landasan dan problematika pendidikan

            

PAUD (PENDIDIKAN ANAK USIA DINI) DAN PSIKOLOGI ANAK

oleh : 

Pramanika Arieyantini (20112512002)

http://blog.unsri.ac.id/pramanikaarieyantini

 

A.         Latar Belakang

          Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi, semakin mendorong upaya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Faktor pendidikan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan bangsa. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman.

Belajar adalah jantungnya dari proses sosialisasi, pembelajaran adalah rekayasa sosiopsikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap individu yang belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik. (TIM MKPBM, 2001:9)

Selain dengan adanya pendidikan formal seperti TK, SD, SMP, dan SMA pendidikan nonformal dapat dijadikan sarana meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Salah satunya bisa dengan pelayanan anak usia dini atau lebih akrab dengan sebutan pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai peran pendidikan luar sekolah (PLS) yang sangat diperlukan untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas.

Tingkat kesadaran masyarakat untuk memberikan pendidikan pada anak usia dini sudah semakin membaik. Hal itu sejalan dengan gerakan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang digalakkan pemerintah. Hanya kesadaran tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang memenuhi syarat. Hal itu terjadi karena adanya persepsi dan cara pandang yang salah

 

dari masyarakat. Mencampuradukkan pendidikan dengan nilai bisnis. Menganggap PAUD menjadi lahan peluang untuk mencari uang.

Bukan hanya itu saja, masalah yang paling fatal adalah adanya latar belakang pendidik yang tidak memahami kurikulum tumbuh kembang anak, keunikan anak dan perkembangan inovasi model pembelajaran. Padahal, PAUD merupakan fasilitator yang menjembatani keunikan setiap anak. Anak dalam satu kesempatan bisa mendapat multikecerdasan.

Berdasarkan uraian di atas, pemakalah mengambil judul “PERANAN PAUD (PENDIDIKAN ANAK USIA DINI) DALAM MEMPERSIAPKAN KEMAMPUAN ANAK DIDIK DALAM MENGHADAPI PEMBELAJARAN DITINJAU DARI LANDASAN PSIKOLOGI”.

 

B. TINJAUAN PUSTAKA

1.      Landasan Psikologis

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri.

1.1  Psikologis Perkembangan

Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah:

a.       Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan tertentu.

b.      Pendekatan diferensial. Pendekatan ini memandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan.

c.       Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual.

(Nana Syaodih, 1988)

Menurut Crijns periode atau tahap perkembangan manusia secara umum adalah sebagai berikut:

a.       Umur 0 – 2 tahun disebut masa bayi. Pada masa ini, si bayi sebagian besar memanfaatkan hidupnya untuk tidur, memandang, mendengarkan, kemudian berjalan merangkak, dan berbicara.

b.      Umur 2 – 4 tahun disebut masa kanak-kanak. Pada masa ini anak sudah mulai bisa berjalan menyebut beberapa nama, pengamatan yang mula-mula global, kini sudah mulai bisa melihat struktur, permainan-permainan mereka bersifat fantasi, masih suka menghayal sebab belum sadar akan lingkungannya.

c.       Umur 5 – 8 tahun disebut masa dongeng. Anak-anak pada masa ini mulai sadar akan dirinya sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan tersendiri seperti halnya dengan orang-orang lain.

d.      Umur 9 – 13 tahun disebut masa Robinson Crusoe (nama seorang petualang). Dalam masa ini mulai berkembang pemikiran kritis, nafsu persaingan, minat-minat, dan bakat.

e.       Umur 13 tahun disebut masa pubertas pendahuluan.

f.       Umur 14 – 18 tahun disebut masa puber.

g.      Umur 9 – 21 tahun disebut masa adolesen. Anak-anak pada masa ini mulai menemui keseimbangan, mereka sudah punya rencana hidup tertentu dengan nilai-nilai yang sudah dipastikannya.

h.      Umur 21 tahun keatas disebut masa dewasa.

 

Psikologi perkembangan menurut Rouseau, membagi masa perkembangan anak atas empat tahap, yaitu:

a.       Masa bayi dan 0 – 2 tahun yang sebagian besar merupakan perkembangan fisik.

b.      Masa anak dan 2 – 12 tahun yang dinyatakan perkembangannya baru seperti hidup manusia primitif.

c.       Masa pubertas dan 12 – 15  tahun, ditandai dengan perkembangan pikiran dan kemauan untuk bertualang.

d.      Masa adolesen dan 15 – 25 tahun, pertumbuhan seksual menonjol, sosial, kata hati, dan moral.

 

Stanley Hall menganut teori Evolusi dan teori Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak sebagai berikut:

a.       Masa kanak-kanak ialah umur 0 – 4  tahun sebagai masa kehidupan binatang.

b.      Masa anak ialah umur 4 – 8 tahun merupakan masa sebagai manusia pemburu.

c.       Masa muda ialah umur 8 – 12 tahun sebagai manusia belum berbudaya.

d.      Masa adolesen ialah umur 12 – …  dewasa merupakan manusia berbudaya.

(Nana Syaodih, 1988)

 

Menurut Piaget ada empat tingkat perkembangan kognisi, yaitu:

a.       Periode sensorimotor pada umur 0 – 2 tahun, kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks.

b.      Periode praoperasional pada umur 2 – 7 tahun, perkembangan bahasa anak ini sangat pesat.

c.       Periode operasi konkret pada umur 7 – 11 tahun, mereka sudah bisa berpikir logis, sistematis, dan memecahkan masalah yang bersifat konkret.

d.      Periode operasi formal pada umur 11 – 15 tahun, anak-anak ini sudah dapat berpikir logis terhadap masalah baik yang konkret maupun yang abstrak.

(Mulyani, 1988, Nana Syaodih, 1988, dan Callahan, 1983).

 

Teori perkembangan Piaget ini bermanfaat bagi pendidikan dalam mengorganisasi materi pelajaran dan proses belajar terutama yang berkaitan dengan upaya mengembangan kognisi anak-anak. Konsep ini ada pertaliannya dengan perkembangan kognisi menurut Bruner sebagai berikut:(Toeti Soekamto, 1994).

a.       Tahap enaktif, anak melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya memahami lingkungan.

b.      Tahap ikonik, anak mamahami dunia melalui gambaran-gambaran dan visualisasi verbal.

c.       Tahap simbolik, anak telah memiliki gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika.

Lawrence Kohlberg mengembangkan teori moral kognisi atas dasar teori Piaget. Menurut dia ada tiga tingkat perkembangan moral kognisi, yang masing-masing tingkat ada dua tahap sebagai berikut:

a.       Tingkat Prekonvesional,

Ø  Tahap orientasi kepatuhan dan hukuman

Ø  Tahap orientasi egois yang naif

b.      Tingkat Konvensional

Ø  Tahap orientasi anak baik

Ø  Tahap orientasi mempertahankan peraturan dan norma sosial

c.       Tingkat Post-Konvensional

Ø  Tahap orientasi kontrak sosial yang legal

Ø  Tahap orientasi prinsip etika universal

(McNeil, 1977 dan Nana Syaodih, 1988).

Erikson mencoba menyusun perkembangannya dalam aspek afeksi. Perkembangan afeksi terdiri dan atas delapan tahap sebagai berikut:

a.         Bersahabat vs menolak pada umur 0 – l tahun.

b.         Otonami vs malu dan ragu-ragu pada 1- 3 tahun.

c.         Inisiatif vs perasaan bersalah pada 3 – 5 tahun.

d.         Perasaan produktif vs rendah diri pada umur 6 – 11 tahun.

e.         Identitas diri vs kebingungan pada umur 12 – 18 tahun.

f.          Intim vs mengisolasi diri pada umur 19 – 25 tahun.

g.         Generasi vs kesenangan pribadi pada umur 25 – 45 tahun.

h.         Integritas vs putus asa pada umur 45 tahun ke atas.

(Mulyani, 1988)

Perkembangan kemampuan belajar menurut Gagne adalah sebagai berikut:

a.       Multideskriminasi, yaitu belajar membedakan stimuli yang mirip, misalnya huruf b dengan d.

b.      Belajar konsep, yaitu belajar membuat respons sederhana, seperti huruf hidup, huruf mati, dan sebagainya.

c.       Belajar prinsip, yaitu mempelajari prinsip-pninsip atau aturan-aturan konsep.

d.      Pemecahan masalah, yaitu belajar mengkombinasikan diri atau lebih prinsip untuk memperoleh sesuatu yang baru.

 

1.2  Psikologis Belajar

Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.

Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut:

a.      Faktor Ekstern

v  Kontinguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang respons anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.

v  Pengulangan, situasi dan respons anak diulang-ulang atau dipraktikan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat.

v  Penguatan, respons yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respons itu.

b.      Faktor Intern

v  Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.

v  Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak.

v  Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar.

v  Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam belajar.

v  Aspek-aspekjiwa anak harus dapat dipengaruhi oelh faktor-faktor dalam pengajaran.

 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya anak usia dini termasuk usia pra sekolah yang berada pada masa proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembagan, pematangan, dan penyempurnaan, baik pada aspek pisik  maupun psikis atau jasmani maupun rohaninya yang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.

 

2.      Pengertian PAUD

Salah satu jalur terselenggaranya PAUD adalah jalur pendidikan Non-Formal. PAUD jalur pendidikan non-formal adalah pendidikan yg mlaksanakan program pembelajaran secara fleksibel sebagai upaya pembinaan dan pengembangan anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilaksanakan melalui Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan bentuk lain yang sederajat.

Marjory Ebbeck (dalam Isjoni, 2010:19) menyatakan bahwa PAUD adalah pelayanan kepada anak mulai dari lahir sampai umur enam tahun. UU Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa PAUD adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepasda anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilalui dengan pemberian rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Direktorat PAUD Depdiknas menyatakan bahwa PAUD adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lajir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang menyangkut aspek fisik dan nonfisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal-fikir, emosional dan sosial yang tepat dan benar agar dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Nurlaila N.Q, Mei Tientje dan Yul Iskandar (2004) menyatakan bahwa PAUD adalah sarana untuk menggali dan mengembangkan potensi multiple intelegensi anak.

 

3.      Pentingnya PAUD

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau usia pra sekolah adalah masa dimana anak belum memasuki pendidikan formal. Rentang usia dini merupakan saat yang tepat dalam mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Pengembangan potensi anak secara terarah pada rentang usia tersebut akan berdampak pada kehidupan masa depannya. Sebaliknya, pengembangan potensi anak yang asal-asalan, akan berakibat pada potensi anak yang jauh dari harapan. (Isjoni, 2010:11)

PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kecerdasan: daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa/komunikasi, dan sosial. (Isjoni, 2010: 5).

Pada Konferensi Pusat I Masa Bakti VII Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia telah disepakati pentingnya PAUD dalam konsep pembinaan dan pengembangan anak dihubungkan dengan pembentukan karakter manusia seutuhnya. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa PAUD merupakan basis penentu atau pembentukan karakter manusia Indonesia di dalam kehidupan berbangsa.(Isjoni, 2010: 12)

Pasal 1 Butir 14 UU No.20 Tahun 2003, PAUD merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pernyataan ini menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini sangat penting bagi kelangsungan bangsa, dan perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Pendidikan anak usia dini merupakan strategi pembangunan sumber daya manusia harus dipandang sebagai titik sentral mengingat pembentukan karakter bangsa dan kehandalan SDM ditentukan bagaimana penanaman sejak anak usia dini. Pentingnya pendidikan pada masa ini sehingga sering disebut dengan masa usia emas (the golden age).

Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan, (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, (4) menolong para orang tua dan anak-anak.

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini sepatutnya juga mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan tidak terbatas pada proses pembelajaran yang terjadi dalam lembaga pendidikan. Artinya, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini.

4.      Kelemahan PAUD

Pembelajaran pada anak usia dini adalah proses pembelajaran yang dilakukan melalui bermain. Ada lima karakteristik bermain yang esensial dalam hubungan dengan PAUD (Hughes, 1999), yaitu: meningkatkan motivasi, pilihan bebas (sendiri tanpa paksaan), non linier, menyenangkan dan pelaku terlibat secara aktif.

Bila salah satu kriteria bermain tidak terpenuhi misalnya guru mendominasi kelas dengan membuatkan contoh dan diberikan kepada anak maka proses belajar mengajar bukan lagi melalui bermain. Proses belajar mengajar seperti itu membuat guru tidak sensitif terhadap tingkat kesulitan yang dialami masing-masing anak.

Guru yang tepat untuk membimbing siswa di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah harus memahami jiwa anak. Sebab, pada dasarnya anak pada usia itu hanya untuk bermain, namun, pada PAUD ini mereka disiapkan untuk belajar. "Saya kurang setuju dengan PAUD itu sendiri. Banyak penelitian yang mengatakan, jika anak banyak mendapatkan beban pendidikan pada masa itu, nantinya mereka akan semakin bermasalah pada masa yang akan datang dan anak akan lebih mudah jenuh," ucap Psikolog USU, Irna Minauli, kepada Waspada Online, tadi pagi. "Akhirnya mereka akan rentan putus sekolah, menggunakan narkoba, nikah dini, hingga bunuh diri dan pengaruh negative lainnya. Pada PAUD ini anak diajarkan untuk membaca, menulis dan berhitung. Seharusnya semua itu juga dilakukan dengan cara bermain," jelasnya. Anak pada usia tersebut, lanjut Irna, tak boleh dipaksa untuk berinteraksi secara akademis. "Mereka seharusnya memiliki waktu tidur yang lebih panjang. Dengan waktu tidur yang cukup, justru mereka akan semakin cerdas," katanya. Menurut Irna, jangan membiarkan mereka menjadikan sekolah itu merupakan tempat yang tak menyenangkan. "Jangan dengan pendidikan yang diterapkan kepada mereka menjadi satu yang tak menyenangkan, itu bahaya," tegasnya. Irna melanjutkan, guru yang harusnya mengajar di PAUD adalah sosok seorang guru yang memang harus benar-benar mehami psikologi anak. "Namun, pada kenyataannya, malah orangtua pula yang lebih ngotot kepada guru untuk anaknya diajarkan materi pelajaran, pada masa usia bermain mereka," terangnya. Irna menilai, solusi yang baik yakni dengan memberikan pandangan yang positif kepada anak, seperti guru yang riang menyebabkan anak senang, maka anak pun akan lebih bisa menganggap sekolah tersebut adalah hal yang positif. Jika memang memaksa, sebaiknya anak disuguhi 'edugames'. "Dengan education games ini, selain dirangsang pertumbuhan otak yang maksimal dari anak, juga menumbuhkan motivasi bagi mereka. Karena, setiap permainan di edugames ini memberikan penghargaan berupa pujian jika anak tersebut berhasil memainkan edugames tersebut dengan baik, jadi mereka lebih terangsang dan termotivasi," pungkasnya.

 

C.   PENUTUP

1.      KESIMPULAN

ü  Pada hakekatnya anak usia dini termasuk usia pra sekolah yang berada pada masa proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembagan, pematangan, dan penyempurnaan, baik pada aspek pisik  maupun psikis atau jasmani maupun rohaninya yang berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.

ü  Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, tetapi yang lebih penting berfungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak.

ü  Guru yang tepat untuk membimbing siswa di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah harus memahami jiwa anak. Sebab, pada dasarnya anak pada usia itu hanya untuk bermain, namun, pada PAUD ini mereka disiapkan untuk belajar. Sehingga, memberikan dampak negatif dikehidupannya mendatang antara lain putus sekolah, menggunakan narkoba, nikah dini, hingga bunuh diri.

 

2.      SARAN

ü  Dibentuk pengurus mulai dari tingkat wilayah, kab./kota, dan ranting beberapa kecamatan yang satu sama lain saling berhubungan secara sinergis. Bertujuan untuk peningkatan mutu pendidik dan saling melengkapi. Sesuai visi Himpaudi tahun 2015 menjadikan pendidik yang profesional, tangguh, berakhlak mulia, dan disyaratkan berlatar belakang S-1.

ü  Sementara untuk  percepatan sosialisasi dan peningkatan mutu pendidik, Himpaudi mengadakan pelatihan "Beyond Center and Circle Times" (BCCT).

ü  Diadakan pelatihan swadaya. Bukan hanya sharing, caracter building, tetapi juga pemberian materi pendidik PAUD dari Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.   DAFTAR PUSTAKA

 

Callahan, Joseph F. & Leonard H. Clark. 1983. Foundations of Educations. New York: McMillan Publishing Co., Inc.

 

Crijns dan Reksosiswojo T.T. Ilmu Jiwa Anak. Jilid III. Jakarta: Noordhoff Kolff N.V.

 

Departemen Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. 2007. “Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini”.http://www.scribd.com/doc/10857700/41Kajian-KurikuluM-PAUD

 

Isjoni. 2000. Model Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta

 

McNeil, John D. 1977. Curriculum a Comprehensive Introduction. Boston: Little Brown and Company.

 

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

 

Soekamto, Toeti dan Udin Saripudin Winataputra. 1994. Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen PT, Pusat Antar-Universitas.

 

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1988. Prinsip dan Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen PT, P2LPTK.

 

Sumantri, Mulyani. 1988. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen PT P2LPTK.

 

TIM MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.

 

Wahyu. 2011. “Paud Jembatan Keunikan Anak”.

            http://pls-pnfibatam.net/index.php?option=com_content&view=article&id=57:paud-jembatan-keunikan-anak&catid=3:berita&Itemid=9

 

Wildan, M. 2010. “Guru Paud Harus Pahami Jiwa Anak”.

http://www.paudni.kemdiknas.go.id/bppnfi5/berita-70-id-guru-paud-harus-pahami-jiwa-anak.html



PDF | DOC | DOCX

Komentar

 

25 September 2012 pukul 00:08 WIB
Eka Yunita, Spd.Aud mengatakan...
isi makalah sudah baik hanya saja masih kurang penjabaran perbedaan paud atau taman kanak - kanak yang di Indonesia dengan Negara tetangga sebab paud di negara tetangga lebih maju dari paud di Indonesia.. grin

Kirim Komentar Anda:

Nama : Nama Anda (wajib diisi)
E-Mail : E-Mail (tidak dipublikasikan)
Situs : Website, Blog, Facebook, dll
Komentar :
(wajib diisi)
Verifikasi :
<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion

:: memperoleh sedikit ilmu dan kemudian memberikan kepada orang lain itu lebih baik daripada menyimpan segudang ilmu yang tidak dimanfaatkan... :: :: menerima sedikit ilmu dengan hati yang ikhlas tanpa memandang siapa yang memberi pasti akan lebih baik daripada diberi ilmu sebanyak-banyaknya dan angkuh untuk menerimanya..:: (@^_^)@v