Marleny

"Blog ini berisi semua tulisan saya, baik yang sifatnya ilmiah maupun non ilmiah. Harapan saya semoga semua tulisan di blog ini membawa manfaat baik bagi saya secara khusus maupun dunia secara umum. Moga qt selalu bisa menebar kebaikan. Amiin"

 

STUDI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA FISIKA DI KELAS RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) SMP N 9 PALEMBANG

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

 

Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan sangat kuat diberbagai bidang memerlukan penguasaan teknologi, keunggulan manajemen dan sumber daya manusia (SDM). Terkait dengan tiga hal inilah, pemerintah Indonesia merasa perlu menyiapkan  SDM unggul lewat pembenahan sistem pendidikan nasional (sisdiknas). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas merupakan dasar hukum penyelenggaraan sisdiknas (Depdiknas, 2007:1).

Pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tertuang upaya peningkatan mutu pendidikan, tepatnya pada pasal 50 ayat 3 yang berbunyi: ”Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”. Implementasi dari undang-undang tersebut, Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah akan melaksanakan  proses layanan pendidikan yang berkualitas dan menghasilkan lulusan yang diakui secara nasional dan internasional (Depdiknas, 2008:3). Salah satu realisasi dari layanan pendidikan yang berkualitas ini adalah dengan menyelenggarakan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

Menurut Slamet (2008), SBI adalah sekolah nasional yang menyelenggarakan pendidikan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan mutu internasional. SNP adalah standar nasional yang terdiri dari delapan komponen utama yaitu: standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan.

Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik (Tim Asa Mandiri, 2006:2-3).

 

Pemenuhan delapan SNP bagi SBI merupakan indikator kunci minimal. Indikator tambahan atau plus-nya adalah acuan standar pendidikan dari negara-negara anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) atau negara-negara maju lainnya. Dalam proses pembelajaran, sesuai buku panduan SBI, pengajaran matematika dan IPA harus menggunakan bilingual: bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (Dharma, 2008). Selain itu, proses pembelajaran diperkaya juga dengan menerapkan pembelajaran berbasis TIK (teknologi informasi dan komunikasi) atau yang dikenal dengan information communication technology (Depdiknas, 2008:15).

Penyelenggaraan SBI dilakukan pada semua jenjang pendidikan, termasuk sekolah menengah pertama (SMP). Haryana (2008) mengemukakan bahwa penyelenggaraan SBI pada jenjang SMP/MTs telah dirintis sejak tahun 2007, yakni sebanyak 100 sekolah negeri dan dua sekolah swasta. Sementara itu, jumlah sekolah pada jenjang ini baik negeri maupun swasta lebih dari 22 ribu sekolah. Minimnya SMP bertaraf internasional yang telah ditetapkan sebagai rintisan lebih disebabkan pada minimnya pemenuhan persyaratan atau kriteria oleh sekolah yang ada. Sekolah Menegah Pertama Negeri (SMPN) 9 Palembang adalah salah satu sekolah yang telah ditetapkan oleh Direktur Pembinaan SMP Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional sebagai salah satu dari 100 SMP negeri di Indonesia sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional (Basyarudin, 2007:1)

Berdasarkan wawancara bebas yang dilakukan peneliti terhadap guru fisika yang mengajar di kelas RSBI SMPN 9 Palembang diketahui pelaksanaan RSBI di Sekolah ini telah berjalan 1 tahun. Di tahun ajaran 2008/2009 akan memasuki tahun kedua. Walaupun telah memasuki tahun kedua, pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI belum memiliki pedoman yang jelas/kongkrit. Terkhusus dalam pembinaan RSBI, peran serta pemerintah daerah juga belum ada sehingga pada saat pelaksanaan, perbedaan yang terlihat antara pembelajaran fisika di kelas reguler dan RSBI hanya terletak pada penerapan program bilingual dan ICT saja. Dengan kondisi seperti ini, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang terjadi sesungguhnya, terutama pada pembelajaran Fisika dengan menggunakan bilingual dan ICT serta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Adapun objek penelitiannya adalah kelas VII. Kelas VII diambil menjadi objek penelitian karena kelas ini adalah kelas transisi. Di  Sekolah Dasar (SD) siswa belum memperoleh pelajaran Fisika secara spesifik dan pembelajarannya juga menggunakan bahasa indonesia sama seperti pelajaran lainnya. Hal inilah yang membuat peneliti mau melakukan penelitian di kelas VII SMP N 9 Palembang khususnya peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul ” Studi Pelaksanaan Pembelajaran Fisika di Kelas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP N 9 Palembang ”.

1.2.      Rumusan Masalah

Dari ulasan di atas, adapun yang menjadi rumusan permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI SMPN 9 Palembang yang menerapkan program bilingual dan ICT?

1.3.      Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI.
  2. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan pembelajaran fisika di kelas RSBI.

1.4.      Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh :

  1. Bagi guru, sebagai bahan masukan untuk memperkecil atau bahkan menghilangkan kelemahan-kelemahan yang ada pada pembelajaran fisika di kelas RSBI.
  2. Bagi  peneliti, dapat memperoleh pengetahuan tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI.
  3. Bagi Institusi pendidikan,

a.       Perguruan Tinggi, terutama FKIP Fisika sebagai salah satu gambaran pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI dan

b.      Diknas, sebagai salah satu bahan evaluasi pelaksanaan pembelajaran di RSBI yang ada di Palembang.

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.      Standar Nasional Pendidikan

Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (Tim Asa Mandiri, 2006: 2). Standar Nasional Pendidikan terdiri dari : Standar Kompetensi Lulusan Standar, Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan Pendidikan dan Standar Penilaian Pendidikan

2.1.1    Standar Kompetensi lulusan

Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 23 Tahun 2006 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Lampiran Peraturan Menteri ini meliputi: SKL Satuan Pendidikan (SP) dan Kelompok Mata Pelajaran.

2.1.1.1 Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL SP)

            Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan meliputi:

1.      SD/MI/SDLB/Paket A;

2.      SMP/MTS/SMPLB/Paket B;

3.      SMA/MA/SMALB/Paket C;

4.      SMK/MAK.

Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, untuk  pendidikan dasar bertujuan meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Adapun SKL SP untuk jenjang pendidikan SMP/MTS/SMPLB/Paket B, diantaranya adalah mengamalkan ajaran yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja, memahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri, menunjukan sikap percaya diri dan mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dilingkungannya.

2.1.1.2 Standar Kompetensi Lulusan Mata Pelajaran (SKL MP)                            n m    Standar Kompetensi Lulusan MP untuk tingkat SMP/MTS pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah sebagai berikut:                                                         1. Melakukan pengamatan dengan peralatan yang sesuai;                                         2.            Melaksanakan percobaan sesuai prosedur;                                                         3.      Mencatat hasil pengamatan dan pengukuran dalam tabel dan grafik yang  n  m m        sesuai;                                                                                                                        4.      Membuat kesimpulan dan mengkomunikasikannya secara lisan dan tertulis m m        sesuai dengan bukti yang diperoleh;                                                                            5.        Memahami keanekaragaman hayati, klasifikasi keragamannya berdasarkan m m        ciri, cara-cara pelestariannya, serta saling ketergantungan antar makhluk hidup m       di dalam ekosistem;                                                                                                   6.      Memahami sistem organ pada manusia dan kelangsungan makhluk hidup;        7.     Memahami konsep partikel materi, berbagai bentuk, sifat dan wujud zat, mmmperubahan, dan kegunaannya;                                                                                                   8.        Memahami konsep gaya, usaha, energi, getaran, gelombang, optik, listrik, m m  m       magnet dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari serta memahami sistem  m       tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya(Tim Penyusun, 2007:1-2). Standar Kompetensi Lulusan IPA Fisika adalah point 1, 2, 3, 4 dan 8.

2.1.2    Standar Isi

Standar Isi mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi tersebut memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan. Pada penjelsan bagian kedua (Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum) pasal 6 ayat 1 point c (kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 pada tingkat SMP/MTS dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berfikir ilmiah, kritis dan mandiri (Tim Asa Mandiri, 2006: 56).

2.1.3    Standar Proses

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selain itu, dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. (Tim Asa Mandiri, 2006: 20).

2.1.4    Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

  1. Kompetensi pedagogik;
  2. Kompetensi kepribadian;
  3. Kompetensi profesional; dan
  4. Kompetensi social (Tim Asa Mandiri, 2006: 22).

Pendidik meliputi pendidik pada TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SDLB/SMPLB/SMALB, SMK/MAK, satuan pendidikan Paket A, Paket B dan Paket C, dan pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan. Tenaga kependidikan meliputi kepala sekolah/madrasah, pengawas satuan pendidikan, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi, pengelola kelompok belajar, pamong belajar, dan tenaga kebersihan. Berikut ini, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang berkaitan dengan Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah.
  2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.
  3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
  4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah.
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah.
  6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 27 Tahun 2008 tentang Standar Kulifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (BSNP, 2008).

2.1.5    Standar Sarana dan Prasarana

Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan (Tim Asa Mandiri, 2006: 23).

2.1.6    Standar Pengelolaan

Standar Pengelolaan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yakni standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan oleh Pemerintah Daerah dan standar pengelolaan oleh Pemerintah (Depdiknas, 2008). Lengkapnya tentang standar pengelolaan ini diperjelas pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

2.1.7    Standar Pembiayaan Pendidikan

Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. Biaya personal yang dimaksud pada kalimat di atas meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Sedangkan biaya operasi satuan pendidikan meliputi:

  1. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji,
  2. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan

Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya (Tim Asa Mandiri, 2006: 33).

2.1.8    Standar Penilaian Pendidikan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia tentang Standar Penilaian Pendidikan dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 20 Tahun 2007. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

  1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
  2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan
  3. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
  4. Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas:
  5. Penilaian hasil belajar oleh pendidik; dan
  6. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi (BSNP, 2008).

2.2.      Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

            Sekolah bertaraf internasional (SBI) adalah sekolah nasional yang menyelenggarakan pendidikan berdasarkan SNP dan mutu internasional. Kualitas internasional merupakan kelebihan dari kualitas nasional (SNP), baik berupa penguatan, pendalaman, pengayaan, perluasan maupun penambahan terhadap SNP. Dengan pengertian ini, SBI dapat diformulasikan sebagai berikut:

                                                Tabel 2.1: Formulasi SBI

Satuan Pendidikan

SNP

+

X

SBI – SD

SNP

1, 2, 3

SBI – SMP

SNP

1, 2, 3

SBI – SMA

SNP

1, 2, 3, 4

SBI – SMK

SNP

1, 2, 3, 4

                                                                                                (Slamet PH, 2008)

Keterangan:

1 = penguatan, pendalaman, pengayaan, perluasan/dan atau penambahan terhadap SNP

2 = ICT (information communication technology)

3 = Bahasa Asing (Inggris, Cina, Jepang, Arab, Perancis, Jerman, dsb.)

4 = Budaya lintas bangsa

SNP harus digunakan sebagai acuan bagi pengembangan seluruh komponen pendidikan pada SBI. SNP merupakan standar minimal dan oleh karenanya tidak boleh dikurangi, namun boleh ditambah, diperkuat, diperdalam, dikembangkan, diperluas dan diperkaya. Komponen X merupakan penguatan, pengayaan, perluasan, pendalaman, penambahan, dan/atau pengembangan terhadap SNP melalui adaptasi atau adopsi terhadap mutu pendidikan yang berlaku secara internasional, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, X juga dapat ditambahkan, misalnya bahasa asing, information communication technology (ICT) dan budaya lintas bangsa (Depdikas, 2007:7).

Adaptasi dapat diartikan sebagai penyesuaian SNP terhadap mutu internasional yang dilakukan melalui modifikasi/perubahan SNP yang diperkaya/diperdalam. Jadi, yang akan diadaptasi sudah ada di SNP tetapi perlu diperkaya/ diperdalam. Adopsi dapat diartikan sebagai pengambilan sesuatu dari mutu internasional karena di SNP belum ada. Jadi, istilah adopsi lebih cenderung penambahan sesuatu terhadap SNP. Misalnya, topik pada mata pelajaran tertentu di SNP belum ada, tetapi topik tersebut ada pada mutu internasional sehingga topik tersebut perlu ditambahkan ke SNP.

Agar diperoleh pemahaman yang sama mengenai SBI, khususnya pada sekolah menengah pertama, maka terlebih dahulu perlu diketahui tentang beberapa pengertian penting yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan/pelaksanaan SBI, di antaranya adalah sebagai berikut:

1.   SMP Bertaraf Internasional (SMP-BI)

        SMP-BI adalah SMP yang telah memenuhi indikator kinerja kunci minimal dan indikator kinerja kunci tambahan atau memenuhi standar nasional pendidikan  plus ciri-ciri keinternasionalan dari delapan standar nasional pendidikan.

2.  Rintisan SMP-BI

Rintisan SMP-BI adalah sekolah SMP yang menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional, yang baru sampai pada tahap atau fase pengembangan/peningkatan kapasitas/kemampuan atau tahap konsolidasi pada berbagai komponen sekolah untuk memenuhi indikator kinerja kunci minimal (IKKM) dan indikator kinerja kunci tambahan (IKKT) sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Rintisan SMP-BI ini dapat dibina secara langsung oleh pemerintah pusat (Direktorat  Pembinaan SMP) bersama dengan pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) atau dibina oleh pemerintah daerah (Depdiknas,2007).

2.3.      Pembelajaran IPA Fisika di SBI

Pembelajaran adalah suatu proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar (Sundiawan, 2008). Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran sehingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran).

Pembelajaran IPA di tingkat pendidikan apapun (dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi) dimaksudkan untuk memberi bekal pengetahuan kepada anak untuk mengenal dan menyayangi dunia, tempat mereka hidup; menanamkan sikap hidup ilmiah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari; memberi bekal keterampilan disamping pengetahuan tentang IPA itu sendiri dan mendidik anak menghargai jasa, pengorbanan orang lain dalam hal ini penemu-penemu sains dan tidak kalah pentingnya yaitu menggugah anak untuk turut serta ambil bagian dalam penemuan baru dan juga untuk dapat bermanfaat bagi dunia dan kemanusiaan. Oleh karena itu, fasilitas IPA dan kreativitas guru IPA memiliki peran yang cukup besar dalam pencapai tujuan tersebut (Winataputra, 1993:132). Sehingga fasilitas pendidikan IPA seperti laboratorium dan lain-lain beserta kreativitas yang dimiliki oleh seorang guru dalam menyajikan pelajaran yang menarik adalah sebuah keharusan. Sekolah apapun itu, dari sekolah reguler biasa yang belum memenuhi standar nasional sampai sekolah standar nasional, apalagi sekolah bertaraf internasional.

Pembelajaran IPA merupakan kunci utama hasil belajar IPA. Pembelajaran IPA mengembangkan proses inkuiri, dimana siswa aktif melakukan observasi, investigasi, dan eksperimentasi. Diharapkan siswa mengembangkan keterampilan proses sains, penguasaan berbagai konsep-prinsip-hukum IPA dan sikap ilmiah sehingga timbul apresiasinya terhadap kelestarian alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Pembelajaran memanfaatkan fenomena alam di lingkungan sekitar siswa dilanjutkan dengan memanfaatkan ICT untuk menambah informasi dan memvisualisasikan proses-proses alam yang kompleks agar mudah difahami siswa (Depdiknas, 2007:1). Pada panduan proses pembelajaran IPA diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran IPA, termasuk di dalamnya mata pelajaran Fisika di SBI adalah sebagai berikut:

  1. Pembelajaran menggunakan bahasa inggris.
  2. Memfasilitasi dan memotivasi peserta didik untuk belajar secara aktif.
  3. Memfasilitasi dan memotivasi peserta didik berfikir, bersikap dan berkerja seasilcara ilmiah.
  4. Membantu peserta didik mengembangkan kerangka kerja konseptual, mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
  5. Mendorong peserta didik berdiskusi dan beraktivitas kelompok.
  6. Membantu peserta didik mengalami (kognitif, afektif dan psikomotorik) IPA.
  7. Melaksanakan pembelajaran IPA berbasis ICT (Depdiknas, 2007).

2.4.      Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

Proses pembelajaran pada program RSBI yang ideal dapat dicapai melalui rincian tahapan sebagai berikut:

Pendampingan Tahun I

Pada tahun pertama sekolah telah mampu menyelenggarakan proses pembelajaran sesuai standar minimal pembelajaran di SBI antara lain:

1.         20% pelaksanaan pembelajaran telah mengacu pada standar proses SBI.

2.         20% pembelajaran mata pelajaran dilakukan secara bilingual.

3.         20% pelaksanaan pembelajaran bilingual telah dilengkapi perangkat pembelajaran berdasarkan potensi, karakteristik peserta didik, dan lingkungan sekolah.

4.         20% pembelajaran bilingual telah menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan atau berbasis ICT.

5.         Intensitas pendampingan (in house training) oleh tenaga ahli (dosen) dengan proporsi minimal 2 kali seminggu.

6.         20% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang dengan berpusat pada siswa (student centered)

7.         20% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang secara terintegrasi dan berbasis masalah (integrated and problem based intruction).

Pendampingan Tahun II

Pada tahun II sekolah telah mampu menyelenggarakan proses pembelajaran sesuai standar minimal pembelajaran di SBI antara lain:

1.         50% pelaksanaan pembelajaran telah mengacu pada standar proses SBI.

2.         50% pembelajaran mata pelajaran dilakukan secara bilingual.

3.         50% pelaksanaan pembelajaran bilingual telah dilengkapi perangkat pembelajaran berdasarkan potensi, karakteristik peserta didik, dan lingkungan sekolah.

4.         50% pembelajaran bilingual telah menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan atau berbasis ICT.

5.         Intensitas pendampingan (in house training) oleh tenaga ahli (dosen) dengan proporsi minimal 2 kali seminggu.

6.         50% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang dengan berpusat pada siswa (student centered)

7.         50% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang secara terintegrasi dan berbasis masalah (integrated and problem based intruction).

Pendampingan Tahun III

Pada tahun pertama sekolah telah mampu menyelenggarakan proses pembelajaran sesuai standar minimal pembelajaran di SBI antara lain:

1.         100% pelaksanaan pembelajaran telah mengacu pada standar proses SBI.

2.         100% pembelajaran mata pelajaran dilakukan secara bilingual.

3.         100% pelaksanaan pembelajaran bilingual telah dilengkapi perangkat pembelajaran berdasarkan potensi, karakteristik peserta didik, dan lingkungan sekolah.

4.         100% pembelajaran bilingual telah menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan atau berbasis ICT.

5.         Intensitas pendampingan (in house training) oleh tenaga ahli (dosen) dengan proporsi minimal 2 kali seminggu.

6.         100% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang dengan berpusat pada siswa (student centered)

7.         100% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang secara terintegrasi dan berbasis masalah (integrated and problem based intruction).

Pada tahap ini sekolah telah mempunyai perangkat pembelajaran sesuai dengan standar proses yang telah dikembangkan (Depdiknas, 2008:27).

2.5.      Hubungan Komponen X pada SNP +X dengan Pembelajaran Fisika

Ketujuh item diatas adalah pelaksanaan pembelajaran IPA di SBI. Fisika, sebagai salah satu bagian dari IPA itu sendiri haruslah mengacu pada tujuh item tersebut. maka sudah sepatutnyalah, disekolah rintisan bertaraf internasional dengan formulasi SNP + X, dengan X yang telah disebutkan diatas. Untuk pelajaran IPA Fisika, komponen X (dalam hal ini ICT dan bilingual) dimaksudkan agar dapat mempermudah tercapainya tujuan pembelajaran IPA Fisika yang diinginkan oleh Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (PLP) bahwa tujuan dari pembelajaran IPA Fisika tersebut adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam IPA Fisika sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu tersebut; menghasilkan lulusan yang memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang tinggi; meningkatkan penguasaan IPA Fisika dalam bahasa Inggris sesuai dengan perkembangan internasional; meningkatkan kemampuan daya saing secara internasional tentang IPA Fisika sebagai ilmu dasar bagi perkembangan teknologi (manufaktur, komunikasi, transportasi, konstruksi, bio dan energi); dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi siswa dalam bahasa Inggris, artinya siswa memiliki kemahiran bahasa Inggris yang baik (Depdiknas, 2004:3).

2.6.      Pelaksanaan Pembelajaran IPA Fisika di Kelas Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional (RSBI) SMPN 9 Palembang

Di Palembang ada beberapa sekolah yang telah menjadi sekolah rintisan bertaraf internasional. Salah satunya adalah SMPN 9 Palembang. Pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA Fisika di kelas RSBI SMP 9 Palembang yang membedakannya dengan kelas reguler lain di sekolah ini adalah pada penggunaan program bilingual (dua bahasa) dan ICT.

2.6.1    Pengertian dan Manfaat Bilingual

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:151)  pengertian bilingual adalah mampu atau biasa memakai dua bahasa dengan baik dan bersangkutan dengan atau mengandung dua bahasa. Bilingual yang dipergunakan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Baker  mengatakan kemampuan bilingual bukan hanya sekedar mempunyai dua bahasa, akan tetapi juga mempunyai konsekuensi pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya. keuntungan lain dalam berkomunikasi secara bilingual adalah ketika anak belajar dalam dua bahasa, saat dewasa dapat mengakses dua literatur, memahami tradisi yang berbeda, juga cara berpikir dan bertindak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Itta The di kelompok bermain TKK 6 BPK Penabur tentang penggunaan bilingual ini menunjukkan Komponen kemampuan komunikasi dari pembelajaran bilingual menunjukkan hasil sebesar 76%,  para ibu berpendapat bahwa karena belajar bilingual anak-anak mereka mengalami peningkatan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, anak juga dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan orangtua, guru, sanak keluarga lain, dan native speaker. Komponen kemampuan mengenal budaya menunjukan hasil sebesar 57%, para ibu berpendapat bahwa terhadap kemampuan mengenal budaya cukup baik. Anak dapat menyanyikan lagu kanak-kanak baik dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, mengucap syair, dan mengerti film kartun dalam bahasa Inggris. Komponen kemampuan perkembangan kognitif menunjukkan hasil sebesar 74%. Persentase ini menunjukkan kemampuan anak mengerti dan berbicara secara langsung dengan bahasa Inggris cukup baik dan cukup kritis bila ada yang ditanyakan. Komponen mengembangkan kepribadian menunjukkan hasil sebesar 86%. Persentase ini menunjukkan pandangan para ibu “sangat baik”, terhadap perkembangan kepribadian anaknya. Mereka memiliki rasa percaya diri, mandiri dan memiliki keberanian saat berbicara dengan guru kelas dan native speaker. Komponen manfaat peningkatan prestasi pendidikan menunjukkan hasil sebesar 94%, setelah belajar bilingual anak dapat mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris, dan memperoleh kata-kata baru untuk kata yang sama dalam bahasaIndonesia (The, 2007). Hasil seperti inilah yang diharapkan dalam penerapan bilingual dalam pembelajaran.

Pada Implementasi program bilingual di pelajaran IPA  hal yang harus dihindari adalah dihasilkannya lulusan dengan bahasa Inggris kelas 2 karena tidak baiknya tata bahasa dan ucapan. Perlu diperhatikan beberapa hal agar program pembelajaran IPA dengan bilingual dapat diimplementasikan dengan tingkat pencapaian yang tinggi dalam kompetensi bidang studi maupun kompetensi dalam bahasa Inggris. Tingkat pencapaian kompetensi yang tinggi dalam bahasa Inggris ditandai dengan keterampilan berbahasa Inggris yang lancar dan akurat, baik dari segi tatabahasa maupun ucapan. Perlu diketahui bahwa program semacam ini disebut juga program imersi (immersion program). Penguasaan yang tinggi dan seimbang dalam bahasa Inggris dan bidang studi biasanya sulit dicapai secara bersamaan. Artinya, pencapaian yang tinggi dalam satu aspek cenderung dibarengi oleh pencapaian yang agak rendah dalam aspek lainnya. Penguasaan bahasa lulusan/siswa dalam bahasa Inggris jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan/siswa yang mengikuti kelas reguler, tetapi tidak sepadan dengan kemampuan penutur asli karena diwarnai oleh sejumlah kesalahan tatabahasa dan ucapan. Agar pencapaian kompetensi dalam bidang studi dan bahasa Inggris tinggi dan seimbang, perlu upaya pengembangan program-program pendukung secara nyata seperti:

  1. Penciptaan suasana akademik dan sosial yang mendukung
  2. Penyelenggaraan Bridging Course bahasa Inggris
  3. Penyediaan Self-Access Learning Centre

Selain itu perlu dikembangkan model pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris yang sesuai dengan ciri dan karakter yang ada pada sekolah pelaksana program. Berikut ini diuraikan beberapa contoh model pembelajaran

dimaksud.

Model pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang baik adalah model yang memfasilitasi pencapaian kompetensi yang tinggi dalam bidang studi dan dalam bahasa Inggris (subject matter and language) dan keduanya diberi perhatian secara proporsional. Focus on language sangat penting untuk menghindarkan siswa dari fosilisasi, yaitu pemerolehan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Inggris sebagaimana digunakan oleh penutur asli bahasa Inggris.

Contoh model pembelajaran:

1. Terpisah (parallel): perkembangan bahasa siswa difasilitasi melalui kegiatan penunjang di luar pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Bahasa Inggris yang diikuti siswa di sekolah.

Siswa menerima pelajaran tambahan berupa English for Mathematics and Science yang dilakukan oleh guru bahasa Inggris dan/atau guru MIPA. Materi pelajaran tambahan ini didasarkan pada kebutuhan dan urutan penyajian tema-tema pelajaran yang ada pada pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Idealnya sebelum siswa mempelajari pokok bahasan tertentu, siswa sudah diperkenalkan dengan bahasa (kosa kata, tata bahasa, ekspresi, dsb.) yang akan dipergunakan dalam mempelajari pokok bahasan tersebut. Fasilitasi pemerolehan English for Mathematics and Science melalui pelajaran bahasa Inggris reguler sebetulnya dimungkinkan, tetapi diperkirakan waktu yang disediakan untuk itu tidak mencukupi karena pelajaran bahasa Inggris reguler perlu mengikuti Kurikulum 2004 yang tidak kompatibel dengan kebutuhan English for Mathematics and Science.

Model ini cocok bagi sekolah yang guru MIPA-nya memiliki pengetahuan kebahasaan yang terbatas dan team-teaching antara guru bahasa Inggris dan guru MIPA tidak dapat berjalan dengan baik. Dalam model ini pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris berlangsung dengan tahapan-tahapan pembelajaran seperti pada pembelajaran MIPA pada umumnya. Model ini agak mahal dan memerlukan waktu cukup banyak tetapi efektif dalam pencapaian tujuan (peningkatan kemahiran berbahasa Inggris).

2.   Terpadu (integrated): perkembangan bahasa siswa difasilitasi secara terpadu dalam pembelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris. Artinya, siswa menerima materi English for Mathematics and Science bersamaan ketika mereka menerima pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam bahasa Inggris.

      Model ini cocok/sesuai untuk guru MIPA dengan pengetahuan kebahasaan tinggi (Depdiknas, 2004).

2.6.2.   Karakteristik dan Keunggulan Bahan Ajar Berbasis ICT

Information and Communication Technology (ICT) based learning material, atau lebih dikenal dengan Bahan Ajar berbasis TIK/ICT, yaitu bahan ajar yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan telah mengacu pada Technology e-learning dan Data Information Technologies. Contoh : Internet based tutorial, distance learning, e-library, bulletin board, e-book, jurnal online, online module dan sebagainya).

Peran penting Bahan Ajar berbasis TIK/ICT dalam proses pembelajaran didasari oleh karakteristik Bahan Ajar yang lebih kompleks dibanding jenis bahan ajar lain. Beberapa karakteristik Bahan Ajar berbasis TIK/ICT dapat dikemukakan antara lain :

1.      Memanfaatkan teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.

2.      Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media ataupun teknologi jaringan / computer network).

3.      Memanfaatkan teknologi multimedia, sehingga suasana pembelajaran menjadi menarik, tidak membosankan dan pada akhirnya memotivasi siswa untuk belajar mandiri.

4.      Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.

5.      Memanfaatkan Pertukaran Data (Information sharing) yang secara interaktif dapat dilihat setiap saat di komputer.

Adapun Keunggulan Terkini yang dimiliki oleh Bahan Ajar berbasis TIK/ICT dapat dirangkum sebagai berikut :

6.      Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif serta mempunyai ketertarikan pada materi yang sedang dibahas .

7.      Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar sewaktu-waktu karena bahan ajar dapat tersimpan di komputer.

8.      Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadual melalui jaringan, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.

9.      Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.

10.  Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi dan berinteraksi melalui fasilitas-fasilitas internet yang dapat dilakukan secara kelompok/group (Ware, 2008).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1.      Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 9 Palembang pada semester ganjil 2008/2009 mulai dari bulan Agustus sampai bulan September 2008.

3.2.      Variabel Penelitian

            Variabel penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI.

3.3.      Definisi Variabel Opersional

            Pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI adalah kegiatan belajar mengajar fisika yang dilakukan menggunakan ICT dan program Bilingual untuk  mencapai tujuan pembelajaran fisika.

3.4.      Subjek Penelitian

            Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII.1 SMPN 9 Palembang dengan jumlah siswa adalah 26 orang yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 13 orang perempuan serta seorang guru fisika.

3.5       Metode Penelitian

   Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Di dalamnya terdapat upaya pendeskripsian dan penjelasan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang (Arikunto, 2002: 9). Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan angket.  Informasi yang ingin diketahui dan dilaporkan oleh peneliti adalah pelaksanaan pembelajaran Fisika yang ideal dengan menerapkan aturan baku dan apa kelebihan serta kekurangan dari pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI SMP N 9 Palembang. Namun, ketika peneliti melakukan wawancara bebas dengan guru Fisika yang mengajar di kelas RSBI dan turun ke lapangan, diketahui bahwa perbedaan proses pembelajaran Fisika di kelas RSBI dengan kelas reguler ini hanya terletak pada penggunaan bahasa Inggris (bilingual) dan ICT saja. Jadi, peneliti hanya memfokuskan penelitian ini pada pelaksanaan pembelajaran Fisika menggunakan dua bahasa dan ICT.

3.6.      Teknik Pegumpulan Data

3.6.1    Wawancara

Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas. Objek utama yang diwawancara adalah guru yang mengajar di kelas RSBI. Isi wawancara ini adalah tentang persiapan yang dilakukan oleh guru sebelum mengajar, apa kendala-kendala yang dihadapi oleh guru Fisika di kelas RSBI dan bagaimana pendapat guru tersebut tentang pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI. Selain itu siswa juga menjadi objek wawancara dengan fokus pertanyaannya adalah pada kendala-kendala yang dihadapi pada pelaksanaan pembelajaran Fisika .

3.6.2    Observasi

Observasi dilakukan untuk memperoleh data yang tidak dapat diperoleh melalui wawancara yaitu proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas RSBI. Dalam melakukan observasi ini, peneliti langsung bertindak sebagai observer dengan menggunakan lembar observasi.

Di Lembar observasi ini disajikan 2 indikator yaitu pembelajaran berbasis TIK/ICT  dan pembelajaran dengan program bilingual dengan beberapa deskriptor sebagai berikut:

Indikator I : Pembelajaran dengan program bilingual

Deskriptor:

1.      Guru membuka pelajaran dengan Bahasa Inggris.

2.      Guru menjelaskan materi pelajaran dengan bahasa inggris.

3.      Guru bertanya kepada siswa menggunakankan bahasa inggris.

4.      Siswa memberi jawaban dengan menggunakan Bahasa Inggris.

5.      Siswa bertanya dengan menggunakan Bahasa Inggris.

6.       Siswa mengerjakan latihan dengan menggunakan bahasa Inggris.

7.      Guru menutup pelajaran dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Indikator II : Pembelajaran berbasis TIK/ICT

Deskriptor :

1.      Guru telah menyediakan bahan ajar dalam bentuk softcopy.

2.      Guru memulai pelajaran dengan memotivasi siswa menggunakan visualisasi fenomena Fisika yang menarik.

3.      Guru menjelaskan pelajaran dengan menggunakan power point yang menarik.

4.      Guru membuat bahan ajar pada program selain power point. 

5.      Guru mengakses bahan ajar melalui internet.

6.       Siswa dapat mengakses bahan ajar melalui internet.

7.      Guru dan siswa dapat berinteraksi melalui internet.

3.6.3    Angket

Angket yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa angket tertutup dan terbuka dengan tujuan ingin mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran fisika di kelas RSBI. Selain itu, angket juga dibuat dalam skala Likert yang bertujuan untuk melihat sikap siswa dalam hal ini motivasi belajar siswa setelah mengikuti pelajaran Fisika di kelas  RSBI selama setengah semester. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata sebagai berikut:


              Pernyataan Positif (Item +)

  Sangat Setuju            : 5

  Setuju                        : 4

  Netral                                    : 3

  Tidak Setuju              : 2

  Sangat Tidak Setuju  : 1

 

 

Pernyataan Negatif (Item -)

Sangat Setuju              : 1

Setuju                          : 2

Netral                          : 3

Tidak Setuju                : 4

Sangat Tidak Setuju    : 5


3.7.      Teknik Analisa Data

3.7.1    Observasi

            Data yang diperoleh dari hasil wawancara akan dideskripsikan sedangkan data yang diperoleh melalui observasi selain dideskripsikan juga akan dicari persentasenya. Setiap deskriptor yang tampak diberi skor 1 dan 0 jika tidak tampak. Lalu setelah diberi skor, dicari persentasenya  dengan rumus :

                       

3.7.2    Angket

   Data angket yang diperoleh dalam bentuk angket terbuka dan tertutup akan dideskripsikan sedangkan data yang didapatkan melalui skala likert, selanjutnya dikuantitatifkan dan menggunakan Rating Scale. Data yang telah diubah menjadi angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Skala yang digunakan, secara umum dapat dibuat katagori sebagai berikut:

0%                 20%                 40 %                60 %                 80 %                              

  Kurang Sekali         kurang              Sedang             Baik                   Sangat Baik

(Riduan, 2005 : 89)

3.8.      Langkah-Langkah Penelitian

            Adapun langkah-langkah dalam menyelesaikan penelitian ini adalah :

1.   Pendahuluan

a.       Menentukan permasalahan

b.      Menentukan subjek penelitian.

c.       Menentukan metode penelitian.

2.   Persiapan

Menentukan dan menyusun instrumen penelitian, yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI, garis-garis besar permasalahan yang ingin ditanyakan, dan angket motivasi belajar siswa setelah mengalami pembelajaran di kelas RSBI.

 

3. Pelaksanaan Penelitian

Pada tahapan ini, hal-hal yang dilakukan penelitian adalah sebagai berikut:

a.       Melakukan penelitian dengan menggunakan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI.

b.      Melakukan wawancara bebas dengan guru fisika yang mengajar di kelas RSBI.

c.       Menyebarkan angket.

d.      Mengumpulkan dokumentasi berupa foto-foto dan rekaman (video) salah satu pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas RSBI serta dokumen lainnya seperti lembar kerja siswa dan lain-lain.

4.   Analisa Data

      Menganalisis hasil observasi, hasil wawancara bebas, dan angket.

5.   Membuat pembahasan.

6.      Menarik kesimpulan dan saran.

7.      Membuat laporan penelitian.        

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Validitas Instrumen

 

Menentukan dan Menyusun Instrumen

 
           

           

       
 
 
   

Gambar 3.1. Bagan Langkah-Langkah Penelitian

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.      Deskripsi Pelaksanaan Pembelajaran IPA Fisika di Kelas RSBI

Pembelajaran adalah suatu proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar (Sundiawan, 2008). Bergerak dari pengertian inilah, tahapan penelitian ini dilakukan.  Mulai dari tahap persiapan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar di kelas dan proses evaluasi pembelajaran. Fisika, seperti halnya dengan pelajaran-pelajaran lain juga melalui tahapan tersebut.

Tahapan pertama  yaitu persiapan pembelajaran Fisika. Data tahap persiapan pembelajaran diperoleh peneliti melalui wawancara bebas yang dilakukan dengan guru yang mengajar di kelas RSBI. Dari wawancara bebas ini diketahui bahwa persiapan pembelajaran di kelas RSBI cukup banyak. Mulai dari persiapan umum sampai persiapan khusus. Persiapan umum dalam hal ini adalah pembekalan berupa pelatihan-pelatihan yang diadakan langsung oleh pemerintah pusat. Pelatihan-pelatihan tersebut berupa Workshop terpusat seperti pelatihan yang diadakan di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Depok dan jenis pelatihan in house training, meskipun pada akhirnya in house training tidak berjalan lancar.

Persiapan khusus yang dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran di kelas adalah pembuatan perangkat pembelajaran mulai dari pembuatan Silabus sampai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Silabus disusun dengan berpedoman pada KTSP. Di sekolah ini kurikulum yang digunakan adalah KTSP, proses pengembangan atau perluasan dalam hal ini mengacu pada komponen X pada formulasi SBI adalah berupa penggunaan program bilingual dan ICT. Persiapan ini dikatakan khusus karena dibuat dengan menggunakan bahasa Inggris.  Presentasi menggunakan power point dan penyusunan instrumen pendukung pelaksanaan pembelajaran tersebut. Salah satu Instrumen pembelajaran Fisika yang dibuat guru berupa lembar kerja siswa (LKS) atau worksheet berbahasa Inggris. Contoh-contoh presentasi dan worksheet yang dibuat oleh guru Fisika tersebut dapat dilihat di lampiran.

Tahap selanjutnya adalah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan di kelas RSBI. Kelas RSBI jelas berbeda dengan kelas-kelas regular lainnya bukan hanya dari sisi kegiatan yang berlangsung di dalamnya tapi juga dari sisi fasilitas yang tersedia di kelas ini. Kelas RSBI dibuat senyaman mungkin agar siswa dapat belajar optimal. Kelas ini dikondisikan seperti halnya rumah sendiri. Di pintu masuk diberi bel, bentuk kursi disesuaikan dengan keinginan siswa, bisa dibuat berbentuk huruf  U atau seperti di kelas reguler yang berbentuk baris dan kolom, jendela diberi tirai yang tertutup sehingga mereka bisa berusaha memfokuskan perhatian pada pelajaran, ruangan dilengkapi oleh fasilitas seperti LCD, computer multimedia, dan dua buah pendingin ruangan serta Televisi. Selain itu, para siswa juga memiliki Personal Computer masing-masing atau yang lebih dikenal dengan Notebook (NB). Dari 26 siswa di kelas ini, hanya 2 orang yang belum memiliki NB. Sedangkan di kelas lainnya yang bukan RSBI fasilitas tersebut di atas tidak didapatkan. Dari kegiatan pembelajaran, perbedaan yang sangat terlihat antara kelas regular dan kelas RSBI adalah pada penerapan pembelajaran dengan program bilingual dan pembelajaran berbasis TIK/ICT dan seperti inilah memang tuntutan proses pembelajaran di kelas RSBI yang diketahui dari pelatihan maupun diskusi yang dialami oleh guru Fisika.

Berdasarkan buku panduan penyelenggaraan RSBI (2008) Proses pembelajaran pada program RSBI yang ideal dipendampingan tahun kedua, penyelenggaraan proses pembelajaran sesuai standar minimal pembelajaran di SBI antara lain:

1.         50% pelaksanaan pembelajaran telah mengacu pada standar proses SBI.

2.         50% pembelajaran mata pelajaran dilakukan secara bilingual.

3.         50% pelaksanaan pembelajaran bilingual telah dilengkapi perangkat pembelajaran berdasarkan potensi, karakteristik peserta didik, dan lingkungan sekolah.

4.         50% pembelajaran bilingual telah menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan atau berbasis ICT.

5.         Intensitas pendampingan (in house training) oleh tenaga ahli (dosen) dengan proporsi minimal 2 kali seminggu.

6.         50% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang dengan berpusat pada siswa (student centered)

7.         50% pelaksanaan pembelajaran bilingual dirancang secara terintegrasi dan berbasis masalah (integrated and problem based intruction).

Dalam upaya peningkatan proses pembelajaran selanjutnya di kelas RSBI SMP N 9 Palembang akan diupayakan mengacu pada ketujuh point diatas. Selama ini, menurut Komalawaty (guru fisika di kelas RSBI) ketujuh point diatas belum diterapkan secara optimal karena belum kongkritnya panduan yang ada. Kondisi real di lapangan yang hanya memperlihatkan penerapan pembelajaran fisika berbahasa inggris dan ICT pada proses pembelajaran di RSBI inilah yang bisa diteliti. Pengambilan data pada pembelajaran Fisika di kelas RSBI ini dilakukan melalui observasi.

Tahapan terakhir adalah evaluasi hasil belajar. Salah satu data hasil belajar siswa di kelas RSBI dapat dilihat dari hasil ujian tengah semester yang telah dilalui siswa. Selain itu, hasil belajar siswa dapat dilihat dari sisi afektifnya. Sikap siswa yang dilihat pada skripsi ini adalah motivasi siswa setalah mengalami pembelajaran Fisika di kelas RSBI. Data sikap siswa diperoleh melalui angket yang berbentuk skala Likert.

4.2.            Deskripsi Hasil Penelitian

 

Penelitian ini dilakukan di kelas VII.1 SMP N 9 Palembang selama dua bulan di tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini dimulai dari tanggal 6 Agustus 2008 dan berakhir pada tanggal 24 September 2008. Selama penelitian, ada 6 kali pelaksanaan pembelajaran Fisika dengan alokasi waktu 3 x 40 menit. Subjek penelitian yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII.1 yang berjumlah 26 orang dan 1 orang guru Fisika yang mengajar di kelas tersebut.

Data yang diperoleh dari penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif pada penelitian ini berupa hasil belajar siswa yang didapat melalui angket tentang motivasi belajar siswa setelah mengalami kegiatan belajar di kelas RSBI. Sedangkan data kuantitatif pada penelitian ini diperoleh melalui observasi berupa persentase aktivitas penggunaan bahasa Inggris dan penerapan ICT pada pembelajaran Fisika.

4.2.1    Data kuantitatif

Data kuantitatif diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan peneliti. Observasi pertama dilakukan pada tanggal 6 Agustus 2008, dimulai pukul 10.15 WIB dan berakhir pada pukul 12.15 WIB. Pertemuan ini diawali dengan sapaan guru kepada semua siswa. Dengan wajah ceria dan bersemangat, guru bertanya tentang kabar siswa dan dengan semangat dan kecerian yang sama para siswapun merespon guru. Setelah menyapa siswa, guru memperkenalkan peneliti dengan seluruh siswa yang ada di kelas VII.1. Dengan bantuan ibu Komalawaty, peneliti memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris sekaligus memberitahukan maksud dan tujuan peneliti berada dikelas tersebut.

Pada pertemuan pertama ini, indikator yang dapat dilihat hanya indikator pertama yaitu penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran sedangkan indikator kedua tidak dapat dilihat karena terdapat kendala teknis. Dalam penyampaian materi tentang pengenalan Sains ini, guru menggunakan metode ceramah dan diskusi. Guru menjelaskan dengan bahasa Inggris dan mengartikannya dengan bahasa Indonesia pada saat-saat tertentu (ditandai pada lembar observasi dengan tidak tampaknya deskriptor 2, guru menjelaskan dengan bahasa Inggris). Respon positif siswa terhadap pembelajaran dapat dilihat dengan antusiasme mereka menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Bahkan, siswapun berani untuk mengingatkan guru, ketika guru salah menuliskan kata dalam bahasa Inggris. Sebagai kegiatan penutup pembelajaran, guru memberikan kuis atau post test kepada siswa dengan menggunakan bahasa Inggris.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 2008 dengan materi pokok Besaran dan Satuan. Proses kegiatan belajar mengajar terjadi di Laboratorium komputer. Semua komputer di laboraturium ini telah dilengkapi dengan fasilitas internet. Guru dan siswa langsung dapat browsing materi atau tambahan bahan belajar dengan menggunakan fasilitas ini. Pokok bahasan pertemuan kali ini adalah pengukuran, guru menggunakan slide pada power point dalam penyampaian materinya. Jika pada pertemuan pertama guru menggunakan test diakhir jam pelajaran, maka dipertemuan ini guru memberikan test sisipan yang dilakukan pada sepuluh menit ketiga setelah pelajaran berlangsung. Test sisipan ini berupa menuliskan kembali keyword materi dalam bahasa Inggris yang telah diberikan sepuluh menit sebelumnya.

Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2008 yaitu di laboratorium IPA. Materi pokok pertemuan ini adalah Awalan dan Simbol Satuan dalam Sistem Internasional (SI) serta Suhu. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan eksperimen. Berikut ini adalah gambar ketika guru menjelaskan materi dengan bahasa Inggris dan salah satu kelompok siswa yang sedang melakukan eksperimen atau percobaan. Seperti yang telah disebutkan didepan bahwa setiap pertemuan tatap muka tersedia alokasi waktu 3x40. Dengan alokasi waktu yang tersedia, pada pertemuan kali ini guru tidak berkesempatan untuk menutup pelajaran karena percobaan yang dilakukan siswa belum selesai dan saat inipun terlihat bahwa siswa begitu menikmati pelajaran.

Pertemuan keempat dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2008 dengan materi Termometer. Metode yang digunakan oleh guru adalah ceramah, demonstrasi dan eksperimen. Guru menjelaskan menggunakan slide pada power point berbahasa Inggris. Pada pertemuan kali ini, siswa dan guru tidak dapat mengakses internet dikarenakan adanya gangguan pada jaringan.

Pertemuan kelima dilaksanakan pada tanggal 17 September 2008 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, pelajaran Fisika dimulai pukul 10.00 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Pada pertemuan ini, guru dan siswa bersama-sama membahas tugas tentang pendeskripsian suhu dan pengukurannya. Selain itu, guru juga menjelaskan tentang titik nol mutlak. Guru menuntun siswa untuk mendefinisikan pengertian titik nol mutlak dengan bersama-sama mencari bahan diinternet. Setelah bersama-sama menemukan bahan, maka guru dan siswa juga bersama-sama menterjemahkan ke bahasa Inggris. Pada tahapan inilah kemampuan bahasa Inggris guru diperlukan.

            Pertemuan terakhir atau keenam pada proses pembelajaran Fisika di kelas RSBI adalah pada tanggal 24 September 2008 dengan materi pokok, Pengukuran Besaran Pokok. Pada materi ini, guru menggunakan metode ceramah, demonstrasi, diskusi dan eksperimen. Guru menjelaskan materi dengan menggunakan media power point yang menarik dan diikuti dengan demonstrasi alat. Dipertemuan kali ini, ada beberapa siswa yang meminta guru untuk menjelaskan dengan bahasa Indonesia. Selain itu, dipertemuan kali ini tepatnya pada sepuluh menit kelima ibu Komala ditemani oleh satu orang guru pendamping yaitu guru bahasa Inggris. Dan Idealnya memang harus seperti ini, keberadaan guru bahasa inggris adalah sebagai rekan satu tim guru,  sehingga jika ada masalah atau kendala dalam proses pembelajaran yang berhubungan dengan bahasa Inggris dapat diselesaikan.

            Pelaksanan pembelajaran Fisika di kelas RSBI sebanyak 6 kali ini diperoleh peneliti melalui observasi. Data observasi yang diperoleh peneliti selama penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1.

 

 

Tabel 4.1. Rekapitulasi Data Hasil Observasi

Indikator

Deskriptor

Pertemuan

%

1

2

3

4

5

6

I

1

2

3

4

5

6

7

1

1

1

1

1

1

6

100

9

8

7

7

6

3

40

60,6

3

2

2

2

3

2

14

77,8

2

2

1

2

3

2

12

66,7

2

2

7

1

1

2

15

35,7

1

2

2

2

5

5

17

56,7

1

0

1

0

0

0

2

33,3

II

1

2

3

4

5

6

7

0

1

1

1

1

1

5

83,3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1

1

1

1

1

5

83,3

0

0

0

1

0

1

2

33,3

0

1

1

0

1

0

3

50

0

1

1

0

1

0

3

50

0

0

0

0

0

0

0

0

Pada tabel 4.1 terlihat skor, deskriptor 1 (guru membuka pelajaran dengan bahasa Inggris) untuk 6 kali pertemuan adalah 6 dengan persentase 100 % artinya skor maksimum untuk deskriptor 1 adalah 6. Hal ini jelas karena guru hanya melakukan pembukaan 1 kali disetiap pertemuan.

Deskriptor 2 (guru menjelaskan pelajaran dengan bahasa Inggris), diamati setiap 10 menit. Skor 1 jika guru menjelaskan dengan bahasa Inggris pada 10 menit pertama. Skor menjadi 2 jika di sepuluh menit kedua guru tetap menjelaskan dengan bahasa Inggris dan seterusnya, sehingga skor maksimum untuk deskriptor 2 ini adalah 12. Skor 12 hanya pada pertemuan pertama sampai keempat sedangkan untuk pertemuan kelima dan keenam, skor maksimumnya adalah 9. Pada pertemuan ke-5 dan ke-6, waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran Fisika hanya 90 menit karena pengurangan waktu belajar di bulan Ramadhan. Perbedaan skor yang signifikan terdapat  Pada pertemuan ke-6. pada pertemuan ini, skor yang diperoleh adalah 3. Hal ini dikarenakan waktu yang ada lebih banyak digunakan oleh siswa untuk melakukan percobaan.

Deskriptor 3 (guru bertanya kepada siswa menggunakan bahasa Inggris),  deskriptor 4 (siswa memberi jawaban dengan bahasa Inggris), deskriptor 5 (siswa bertanya pada guru menggunakan bahasa Inggris) dan deskriptor 6 (siswa mengerjakan latihan dengan bahasa Inggris) juga diamati setiap 10 menit. Skor tertinggi untuk deskriptor 3 dan deskriptor 4 adalah 3, tidak ada perbedaan yang signifikan untuk kedua deskriptor ini.

Skor tertinggi untuk deskriptor 5 adalah 7, ditemukan pada pertemuan ke-3. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa alasan. Menurut peneliti alasan tersebut adalah karena siswa merasa nyaman dalam belajar sehingga berani untuk bertanya dan siswa tidak mengerti atau kurang faham dengan penjelasan yang diberikan oleh guru.

Pada deskriptor 7, skor yang diperoleh hanya 2 dari skor tertinggi 6 atau jika dipersentasekan sebesar 33,3%. Deskriptor ini tidak tampak pada pertemuan ke-2 proses pembelajaran masih berlangsung ketika waktu telah berakhir sehingga guru lupa atau tidak berkesempatan menutup pelajaran.

Skor maksimum untuk setiap deskriptor pada indikator II (penggunaan ICT/TIK dalam pembelajaran) adalah 1. Ada dua deskriptor yang tidak pernah muncul/tampak yaitu deskriptor 2 (Guru memulai pelajaran dengan memotivasi siswa menggunakan visualisasi fenomena Fisika yang menarik) dan deskriptor 7 (Guru dan siswa dapat berinteraksi melalui internet). Deskriptor 2 tidak tampak dikarenakan cara yang digunakan guru dalam memotivasi siswa adalah dengan memberikan kehangatan/kenyamanan berupa sapaan yang bersemangat dan menampilkan wajah yang ceria. Sedangkan untuk deskriptor 7 tidak pernah tampak karena menurut peneliti tidak semua materi pada pelajaran Fisika cocok menggunakan ICT dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran IPA hampir 75% dari pokok bahasan memerlukan pendekatan proses sehingga strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah strategi yang mengarah pada pendekatan keterampilan proses (Winataputra, 1993: 177-1830). Sedangkan ICT dalam hal ini internet kurang tepat jika digunakan pada pembelajaran Fisika.

Deskriptor untuk indikator II yang persentase tampaknya dibawah 50% selain dua deskriptor diatas adalah deskriptor 4 (guru membuat bahan ajar pada program selain power point). Dari hasil wawancara bebas peneliti dengan ibu Komala diketahui bahwa hal tersebut dikarenakan keterbatasan baik dari segi skill dalam membuat bahan ajar dengan berbagai jenis program komputer maupun keterbatasan waktu yang dimiliki.

Berdasarkan data pada tabel 4.1, persentase penggunaan program bilingual pada pembelajaran Fisika di kelas RSBI(Indikator pertama) dapat di peroleh dengan cara:

 

                             =%

Dengan cara yang sama, didapat persentase penggunaan ICT yaitu 42,84 %.

 

         =

4.2.2    Data Kualitatif

Data yang diperoleh melalui angket adalah data kualitatif tentang motivasi belajar siswa yang dilihat dari 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah ketekunan dalam belajar, ulet dalam menghadapi kesulitan, minat dan ketajaman perhatian dalam belajar, berprestasi dalam belajar dan mandiri dalam belajar (Riduan, 2005:227). Selain itu, juga terdapat data hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil ujian tengah semester (UTS).  Data hasil belajar siswa berupa hasil UTS dan motivasi belajar setelah mengikuti pembelajaran Fisika dapat dilihat pada tabel 4.2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.2: Hasil UTS dan Motivasi Belajar Siswa

Nama

Hasil UTS

Motivasi Belajar

Skor

%

Katagori

Skor

%

Katagori

Abdurahman Hakim

20

20

Kurang

143

73,3

Baik

Adhytya Dwiki Putra

60

60

Sedang

154

78,9

Baik

Altiara Riski

24

24

Kurang

134

68,7

Baik

Alviana Dwi Syaputri

68

68

Baik

147

75,38

Baik

Dea Firstiani Hendarman

90

90

Sangat Baik

168

86,66

Sangat Baik

Dita Mutiara Irawan

55

55

Sedang

145

74,35

Baik

Dwiki Danny Ariawan

38

38

Kurang

154

78,97

Baik

Lara Mayang Sari

63

63

Baik

128

65,64

Baik

M. Abrar Palelongi

65

65

Baik

142

72,42

Baik

M. Aldian Astrayuda

75

75

Baik

155

79,48

Baik

M. Fahmi AlFarizi

50

50

Sedang

155

79,48

Baik

M. LutfinTaufiqi

38

38

Kurang

143

73,33

Baik

Maghfiro Ridho P

24

24

Kurang

117

60

Sedang

Marizka Bellarina

58

58

Sedang

145

74,35

Baik

Meutia Sfarianti

45

45

Sedang

147

75,38

Baik

M. Ridho MM

63

63

Baik

153

78,46

Baik

Ni Putu Ayu Oka S

53

53

Sedang

179

91,79

Sangat Baik

Olive Mutiara Alzena

38

38

Kurang

177

90,76

Sangat Baik

Puspa Fitriyanti

55

55

Sedang

154

78,97

Baik

Putri Pratama N

33

33

Kurang

161

82,56

Sangat Baik

Ryan Rapie Wiranata

58

58

Sedang

140

71,79

Baik

Ridho Kurniawan

75

75

Baik

151

77,43

Baik

Shepti Ira Luthfia

58

58

Sedang

140

71,79

Baik

Tri Hadi Kusuma

50

50

Sedang

149

76,41

Baik

Rata-rata

52

52

Sedang

142,75

77,02

Baik

 

Dari tabel diatas diketahui bahwa terjadi kesenjangan antara hasil belajar secara kognitif dan hasil belajar secara afektif. Persentase keberhasilan belajar secara afektif berupa motivasi belajar setelah mengikuti pembelajaran di kelas RSBI adalah sebesar 77,02 % dengan katagori baik sedangkan secara kognitif hanya sebesar 52 % dengan katagori sedang. Jika dilihat dari niali ketentuan kriteria ketuntasan minimal yaitu 75, maka hanya ada 3 siswa yang dikatakan tuntas mengikuti pelajaran Fisika. Secara detail, persentase setiap katagori untuk motivasi belajar siswa dan hasil UTS siswa dapat dilihat dari tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3. Motivasi Belajar Siswa dan Hasil UTS Siswa setiap Katagori

 

Hasil UTS

Motivasi Pelajar

Kategori

%

Kategori

%

Sangat Kurang (SK)

Sangat Kurang (SK)

Kurang (K)

28

Kurang (K)

Sedang (S)

44

Sedang (S)

4

Baik(B)

24

Baik(B)

80

Sangat Baik (SB)

4

Sangat Baik (SB)

16

 

 

Gambar 4.1. Grafik Hasil UTS dan Motivasi Belajar Siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.3.            Pembahasan

4.3.1.      Pelaksanaan Penggunaan Bilingual pada Pembelajaran Fisika

Secara umum, pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas VII.1 SMP N 9 Palembang tidak berbeda jauh dengan pembelajaran Fisika di kelas-kelas lainnya. Perbedaan yang paling mencolok hanya terletak pada penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa yang lebih dominan digunakan dalam proses belajar mengajarnya terutama pada menjelaskan konsep. Sehingga, salah satu faktor yang cukup besar mempengaruhi hasil belajar Fisika ini adalah bahasa. Baik kemampuan bahasa yang dimiliki guru maupun kemampuan bahasa yang dimiliki oleh siswa.

Disetiap pertemuan pada pelaksanaan pembelajaran guru selalu membuka pelajaran dengan bahasa Inggris. Namun, ketika menjelaskan pelajaran bahasa yang digunakan tidak semuanya berbahasa Inggris. Hal ini dikarenakan, adanya kekhawatiran siswa tidak mampu menangkap pelajaran. Setelah menjelaskan dalam bahasa Inggris, jika guru melihat siswa tampak tidak mengerti maka guru akan bertanya kepada siswa dengan bahasa Inggris. Namun, jika siswa tidak merespon maka guru akan membahasakan dengan bahasa Indonesia.

Pada masa Rintisan, Pembelajaran IPA memang dituntut untuk dilakukan dalam bahasa Inggris. Sedikit demi sedikit guru dan siswa berusaha untuk melakukannya. Selain untuk memenuhi standar kompetensi, targetan atau tujuan yang tak kalah pentingnya adalah siswa mampu memahami pembelajaran Fisika dalam bahasa Inggris. Disetiap pertemuan, guru akan selalu memberikan kata kunci berupa kata-kata dalam bahasa Inggris yang sering digunakan dalam konsep Fisika.

Bahasa Inggris tidak hanya digunakan ketika guru menjelaskan pelajaran tetapi juga ketika guru bertanya kepada siswa dan siswa menjawab pertanyaan serta ketika guru memberikan latihan, baik berupa latihan soal maupun lembar kerja siswa.

Selain belajar di kelas yang disesuaikan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengalokasikan pelajaran Fisika sebanyak 3 x 40 menit. Siswa juga belajar di luar jadwal tersebut, yaitu belajar pada saat BIC (Belajar Ingin Cerdas) yang dilakukan 3 kali dalam sepekan. Pada saat BIC Fisika tidak diajarkan dalam bahasa Inggris sehingga penanaman ataupun penguatan konsep bisa dilakukan. Namun, program BIC ini tidak diwajibkan kepada semua siswa sehingga bisa dikatakan ini adalah salah satu faktor yang membuat terjadinya perbedaan hasil belajar siswa.

Dari hasil belajar  berupa Ujian Tengah Semester diketahui bahwa ternyata hasil yang dicapai oleh siswa di kelas RSBI belumlah memenuhi target. Hanya tiga orang yang bisa meraih nilai 75 ke atas (lihat tabel 4.2). Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Seperti yang disebutkan oleh Sudjana (2005) diantaranya adalah kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Dari hasil angket terbuka dan wawancara yang dilakukan peneliti diketahui bahwa siswa merasa kesulitan untuk memahami Fisika yang diajarkan dalam bahasa Inggris karena berbagai alasan seperti, banyak kata-kata yang tidak difahami, masa beradaptasi dengan cara belajar Fisika berbahasa Inggris maupun karena guru yang menjelaskan dengan bahasa Inggris sering tersendat serta penggunaan bahasa Inggris pada soal ujian. Setelah dilakukan remidial, hasil ujian siswa meningkat cukup drastis (lihat lampiran). Hal ini selain dikarenakan siswa telah mempersiapkan kembali juga karena soal remidial yang diberikan tidak menggunakan bahasa Inggris.

Guru Fisika juga menyebutkan bahwa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI adalah pada penggunaan bahasa Inggris. Jika membuat soal dalam bahasa Indonesia bisa dilakukan dalam waktu cepat maka untuk membuat soal dalam bahasa Inggris, guru Fisika membutuhkan waktu yang cukup lama.

4.3.2    Pelaksanaan Pembelajaran Menggunakan ICT/TIK

Pelaksanaan pembelajaran menggunakan ICT/TIK pada pelajaran Fisika tidak terlalu kompleks. Jenis program computer yang sering digunakan adalah power point. Hal ini dapat dilihat pada persentasinya yang mencapai 83,3 % pada tabel 4.1. Selain program power point, program internet explorer melalui google adalah program alternatif yang digunakan dengan persentase 33,3 %. Hal ini dikarenakan sering terjadi gangguan teknis seperti server sibuk atau disconnected. Penggunaan Internet selain dalam hal browsing, masih sangat jarang digunakan. Seperti yang telah disebut dimuka, hal ini dikarenakan keterbatasan yang dimiliki oleh guru baik keterbatasan dalam menggunakan aplikasi program komputer maupun keterbatasan waktu.

4.3.3        Kelemahan dan Kelebihan Pembelajaran Fisika di Kelas RSBI

4.3.3.1  Kelemahan Pembelajaran Fisika di kelas RSBI

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran sehingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik. Begitu juga dengan pembelajaran Fisika di kelas VII.1 SMP 9 Palembang selama penelitian ini dilakukan. Dalam waktu yang singkat ini, peneliti memperoleh bahwa hasil belajar siswa pada aspek kognitif yang diukur oleh UTS ternyata tidak sesuai dengan harapan karena beberapa hal yang telah disampaikan dimuka. Namun, berdasarkan data yang ada, dapat dikatakan bahwa penggunaan bahasa Inggris adalah faktor utamanya. Baik penggunaan bahasa Inggris pada saat guru menjelaskan, maupun kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki siswa. Sehingga, kemauan yang kuat dari guru dan siswa untuk selalu meningkatkan kualitas diri harus lebih baik. Selain dilihat dari hasil belajar berupa UTS, kelemahan pembelajaran Físika juga dapat dilihat dari proses pembelajarannya yaitu pada penerapan ICT. Tidak semua pokok bahasan/materi pelajaran físika tepat diajarkan dengan ICT.

 

4.3.3.2  Kelebihan Pembelajaran Físika di kelas RSBI

 

Dari hasil angket yang disebarkan oleh peneliti setelah siswa mengikuti UTS, rata-rata sikap siswa terhadap pembelajaran tersebut berupa motivasi belajar siswa  adalah baik. Di sini terlihat bahwa proses pembelajaran Físika memberikan pengalaman belajar yang baik bagi siswa. Di lihat dari psikomotoriknya pada saat siswa melakukan percobaan pada pokok bahasan pengukuran juga terlihat siswa begitu antusias mengikuti pelajaran, mereka tampak terampil menggunakan alat, tekun dalam bekerja dan mampu berkerja sama. Bahkan, ketika waktu sudah habis mereka tetap asyik melakukan percobaan. Hal ini terjadi karena kondisi lingkungan yang memang mendukung mereka untuk memiliki pengalaman  belajar yang mengesankan. Lingkungan disini bisa berupa fasilitas yang ada dan yang tak kalah pentingnya adalah peran guru dalam memberikan kesempatan yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Selain itu, siswa juga mulai mengenal kata-kata atau konsep-konsep físika dengan bahasa Inggris. Sehingga secara otomatis, pembendaharan kata bahasa Inggris siswa bertambah.

Dari wawancara bebas yang dilakukan oleh peneliti dengan guru Físika yang mengajar di kelas RSBI diketahui bahwa persiapan-persiapan yang dilakukan guru membuat guru memiliki pengalaman-pengalaman plus. Plus disini dalam artian guru mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas bahasa Inggrisnya, wawasan guru bertambah dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan untuk membekali kemampuan guru dan yang tak kalah pentingnya guru semakin bersemangat untuk tetap menjadi pembelajar sejati.

 

 

 

BAB V

 KESIMPULAN  DAN SARAN

 

5.1.            Kesimpulan

 

1.      Data kuantitatif yang diperoleh berupa:

a.   61,54% pembelajaran Fisika di kelas RSBI SMP 9 Palembang dilakukan dengan bilingual, artinya telah sesuai dengan tuntutan pembelajaran di RSBI yang mengharuskan pembelajaran telah dilaksanakan 50% berbahasa Inggris.

b.  42,84% pembelajaran bilingual telah menggunakan media pembelajaran berbasis ICT, artinya perlu peningkatan penggunaan media pembelajaran yang berbasis ICT agar diakhir tahun kedua pelaksanaan RSBI dapat mencapai 50%.

2.      Data kualitatif yang diperoleh adalah berupa hasil belajar siswa setelah mengalami pembelajaran dikelas RSBI yaitu motivasi belajar dengan katagori baik.

3.      Kelemahan dari pelaksanaan pembelajaran Fisika di RSBI adalah pada pelaksanaan pembelajaran menggunakan bahasa Inggris yang tidak diikuti dengan kemampuan guru dan siswa serta tidak semua pokok bahasan Fisika cocok dilaksanakan menggunakan ICT.

4.      Kelebihan dari pelaksanaan pembelajaran Fisika di kelas RSBI adalah siswa memiliki motivasi belajar yang baik, kosakata bahasa Inggris siswa bertambah dan siswa memiliki pengalaman belajar yang berkesan karena lingkungan belajar yang mendukung serta mendorong siswa dan guru untuk selalu meningkatkan pengetahuan.

5.2.            Saran

 

1.      Guru dan mahasiswa calon guru fisika, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi bahasa Inggris dan teknologi untuk membuat media pembelajaran yang inovatif atau berbasis ICT melalui kursus-kursus atau sarana lainnya.

2.      Sekolah, diharapkan dapat:

a.       memfasilitasi guru dan siswa dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan teknologinya.

b.      Mengadakn inhouse training yang berkerjasama dengan Perguruan Tinggi dalam hal ini, tenaga ahli (dosen) dengan proporsi minimal 2 kali seminggu.

3.      Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan secara real seperti pelatihan atau pembinaan di SMP 9 Palembang sebagai RSBI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi V. PT. Rineka Cipta: Jakarta

 

Basyarudin. 2007. Proposal Penerimaan Siswa Baru (PSB) Tahun Pelajaran 2007-2008.

 

Depdiknas. 2004. Pembelajaran Matematika dan IPA dalam Bahasa Inggris (Bilingual).    Direktorat pembinaan sekolah menengah Pertama: Jakarta

 

­­­­­_________ 2007. Panduan Penyelenggaraan Program Rintisan SMA Bertaraf Internasional. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas : Jakarta

 

_________ 2007. Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas: Jakarta

 

_________ 2008. Panduan Penyelenggaraan Rintisan SMA Bertaraf Internasional.  Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas: Jakarta

 

Dharma, Satria. 2008. Sekolah Bertaraf Internasional. SMA N 1 Pandaan. http://www.smanda.sch.id Powered by Joomla! Generated: 14 April, 2008, 16:08. diakses tanggal 15 April 2008.

 

Haryana, Kir. 2008. Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.  http://pelangi.dilp.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=220&Itemid=2 Diakses tanggal 5 Agustus 2008.

 

PH, Slamet. 2008. Perubahan dari SSN ke SBI dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan. Disampaikan pada TOT SSN SMP 2008 di Pekan Baru.

 

Redaksi penerbit asa mandiri. 2006. Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah RI No.19.Th.2005. Penerbit Asa Mandiri: Jakarta

 

Riduan. 2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Alfabeta: Bandung

Sudjana, Nana. 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo: Bandung

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­Sundiawan, Awan. 2008. Pembelajaran Berbasis TIK. http://awan965.wordpress.com/2008/02/08/pembelajaran-berbasis-tik/. Diakses tanggal 11 Oktober 2008.

 

The, Itta. 2007. Kemampuan Berbahasa Inggris Anak dengan Pembelajaran Bilingual

Jurnal Pendidikan Penabur  No.09/Tahun ke-6/Desember 2007

Tim Penyusun Kamus. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta

Ware, Taman. 2008. Panduan Pengembangan Bahan  Ajar. http://tamamiware.blogspot.com/2008/01/panduan-pengembangan-bahan-ajar-sma.html. diakses tanggal 27 Mei 2008.

 

Winataputra, Udin S. 1993. Strategi Belajar Mengajar IPA. Universitas Terbuka: Jakarta

Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Pembelajaran.http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran. Diakses tanggal 16 April 2008

 

Sumber Tambahan:

Situs resmi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Indonesia . Http:// www.bsnp-indonesia.org/files/ Diakses tanggal 4 Desember 2008.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



PDF | DOC | DOCX

Komentar:

12 Mei 2011 pukul 10:13 WIB
HANDA mengatakan...
salam kenal, minta ijin untuk saya download dan saya jadikan refernsi....

22 Januari 2011 pukul 21:01 WIB
Rina mengatakan...
Assalamualaikum Wr. Wb. Salam Kenal untuk Mba Leny. Saya minta ijin Copy paste posting nya ya Mba. Saya Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sekarang saya sedang nyusun skripsi dan saya berencana ingin menyusun skripsi tentang RSBI. tapi saya masih bingung judul dan bahasan apa yang cocok untuk jurusan Bahasa Inggris. mohon saran dan bimbingannya ya mba. makasi. ^_^

16 November 2010 pukul 21:09 WIB
Marleny mengatakan...
Silakan ^^ moga bermanfaat...amiin.

02 Oktober 2010 pukul 20:16 WIB
devi mengatakan...
mbak...ax ngopy file nya..ya...ini sangat bantu sya mo bkin tntang RSbI jga...thanks... grin

22 September 2010 pukul 13:22 WIB
nopel mengatakan...
assalamu'alaikum...maaf sebelumnya mbak...saya insyaAllah ingin menulis tentang RSBI SMA....jd izin copy ya mbk...mks mbk....

22 September 2010 pukul 13:22 WIB
nopel mengatakan...
assalamu'alaikum...maaf sebelumnya mbak...saya insyaAllah ingin menulis tentang RSBI SMA....jd izin copy ya mbk...mks mbk....

01 September 2010 pukul 19:48 WIB
Titin mengatakan...
Assalamualaikum.. Slam kenal untuk mba' leny. saya minta izin copy paste posting nya ya. Saya berencana menulis tentang RSBI di SMP. Dan sangat terbantu sekali dengan posting mba' terutama di bagian metodologi penelitian. Saya berharap dapat berdiskusi lebih lanjut dengan mba'.

13 Juni 2010 pukul 19:21 WIB
gats mengatakan...
bismillah. mbak, izin copi paste filenya ya. matur nuwun. jazakumullah khairan

Kirim Komentar Anda:

Nama : Nama Anda (wajib diisi)
E-Mail : E-Mail (tidak dipublikasikan)
Situs : Website, Blog, Facebook, dll
Komentar :
(wajib diisi)
Verifikasi :
<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion