyarakatan Modern (LPM), yang terdiri dari lembaga khusus klas II.A dan pemuda, serta Lembaga Khusus Wanita. Setelah itu berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No.DDP/14/8/17 dibentuklah Lembaga Pemasyarakatan Khusus Klas II.A dan Pemuda Palembang.

            Sedangkan untuk Lembaga Pemasyarakatan Khusus Wanita karena kesulitan teknis dengan surat keputusan Dirjen Bina Tuna Warga tanggal 23 November 1974 Nomor DDP/14/14/8 ditiadakan. Tetapi seluruh bangunan dan sarana perlengkapan lainnya disatukan menjadi inventaris Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak dan Pemuda. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : 01.PR.07.03 tanggal 26 Februari 1985 tentang organisasi dan tata kerja Lembaga Pemasyarakatan maka Lembaga Pemasyarakatan Anak dan Pemuda berstatus menjadi Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang.

 

 

2.2  KEADAAN BANGUNAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS II.A

            Karena lembaga pemasyarakatan merupakan sarana tempat pembinaan bagi narapidana anak, ini berarti bahwa keadaan bangunannya harus disesuaikan dan diselaraskan dengan pembinaan narapidana. Untuk syarat idealnya suatu bangunan bagi Lembaga Pemasyarakatan menurut Sistem Pemasyarakatan belum ada, tetapi dalam perencanaan pembangunan Lembaga Pemasyarakatan terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan seperti yang tercantum dalam penjelasan pasal 3 peraturan penjara, yaitu :

  1. Harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. udara dan sinar matahari harus cukup dikamar.
  2. Harus memenuhi syarat-syarat keamanan, yaitu :
    1. Menjamin penutupan sempuran untuk pelarian.
    2. Pandangan bangunan harus mudah.
    3. Harus serasi tujuan, yaitu :

·         Ada kemungkinan untuk membagi orang-orang terpenjara dalam golongan dan kelas-kelas.

·         Letak dan tatanan ruangan lainnya harus sesuai dengan maksud yang dikehendaki.

·         Sederhana, murah tetapi harus menghindari yang dipandang buruk.

Bangunan Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang bersifat permanen. Terdiri dari bagian pertama untuk perkantoran dan bagian kedua untuk ruang belajar dan sel-sel.

            Untuk pengawasan terhadap narapidana anak dibagi menjadi 3 tahapan pengawasan, yaitu tahap maksimum, tahap medium, dan minimum. Dijaga oleh kelompok keamanan khusus yang dibagi atas 3 shift kerja yaitu pagi, sore, dan malam.

            Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang ditempatkan di 4 (empat) blok, yaitu A,B,C,D. Di blok A terdiri dari narapidana yang berada pada pengawasan maksimum dan medium terdiri atas 8 kamar, sebuah kamar dipergunakan sebagai karantina dan tempat hukuman disiplin. Blok B terdiri dari 4 buah kamar dan sebuah kamar tempat pengasingan bagi narapidana yang sakit. Sedangkan blok C terdiri dari 5 kamar, dan Blok D terdapat 8 kamar yang khusus digunakan untuk narapidana kasus narkoba. Tiap-tiap kamar kapasitasnya dihuni 9 orang untuk sebuah kamar yang berukuran kecil, dan untuk kamar yang berukuran besar dapat dihuni oleh 24 orang narapidana anak.

 

2.3  KEADAAN PETUGAS

Keadaan petugas di Lembaga Pemasyarakatan merupakan faktor yang ikut menentukan berhasil tidaknya pembinaan narapidana.

Didalam Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang terdiri dari 70 orang petugas dengan beragam pendidikan, terdiri dari 1 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, dan 2 orang perawat yang berlatar belakang pendidikan D3, serta 2 orang tenaga bintal dan rohani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KENDALA DAN PEMECAHAN

 

3.1  KENDALA

Dalam perkembangan terkini, penyalahgunaan narkoba menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan banyak kalangan, karena para korbannya mayoritas generasi muda di berbagai wilayah, tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di daerah-daerah terpencil sekalipun, dan tanpa memandang status maupun strata sosial. Ini terbukti sampai akhir tahun 1999, korban dari pemakai narkoba telah mencapai 1,3 juta orang, yang notabene sebagian besar dari mereka adalah generasi muda.

Narapidana narkoba yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A ditempatkan semuanya dalam blok D. Jumlah narapidana kasus narkoba terhitung Juni 2008 sebanyak 118 narapidana dengan 28 tahanan dan 90 tahanan sudah vonis hukuman yang bervariasi. Lama hukuman antara 3 bulan sampai 5 tahun lebih , rata-rata hukuman antara 1 sampai 2 tahun.

Di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II A Palembang narapidana kasus narkoba dikategorikan dalam 2 kelompok yaitu sebagai pemakai dan pengedar atau kurir.  Pada bulan Juni 2008 terdapat 118 kasus narkoba dengan 60 orang pemakai dan 58 orang pengedar/kurir.

Dari 188 narapidana 58 narapidana ditetapkan sebagai pengedar dan 60 narapidana sebagai pemakai. Dilihat dari jenis kasusnya 14 narapidana menggunakan ganja dan 104 narapidana menggunakan narkotika yang kesemuanya warga negara Indonesia dan berjenis kelamin laki-laki.

Berdasarkan data yang didapat menunjukkan bahwa terdapat 3 orang narapidana yang berusia 14 tahun, 1 orang 15 tahun, 7 orang berusia 16 tahun, 10 orang yang berusia 17 tahun, 18 orang yang berusia 18 tahun, 32 orang yang berusia 19 tahun, 38 orang yang berusia 20 tahun, 8 orang yang berusia 21 tahun, dan 1 orang yang berusia 22 tahun. Berarti narapidana kasus narkoba paling banyak berusia 20 tahun kemudian 19 dan 18 tahun.

 

 

 

3.2 PEMECAHAN

           

Di dalam LAPAS Klas II.A Pakjo Palembang dihuni oleh 323 orang, yang terdiri dari 205 narapidana dan 118 tahanan. Dan khusus untuk kasus narkoba ditetapkan 188 narapidana 58 narapidana ditetapkan sebagai pengedar dan 60 narapidana sebagai pemakai. Dilihat dari jenis kasusnya 14 narapidana menggunakan ganja dan 104 narapidana menggunakan narkotika yang kesemuanya warga negara Indonesia dan berjenis kelamin laki-laki. Ini artinya lebih dari 50% warga binaan di LAPAS Klas II.A Pakjo ini tersandung kasus narkoba. Hal ini sangat disayangkan mengingat usia warga binaan ini rata-rata masih di bawah umur 22 tahun, dimana pada usia tersebut yang merupakan usia produktif dihabiskan didalam LAPAS karena tersandung kasus penyalahgunaan obat-obat terlarang.

Oleh karena itu Tim KKS Unsri kali ini menggandeng Tim dari Yayasan Intan Maharani selaku narasumber atau pembicara dalam acara Penyuluhan Narkoba dan Dampak-dampaknya terhadap kesehatan maupun lingkungan sosialnya. Karena keterbatasan pendanaan yang mengakibatkan tidak bisa seluruh warga binaan LAPAS Klas II.A Pakjo mengikuti penyuluhan ini, maka diambil jalan tengahnya yaitu warga binaan yang mengikuti penyuluhan narkoba ini hanya yang terkena kasus narkotika.

 

Adapun pelaksanaan penyuluhan narkoba ini dilakukan pada :

Hari / Tanggal             : Senin 26 Juli 2010

Waktu                         : 09.00 – 12.00 WIB

Narasumber                 : Tim dari Yayasan Intan Maharani

Peserta                         : Khusus warga binaan yang terkena kasus narkotika

 

 

 

 

 

 

BAB IV

 

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

 

NARKOBA

A. Pengertian Narkoba

            Istilah “narkoba” adalah kependekan dari “narkotik” dan obat-obatan berbahaya. Namun sekarang narkoba umumnya diartikan untuk meliputi narkotik, psikotropika dan alkohol. Pihak pemerintah cenderung lebih senang dengan istilah NAPZA. Menurut  Muzayyanah (2008) adalah singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan zat aditif lainnya yang memberikan rasa ketergantungan terhadap pemakaina. Ketiga golongan tersebut dapat mempengaruhi cara kerja pikiran, perasaan, dan kehendak manusia. Pemakai narkoba secara fisik mereka sehat namun ada gangguan secara mental atau kejiwaan.

Berdasarkan cara kerjanya dibagi dalam tiga jenis :

1. Depressant

Menekan kerja otak. Termasuk di dalamnya pil penenang, alkohol, inhalen, heroin, minyak heroin, morfin. Pemakaian dalam jangka lama memberikan efek kekurangan daya ingat, gangguan pancreas, cirrhosis (pengerasan) pada liver, darah tinggi, melemahna daya kerja jantung, kerusakan janin, kerusakan paru-paru, kerusakan sel sperma, impotensia, kerusakan otak. Yang paling menonjol karena pemakaian ini mata menjadi sayu, mudah mengantuk, pucat, cadel. gatal hidung, pendiam, mata berair, badan kurus, mual-mual, pemarah, tempramental, pandai berbohong, vertigo, kelumpuhan, bahkan kematian.

2. Stimulant

Merangsang kerja otak. Termasuk didalamnya :ekstasi, kokain, shabu. Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu penyedap masakan. Dampak dalam pemakainya adalah serangan jantung, stroke, gangguan pusat pernafasan, depresi, paranoid, gangguan organ pernafasan, kegelisahan, imsomnia, kehilangan gairah seksual, berat badan turun drastis. Sebagaimanapun keinginan bagi pemakai biasanya jenis ini memberikan efek menjadi bersemangat, paranoid, gelisah, tak bisa diam, tidak nafsu makan, gangguan pola tidur, sulit berfikir dan berkonsentrasi, sehingga kesehatan secara umum terganggu. Penggunaan jangka panjang memberikan efek kerusakan organ tubuh berupa : kerusakan syaraf otak, gangguan liver, tulang dan gigi keropos, paranoid dan kerusakan syaraf mata.

3. Halusinogen

Jenis ini memberikan efek otak berhalusinasi. Termasuk didalamnya : ganja, hasish (ganja cair), LSD, magic mushroom. Penggunaan jenis ini berefek lemas dan ingin tidur terus, gelisah, perasaan gembira dan selalu tertawa untuk hal yang tidak lucu, nafsu makan bertambah, disorientasi ruang, penggunaan jangka panjang gangguan memori otak (pelupa), sulit berfikir dan konsentrasi, suka bengong. Penggunaan jenis ini berdampak kerusakan pada organ tubuh berupa hilang daya ingat, konsentrasi, kemampuan belajar, menurunnya gairah seksual, gangguan siklus haid, meningkatkan resiko kanker, munculnya gangguan jiwa yang menetap.

 

B. Jenis-Jenis Narkoba

Berikut ini adalah jenis narkoba yang cukup populer:

1. Opium

Opium adalah getah berwarna putih seperti susu yang keluar dari kotak biji tanaman papaver samni vervum yang belum masak. Jika buah candu yang bulat telur itu kena torehan, getah tersebut jika ditampung dan kemudian dijemur akan menjadi opium mentah. Cara modern untuk memprosesnya sekarang adalah dengan jalan mengolah jeraminya seeara besar-besaran, kemudian dari jerami candu yang matang setelah diproses akan menghasilkan alkolida dalam bentuk cairan, padat dan bubuk.

Di sekitar abad keempat sebelum masehi diketahui tanaman ini tumbuh subur di kawasan Mediterania. Selanjutnya, tanaman candu atau poppy dibudidayakan orang Asia seperti Afganistan, Cina, India, Kawasan Segitiga Emas, Pakistan, Turki, di Amerika (Meksiko) dan Eropa (Hungaria) .

Ciri-ciri tanaman papaver semniverum adalah sebagai berikut; tingginya 70-110 cm, daunnya hijau lebar berkeluk-keluk. Panjang­nya 10-25 cm, tangkainya besar berdiri menjulang ke atas keluar dari rumpun pohonnya, berbunga (merah, putih, ungu) dan buahnya berbentuk bulat telur. Dari buahnya itu diperoleh getah yang berwarna putih kemudian membeku, getah yang tadinya berwarna putih setelah mengering berganti warnanya menjadi hitam cokelat, getah itu dikumpulkan lalu diolah menjadi candu mentah atau candu kasar.

 

Dalam perkembangan selanjutnya opium dibagi kepada :

1.      Opium mentah, yaitu getah yang membeku sendiri, diperoleh dari dua tanaman papaver somni verum yang hanya mengalami pengolahan sekadar untuk pembungkusan dari pengangkutan tanpa memerhatikan kadar morfinnya.

2.      Opium masak adalah:

a.       Candu, yakni yang diperoleh dari opium mentah melalui suatu rentetan pengolahan khususnya dengan pelarutan, pemanasan dan peragian, atau tanpa penambahan bahan­bahan lain, dengan maksud mengubahnya menjadi suatu ekstrak yang cocok untuk pemadatan.

b.      Jicing, yakni sisa-sisa dari candu yang telah diisap, tanpa memerhatikan apakah candu itu dicampur dengan daun atau bahan lain.

c.       Jicingko, yakni hasil yang diperoleh dari pengolahan jicing.

3.      Opium Obat adalah opium mentah yang tidak mengalami pengolahan sehingga sesuai untuk pengobatan baik dalam bubuk atau dicampur dengan zat-zat netral sesuai dengan syarat farmakologi.

 

2.Morphin

Perkataan "morphin" itu berasal dari bahasa Yunani "Morpheus" yang artinya dewa mimpi yang dipuja-puja. Nama ini cocok dengan pecandu morphin, karena merasa play di awang-awang.

Morpin adalah jenis narkotika yang bahan bakunya berasal dari candu atau opium. Sekitar 4-21 % morpin dapat dihasilkan dari opium. Morpin adalah prototipe analgetik yang kuat, tidak berbau, rasanya pahit, berbentuk kristal putih, dan warnanya makin lama berubah menjadi kecokelat-cokelatan.

Ada tiga macam morpin yang beredar di masyarakat, yaitu:

a.       Cairan yang berwarna putih, yang disimpan di dalam sampul atau botol kecil dan pemakaiannya dengan cara injeksi;

b.      Bubuk atau serbuk berwarna putih seperti bubuk kapur atau tepung dan mudah larut di dalam air, ia cepat sekali lenyap tanpa bekas. Pemakaiannya adalah dengan cara menginjeksi, merokok dan kadang-kadang dengan menyilet tubuh;

c.       Tablet kecil berwarna putih, pemakaiannya dengan menelan.

 

3.Ganja

Tanaman ganja adalah damar yang diambil dari semua tanaman genus cannabis, termasuk biji dan buahnya. Damar ganja adalah damar yang diambil dari tanaman ganja, termasuk hasil pengolahan­nya yang menggunakan damar sebagai bahan dasar.

Ganja atau marihuana (marijuana) atau cannabis indica. Ganja bagi para pengedar maupun pecandu diistilahkan dengan cimeng, gele, daun, rumput jayus, jum, barang, marijuana, gelek hijau, bang, bunga, ikat dan labang. Di India, ganja dikenal dengan sebutan Indian Hemp, karena ia merupakan sumber kegembiraan dan dapat memancing atau merangsang selera tertawa yang berlebihan.

Pohon ganja termasuk tumbuhan liar dapat tumbuh di daerah tropis maupun subtropis. Pohon ini tahan terhadap macam­macam musim dan iklim. Sehingga pohon ini dapat tumbuh di daratan Tiongkok Asia Barat, Asia Tengah, dan Afrika bagian Utara.

 

 

4.Cocaine

Tanaman koka adalah tanaman dari semua genus erithroxylon dari keluarga erythroxlaceae. Daun koka adalah daun yang belum atau sudah dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua tanaman genus erithroxylon dari keluarga erythroxlaceae, yang menghasilkan kokain secara langsung atau melalui perubahan kimia. Kokaina mentah adalah semua hasil-hasil yang diperoleh dari daun koka yang dapat diolah secara langsung untuk mendapatkan kokain.

Tanaman koka tumbuh dan subur di daerah yang berketinggian 400-600 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia tanaman koka ini banyak terdapat di daerah Jawa Timur. Sedangkan penghasil koka terbesar ialah bagian negara Amerika Selatan, yaitu Bolivia dan Peru yang tumbuh di lereng gunung Ades. Daerah ini menghasilkan produksinya rata-rata 25 juta ton per tahun. Bahkan sudah berabad-abad lamanya orang Indian mengunyah daun koka dalam upacara kepercayaan mereka, hal ini dilakukan agar dapat berkomunikasi dengan Dewa mereka.

Bentuk dan macam cocaine yang terdapat di dunia perdagangan gelap di antaranya yaitu:

a.       Cairan berwarna putih atau tanpa warna;

b.      Kristal berwarna putih seperti damar (getah perca);

c.       Bubuk berwarna putih seperti tepung;

d.      Tablet berwarna putih

 

5.Heroin

Setelah ditemukan zat kimia morphine pada tahun 1806 oleh Fredich Sertumer kemudian pada tahun 1898, Dr. Dresser, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, telah menemukan zat heroin.

Semula zat baru ini (heroin) diduga dapat menggantikan morphine dalam dunia kedokteran dan bermanfaat untuk mengobati para morpinis. Akan tetapi, harapan tersebut tidak berlangsung lama, karena terbukti adanya kecanduan yang berleblhan bahkan leblh cepat daripada morphine serta lebih susah disembuhkan bagi para pecandunya.

Heroin atau diacethyl morpin adahh suatu zat semi sintesis turunan morpin. Proses pembuatan heroin adalah melalui proses penyulingan dan proses kimia lainnya di laboratorium dengan cara acethalasi dengan aceticanydrida. Bahan bakunya adalah morpin, asam cuka, anhidraid atau asetilklorid.

Heroin dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a.       Heroin nomor satu, bentuknya masih merupakan bubuk atau gumpalan yang berwarna kuning tua sampai cokelat. ]enis ini sebagian besar masih berisi morphine dan merupakan hasil ekstraksi. Nama di pasaran gelapnya disebut gula merah (red sugar).

b.      Heroin nomor dua, sudah merupakan bubuk berwarna abu­abu sampai putih dan masih merupakan bentuk transisi dari morphine ke heroin yang belum murni.

c.       Heroin nomor tiga, merupakan bubuk butir-butir kecil kebanyakan agak berwarna abu-abu juga diberi warna lain untuk menandai ciri khas oleh pembuatnya. Biasanya masih dicampur kafein, barbital, dan kinin.

d.      Heroin nomor empat, bentuknya sudah merupakan kristal khusus untuk disuntikkan.

e.       Si pemakai biasanya menggunakannya dengan menyedot, dan yang lebih praktis diinjeksikan

 

6.Shabu-Shabu

Shabu-Shabu berbentuk seperti bumbu masak, yakni kristal kecil-kecil berwarna putih, tidak berbau, serta mudah larut dalam air alkohol. Air shabu-shabu juga termasuk turunan amphetamine yang jika dikonsumsi memiliki pengaruh yang kuat terhadap fungsi otak. Pemakainya segera akan aktif, banyak ide, tidak merasa lelah meski sudah bekerja lama, tidak merasa lapar, dan tiba-tiba memiliki rasa percaya diri yang besar.

 

7.Ekstasi

Ekstasi adalah zat atau bahan yang tidak termasuk kategori narkotika atau alkohol. Ekstasi merupakan jenis zat adiktif.

Zat adiktif yang dikandung ekstasi adalah amphetamine (MDMA), suatu zat yang tergolong simultansia (perangsang). Dalam Undang-Undang No.5/1997 tentang Psikotropika, amphetamine ini termasuk golongan 1. Hal ini menunjukkan bahwa bila terjadi penyalahgunaan ekstasi, berarti akan dikenai sanksi hukum pidana yang berat.

Saat ini sudah diketahui sekitar 36 jenis ekstasi (tergolong jenis adiktif) yang sudah beredar di Indonesia dari ratusan jenis ekstasi yang sudah ada, di antaranya sebagai berikut: Star: mempunyai logo bintang, Dollar: mempunyai logo uang dolar Amerika, Apple: mempunyai logo ape!, Mellon/555: mempunyai logo 555 berwarna hijau, Pink: berwarna merah hijau, Butterfly: mempunyai logo kupu-kupu dan berwarna biru, Pinguin, Lumba­lumba, RN: mempunyai logo RN berwarna hijau laut, Elektrik, Apache, Bon ]ovi, Kangguru, Petir, Tanggo, Diamond: berwarna intan warna hijau, Paman Gober: logo mirip paman gober, Taichi: berwarna biru at au kuning, Black Heart: berbentuk hati berwarna hitam.

 

8.Putaw

Jenis narkotika ini marak diperedarkan dan dikonsumsi oleh generasi muda dewasa ini, khususnya sebagai "trend anak modern", agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Istilah putaw sebenarnya merupakan minuman khas Cina yang mengandung alkohol dan rasanya seperti green sand, akan tetapi oleh para pecandu narkotika, barang sejenis heroin yang masih serumpun dengan ganja itu dijuluki putaw. Hanya saja kadar narkotika yang dikandung putaw lebih rendah atau dapat disebut heroine kualitas empat sampai enam.

Para Junkies (istilah bagi para pecandu putaw), mereka biasanya dengan cara mengejar dragon (naga) , yaitu bubuk/kristal putaw dipanaskan di atas kertas timah, lalu keluarlah yang menyerupai dragon (naga), dan kemudian asap itu dihisapnya melalui hidung atau mulut. Cara lain adalah dengan nyipet, yaitu cara menyuntikkan putaw yang dilarutkan ke dalam air hangat ke pembuluh darah. Kemungkinan tertular virus HIV / AIDS menjadi risiko cara seperti ini, karena memakai jarum suntik secara bersamaan. Jadi, kebanya­kan dari mereka Qungkies) memilih cara dengan mengejar dragon.

 

9.Alkohol

Alkohol termasuk zat adiktif, artinya zat tersebut dapat menyebabkan ketagihan dan ketergantungan. Karena zat adiktifnya tersebut maka orang yang meminumnya lama kelamaan tanpa disadari akan menambah takaran sampai pada dosis keracunan (intoksidasi) atau mabuk.

 

10.Sedativa / Hipnotika

Di dunia kedokteran terdapat jenis obat yang berkhasiat sebagai obat/penenang yang mengandung zat aktif nitrazepam atau barbiturat atau senyawa lain yang khasiatnya serupa. Golongan ini termasuk psikotfopika golongan IV

 

C. Peralatan yang Dipakai untuk Narkoba

Ada beberapa peralatan yang dipakai oleh junkies (pemakai narkoba) antara lain: Alumunium foil yang sudah dipotong-potong, biasanya digunakan untuk membakar shabu-shabu, kartu telepon bekas biasanya digunakan untuk menghaluskan bubuk putaw, bungkus kaset/VCD yang tergores-gores biasanya dipakai sebagai tatakan putaw yang akan dihaluskan dengan kartu telepon, lintingan uang kertas biasanya digunakan untuk menghisap asap putaw yang sudah terbakar, botol plastik yang diberi sedotan, digunakan untuk menghisap shabu-shabu. Biasanya di dalam botol terse but diisi air mineral. Shabu-shabu dibakar di atas alumunium foillalu asapnya dihisap dengan perantara botol plastik, tali dipakai untuk mengikat lengan pemakai untuk membakar putaw lalu dihisap asapnya, kertas timah/pembungkus permen karet digunakan untuk membakar putaw untuk dihisap asapnya, sendok kedl dipakai untuk merebus/ mencairkan putaw untuk disuntikkan ke pembuluh darah dan alkohol dipakai untuk membersihkan alat suntik atau bahan bakar “kompor” untuk menggunakan shabu-shabu.

 

 

D. Tanda-tanda Seseorang Menjadi Pemakai Narkoba

Ada beberapa tanda yang akan memberi petunjuk bahwa seseorang telah terlibat pemakaian narkoba. Tanda-tanda tersebut sebagai berikut.

1.      Pembangkangan terhadap disiplin yang tiba-tiba terjadi di rumah maupun di sekolah, seperti sering bolos sekolah, sering terlambat masuk sekolah dengan alasan terlambat bangun, sering terlambat masuk kelas setelah istirahat, sering mengan­tuk dan tertidur di sekolah, sering lupa jadwal ulangan, lupa membawa buku pelajaran, dan prestasi di sekolah menurun.

2.      Ada kesulitan konsentrasi dan penurunan daya ingat.

3.      Kurang memerhatikan penampilan dan kerapihan padahal sebelumnya tidak demikian.

4.      Kedapatan berbicara cadel atau gugup (sebelumnya gejala ini tidak pernah muncul).

5.      Ada perubahan pola tidur (pagi hari sulit dibangunkan dan malam hari sering mengeluh sulit tidur).

6.      Sering kedapatan mata merah dan hidung berair (walaupun tidak sedang influenza).

7.      Sering tidak membayarkan uang sekolah (dilaporkan hilang).

8.      Di rumah sering kehilangan barang-barang berharga.

9.      Perubahan tingkah laku yang tiba-tiba belakangan ini terhadap kegiatan sekolah, keluarga dan teman-teman menjadi kasar, tidak sopan dan penuh rahasia serta jadi mudah curiga terhadap orang lain.

10.  Marah yang tidak terkontrol yang tidak biasanya dan perubahan suasana hati yang tiba-tiba.

11.  Meminjam atau mencuri uang dari rumah, sekolah atau toko (guna membiayai kebiasaannya).

12.  Mengenakan kaca mata gelap pada saat yang tidak tepat untuk menyembunyikan mata bengkak dan merah.

13.  Bersembunyi di kamar mandi at au tempat-tempat yang janggal seperti gudang, di bawah tangga dalam waktu lama dan berkali-kali.

14.  Lebih banyak menyendiri dari biasanya, sering bengong dan berhalusinasi.

15.  Menjadi manipulatif dan sering kehabisan uang jajan.

16.  Berat badannya turun karena nafsu makan yang tidak menentu.

17.  Cara berpakaian yang menjadi sembarangan dan tiba-tiba menjadi penggemar baju panjang untuk menyembunyikan bekas suntikan di tangan.

18.  Sering didatangi oleh orang-orang yang belum dikenal keluarga atau teman-temannya.

 

E. Gejala Ketagihan Narkoba

Ada beberapa gejala, seseorang yang ketagihan (adiksi) terhadap narkoba. Gejala-gejala itu seperti: tulang sekujur badan terasa sakit dan linu, otot terasa kaku, kepala seperti hendak pecah, tenggorokan berisi cairan kental, mata berair, hidung berlendir seperti kena flu, terus-menerus batuk, sering menguap padahal tidak mengantuk, bulu kuduknya berdiri, tekanan darah tinggi, suhu tubuh jauh di at as normal, perut terasa melilit, mencret-mencret tidak terkendali, menggigil kedinginan, tidak berani menyentuh air dan menyembunyikan diri dari lingkungan keluarga.

Berdasarkan gejala-gejala tersebut, maka orang yang sering memakai atau menggunakan narkoba akan berakibat dependensi (ketergantungan), yaitu keinginan yang tak tertahankan, kecenderungan untuk menambah takaran menimbulkan gejala kejiwaan dan gejala fisik.

 

F. Faktor Penyebab Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkoba

1. Faktor Keluarga

Dalam percakapan sehari-hari, keluarga paling sering menjadi “tertuduh” timbulnya penyalahgunaan narkoba pada anaknya. Tuduhan ini tampaknya bukan tidak beralasan, karena hasil penelitian dan pengalaman  para konselor di lapangan menunjukkan peranan penting dari keluarga dalam kasus-kasus penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan hasil penelitian tim UNIKA Atma Jaya dan Perguruan Tinggi Kepolisian tahun 1995, terdapat beberapa tipe keluarga yang beresiko tinggi anggota keluarganya (terutama anaknya yang remaja) terlibat penyalahgunaan narkoba yaitu :

1.      Keluarga yang memiliki manajemen sejarah (termasuk orang tua) mengalami ketergantungan narkoba.

2.      Keluarga dengan manajemen keluarga yang kacau, yang terlihat dari pelaksanaan aturan yang tidak konsisten dijalankan oleh ayah dan ibu (misalnya, ayah bilang ya, ibu bilang tidak).

3.      Keluarga dengan konflik yang tinggi dan tidak pernah ada upaya penyelesaian yang memuaskan semua pihak yang berkonflik. Konflik dapat terjadi antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, maupun antar saudara.

4.      Keluarga dengan orang tua yang otoriter. Disini peran orang tua sangat dominan, dengan anak yang hanya sekedar harus menuruti apa kata orang tua – dengan alasan soan santun, adat istiadat, atau demi kemajuan dan masa depan anak itu sendiri – tanpa diberi kesempatan untuk berdialog dan menyatakan kesetujuannya. Orang tua menentukan standar mutlak yang harus dipenuhi anaknya. Orang tua tidak mengenal kompromi untuk anaknya. Komunikasi bersifat searah, dari orang tua ke anak. Anak adalah objek yang harus dibentuk oleh orang tua yang merasa lebih tahu kemana yang terbaik unyuk anak-anaknya.

5.      Keluarga yang perfeksionis, yaitu keluarga yang menuntut anggotanya mencapai kesempurnaan dengan standar tinggi yang harus dicapai dalam banyak hal.

6.      Keluarga yang neurosis, yaitu keluarga yang diliputi kecemasan dengan alasan yang kuat, mudah cemas dan curiga, dan sering berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

 

2. Faktor Kepribadian

Kepribadian penyalahguna narkoba juga turut berperan dalam perilaku ini.  Pada remaja, biasanya penyalahguna narkoba memiliki konsep diri yang negatif dan harga diri yang rendah.  Perkembangan emosi yang terhambat, dengan ditandai oleh ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara wajar, mudah cemas, pasif agresif dan cenderung depresi juga turut mempengaruhi.

a)      Rendah diri : perasaan rendah diri di dalam pergaulan di masyarakat ataupun di lingkungan sekolah, kerja dsb, individu mengatasi masalah tersebut dengan cara menyalahgunakan narkotik, psykotropika maupun minuman keras yang dilakukan untuk menutupi kekurangan tersebut sehingga individu memperoleh apa yang diinginkan seperti lebih aktif dan berani.

b)      Emosional dan mental : Pada masa remaja biasanya individu ingin lepas dari segala aturan-aturan orang tua mereka.  Dan akhirnya sebagai tempat pelarian yaitu dengan menggunakan narkotik, psikotropika dan minuman keras lainnya.  Lemahnya mental seseorang akan lebih mudah dipengaruhi oleh perbuatan-perbuatan negatif yang akhirnya menjurus ke arah penggunaan narkotik, psikotropika dan minuman keras lainnya.

Selain itu, kemampuan remaja untuk memecahkna masalahnya secara adekuat berpengaruh terhadap bagaimana ia mudah mencari pemecahan masalah dengan melarikan diri.  Hal ini juga berkaitan dengan mudahnya ia menyalahkan lingkungan dan lebih melihat faktor-faktor di luar dirinya yang menentukan segala sesuatu.  Dalam hal ini, kepribadian yang dependen dan tidak mandiri memainkan peranan penting dalam memandang narkoba sebagai satu-satunya pemecahan masalah yang dihadapi.

Sangat wajar bila dalam usianya remaja membutuhkan pengakuan dari lingkungan sebagai bagian pencarian identitas dirinya.  Namun bila ia memiliki kepribadian yang tidak mandiri dan menganggap segala sesuatunya harus diperoleh dari lingkungan, akan sangat memudahkan kelompok teman sebaya untuk mempengaruhinya menyalahgunakan narkoba.

 

 

3.Faktor kelompok teman sebaya (peer group)

Kelompok teman sebaya dapat menimbulkan tekanan kelompok, yaitu cara teman-teman atau orang-orang seumur untuk mempengaruhi seseorang agar berprilaku seperti kelompok itu.  Tekanan kelompok dialami oleh semua orang bukan hanya remaja, karena pada kenyataannya semua orang ingin disukai dan tidak ada yang mau dikucilkan.

Kegagalan untuk memenuhi tekanan dari kelompok teman sebaya, seperti berinteraksi dengan kelompok teman yang lebih populer, mencapai prestasi dalam bidang olah raga, sosial dan akademik, dapat menyebabkan frustasi dan mencari kelompok lain yang dapat menerimanya.  Sebaliknya, keberhasilan dari kelompok teman sebaya yang memiliki perilaku dan norma yang mendukung penyalahgunaan narkoba dapat muncul.

 

4.Faktor kesempatan

Ketersediaan narkoba dan kemudahan memperolehnya juga dapat dikatakan sebagai pemicu.  Indonesia yang sudah menjadi tujuan pasar narkotika internasional, menyebabkan zat-zat ini dengan mudah diperoleh.  Bahkan beberapa media massa melansir bahwa para penjual narkotika menjual barang dagangannya di sekolah-sekolah, termasuk sampai di SD.  Penegakan hukum yang belum sepenuhnya berhasil juga turut menyuburkna usaha penjualan NAPZA di Indonesia.

 

Menurut Dr. Luthfi Baraja, terdapat tiga pendekatan untuk terjadinya penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba yaitu pendekatan organobiologik, psikodinamik dan psikososial. Ketiga pendekatan tersebut tidaklah berdiri sendiri melainkan saling berkaitan satu dengan yang lainnya.

Dari sudut pandang organobiologik (susunan syaraf pusat/ otak) mekanisme terjadinya adiksi (ketagihan) hingga dependensi (ketergantungan) dikenal dengan dua istilah, yaitu gangguan mental organik at au sindrom otak organik; seperti gaduh, gelisah dan kekacauan dalam fungsi kongnitif (alam pikiran), efektif (alam perasaan/ emosi) dan psikomotor (perilaku), yang disebabkan efek langsung terhadap susunan syaraf pusat (otak).

Seseorang akan menjadi ketergantungan narkoba, apabila seseorang dengan terus-menerus diberikan zat tersebut. Hal ini berkaitan dengan teori adaptasi sekuler (neuro-adaptation), tubuh beradaptasi dengan menambah jumlah teseptor dan sel-sel syaraf bekerja keras. Jika zat dihentikan, sel yang masih bekerja keras tadi mengalami kehausan, yang dari luar tampak sebagai gejala-gejala putus obat. Gejala putus obat tersebut memaksa orang untuk mengulangi pemakaian zat tersebut.

Dengan teori psikodinamik dinyatakan bahwa seseorang akan terlibat penyalahgunaan narkoba sampai ketergantungan, apabila pada orang itu terdapat faktor penyebab (factor contribusi) dan faktor pencetus yang saling keterkaitan satu dengan yang lain.

Faktor predisposisi seseorang dengan gangguan kepribadian (anti sosial) ditandai dengan perasaan tidak puas terhadap orang lain. Selain itu yang bersangkutan tidak mampu untuk berfungsi secara wajar dan efektif dalam pergaulan di rumah, di sekolah atau di tempat kerja, gangguan lain sebagai penyerta berupa rasa cemas dan depresi. Untuk mengatasi ketidakmampuan dan menghilangkan kecemasan atau depresinya, maka orang cenderung untuk menggunakan narkoba. Semestinya orang itu dapat mengobati dirinya dengan datang ke dokter/psikiater untuk mendapatkan terapi yang tepat sehingga dapat dicegah keterlibatannya dalam penggunaan narkoba.

Faktor kontribusi; seseorang dengan kondisi keluarga yang tidak baik akan merasa tertekan, dan rasa tertekan inilah sebagai faktor penyerta bagi dirinya untuk terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Disfungsi keluarga yang dimaksud antara lain: keluarga yang tidak utuh, kedua orang tua terlalu sibuk, lingkungan interpersonal dengan orang tua yang tidak baik.

Faktor pencetus; bahwa pengaruh ternan sebaya, tersedia dan mudah didapatinya narkoba mempunyai andil sebagai faktor pencetus seseorang terlibat penyalahgunaan/ketergantungan narkoba.

Dari sudut pandang psikososial narkoba terjadi akibat negatif dari interaksi tiga kutub sosial yang tidak kondusif, yaitu kutub keluarga, kutub sekolah/kampus dan kutub masyarakat.

 

Secara umum mereka yang menyalahgunakan NAZA (narkoba) dapat dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu:

1.      ketergantungan primer, ditandai dengan adanya kecemasan dan depresi, yang pada umumnya terdapat pada orang dengan kepribadian yang tidak stabil;

2.      ketergantungan simtomatis, yaitu penyalahgunaan NAZA (narkoba) sebagai salah satu gejala dari tipe kepribadian yang mendasarinya, pada umumnya terjadi pada orang yang dengan kepribadian psikopatik (antisosial), kriminal dan pemakaian NAZA (narkoba) untuk kesenangan semata;

3.      ketergantungan reaktif, yaitu (terutama) terdapat pada remaja karena dorongan ingin tahu, pengaruh lingkungan dan tekanan ternan kelompok sebaya (peer group pressure).

Pembagian ketiga golongan ini penting bagi penentuan berat ringannya hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka: yaitu apakah mereka tergolong sebagai penderita (pasien), korban (victim) atau sebagai kriminal. 

Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang menjadi penyebab seseorang menyalahgunakan  dan menjadi ketergantungan narkoba. Menurut Sudarsono, bahwa penyalahgunaan narkoba dilatarbelakangi oleh beberapa sebab, yaitu:

1.      untuk membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan­tindakan yang berbahaya seperti ngebut dan bergaul dengan wanita;

2.      menunjukkan tindakan menentang orang tua, guru dan norma sosial;

3.      mempermudah penyaluran dan perbuatan seks;

4.      melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman-pengalaman emosional;

5.      meneari dan menemukan arti hidup;

6.      mengisi kekosongan dan kesepian hidup;

7.      menghilangkan kegelisahan, frustasi dan kepepet hidup;

8.      mengikuti kemauan kawan-kawan dalam rangka pembinaan solidaritas.

9.      iseng-iseng saja dan rasa ingin tahu.

 

Menurut hasil penelitian Dadang Hawari, bahwa di antara faktor-faktor yang berperan dalam penggunaan narkoba adalah :

1.      faktor kepribadian anti sosial atau psikopatik;

2.      kondisi kejiwaan yang mudah merasa keeewa atau depresi;

3.      kondisi keluarga yang meliputi keutuhan keluarga, kesibukan orang tua, hubungan orang tua dan anak;

4.      kelompok ternan sebaya.

5.      dan NAZA (narkoba) nya itu sendiri mudah diperoleh dan tersedianya pasaran baik resmi maupun tidak resmi.

 

Menurut pendapat Sumarno Ma'sum, bahwa faktor terjadinya penyalahgunaan NAZA (narkoba) secara garis besar dikelompokkan kepada tiga bagian, yaitu :

1.      obat kemudahan didapatinya obat secara sah atau tidak, status hukumnya yang masih lemah dan obatnya mudah menimbulkan ketergantungan dan adiksi;

2.      kepribadian meliputi perkembangan fisik dan mental yang labil, kegagalan cita-cita, cinta, prestasi, jabatan dan lain-lain, menutup diri dengan lari dari kenyataan, kekurangan informasi tentang penyalahgunaan obat keras, bertualang dengan sensasi yang penuh risiko dalam mencari identitas kepribadian, kurangnya rasa disiplin, kepercayaan agamanya minim;

3.      lingkungan, meliputi rumah tangga yang rapuh dan kacau, masyarakat yang kacau, tidak adanya tanggung jawab orang tua dan petunjuk serta pengarahan yang mulia, pengangguran, orang tuanya juga kecanduan obat, penindakan hukum yang masih lemah, berbagai bantuan dan kesulitan zaman

 

Ada beberapa tahapan proses ketergantungan narkoba. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Tahapan Eksperimen (The Experimental Stage)

Motif utama dari pemakaian eksperimen adalah rasa ingin tahu dan keinginan untuk mengambil risiko, yang keduanya merupakan ciri-ciri khas kebutuhan remaja.

2.      Tahap Sosial (The Social Stage)

Konteks pemakaian pada tahap ihi berkaitan dengan aspek sosial dan pengguna. Misalnya, pemakaian yang dilakukan saat bersama teman-teman pada saat pesta atau kumpul-kumpul. Rasa ingin tahu dan keinginan meneari ketegangan (thrill­seeking), dan tingkah laku menyimpang merupakan motivasi utamanya. Kelompok teman merupakan fasilitas dalam penggunaan sosial. Obat-obat yang ada dibagi tanpa memungut bayaran, atau secara gratis. 

3.      Tahap Instrumental (The Instrumental Stage)

Pada tahap instrumental, melalui pengalaman coba-coba dan meniru, bahwa penggunaan dapat bertujuan memanipulasi emosi dan tingkah laku, mereka menemukan bahwa pemakaian obat dapat memengaruhi perasaan dan aksi, mendapatkan mood yang berayun-ayun, dan bertujuan untuk menekan perasaan atau tujuan memperoleh hedonistik (kenikmatan) dan kompensatori (mengatasi stres dan perasaan tidak nyaman).

4.      Tahap Pembiasan

Pada tahap ini, jika tidak ditemukan obat yang bisa digunakan, akan mencari obat lain, untuk menghindari gejala putus obat atau zat. Pada tahap ini mereka lebih sensitif, lekas marah, gelisah dan depresi. Mereka akan merasa kesulitan berkonsentrasi, duduk dengan tenang atau tidur dengan nyenyak. Mereka akan memakai obat dengan dosis yang bertambah, atau mencoba obat lain untuk menggantikan ketidaknyamanannya.

 

G. Akibat Penyalahgunaan narkoba dan Dampaknya Terhadap Mental dan Perilaku

Akibat dari penyalahgunaan narkoba (dalam BNK Samarina 2007):

a)      Merusak sususan syaraf pusat atau merusak organ-organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal, serta penyakit dalam tubuh seperti bintik-bintik merah pada kulit seperti kudis, hal ini berakibat melemahnya fisik, daya pikir dan merosotnya moral yang cenderung melakukan perbuatan penyimpangan sosial dalam masyarakat.

b)      Dalam memenuhi kebutuhan penggunaan narkotik, mereka dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh narkotik.  Yang awalnya menjual barang-barang hingga melakukan tindakan pidana.

 

Sedangkan menurut Hasibuan, 2007 dampak negatif penggunaan narkoba adalah:

1.      Bahaya yang  bersifat pribadi

a.       Narkoba akan merubah kepribadian si korban secara drastis, seperti berubah menjadi pemurung, pemarah, melawan, dan durhaka.

b.      Menimbulkan sifat masa bodoh sekalipun terhadap dirinya seperti tidak lagi memperhatikan pakaian, tempat tidur dan sebagainya, hilangnya ingatan, dada nyeri dan dikejar rasa takut.

c.       Semangat belajar menurun dan suatu ketika bisa saja si korban bersifat seperti orang gila karena reaksi dari penggunaan narkoba.

d.      Tidak lagi ragu untuk mengadakan hubungan seks karena pandangnya terhadap norma-norma masyarakat, adat kebudayaan, serta nilai-nilai agama sangat longgar.  Dorongan seksnya menjadi brutal, maka terjadilah kasus-kasus perkosaan.

e.       Tidak segan-segan menyiksa diri karena ingin menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan terhadap obat bius, ingin mati bunuh diri.

f.       Menjadi pemalas bahkan hidup santai.

g.      Bagi anak-anak sekolah, prestasi belajarnya akan menurun karena banyak berkhayal dan berangan-angan sehingga merusak kesehatan dan mental.

h.      Memicu timbulnya pemerkosaan dan seks bebas yang akhirnya terjebak dalam perzinahan dan selanjutnya mengalami penyakit HIV/AIDS.

2.      Bahaya yang bersifat keluarga

a.       Tidak lagi segan untuk mencuri uang dan bahkan menjual barang-barang di rumah untuk mendapatkan uang secara cepat.

b.      Tidak lagi menjaga sopan santun di rumah bahkan melawan kepada orang tua.

c.       Kurang menghargai harta milik yang ada seperti mengendarai kendaraan tanpa perhitungan rusak atau menjadi hancur sama sekali.

d.      Mencemarkan nama keluarga

3.      Bahaya yang bersifat sosial

a.       Berbuat yang tidak senonoh ( mesum/cabul ) secara bebas, berakibat buruk dan mendapat hukuman masyarakat.

b.      Mencuri milik orang lain demi memperoleh uang.

c.       Menganggu ketertiban umum, seperti ngebut dijalanan dan lain-lain.

d.      Menimbulkan bahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum antara lain karena kurangnya rasa sosial manakala berbuat kesalahan.

e.       Timbulnya keresahan masyarakat karena gangguan keamanan dan penyakit kelamin lain yang ditimbulkan oleh hubungan seks bebas.

4.      Bahaya bagi bangsa dan negara

a)      Rusaknya pewaris bangsa yang seyogyanya siap untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

b)      Hilangnya rasa patriotisme atau rasa cinta bangsa yang pada gilirannya mudah untuk dikuasai oleh bangsa asing.

c)      Penyelundupan akan meningkat padahal penyulundupan dalam bentuk apapun adalah merugikan negara.

d)     Pada akhirnya bangsa dan negara kehilangan identitas yang disebabkan karena perubahan nilai budaya.

 

Mereka yang mengonsumsi narkoba akan mengalami gangguan mental dan perilaku, sebagai akibat terganggunya sistem neurotransmier pada sel-sel susunan syaraf pusat di otak. Gangguan pada sistem neurotransmier tadi mengakibatkan terganggunya fungsi kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ganja

Mereka yang mengonsumsi ganja akan memperlihatkan peru­bahan-perubahan mental dan perilaku sebagai berikut:

1.      Gejala Psikologis

a.       Euforia, yaitu rasa gembira tanpa sebab dan tidak wajar.

b.      Halusinasi dan delusi

Halusinasi adalah pengalaman panca indra tanpa adanya sumber stimulus (rangsangan) yang menimbulkannya. Misalnya, seseorang mendengar suara-suara padahal sebenarnya tidak ada sumber suara itu berasal dari halusinasi pendengaran. Sedangkan delusi adalah suatu keyakinan yang tidak rasional; walaupun telah diberikan bukti bahwa pikiran itu tidak rasional, namun yang bersangkutan tetap meyakininya. Misalnya, yang bersangkutan yakin benar bahwa ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya, padahal dalam kenyataannya tidak ada orang yang dimaksud. (delusi paranoid)

c.       Perasaan waktu berlalu dengan lambat, misalnya 10 menit dapat dirasakan 1 jam.

d.      Bersikap acuh tak acuh, masa bodoh, tidak peduli terhadap tugas atau fungsinya sebagai makhluk sosial (apatis).

e.       Pikiran dan perasaan akan selalu rindu saja kepada ganja, sehingga ia akan selalu membicarakan dan berusaha untuk mengobati rasa rindunya itu.

f.       Memengaruhi perkembangan kepribadian. Daya tahan menghadapi problema kehidupan jadi lemah, malas, apatis, tidak peduli, kehilangan keinginan untuk belajar dan sebagainya.

g.      Ada kecenderungan untuk menyalahgunakan obat-obat berbahaya lain yang lebih kuat potensinya, misalnya morphine, heroin, dan lain-Iain

Menurut Satya Joewana, bahwa ketika ganja disalahgunakan maka ia akan beraksi secara aktif memengaruhi syaraf sentral dan berakibat kepada gangguan mental organik (GMO) yang berbahaya kepada akal, emosi, maupun tingkah laku pemakainya seperti menimbulkan rasa gembira, menghayal, eforia, banyak bicara, dan merasa ringan pada tungkai kaki dan badan. Pemakai akan mulai banyak tertawa walaupun tidak ada rangsangan lucu. Pengguna ganja akan merasa pembicaraannya hebat, idenya bertubi-tubi, menjadi mudah terpengaruh, adanya paham curiga yang kontroversial, tidak menyebabkan rasa takut, melainkan malah menertawakan dan menimbulkan hal yang lucu, adanya halusinasi penglihatan berupa kilatan sinar, bentuk-bentuk amorf, warna-warni cemerlang, bentuk­bentuk geometrik dan figur pada muka seseorang

2.      Gejala Fisik

a.       Mata Merah, Jantung berdebar, nafsu makan bertambah, mulut kering, perilaku maladaptive (sukar beradaptasi).

b.      Iritasi/gangguan pada saluran pernapasan

c.       Bila terkena radang, dapat terjadi bronchitis dan sebagainya.

d.      Timbulnya ataxia, yaitu hilangnya koordinasi kerja otot

e.       dengan syaraf sentral.

f.       Hilangnya atau kurangnya kedipan mata.

g.      Gerak reflek tertentu.

h.      Menyebabkan kadar gula darah naik turun.

i.        Mata menyala.

 

Opiat (Morphine, Heroin, Putaw)

Mereka yang mengonsumsi opiat, baik yang dibakar atau disuntikkan setelah bubuk opiat dilarutkan dalam air akan mengalami hal-hal sebagai berikut.

1.      Melebar atau mengecilnya pupil mata pada keadaan tidak semestinya. Pada keadaan normal pupil mata mengecil pada sorotan cahaya dan melebar pada keadaan yang sebaliknya.

2.      Euforia (gembira berlebihan atau disforia (cenderung merasa bersedih dan lesu tak berdaya).

3.      Apatis.

4.      Retradasi psikomotorik; merasa kelesuan dan kehilangan tenaga (sehingga terkesan malas)

5.      Mengantuk/tidur; biasanya yang bersangkutan cenderung mengantukdan tidur yang berkepanjangan.

6.      Pembicaraan cadel

7.      Gangguan konsentrasi; kalau diajak bicara tidak nyambung.

8.      Daya ingat menurun; sering kali nasihat yang diberikan dilanggar karena sesungguhnya dia tidak ingat apa yang telah disampaikan.

9.      Tingkah laku maladaptive; yang bersangkutan sering berperilaku yang menunjukkan rasa kecurigaan, sehingga selalu berada dalam keadaan waspada, tidak jarang selalu membawa senjata.

Mereka yang sudah ketergantungan narkoba jenis opiat ini bila pemakaiannya dihentikan akan timbul gejala putus opiat, yang dalam istilah sehari-hari disebut "sakaw" (yang berasal dari kata sakit), dan sangat menyiksa yang bersangkutan. Sindrom putus opiat merupakan gejala yang tidak mengenakan, baik psikis maupun fisik; semisal air mata berlebihan, pupil mata melebar, keringat berlebihan, suhu badan meninggi, mual, muntah, tekanan darah naik, jantung berdebar-debar, sukar tidur, nyeri otot, sakit kepala, nyeri persendian, mudah marah bahkan sampai agresif, kejang­kejang, kram di perut disertai sawan (rasa mau pingsan), menggigil disertai muntah-muntah, keluar ingus, hilang nafsu makan, dan kehilangan cairan tubuh.

Untuk mengatasinya, yang bersangkutan akan mengonsumsi kembali dengan berbagai cara (mencuri, menjual barang milik pribadi, bahkan bagi wanita tidak jarang menjual diri) , dalam jumlah takaran/dosis yang semakin bertambah dan semakin sering kematian sering kali datang disebabkan overdosis dengan akibat komplikasi medik yaitu oedema (pembengkakan) paru akut sehingga pernapasan berhenti.

 

Kokain

Mereka yang mengonsumsi kokain dengan cara dihirup (bubuk kokain disedot/dihirup melalui hidung) akan mengalami gangguan mental dan perilaku sebagai berikut.

1.      Agitasi psikomotorik: yang bersangkutan menunjukkan kegelisahan dan tidak tenang.

2.      Rasa gembira yang berlebihan

3.      Rasa harga diri yang meningkat; yang bersangkutan merasa dirinya hebat (superior) sehingga ia merasa meremehkan masalah yang dihadapinya.

4.      Banyak bicara.

5.      Kewaspadaan meningkat, yang bersangkutan merasa diriya tidak aman dan terancam. Oleh karena itu, tidak jarang terjadi perkelahian massa tanpa sebab yang jelas.

6.      Jantung berdebar-debar.

7.      Pupil mata melebar

8.      Tekanan darah naik

9.      Mual muntah

10.  Perilaku maladaptive

Mereka yang sudah ketagihan dan ketergantungan bila dihentikan akan timbul sindroma putus kokain dengan gejala; depresi (murung, sedih, dan sukar merasa senang), rasa lelah, lesu, gangguan tidur, gangguan mimpi yang bertambah. Sindroma putus kokain sangat menyiksa sehingga yang bersangkutan akan berusaha untuk menggunakan dengan berbagai cara, dan takaran semakin bertambah dan pemakaian semakin sering.

Bila seseorang dalam mengonsumsi jenis kokain itu berlebihan (overdosis), ia akan mengalami gangguan jiwa seperti halusinasi dan delusi. Sehingga timbul gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan; misalnya, perkelahian, kehilangan kawan-kawan, tidak masuk sekolah atau kerja.

 

Amphetamine (ekstasi, shabu -shabu)

Mereka yang mengonsumsi amphetamine (psikotropika golongan I), misalnya pil ekstasi (ditelan) atau shabu-shabu (dihirup dengan alat yang disebut bong) menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut.

1.      Gejala psikologis; tingkah laku yang kasar dan aneh seperti: rasa gembira yang berlebihan, harga diri yang meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, halusinasi penglihatan, gangguan delusi, tingkah laku maladaptif.

2.      Gejala fisik; jantung berdebar, pupil mata melebar, tekanan darah naik, keringat berlebihan, mual, muntah. Efek yang ditimbulkan oleh pengguna ekstasi adalah: diare, rasa haus yang berlebihan, hiperaktif, sakit kepala dan pusing, menggigil yang tidak terkontrol, detak jantung yang cepat dan sering mual disertai muntah-muntah dan hilangnya nafsu makan. Efek yang ditimbulkan oleh pengguna shabu-shabu adalah: penurunan berat badan, impontensi, sawan yang parah, halusinasi, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan jantung, stroke, dan bahkan kematian.

Sindrom putus amphetamine at au gejala ketagihan sebagai berikut: murung, sedih, tidak dapat merasakan senang at au keinginan bunuh diri, rasa lelah, lesu, mimpi-mimpi bertambah.

Kematian sering kali terjadi karena overdosis yang disebabkan karena rangsangan susunan saraf otak yang berlebihan sehingga menyebabkan kejang dan kehilangan kesadaran (koma) dan akhirnya meninggal.

 

Sedativa/Hipnotika

Di dunia kedokteran terdapat jenis obat yang berkhasiat sebagai obat tidur/penenang, yang mengandung zat aktif nitra zepam atau barbiturat atau senyawa lain yang khasiatnya serupa. Golongan ini termasuk kelompok psikotropika golongan IV.

Penggunaan sedativalhipnotika bila disalahgunakan dapat juga menimbulkan adiksi (ketagihan) dan depedensi (ketergantungan). Penyalahgunaaan zat tersebut dapat menimbulkan gangguan mental dan perilaku dengan gejala sebagai berikut.

1.      Gejala psikologik; emosi labil, hilangnya dorongan seksual normal lebih sering agresif, mudah tersinggung, banyak bicara.

2.      Gejala neorologik (saraf); pembicaraan cadel, gangguan koordinasi, cara jalan yang tidak mantap, gangguan perhatian dan daya ingat.

3.      Efek perilaku maladative; hilangnya nilai realitas, perkelahian, dan halangan dalam fungsi sosial.

Bagi mereka yang sudah ketagihan jenis sedativa/hipnotika ini, bila pemakaiannya dihentikan akan menimbulkan gejala sebagai berikut; mual, muntah, kelelahan umum, berdebar, murung, sedih, tekanan darah rendah bila orang tersebut berdiri (hipotensi ortostatik) dan tremor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

 

5.1 KESIMPULAN

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan termasuk dalam hal ini mencoba-coba dalam mencicipi narkoba.

Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia melaporkan bahwa dari 31.635 tindak pidana narkoba 35% dari mereka adalah remaja yaitu usia 15 hingga 24 tahun. Hal ini dikarenakan usia remaja merupakan tahapan perkembangan dimana individu mengalami masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa, akibatnya remaja pada umumnya serba ingin tahu dan cenderung mudah dipengaruhi termasuk dalam mencoba-coba narkoba.

Akibat dari penyalahgunaan narkoba (dalam BNK Samarina 2007):

a)      Merusak sususan syaraf pusat atau merusak organ-organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal, serta penyakit dalam tubuh seperti bintik-bintik merah pada kulit seperti kudis, hal ini berakibat melemahnya fisik, daya pikir dan merosotnya moral yang cenderung melakukan perbuatan penyimpangan sosial dalam masyarakat.

b)      Dalam memenuhi kebutuhan penggunaan narkotik, mereka dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh narkotik.  Yang awalnya menjual barang-barang hingga melakukan tindakan pidana.

Mereka yang mengonsumsi narkoba akan mengalami gangguan mental dan perilaku, sebagai akibat terganggunya sistem neurotransmier pada sel-sel susunan syaraf pusat di otak. Gangguan pada sistem neurotransmier tadi mengakibatkan terganggunya fungsi kognitif, afektif dan psikomotorik.

 

 

5.2 SARAN

Anak yang melakukan tindakan penyalahgunaan narkoba telah medapatkan hukuman akan suatu tindakan kejahatan yang telah di perbuatnya, haruslah di dalam masa mereka mejalani hukumannya diberikan pembinaan–pembinaan guna pembentukan dirinya menjadi lebih baik lagi. Sehingga baik pihak – pihak yang memiliki keterkaitan dengan keberlangsungan anak ini harus dapat memberikan peran penting bagi anak tersebut. Baik itu instansi – instansi sosial, LSM dan sebagainya, karena remaja ini masih dalam  koridor anak – anak yang membutuhkan pengawasan yang lebih dan memiliki hukum undang – undang yang sangat kuat dalam Hak Asasi Anak.

Sehingga harapan yang besar muncul untuk keberlangsungan masa depannya di kemudian hari, terlebih lagi harapan orang tuanya. Dimana menjadikan keberdaannya dalam masyarakat dapat diterima dengan baik, tanpa adanya pelabelan negatif yang di dapatnya dari masyarakat ketika suatu tindakan kejahatan yang di lakukannya, karena remaja masa depannya masih panjang dalam meniti hidupnya.

Untuk Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang diharapkan juga agar tetap memberikan perhatian dan kesempatan serta mewajibkan narapidana untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan bakat narapidana yang mereka miliki seperti membuat kerajinan, melukis, keterampilan pertukangan dan lain-lain. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan harga diri narapidana sehingga memiliki konsep diri yang positif dan mempersiapkan keterampilan kerja narapidana setelah keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Klas II.A Palembang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

Hakim, M.Arief. 2004. “Bahaya Narkoba – Alkohol : Cara Islam Mengatasi, Mencegah, dan Melawan”. Bandung. Nuansa.

 

Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Provinsi Sumatera Selatan. 2007. “Panduan Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja”.

 

Mardani, Dr. 2008. “Penyalahgunaan narkoba Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Pidana Nasional”. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

 

Profil LAPAS Anak Klas II.A Pakjo Palembang.

 

Santoso, Topo dan Zulfa, Eva Achjani. 2010. “KRIMINOLOGI”. Jakarta. PT. Raja Grafinfo Persada.

 

 

 

                   



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

26 Maret 2012 pukul 17:45 WIB
Cek narkoba mengatakan...
Periksa .. kena narkoba ga? <a href="http://alat-kesehatan.net/multiline-6-parameter-alat-test-narkoba-test-narkoba.html">Alat Test Narkoba</a>

01 Desember 2011 pukul 12:00 WIB
mega yasma mengatakan...
say no to drugs!

18 Oktober 2010 pukul 21:01 WIB
susno mengatakan...
saya bilang narkoba sangat berbahaya grin


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion