Latar Belakang Kehidupan Barack Obama

Kategori: Politik
Diposting oleh irulpiero pada Kamis, 21 Januari 2010
[2530 Dibaca] [2 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

 

Latar Belakang Kehidupan Barack Obama

 

                Jakarta 1967, sebuah keluarga datang dari Amerika Serikat dan menetap di Jl. KH Ramli, Menteng Dalam. Kawasan ini masih sepi. Jalan disekitarnya berupa tanah merah. Penduduknya ounmasih jarang sehingga kedatangan keluarga itu cukup menyedot perhatian. Si ayah yang kemudian dikenal sebagai Lolo Soetoro, berdarah asli Indonesia. Istrinya, Ann Dunham, warga kulit putih berambut ikal. Sementara putranya yang berumur  6 tahun, yang saat itu dipanggil Barry Soetoro, berkulit gelap. Seorang lagi bayi perempuan mungil bernama Maya Soetoro. Mereka tinggal di rumah dengan gang yang sempit yang sekarang beralamatkan di Jl KH Ramli Tengah nomor 16 RT 11/16. Pada 1 Januari, Lolo Soetoro yang bekerja di Dinas Topografi TNI Angkatan Darat, mendaftarkan Barry ke SD Fransiscus Asisi, yang berada di belakang rumahnya. Dalam dokumen sekolah, dia didaftarkan dengan nama Barry Soetoro, kelahiran Honolulu, 4 Agustus 1961, agama islam. Bahkan dia dicatatkan sebagai warga Negara Indonesia (WNI). Di sekolah katolik ini dia tercata sebagai murid dengan nomor induk 203 dan ditempatkan di kelas 1B. anak bongsor yang gemar duduk di belakang itu hanya sampai kelas 3 di SD Asisi. Pada tahun 1970, Barry pindah ke SD Percobaan 04 Besuki, Menteng. Keluarganya pun pindah ke Jl. Dempo, Matraman, Jakarta. Kedua kondisi SD tersebut sangat sederhana. Sewaktu ekonomi ayah tirinya membaik, selepas dari TNI AD dan bekerja di sebuah perusahaan minyak, saat itulah dia baru menikmati jok empuk sedan. Zulfan Adi, teman sepermainan Barry. Rumah Adi hanya 20 meter dari kediaman Barry. Bagi mereka, Barry yang berambut  keriting dan berkulit hitam merupakan teman yang mengasyikkan. Barry yang waktu kecil memelihara buaya, dikenal sangat supel serta sering bermain kelereng dan sepak bola. Tak ada satupun yang mengenal Barry sebagai Barack Obama. Irma Dewi Sukanti, tetangga Barry dan teman sepermainan Maya Soetoro, mengenalnya sebagai Barry saja. Setelah melihat dia menulis di dinding dengan tulisan Barack, ternyata nama aslinya Barack Obama.

                Barry memang bukan anak kandung Lolo Soetoro. Dia lahir dari pasangan Barack Husein Obama, muslim dari Kenya, dengan Ann Dunham. Mereka bercerai saat ia berusia 2 tahun karena ayahnya kembali ke Kenya setelah menuntaskan pendidikannya di Harvard. Ibu Obama lantas menikah dengan seorang mahasiswa dari Indonesia, Lolo Soetoro. Kenangan manis di Jakarta harus berakhir ketika Barry berusia 10 tahun. Saat itu, keretakan terjadi di antara kedua orang tuanya. Barrack Obama meninggalkan Jakarta pada tahun 1971 setelah Ann Dunham dan Lolo Soetoro berpisah. Dia kemudian tinggal di Hawaii, sebuah Negara bagian AS di Pasifik. Obama kecil diasuh oleh nenekny, Madelyn Dunham. Obama bersekolah di Punahou School yang termasuk salah satu sekolah top di sana. Obama cukup terkenal di sekolah ini karena daya tarik personalnya, kesantunan dan kejujurannya, ketulusan dalam pergaulan dan kepiawaiannya bermain basket. Permainan si kidal ternyata memikat pelatih basket sekolah. Obama masuk tim basket sekolah itu. Bermain di posisi backup forward, dia membawa Punahou menjuarai state championship pada tahun 1979. Di luar lapangan, Obama kerap terlihat membawa buku ke manapun dia pergi dan membacanya saat di perjalanan. Dia juga mengelola majalah sekolah dan gemar bernyanyi. Kesukaan lain Obama adalah menghabiskan waktunya bersama sang kakek. Kadang-kadang dia bermain permainan tradisional bersama teman-temannya di Alii Park, memancing di Kailua Bay, atau mendengarkan musik jazz. Obama pandai menulis, atau membuat puisi. Salah satu puisinya berjudul An Old Man yang menggambarkan kerisauan mendalam tentang rasialisme. Selepas SMA, Obama pergi ke Los Angeles dan belajar di Occidental College selama 2 tahun. Namun Obama setiap tahun selalu pualng ke Hawaii, terutama saat natal. Kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang. Dia senang mengunjungi teman lamanya di Punahou, nenek dan adiknya. Dia kerap makan di restoran Chowder House, tempat yang sering dikunjunginya sejak SMA .

                Occidental College yang beken disebut Oxy adalah sekolah swasta yang baik. Di dirikan pada 20 April 1887, di kampus ini banyak lahir atlet olimpiade dan Divisi III NCAA. Dua tahun dihabisi Obama di kampus Eagle Rock ini. Di kampus ini, tiga dekade silam, Obama mulai terkenal sebagai aktivis. Dia mulai aktif menentang politik apartheid di Afrika Selatan, meskipun Obama juga kerap hadir di pesta-pesta kampus. Sepanjang tahun pertamanya di Occidental, Obama dan teman-teman sekamarnya sering berkumpul di lorong kamar mereka diiringi dentaman music keras dari band-band ngetop saat itu, seperti Led Zeppelin, The Rolling Stones, The B-52’s, dan The Flying Lizards. Obama juga saat itu terlihat menyukai pemikiran Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, dan Jean-Paul Sartre, yang dia pelajari dalam mata kuliah pemikiran politik pada tahun keduanya di Oxy. Obama menjadi anggota Black Students Association. Asosiasi ini menekan college untuk menarik dana dari perusahaan-perusahaan yang berbisnis di Afsel. Untuk itu, mahasiswa mendirikan tenda keprihatinan di kampus. Tak sebatas itu saja, Obama mengontak anggota-anggota African National Congress untuk berbicara di dalam kampus dan menulis surat kepada pihak fakultas. Dia juga merupakan salah satu orator dalam aksi demonstrasi itu. Akhirnya Obama mengajukan aplikasi untuk pindah program dari Occidental ke Columbia University pada tahun 1981.

                Di Columbia University, Obama memilih jurusan ilmu politik dengan spesialisasi hubungan internasional. Dia menuntaskan B. A. degree pada tahun 1983. Selepas dari universitas, Obama memilih bekerja di Business International Corporation. Namun pekerjaan itu hanya bertahan selama setahun. Pada tahun 1985, Obama memilih pindah ke Chicago, Illionis dan menjadi community organizer sebuah proyek nonprofit yang diselenggarakan sebuah gereja local. Proyek job training ini dijalaninya hingga tahun 1988. Memasuki tahun 1988, Obama terpanggil untuk melanjutkan pendidikannya di Harvard Law School. Pada tahun 1990, harian The New York Times menulis bahwa Obama terpilih sebagai presiden Harvard Law Review. Pemilihan ini sangat bersejarah karena dia merupakan orang kulit hitam pertama yang menyandang posisi itu sepanjang 104 tahun sejarah Harvard Law Review. Selama 3 tahun di Harvard, Obama tinggal di apartemen yang sama di Broadway, Somerville, dekat Winter Hill. Puncak popularitasnya terjadi saat musim panas 1991. Saat itu, Black Law Students Association mengubah tradisi mereka saat meminta Obama untuk memberikan keynote addres pada konferensi tahunan asosiasi itu. Tradisi sebelumnya, hanya para hakim terhormat dan profesor yang memberikan keynote addres.

 

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

08 November 2010 pukul 21:55 WIB
dimas mengatakan...
aduh gimana sich astaghfirulloah

30 Agustus 2010 pukul 10:45 WIB
andre mengatakan...
barry soetoro barack husein obama...apaun opini orang tetaplah berjalan sesuai dg ketulusan hatimu...berjuanglah untuk perdamaian..


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion