header-photo

KAJIAN TINDAKAN KEKERASAN PADA ANAK DALAM KELUARGA

Kategori: Welcome
Diposting oleh hirzati pada Minggu, 28 November 2010


 

I.       PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG

Kekerasan terhadap anak-anak yang terjadi disekitar kita dan sepanjang tahun 2005, tidak saja dilakukan oleh lingkungan keluarga anak, namun juga dilakukan oleh lingkungan keluarga anak sendiri yakni orang tua. Kasus-kasus kekerasan yang menimpa anak-anak, tidak saja terjadi di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Namun sayangnya belum ada data yang lengkap mengenai ini. Sementara itu, para pelaku child abuse, 68 persen dilakukan oleh orang yang dikenal anak, termasuk 34 persen dilakukan oleh orangtua kandung sendiri.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa anak perempuan pada situasi sekarang ini, sangatlah rentan terhadap kekerasan seksual. Alasan pada umumnya pelaku adalah sangat beragam, selain tidak rasional juga mengada-ada. Sementara itu usia korban rata-rata berkisar antara 2 – 15 tahun bahkan diantaranya dilaporkan masih berusia 1 tahun 3 bulan. Para pelaku sebelum dan sesudah melakukan kekerasan seksual umumnya melakukan kekerasan, dan atau ancaman kekerasan, tipu muslihat dan serangkaian kebohongan.

Cara-cara yang dilakukan pelaku kekerasan seksual terhadap yang disebutkan diatas merupakan tindakan sangat menjijikkan, binatang dan amoral. Sejumlah kasus dilaporkan, selain pelaku dibantu dan difasilitasi oleh istri berkali-kali, ada juga ditemukan kasus pelaku dibantu oleh anak dan kakak ipar, bahkan sampai pada tingkat

incest yang dilakukan berkali-kali. Cara-cara biadap ini hampir setiap hari dapat ditemukan dalam pemberitaan media cetak maupun elektronik. Diantaranya kasus yang menimpah seorang Pembantu Rumah Tangga anak (PRTA) di Tangerang. Anak berusia 15 tahun ini menjadi korban kekeasan seksual oleh majikannya justru dibantu dan

difasilitasi oleh istri. Kemudian kasus incest yang juga baru-baru ini terungkap dialami 3 orang kakak beradik berusia 12, 14, dan 16 tahun disalah satu desa di Jawa Tengah, menjadi budak seks orangtua kandungnya sendiri selama berbulan-bulan hingga melahirkan.

Seks merupakan ancaman yang seringkali mengikuti perkembangan anak, khususnya anak perempuan. Banyak hal-hal yang memungkinkan anak menjadi korban pelampiasan seks orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya. Salah satunya adalah faktor media massa, baik elektronik maupun cetak, dengan tampilan adegan-adegan yang menimbulkan hasrat seks. Hal ini berhubungan dengan rendahnya kesadaran dan pengamalan nilai agama, sehingga tidak lagi menganggap melakukan kekerasan seksual terhadap anak adalah suatu perbuatan yang dilarang agama.

Kekerasan seksual di Indonesia saat ini merupakan salah satu ancaman bagi anak dan dikenal sebagai tragedi rumah tangga yang tersembunyi. Sementara itu, hampir selalu tindak kejahatan yang terjadi pada anak perempuan di dalam keluarga, oleh masyarakat pada umumnya, tidak dilihat sebagai suatu kejahatan. Kekerasan yang dilakukan oleh anggota keluarga hingga saat ini sering diartikan sebagai urusan intern keluarga, dan bahkan seringkali dipahami bahwa apa yang dilakukan tersebut dalam rangka mendidik anak-anak mereka. Jika demikian persoalannya, maka bukan tidak mungkin apabila kejadian-kejadian, seperti perkosaan terhadap anak perempuan yang bentuk intimidasi atau manipulasi yang digunakan pelaku menyulitkan anak untuk menceritakan apa yang dialaminya.

Secara psikologis, anak korban kekerasan seksual juga menunjukkan dampak berkelanjutan dari kekerasan seksual yang dialaminya pada usia remaja dan dewasa, dengan melakukan hubungan seks dengan siapa saja, atau sebaliknya, ia tidak mau memberikan respon dan tidak mempercayai orang dalam hubungan seks di kemudian hari. Penelitian Mayo (1986, dalam Sondang, 2004) menunjukkan bahwa anak yang pernah menjadi korban kekerasan seksual akan menjadi orang yang memiliki kepribadian ganda sebagai mekanisme untuk menanggulangi masalahnya, yaitu di satu pihak cenderung untuk bersikap aktif dalam perilaku seksualnya, tetapi di sisi lain cenderung untuk bersikap pasif dalam perilaku seksualnya.

Sementara penelitian Tong, Oates dan McDowell tahun 1987, terhadap perkembangan kepribadian anak usia 5 – 19 tahun yang mengalami kekerasan seksual di Australia, menemukan bahwa kekerasan seksual menimbulkan konsekuensi psikologis jangka panjang yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain, yaitu dengan hilangnya rasa percaya terhadap orang lain, diri sendiri, serta rusaknya self esteem anak. Di sisi lain, anak juga bisa menunjukkan gejala tingkah laku seperti rasa takut bila bersama dengan orang dewasa dengan ciri tertentu, perilaku regresif (misalnya mengompol, melukai orang lain atau diri sendiri), hubungan kurang akrab dengan teman sebaya, menghindari aktifitas fisik di sekolah, ketakutan dan kecemasan yang berlebihan bila bertemu dengan orang yang tak dikenal maupun yang dikenal, perilaku nakal dan agresifitas yang tinggi.

Berdasarkan periode perkembangan anak, pendamping juga dapat menemukan dampak kekerasan seksual terhadap perkembangan psikososial anak (Bonner, 1998). Pada periode bayi (bawah 5 tahun), anak pada umumnya tidak menyimpan memori verbal sehingga tindakan yang pernah dilakukan pada dirinya diketahui setelah ia lebih dewasa. Biasanya anak akan mengalami trauma medis bersifat mayor akibat stimulasi seksual yang berlebihan dari pelaku. Pada usia 5- 12 tahun, beberapa gejala yang paling sering ditemukan ialah rasa ketakutan dan kecemasan yang berlangsung terus-menerus, tingginya tingkat keinginan menghindari kontak fisik atau pembicaraan mengenai kekerasan seksual, perilaku agresif dan perilaku seks yang tidak sesuai dengan norma sosial budaya.

Ciri-ciri lain adalah harga diri yang rendah, perasaan bersalah, menyendiri, adanya kebutuhan yang sangat kuat untuk menyenangkan orang lain, adanya keluhan – keluhan fisik dan tidak ditemukan adanya disfungsi pada organ tubuh yang dikeluhkan tersebut. Pada remaja (12-18 tahun) biasanya terjadi masalah pencapaian akademik (dropout), perilaku cenderung bersifat oposisi (menentang orang lain, khususnya pada ibu), kenakalan yang cukup serius (delikuensi), dan penyalahgunaan zat-zat adiktif lainnya.

Bentuk kekerasan lain menunjukkan bahwa sebanyak 90 % dari kasus kekerasan fisik terhadap anak dilakukan oleh orang tua, yaitu ayah, ibu, orang dewasa lainnya atau wali anak tersebut. Permasalahan multidimensi yang dialami keluarga, yaitu antara lain kehidupan perekonomian yang tidak stabil, masalah di pekerjaan, masalah rumah tangga, ketidak harmonisan di dalam keluarga, dll, seringkali memicu orang tua untuk melampiaskan kekecewaan, kegelisahan dan ketidakstabilan emosinya, dengan melakukan kekerasan fisik kepada anaknya. Sementara dari pihak anak, sebagai individu yang masih dibimbing dan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap orang tua, anak dipandang sebagai individu yang lemah. Dengan kondisi ini, anak menjadi sasaran empuk bagi pelampiasan emosi orang tua dan orang dewasa lainnya.

Di sisi lain, dengan keberadaan anak di atas, seringkali orang tua dan orang dewasa lainnya membenarkan tindak kekerasan yang dilakukan sebagai bentuk dari penerapan disiplin kepada anak. Hal ini menunjukkan bentuk penyalahgunaan kekuasaan orang tua atau orang dewasa yang lebih dewasa usianya dari anak. Mereka mengontrol dan menekan anak dengan cara-cara yang melampaui batas kewenangannya. Misalnya, orang tua yang menghukum anaknya dengan memukul atau menjemur anak di bawah terik matahari atau guru yang menampar anak yang terlihat lebih agresif dari teman sebayanya. Terlihat jelas dimana orang tua dan orang dewasa lainnya, mengabaikan kewajibannya dalam memelihara dan mendidik anak.

Tindak kekerasan terhadap anak seringkali tidak mudah diungkap, karena kekerasan terhadap anak, khususnya di dalam keluarga, pada hakekatnya bersifat pribadi. Hal ini didukung pula oleh persepsi masyarakat bahwa persoalan-persoalan

yang terjadi dalam keluarga adalah persoalan intern keluarga dan tidak layak untuk dicampuri. Persepsi ini menimbulkan sikap diam atau pasif dari masyarakat sekitar anak, sehingga budaya kekerasan fisik terhadap anak tetap berlangsung dan kelangsungan hidup anak menjadi lebih terancam.

 

B.      LANDASAN YURIDIS

Pasal 80 UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak sebagai berikut :

1.      Setiap orang yang melakukan kekejaman , kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak , dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan atau denda paling banyak Rp 72.000.000

2.      Dalam hal anak sebagaimana dimuat dalam ayat 1 luka berat maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000

3.      Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp 200.000.000

 

C.      TUJUAN

Tujuan penyusunan naskah akademik Kajian Tindakan Kekerasan Pada Anak Dalam Keluarga adalah :

1.      Memberikan pemahaman dan pengertian pada keluarga

2.      Memberikan pemahaman dan pengertian pada masyarakat

3.      Mengharapkan penyelesaian atau perbaikan pelayanan pada Negara

 

II.     LANDASAN TEORI

A.       BENTUK-BENTUK KEKERASAN

Untuk mengenali bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak sesungguhnya tidaklah jauh dari sekitar kita. Realitas kekerasan seksual yang dialami anak –anak sampai saat ini masih menjadi masalah yang cukup besar di Indonesia. Tengok saja pemberitaan media cetak dan elektronik mengenai kekerasan seksual pada anak dapat dijumpai setiap hari. Bentuk dan modus operandinya pun juga cukup beragam. Berdasarkan ketentuan KHA dan protokol tambahannya KHA (option protocol CRC) bentuk-bentuk kekerasan dibagi dalam empat bentuk.

Bentuk pertama adalah kekerasan seksual yang meliputi eksploitasi seksual komersial termasuk penjualan anak (sale children) untuk tujuan prostitusi (child prostitution) dan pornografy (child phornografy). Kekerasan seksual terhadap atau dengan sebutan lain perlakukan salah secara seksual dapat dikenali dalam bentuk perkosaan, pemaksaan seksual, sodomi, oral seks, onani, pelecehan seksual , dicium bahkan perbuatan incest. Bentuk kedua adalah kekerasan fisik. Tindakan kekerasan ini meliputi pemukulan dengan benda keras, menjewer, menampar, menendang, menyundut dengan api rokok, menempelkan sterika pada tubuh bahkan membenturkan kepala pada tembok, lantai dan tempat tidur. Sedangkan bentuk ketiga ialah bentuk kekerasan emosional atau yang kita sering kenal dengan sebutan kekerasan verbal. Kekerasan ini umumnya dilakukan dalam bentuk membentak, memarahi dan memaki anak dengan cara berlebihan dan merendakan martabat anak, termasuk mengeluarkan kata-kata yang tidak patut didengarkan anak pada usia balita. Sedangkan bentuk kekerasan yang keempat adalah kekerasan dalam bentuk penelantaran. Bentuk ini pada umumnya dilakukan dengan cara membiarkan anak dalam situasi kurang gizi, tidak mendapat perawatan kesehatan yang memadai, memaksa anak menjadi pengemis, mendorong dan memaksa anak menjadi anak jalanan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pemulung dan jenis-jenis pekerjaan lain yang dapat membahayakan tumbuh kembang anak.

Dengan demikian apapun alasannya, bahwa perlakukan salah ini adalah merupakan pelanggaran dari hak anak, berarti juga pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Sebab berdasarkan ketentuan KHA, hak anak merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari anak asasi manusia. Oleh sebab itu,semua orang diwajibkan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan penyiksaan terhadap anak.

Dari analisis data diatas, menyimpulkan bahwa masyarakat pada umumnya memandang bahwa apabila orangtua meperlakukan kekerasan terhadap anak, hal itu dianggap sebagai hak orangtua dan masyarakat tidak diperkenankan ikut campur tangan. Sebab oleh sebagian masyarakat kita, anak selalu ditempatkan sebagai property dan urusan domestik. Artinya, anak diperlakukan apa saja dianggap hak dari orangtua. Pandangan ini sesungguhnya adalah keliru. Sebab sesuai dengan pandangan theologis anak merupakan titipan dan anugrah Tuhan. Oleh sebab itu, Ketentuan Konvensi Hak Anak (KHA) maupun kletentuan umum UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 menetapkan bahwa anak adalah seseorang berusia dibawah delapan belas tahun termasuk anak dalam kandungan, oleh karenanya, setiap orangtua, masyarakat dan secara khusus negara ataupun pemerintah mempunyai kewajiban melindungi anak agar terhindar dari segala bentuk kekerasan dan penyiksaan. Namun, ironisnya, meskipun pemerintah Indonesia telah meratifikasi KHA (1990) dan secara juridis dan politis terikat dalam komvenan international tersebut, pada hakekatnya negara belum mampu mencegah dan melindungi anak dari segala bentuk kekerasan, penyiksaan, diskriminasi, penelantaran dan eksploitasi.

Basis hukum yang dapat digunakan sebagai peluang untuk melindungi anak maupun menjerat para pelaku tindak kekerasan seksual, fisik dan perdagangan anak pada anak adalah UU Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002. Pasal 81 ayat (1 dan 2) menetapkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan, dan atau ancaman kekerasan, melakukan tipu muslihat, dan serangkaian kebohongan untuk memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 ahun atau denda paling banyak Rp. 300.000.000. Sementara itu, pasal 80 (ayat 2 dan 3) mengatur apabila kekerasan tersebut mengakibatkan luka berat pidana dapat ditambahkan kepada pelaku paling lama 5 tahun, sedangkan apabila kekerasan tersebut mengakibatkan meninggal dunia, maka hukuman dapat ditambahkan paling lama 10 tahun. Dan apabila kekerasan dan penganiayaan dilakukan oleh orang tua, ayat (4) menetap pidana dapat ditambahkan sepertiga dari ketentuan ayat (1,2 dan 3).

Atas dasar analisis situasional diatas serta demi kepentingan terbaik anak maka Komisi Nasional Perlindungan Anak melalui program Hotline Service terpanggil untuk memberikan pelayanan Advokasi dan perlindungan terhadap anak-anak khususnya bagi anak-anak korban kekerasan seksual, fisik serta perdagangan anak untuk tujuan seksual komersial.ELAKANG

Tahun 2005 akan pasti akan berakhir. Namun, sepanjang tahun ini, tantangan dan penderitaan yang dialami anak-anak masih belum berakhir. Kekerasan terhadap anak, baik kekerasan fisik, psikis, dan seksual, masih menjadi fakta yang nyata dan tidak tersembunyikan lagi. Karenanya, tidak tepat jika kekerasan terhadap anak dianggap urusan domestik, atau masalah internal keluarga – yang tidak boleh diintervensi oleh masyarakat, Pemerintrah, dan penegak hukum.

Kekerasan terhadap anak (fisik, psikis, seksual), selain tidak tersembunyikan lagi, juga membawa dampak yang permanen dan berjangka panjang. Karena itu, penanggulangannya perlu disegerakan, sekarang! Selain argumentasi itu, secara yuridis formal perintah melindungi anak-anak dari kekerasan sudah diamanatkan UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Bahkan, Pasal 28B ayat 2 UUD 1945, secara eksplisit menjamin perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

De facto, kenyataan yang penuh derita dialamai anak-anak korban kekerasan, menjadi salah satu alasan penting mengapa perlu menghentikan kekerasan terhadap anak, sekarang! Paparan pada bagian berikut ini, secara kuantitatif mendeskripsikan betapa anak-anak menjadi sasaran kekerasan yang belum berhenti. Sebabnya? Diantaranya oleh karena seringkali Pemerintah, masyarakat, ataupun pelaku menempatkan masalah kekerasan terhadap anak sebagai persoalan domestik (rumah tangga). Padahal berdasarkan Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak, Indonesia sebagai negara pihak (state Party), berkewajiban bahkan terikat secara yuridis dan politis untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) hak-hak anak tanpa diskriminasi di seluruh wilayah hukum Republik Indonesia.

Lepas dari argumentasi dan landasan yuridis yang mendasari perlindungan anak dari kekerasan, secara kemanusiaan kekerasan terhadap anak – yang terjadi dan dilakukan dalam lingkup domestik, lingkup komunitas, dan akibat kebijakan negara. Artinya, kekerasan terhadap anak bukan saja menjadi praktek dalam relasi domestik, namun relasi komunitas. Selain itu, justru kekerasan seksual lebih eskalatif dibandingkan kekerasan fisik dan psikis. Fakta ini patut dicemaskan karena kekerasan bahkan eksploitasi atas alat/organ seksual anak, menjadi semakin biasa dan kerap terjadi. Bahkan lebih kerap terjadi dibandingkan kekerasan fisik. Kekerasan seksual ini sangat menhunjamkan derita psikologis bagi anak-anak. Akibatnya, kehidupan anak – anak yang diwarnai dengan rasa ketakutan, traumatik, mengulangi kekerasan pada anak lain (yang lebih kecil), bahkan bisa menggagalkan tumbuh dan kembang anak secara wajar.

Disisi lain, kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menjawab derita anakanak, khususnya anak yang membutuhkan perlindungan khusus (Children in need special protection) seringkali menempatkan anak sebagai persoalan domestik (rumah tangga). Padahal berdasarkan Ratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak, Indonesia sebagai negara pihak (state Party), berkewajiban bahkan terikat secara yuridis dan politis untuk melakukan langkah-langkah strategis guna menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill) hak – hak anak tanpa diskriminasi di seluruh wilayah hukum Republik Indonesia. Padahal kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan keceriaan dan terhindar dari segala bentuk eksploitasi, kekerasan, diskriminasi dan penelantaran adalah merupakan cermin suatu negara yang memberikan jaminan kepada anak – anak untuk dapat hidup berkembang sesuai dengan dunia anak-anak itu sendiri. Sedangkan kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan rasa ketakutan, traumatik, kekerasan, diskriminasi sehingga tidak dapat mengembangkan psikososial anak, merupakan cermin suatu negara yang tidak peduli pada anak-anak sebagai generasi bangsa yang akan datang. Disisi lain masa anak – anak merupakan masa yang sangat menentukan untuk terbentuknya kepribadian seseorang.

Atas dasar itu, dengan mengacu kepada kasus, dan laporan yang disampaikan kepada Hotline Services Komnas Perlindungan Anak sepanjang tahun 2005, kekerasan terhadap anak sepertinya keniscayaan bagi anak. Kekerasan terhadap anak, bisa terjadi dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan anak siapa saja. Bagaimanakah potret kekerasan terhadap anak tahun 2005, dapat ditelaah dari laporan berikut ini.

Dalam pencatatan dan penulisan data kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2005 ini, tim penyusun data menggunakan data sekunder dan data primer serta menggabungkan beberapa sumber informasi yang berhasil di himpun oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak, diantaranya:

1.        Laporan melalui operator telepon hotline service Komnas Perlindungan Anak. Dalam pengaduan per telepon ini, hotlliners memberikan saran dan masukan yang berkaitan dengan masalah yang dilaporkan pelapor. Apabila memungkinkan, maka akan dilakukan home visit terhadap laporan, guna menentukan langkah-langkah yang mungkin dapat dilakukan atas permasalahan terkait.

2.        Laporan dari data pengaduan langsung lewat Hotline service atas Pengaduan, dan tatap muka dengan pelapor atau kerabat dan pendampingnya, untuk pendalaman kasusnya.

3.        Kompilasi analisis konten atas berita-berita yang dirilis media massa cetak, yakni data dari sebanyak 10 (sepuluh) media cetak nasional yang tercatat pada Pusat Data dan Informasi;

Data primer yaitu data yang didapat langsung dari pihak yang berkaitan langsung dengan masalah, dan data sekunder yang telah didapat melalui berbagai sumber tersebut diatas, kemudian diolah dengan cara mengklasifikasi atau mengelompokannya dengan berbasiskan kepada klasifikasi dalam Undang – undang No. 22 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

 

B.      Mengapa melindungi Anak?

Selain karakteristiknya yang masih lemah, rentan, dependen dengan orang lain, ataupun alasan yuridis normatif, Negara ini wajib melindungi anak-anak. Tiga alasan – yang dijadikan positioning Komnas PA melindungi anak, adalah: Pertama, melindungi anak adalah anamat konstitusi, yang secara progresif menyebutkan hak konstitusional anak dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945 berbunyi: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Konstitusi negeri ini, eksplisit menyebutkan hak konstitui anak: Perlindungan dari kekerasan!

Kedua, sebagai negara bangsa yang bergaul dan “anggota masyarakat dunia, Indonesia terikat dengan sejumlah konvensi HAM internasional, utamanya Konvensi PBB tentang Hak Anak (KHA) yang diratifikasi dengan Keppres No 36/1990. Sebagai banga yang beradab, tentunya Indonesia tidak semestinyalah terkucil dari instrumen HAM yang berlaku bagi bangsa-bangsa beradab (civilized countries) itu. Secara yuridis formal, dengan berbagai Undang-undang, terutama UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, yang memberikan kewajiban, tanggungjawab dan peran kepada negara dalam melindungi anak-anak;

Ketiga, dengan situasi anak yang masih tereksploitasi, terdiskriminasi, mengalami kekerasan, penyalahgunaan (abused), dan dilili dengan serangan kemiskinan eonomi, serta sensitifitas hak anak (child sensitive) yang lunglai. Cermatilah data berikut ini: dalam bidang pendidikan terdapat sekitar 1,6 juta anak – anak usia 7-12 tahun tidak bersekolah. Angka anak-anak usia 13-15 tahun yang tidak sekolah jumlahnya tiga kali lipat (300%), yakni sekitar 4,8 juta. Sementara itu, pada tahun 1997-1998, Pendaftaran anak masuk SLTP menurun 6 %. Jadi, pada era dimana Indonesia dilanda krisis ekonomi yang hingga kini belum mereda, dalam waktu relatif pendek telah menimbulkan dampak buruk dan permanen kepada anak-anak.

Dalam hal anak yang membutuhkan perlindungan khusus, BPS mendata sejumlah 1,8 anak pada tahun 1998 menjadi buruh anak. Namun, data lain bahkan menyebutkan sekitar 8 juta buruh anak. Hasil survey SUSENAS (Agustus 1999), 10 % anak usia 10-14 tahun bekerja. Anak-anak jalanan di 12 kota propinsi sekitar 50.000. Anak terlantar pada tahun 1997 sejumlah 3 juta anak. Anak cacat (10-14 tahun) sejumlah 2 juta anak. Sekitar 40.000 s/d 70.000 anak-anak menjadi korban eksploitasi seksual. Sejumlah 400.000 pengungsi anak domestik (internal displaced person - IDP) tersebar pada berbagai wilayah di Indonesia. Anak-anak yang diadili sejumlah 4.000 anak. Sekitar 30 % dari sekitar 40.000 s/d 70.000 pekerja seksual komersial adalah anak yang mengalami eksploitasi seksual komersial.

Singkat kata, anak-anak yang berada dalam situasi sedemikian, merupakan manusia yang tidak beruntung, dan bahkan menjadi korban dari “mekanisme” berbangsa yang menciptakaan kemiskinan, ketidak adilan, pelanggaran konstitusional, serta pelanggaran hukum – yang didisain dan dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak. Sir William Ulting melukiskannya dengan: “Ours is an adult society. It runs on rules determined, administered and adjudicated by adult”.

 

C.      Mengapa Kekerasan terhadap Anak?

Kekerasan terhadap anak, mesti dihentikan: SEKARANG! Selain amanat konstitusi Pasal 28B ayat 2, analisis situasi anak yang masih terkurung dengan segala dimensi kekerasan. Segala lokus kekerasan, segala relasi dengan actor pelaku.Dari bentuknya, Komnas PA mengerakkan analisis situasi kekerasan terhadap anak (KTA) dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan seksual dan kekerasan psikis. Ketiga bentuk kekerasan ini, hingga kini, derajat dan bobotnya belum mereda dan berhenti, malah meninggi.

Dalam tahun 2005 ini saja, misalnya, berdasarkan laporan yang masuk dan pengaduan yang diterima hotline service Komnas PA, justru kekerasan seksual terhadap anak lebih besar populasinya dibandingkan kekerasan fisik. Yang pasti, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan psikis, masih terjadi pada anak-anak kita – yang nantinya menjadinya menjadi orang dewasa, menjadi warga negeri ini, menjadi pengisi infra struktur dan supra struktur Negara kita.

 

III. KAJIAN TINDAKAN KEKERASAN PADA ANAK

A.     Lokus KTA

Dari tempat terjadinya (lokus) KTA, yang mencemaskan terbukti KTA terjadi dalam semua lokus. Baik lokus rumah tangga, dalam lingkungan komunitas, maupun dalam relasi (kebijakan) negara. Identifikasi kekerasan meliputi dalam lingkup rumah tangga (domestic violence), kekerasan dalam komunitas (community violence), dan kekerasan (yang berbasis pada kebijan/tindakan) negara (state violence).

Dalam tahun 2005 misalnya, KTA terjadi dalam semua lokus: rumah tangga, komunitas, dan negara. Komunitas termasuklah sekolah dan tempat pendidikan anak. Dalam lokus kekerasan negara termasuklah kekerasan diderita anak dalam situasi krisis, dalam kerusuhan, konflik sosial, konflik militer, dan bencana alam tsunami. Jadi, seperti kami identifikasi dalam laporan 2005, secara kritis kita mengungkap bahwa: rumah tangga kita belum fit untuk anak-anak. Komunitas kita belum aman (save) untuk anak. Kebijakan dan tindakan negara kita, maaf, belum sensitif hak-hak anak. Bahkan, kekerasan seksual yang vulgar, sadistik, supra agresif, dan tak terbayangkan terjadi pada anak-anak tahun 2005: perkosaan, kekerasan mengakibatkan mati, luka berat, luka ringan. Dengan kekerasan disertai ancaman, ataupun bujukan dan tipu daya serta kebohongan.

 

B.      Relasi Anak dengan Pelaku

Dalam tahun 2005 ini, kasus-kasus kekerasan seksual, justru anak – anak yang menjadi sasarannya, aktor / pelakunya adalah orang dalam relasi dekat dengan anak. Relasi keluarga anak dan pelaku yang dikenal - adalah aktor dominan dalam kekerasan seksual anak. Fakta ini mendiktekan kepada kita bahwa tahun 2005 ini, keluraga dan lingkungan/relasi sosial anak, patut dicurigai sebagai aktor kekerasan seksual pada anak (perempuan). Walaupun, dari data hotline service Komnas PA tahun 2005, anak korban kekerasan seksual tidak seluruhnya anak perempuan. Anak laki-laki juga menjadi sasaran kekerasan seksual, dan sodomi dari orang dewasa, orang yang dikenal, orang yang masih bersaudara-kerabat dengan anak.

 

C.      Respon Publik masih abai

Kasus KTA sudah faktual sebagai kenyataan yang tak terbantahkan. Kepedihan yang tidak lagi tersembunyikan. KTA, derita anak yang nyata dan transparan! Namun, dalam analisis Komnas PA, masyarakat dan publik kita, termasuk Pemerintah secara keseluruhan, belum terasah sensitivitasnya terhadap kasus-kasus KTA – yang disekitarnya. Masih banyak kasus KTA tidak dilaporkan, kasus yang tidak tercatat (under/non reporting cases). Fenomena yang tidak terungkap utuh. Malahan, kekerasan seksual terhadap anak dianggap aib keluarga yang harus ditutupi, tidak dilaporkan ke publik, atau tidak diproses hukum yang adil. Lagi - lagi anak menjadi dalih bagi melindungi “nama baik” keluarganya.

Selain itu, bentuk respon yang diterima anak juga tindakan negara masih abai. Rehabilitasi (medis, psiko-sosial, pendidikan) yang mesti diberikan pada korban, tidak diberikan dengan total dan menyeluruh. Akibatnya anak menjadi korban bertingkat dan korban bertambah-tambah. Rumah perlindungan anak perlu diperbanyak dan diduplikasi setiap daerah beresiko tinggi. Malahan, dalam banyak kasus, terjadi disintegrasui dan pertentangan antara penanganan dalam aspek hukum (litigasi-due process of law), dengan penanganan rehabilitasi korban KTA. Yang terjadi, justru kerap anak merasa tersiksa lagi dengan proses hukum, menjadi cemas dan trauma dengan pemeriksaan di pengadilan. Dan, menjadi semakin tambah menderita dengan vonis pengadilan yang – adakalanya - tidak adil.

 

D.     Pengaduan: Bukan kehendak otonom anak

Dalam kasus-kasus yang dilaporkan, dan analisis atas situasi makro tahun 2005, anak dan keluarga anak yang menjadi korban KTA itu sendiri, selain menutupi demi bebas aib keluarga, disisi lain keberanian dan kehendak anak/keluarganya melaporkan kasus KTA, utamanya kekerasan seksual anak, bukanlah keberanian yang otonom. Namun berkat dukungan, fasilitasi, penjelasan, dan advokasi pihak eksternal. Bisa keluarga, pendamping, NGO, ataupun media massa. Karenanya, belum kuatnya keberanian melaporkan kasus KTA (khususnya perkosaan dan kekerasan seksual) menjadi agenda kultural dan praktis sekaligus. Walaupun, patut disedihkan, tak banyak warga dewasa yang rela menjadi “peniup pluit” kasus KTA. Tahun 2010, menjadi sangat besar menantang kita untuk memperhatikan segala bentuk KTA. Mulai dari lingkungan kita, keluarga kita, RT/RW kita, sampai dengan seluruh sudut negeri Indonesia kita.

 

E.      Upaya-upaya?

Tahun 2006, dengan partisipasi kolektif masyarakat, media, keluarga, NGO dan Pemerintah (pusat dan daerah), mulai sekarang kita rajut lagi (1) Kampanye anti KTA. (2) Untuk mencegah jatuhnya korban, lengkapi anak dengan ketrampilan membela dirinya dalam situasi darurat dari serangan para aktor kekerasan, pemerkosa, penganiaya, dan “penjahat” hak anak. Penting pula mempersiapkan pengetahuan mengenai keadaan tertentu yang harus diwaspadai seperti “early warning” dalam hal anak menghadapi “penjahat hak anak”, pemerkosa, pelaku incest, percabulan, dan sebagainya. (3) Perkuat keberanian dan kebebasan korban/keluarganya serta masyarakat untuk melaporkan/ mengadukan KTA, khussunya kekerasan seksual - yang dianggap urusan domestik. (4) mendorong penegak hukum untuk sensitive dalam pemeriksaan kasus KTA, dan mendorong hakim menghukum dengan vonis yang tinggi atas pelaku KTA. (5) Mendesak Pemerintah aktif menjalankan kewajiban konstitusionalnya untuk menghentikan KTA, termasuk KTA dan hukuman badani (corporal punishment) di sekolah.

Dari seluruh kasus pelangaran hak anak yang masuk pada hotline service Komnas Perlindungan Anak sepanjang tahun 2005, maka ada beberapa contoh kasus yang dapat kita jadikan sebagai gambaran dan bahan perenungan bagi kita bersama. Salah satu kasus yang cukup menarik perhatian kita adalah kasus A dan IS. Baik A (5 tahun 6 bulan), maupun IS (12 tahun) adalah anak-anak yang seharusnya mendapat perlindungan dan kasih sayang serta perhatian dari orang – orang sekitar mereka. Namun yang mereka dapatkan justru siksaan baik fisik dan psikis yang menyebabkan mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya anak-anak seusia mereka. Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian kita adalah bahwa aktor yang melakukan tindakan kekerasan tersebut adalah orangtua mereka sendiri yaitu ibu mereka.

a.      Kekerasan fisik (A dan IS)

Kekerasan fisik yang dialami oleh A dan IS merupakan sebuah contoh bagaimana sebenarnya orangtua baik kandung maupun orangtua asuh dapat menjadi sosok yang menghancurkan masa depan anak. Berdasarkan pemantauan dan pendampingan yang telah dilakukan Komnas Perlindungan Anak pada A dan IS, ditemukan beberapa faktor penyebab kekerasan terhadap anak pada kasus tersebut, yaitu:

1.       Pada kasus A, stress yang dialami oleh orangtua (ibu) menyebabkan anak dijadikan sebagai sasaran kemarahan atas permasalahan yang dialami orangtua.

2.       Pada kasus IS yang merupakan anak yang berada di bawah pengasuhan ibu asuhnya dalam sebuah yayasan, IS yang tidak laku dijual pada pihak lain menyebabkan orangtua asuh merasa terbeban atas keberadaan IS.

b.      Kekerasan Seksual (S)

Kekerasan seksual juga kerap terjadi pada anak. Dalam kasus S (14 tahun), korban telah mengalami tindak kekerasan seksual sejak berumur 9 tahun. Pelaku tindak kekerasan seksual tersebut adalah orangtua kandung dan juga kakek korban. Perlakuan ini bermula dari ajakan ibu kandungnya menonton film porno yang kemudian berlanjut dengan pelecehan seksual sesama jenis yang dilakukan oleh ibu kandung sendiri. Selain mendapat pelecehan seksual dari ibu kandungnya sendiri, korban juga mendapatkan perlakuan tindak pidana perkosaan yang dilakukan oleh kakek kandungnya sendiri.

c.      Kekerasan Psikis

Kekerasan fisik dan seksual tidak hanya meninggalkan luka-luka fisik semata, namun juga meninggalkan trauma psikis yang membutuhkan penanganan yang lebih rumit dari sekedar luka fisik.

Gambaran kekerasan di sepanjang tahun 2005 , ternyata masih lebih didominasi pada kekerasan domestik/kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, hal ini sangatlah ironis mengingat lingkungan keluarga merupakan sebuah lingkungan yang terdekat yang harus memberikan perhatian atas perlindungan terhadap anak. Berikut beberapa catatan yang berhasil dirangkum oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak tentang Karakteristik Pelaku Kekerasan Terhadap Anak yang dikenal Korban:

a.      Pelaku Kekerasan Fisik

Kekerasan terhadap anak terutama kekerasan fisik juga melibatkan keluarga inti, tidak hanya dilakukan oleh lingkungan sekitar, untuk lebih lengkapnya Karakateristik Pelaku Kekerasan Fisik yang dikenal korban dapat dijabarkan berikut ini:

§   Ibu kandung sebesar 63 pelaku

§   Bapak kandung sebesar 12 pelaku

§   Bapak Tiri/Asuh sebesar 3 pelaku

§   Ibu tiri/asuh sebesar 19 pelaku

§   Tetangga pria sebesar 3 pelaku

§   Tetangga wanita sebesar 7 pelaku

§   Bapak guru sebesar 10 pelaku

§   Ibu guru sebesar 86 pelaku

§   Nenek sebesar 1 pelaku

b.      Pelaku Kekerasan Seksual

Sedangkan karakteristik pelaku kekerasan seksual yang dikenal korban, antara lain:

§   Bapak kandung sebesar 10 pelaku

§   Ibu kandung sebesar 1 pelaku

§   Bapak tiri/asuh sebesar 19 pelaku

§   Teman sebesar 15 pelaku

PELAKU KEKERASAN SEKSUAL YANG DIKENAL

Bapak Kandung

Ibu Kandung

Bapak Tiri/Asuh

Teman

Tetangga Pria

Bapak Guru

Paman

§   Tetangga Pria sebesar 60 pelaku

§   Bapak guru sebesar 33 pelaku

§   Paman sebesar 6 pelaku

c.       Pelaku Kekerasan Psikis

Dan untuk karakteristik pelaku kekerasan psikis yang dikenal korban antara lain:

§  Bapak kandung sebesar 12 pelaku

§  Ibu kandung 47 pelaku

§  Bapak tiri/asuh sebesar 19 pelaku

§  Ibu tiri/asuh sebesar 2 pelaku

§  Tetangga laki-laki sebesar 21 pelaku

§  Tetangga wanita sebesar 23 pelaku

§  Bapak guru sebesar 6 pelaku

§  Ibu guru sebesar 9 pelaku

§  Paman sebesar 6 pelaku

Beradasar pantauan Pusat Data dan Informasi serta hasil dari interview yang dilaksanakan oleh Hotline service pangaduan dan Konseling, terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, baik kekerasan fisik, seksual, maupun psikis yang terjadi dalam rumah tangga antara lain:

§   Adanya disfungsi keluarga

§   Adanya tekanan ekonomi

§   Dan adanya salah asuhan dalam rumah tangga akibat trauma masalalu.

Berdasar laporan yang diterima melalui Hotline Service Pengaduan dan berdasar pantauan Pusat Data dan informasi melalui 10 media massa Nasional, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat bahwa Perdagangan Anak, Pekerja Anak, dan Anak Terlantar sepanjang tahun 2005 sudah tidak bisa ditolerir dengan akal sehat dan rasa kemanusiaan. Berikut ini beberapa kasus Perdagangan Anak, Pekerja Anak, dan Anak Terlantar yang terdokumentasi sepanjang tahun 2005.

1.      Perdangan Anak

Masalah Perdagangan Anak (Child Trafficking) sama ironisnya dengan masalah kekerasan anak, beberapa kasus yang berhasil dibongkar Kepolisian Republik Indonesia dan masyarakat menunjukan bahwa praktek child trafficking tidak hanya berkutat pada perdagangan domestik, namun sudah merambah sindikat perdagangan anak internasional. Hasil pantauan dan investigasi Komisi Nasional Perlindungan Anak sepanjang tahun 2005, terdapat beberapa kasus child trafficking yang terjadi di Indonesia, antara lain:

a.       Perdagangan Bayi

Sepanjang Tahun 2005  Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat terdapat 400 kasus perdagangan bayi yang dijual-belikan di dalam negeri dan diluar negeri. Untuk perdagangan bayi yang dijual keluar negeri, negara penerima adalah Singapura, Malaysia, Taiwan, Hongkong, United Kingdom, Brunei Darussalam, Jerman, Canada, Thailand, Arab Saudi, dan Australia.

b.      Perdagangan Anak

Sedangkan Perdagangan Anak yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2005 , ada beberapa peristiwa yang terpantau dan teridentifikasi oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak, antara lain:

§  Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat bahwa sebanyak 221 kasus perdagangan anak yang terjadi sepanjang tahun 2005.

§  Informasi yang dikutip media massa nasional sepanjang tahun 2005 diperkirakan ??10.000 (sepuluh ribu) anak diperdagangkan dan 30% atau sekitar 3.000 anak diperdagangkan dengan tujuan pelacuran.

§  Di Jawa Timur, berdasar catatan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim menunjukan bahwa sekitar 14.000 anak diperdagangkan dan sedikitnya 4.000 anak dijual untuk tujuan Seksual Komersial. Dan masih berdasar catatan dari LPA Jatim, yang menjadi kantong-kantong child trafficking adalah Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Trenggalek, Tulung Agung dan Blitar.

2.      Pekerja Anak

Sepanjang Tahun 2005, anak – anak Indonesia yang dipekerjakan berdasar pantauan Komisi Nasional Perlindungan Anak, menemukan sedikitnya 4.550.000 pekerja anak yang tersebar ke berbagai sector, antara lain:

§  1.300.000 anak dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga

§   400.000 anak dipekerjakan sebagai ESKA (Eksplotasi Seksual Komersial Anak)

§   1.050.000 anak bekerja dijalanan

§   1.200.000 anak dipekerjakan di sector industri dan pertambangan

§   500.000 anak bekerja disektor pertanian dan perkebunan

§   100.000 anak bekerja disektor nelayan

 

3.      Anak Terlantar

Tidak kalah ironisnya dari dua hal diatas, masalah anak terlantar di Indonesia juga begitu memprihatinkan. Dari 90,5juta penduduk Indonesia yang berusia dibawah 18 tahun, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat sekitar 5,2% atau hampir 5jt anak masuk dalam kategori anak terlantar. Dari berbagai catatan diatas tentang semakin maraknya perdagangan anak, semakin banyaknya pekerja anak, dan semakin meningkatnya anak – anak  terlantar di Indonesia dan jikalau hal ini tidak ditangani secara komprehensif, tidak menutup kemungkinan bangsa Indonesia akan kehilangan generasi dimasa datang (The Next Lost Generation). Potret Anak Dan Pendidikan tahun 2005  adalah identifikasi yang terdokumentasi di Komnas Perlindungan Anak. dari kumpulan berita - berita yang terdokumentasi dari 10 (sepuluh) media massa nasional dan tercatat sejak periode Maret sampai dengan 27 Desember 2005, yang terdiri dari:

§   Anak Putus Sekolah Berdasar Klasifikasi Pendidikan

Dapat dicermati bahwa disepanjang ahun 2005 yang paling tinggi kuantitas anak putus sekolah adalah dari ingkat Sekolah Dasar (SD) yang mencapai angka 1.446.763 anak putus ekolah atau sebesar 84.48% dari jumlah total 1.712.413 anak putus sekolah sepanjang tahun 2005, yang menduduki peringkat kedua adalah anak SMP/MTS dengan mencapai angka sebesar 178.961 atau sebesar 10.45% sedang anak putus sekolah dari SMU/K/MA adalah 86.749 atau sebesar 5.07% dari jumlah keseluruhan anak putus sekolah. Hal ini menunjukan bahwa tingkat anak putus sekolah masih bisa dikatakan sangat tinggi mengingat pendidikan adalah bagian dari hak anak yang harus dipenuhi.

§   Anak Putus Sekolah Akibat Ketidakmampuan Ekonomi/Biaya

Dari jumlah 1,712,413 anak putus sekolah dari mulai SD, SMP, SMA tersebut, Komisi Nasional Perlindungan Anak mengidentifikasikan sekitar 929,799 anak putus sekolah atau 54.30% disebabkan ketidakmampuan ekonomi/biaya, dan

dengan perincian sebagai berikut: 813,515 atau 56.98% tingkat SD/MI; 31,561 atau 10.25% adalah siswa SMP/MTs; 84.823 atau 32.77% SMU/K/MA. Masih terkait dengan dunia pendidikan, fenomena kasus bunuh diri pada anak-anak, yang terpantau berjumlah 24 kasus anak bunuh diri dan sekitar 67% atau 16 anak usia sekolah melakukan bunuh diri disebabkan menunggak biaya sekolah.

Dari angka-angka sebesar itu menunjukan bahwa anak putus sekolah akibat ketidakberdayaan ekonomi ini disebabkan biaya pendidikan yang semakin tinggi, ditambah lagi dengan tidak direalisasikannya anggaran negara oleh Pemerintah untuk pendidikan sebesar 20% dari total anggaran APBN yang diamanatkan oleh UUD’45, ini berarti negara telah mengabaikan kepentingan atau hak anak di bidang pendidikan dan sekaligus melanggar amanat dari UUD’45 yang notabene sebagai Dasar Hukum tertinggi di Negeri ini.

§  Gedung Sekolah Dalam Kondisi Rusak

Dari berbagai permasalahan anak dan pendidikan, ternyata tidak hanya berkutat pada permasalahan anak putus sekolah ataupun kekerasan didalam sekolah, namun juga masalah kondisi fisik lembaga pendidikan, terutama pada kondisi bangunan sekolah-sekolah yang seharusnya menjadi salah satu unsur infrastruktur terpenting dalam proses pendidikan itu sendiri.

Berdasar pantauan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat bahwa total gedung sekolah dalam kondisi rusak sebesar 531,670 bangunan SD, SMP, maupun SMU, dengan perincian sebagai berikut: 92.09% atau 489,608 bangunan Sekolah Dasar dalam kondisi rusak; 84,043 atau 6.40% bangunan SMP dalam kondisi rusak; sedangkan 1.51% atau 8,018 bangunan Sekolah Menengah Umum dalam kondisi tidak layak pakai.

Layanan dan perlindungan terhadap kesehatan anak sepanjang tahun 2005 sangatlah mengenaskan, Komisi Nasional Perlindungan Anak melalui Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) mencatat bahwa sepanjang tahun 2005  hak kesehatan yang menjadi bagian dari Hak Hidup anak di Indonesia masih terdapat berbagai kasus yang mengancam kelangsungan hidup, mulai dari mal nutrisi, sampai pada maraknya wabah penyakit yang rentan pada Anak. Ironisnya lagi, negara yang mempunyai hak pengambil kebijakan dalam memberikan perhatian dan perlindungan anak, belum memberikan penanganan yang komprehensif, namun hanya menyikapinya dengan langkah-langkah kasuistik belaka. Berikut ini catatan hasil pantauan PUSDATIN Komisi Nasional Perlindungan Anak mengenai Anak dan Masalah Kesehatan Sepanjang Tahun 2005:

1.      Anak dan Mal Nutrisi

Kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan keceriaan dan terpenuhinya tingkat kesehatannya adalah wajib untuk mendapatkannya, karena kesehatan merupakan bagian dari hak hidup bagi anak, hal ini ternyata tidak dapat diperoleh oleh seluruh anak - anak di negeri ini. Sepanjang tahun 2005 beberapa anak di Indonesia mengalami mal nutrisi baik itu gizi buruk, kurang gizi, maupun busung lapar. Dari 744.698 total kasus anak yang mengalami mal nutrisi, diantaranya sekitar 55,92% atau 416.480 anak menderita kurang gizi; 318.498 atau 42,77% anak menderita gizi buruk; dan 1,31% atau setara dengan 9.720 anak menderita busung lapar.

Dari jumlah anak penderita mal nutrisi tersebut, berdasar pantauan PUSDATIN Komisi Nasional Perlindungan sudah merambah diberbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Papua, dan tidak ketinggalan Ibu Kota Negara yakni DKI Jakarta. Sangatlah ironis sekali ketika anak dianggap sebagai asset generasi penerus bangsa dalam melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara dimasa dating ternyata hak hidup mereka terabaikan.

2.      Anak dan Wabah Penyakit

Anak Indonesia sepanjang tahun 2005 bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Bagaimana tidak, penanganan anak akibat mal nutrisi belum selesai, baru – baru ini berbagai wabah penyakit menyerang anak-anak, mulai polio dan lumpuh layu yang oleh negara dinyatakan telah hilang, demam berdarah, diare, flu burung sampai pada anak menderita HIV/AIDS. Berikut ini data dan fakta anak terjangkit beberapa wabah penyakit yang menyerang negeri ini.

Dari sekitar 13.441 anak yang terserang berbagai wabah penyakit, 42% kasus diare menyerang anak – anak atau sekitar 5.645 anak menderita diare sepanjang tahun 2005 ini dan telah menewaskan sedikitnya 112 anak; tidak berbeda dengan kasus diare, kasus Demam berdarah yang menyerang anak – anak berdasar catatan PUSDATIN KOMNASPA ini sekitar 5127 atau sekitar 38.14% anak terserang demam berdarah dari jumlah total wabah penyakit yang menyerang anak – anak dan 129 anak yang meninggal dunia; sedangkan polio dan lumpuh layu yang menyerang anak – anak sepanjang tahun 2005 adalah 324 atau 2.41% dan 451 atau 3.36% anak – anak yang terserang wabah tersebut; dan wabah penyakit lainnya yang menyerang anak – anak antara lain penyakit campak sekitar 1652 atau 12.29% anak menderita campak dan yang meninggal dunia sebanyak 23 anak; 43 atau 0.32% anak menderita flu burung dan telah merenggut nyawa 10 anak; yang mengenaskan lagi adalah anak – anak penderita HIV/AIDS, dari berbagai wabah penyakit yang menyerang anak – anak ini, sekitar 199 anak atau sekitar 1.48% anak telah menderita HIV/AIDS, dan sekitar 144 bayi telah tertular HIV/AIDS dari Ibunya.

PUSDATIN Komisi Nasional Perlindungan Anak juga mencatat beberapa hal yang sangat urgen dalam pelanggaran hak anak di Indonesia ini yang membuat THE NEXT LOST GENERATION, berikut ini catatan tentang pelanggaran hak anak selain dari Kekerasan Anak, Anak dan Masalah Pendidikan, Anak dan Masalah Kesehatan, Perdagangan Anak, Pekerja Anak, dan Anak Terlantar yang terdokumentasi pada PUSDATIN KOMNASPA, antara lain :

1.      Anak dan Akte Kelahiran

Permasalahan lain, yang sangat mendasar mengenai Hak Anak ialah banyaknya anak – anak di Indonesia yang tidak memiliki akta kelahiran. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan, pada saat ini hanya 40 persen anak – anak di Indonesia pada usia 5 tahun yang memiliki akta kelahiran, sisanya tidak mempunyai catatan kelahiran dan tidak mempunyai akta, akibatnya mereka terancam hak-haknya sebagai warga negara. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sulitnya birokrasi dan adanya diskriminasi. Berdasarkan catatan dari UNICEF pada tahun 2004, menunjukkan bahwa factor tingginya biaya, lokasi, prosedur dan persyaratan yang rumit serta tingkah laku petugas pencatatatn sipil yang tidak kondusif juga merupakan penyebab rendahnya keinginan masyarakat untuk mencatatkan sebuah peristiwa kelahiran. Padahal pencatatan kelahiran memiliki beberapa arti penting, antara lain:

§  Statusnya sebagai bentuk pengakuan pertama negara terhadap keberadaan seorang anak.

§  Merupakan hal dasar bagi dipenuhinya hak-hak anak yang meliputi memberikan kepastian pada anak untuk masuk sekolah pada usia yang tepat, penegakkan dan perlindungan hukum bagi pekerja di bawah umur.

§  Melindungi seorang anak perempuan dari kemungkinan menikah di bawah umur, memastikan anak – anak yang berada di wilayah konflik mendapatkan perlindungan khusus dan tidak diperlakukan sebagai orang dewasa.

§  Melindungi anak – anak muda dari paksaan memasuki wajib militer pada usia yang tidak semestinya.

§  Melindungi anak dari perlakuan yang tidak seharusnya dilakukan oleh pihak yang berwenang.

§  Memastikan seorang anak mendapatkan pengakuan kewarganegaraan pada saat dilahirkan.

§  Melindungi anak dari kemungkinan menjadi komoditas dalam perdagangan anak dan pada saatnya menjamin seorang anak untuk mendapatkan paspor dan memperoleh pekerjaan.

§  Terpenuhinya hak anak untuk dipilih dan memilih nantinya.

2.      Tawuran Pelajar

Sepanjang tahun 2005 , ditemukan sedikitnya sebanyak 18 kasus tawuran di kalangan belajar. Tak jarang tawuran ini menimbulkan banyak korban – korban yang berjatuhan, terutama pelajar yang tawuran itu sendiri.

3.      Anak Berhadapan dengan Hukum

Situasi lainnya yang masih berkaitan dengan anak ialah situasi anak – anak yang berhadapan dengan hukum. Setiap tahun lebih dari 4.000 kasus kejahatan anak dan remaja tampil di meja hijau. Menurut hasil pemantauan Komnas PA, ditemukan 236 kasus anak yang berhadapan dengan hukum (anak sebagai pelaku). Dunia legal formal kita masih menyimpan segudang masalah. Sebagai contoh, Undang – Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak. Dimana undang – undang ini menetapkan bahwa usia tanggung jawab kriminal masih amat rendah sekali, yaitu delapan tahun. Selain itu juga, anak dapat ditahan selama 20 hari sebelum perkaranya diputus pengadilan, serta masih banyak hal lainnya. Baik buruknya anak adalah cerminan wajah kita sendiri. Oleh karena itu, minimal kaji ulanglah Undang – Undang No. 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak secara kritis dalam semangat the best interest for the child dan marilah kita sama – sama memikirkan bagaimana nasib mereka di masa yang akan datang.

4.      Pengungsi Anak

Bencana tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias membuat ribuan penduduk menjadi korban dan pengungsi. Anak – anak seringkali merupakan bagian yang besar dari suatu komposisi penduduk, maka korban anak – anak merupakan jumlah yang besar pula. Anak – anak  korban bencana ini membutuhkan perlindungan khusus. Setidaknya akibat bencana tsunami ini, sekitar lima puluh ribu anak-anak Aceh dalam waktu sekejap menjadi yatim piatu. Komisi Nasional Perlindungan Anak yang selama 3 (tiga) bulan melaksanakan misi kemanusiaannya telah menemukan dan menangani sebanyak 1700 anak – anak korban Tsunami di Aceh untuk mendapatkan pendampingan Psikososial, sementara di Nias korban gempa yang mendapatkan pendampingan psikososial 2.296 anak.

Selain anak – anak  korban Tsunami di Aceh dan Nias, masih banyak lagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus lainnya, seperti anak – anak pengungsi korban konflik di Ambon. Mengutip dari media, terdapat ratusan anak – anak  korban konflik di Ambon yang hingga saat ini masih menghuni berbagai penampungan pengungsi di Pulau Ambon mengalami berbagai tindak kekerasan, baik fisik, non fisik maupun seksual. Tercatat 75 – 80 persen dari sekitar 1000 anak pengungsi yang mengalami kekerasan fisik. Bentuknya antara lain, berupa pemukulan, penamparan, tendangan hingga cekikan. Sebanyak 80 – 90 persen anak mengalami penganiayaan non-fisik seperti dihina, dicaci, dan diancam. Sebanyak 50 – 60 persen dari anak-anak yang tinggal di pengungsian itu mengalami kekerasan seksual, seperti diraba bagian tubuh tertentu, diajak bicara cabul, hingga dipertontonkan bagian tubuh tertentu.

Pelaku dari semua tindak kekerasan tersebut hampir sama, seperti guru, orang tua, tetangga, teman, keluarga dekat, hingga oknum aparat keamanan. Tempat terjadinya berbagai tindak kekerasan tersebut bervariasi, mulai dari sekolah, rumah, penampungan pengungsi sampai di jalanan umum. Semua tindak kekerasan tersebut meninggalkan bekas pada anak-anak. Dampak fisik yang muncul antara lain timbulnya luka atau memar, gangguan neurologis akibat kepala sering dipukul, serta pertumbuhan yang tidak optimal. Dampak psikologis yang terjadi antara lain timbulnya rasa tidak berharga, rendah diri, kewaspadaan fisik yang berlebihan, serta melakukan kekerasan terhadap orang lain.

5.      Pornografi

Akhir-akhir ini, marak sekali beredar VCD Porno, ironisnya lagi pemain VCD Porno ini adalah anak di bawah umur. Kebanyakan pelaku masih duduk di bangku SMA, yang lebih mengejutkan lagi tempat mereka melakukan hubungan seks di lakukan di sekolah di dalam kelas mereka sendiri. Komnas PA berhasil mencatat sedikitnya terdapat 10 kasus pornografi yang dilakukan oleh siswa/i SMU. Materi pornografi sepertinya telah menjadi kebutuhan dasar hingga ragam jenis, produksi dan peredarannya menghiasi keseharian masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari efek negatif akibat perkembangan tekhnologi yang sangat canggih dan kurang efektifnya kontrol dari lembaga yang berwenang.

 

IV. SARAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan fakta dan data yang telah dikemukan diatas, maka ada beberapa hal yang dapat menjadi catatan kita bersama guna meminimalisir kemungkinan terjadinya tindakan – tindakan serupa pada masa yang akan datang, mengingat apa yang tertulis pada pasal 20 Undang – Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi: “Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak”.

Oleh karena itu, ada beberapa saran yang dapat dijadikan acuan bagi kita semua, antara lain:

A.     Keluarga

§  Lebih memahami dan mengerti bahwa anak bukanlah milik pribadi karena pada dasarnya setiap anak adalah sebuah pribadi yang utuh yang juga memiliki hak sebagaimana individu lainnya, sehingga anak tidak dapat dijadikan tumpuan amarah atas semua permasalahan yang dialami orangtua (Domestic Based Violence).

§  Lebih berhati-hati dan memberikan perhatian serta menjaga anak – anak dari kemungkinan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang – orang di sekitar kita (Community Based Violence).

B.      Masyarakat

§  Lebih peka dan tidak menutup mata terhadap keadaan sekitar sehingga apabila terjadi kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar penanganannya dapat lebih cepat guna menghindari kemungkinan yang lebih buruk pada anak yang bersangkutan.

§  Aparat hukum seharusnya dapat lebih peka anak pada setiap proses penanganan perkara anak baik dalam hal anak sebagai korban tindak pidana maupun anak sebagai pelaku dengan mengedepankan prinsip demi kepentingan terbaik bagi anak (the best interest for the child).

§  Pihak sekolah dan orangtua asuh sebagai pendidik kedua setelah orangtua kandung, diharapkan dapat lebih sensitive anak dalam mendidik anak – anak yang berada dibawah pengasuhan mereka.

C.      Negara

§  Menyelesaikan dengan segera konflik-konflik sosial dan politik yang berkepanjangan di berbagai daerah.

§  Memperbaiki seluruh pelayanan publik baik itu pelayanan kesehatan, pendidikan.

Berdasarkan data dan fakta diatas, maka Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai sebuah lembaga independent dibidang pemenuhan dan perlindungan hak anak merekomendasikan beberapa hal yang dapat menjadi perhatian kita bersama guna menghindari dan/atau meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap anak di masa-masa yang akan datang.

1.       Mendesak Negara untuk merealisasikan Kementerian Khusus Anak, sebagai Implementator dalam Perlindungan Anak oleh negara dan sebagai Implementasi dari Deklarasi Suara Anak Indonesia dalam Kongres Anak Indonesia V tahun 2005.

2.       Menentang segala bentuk kekerasan, eksploitasi (seksual & ekonomi), penyalahgunaan (abused), dan diskriminasi pada anak-anak, karenanya negara berkewajiban (state obligation) untuk menghentikan kekerasan, eksploitasi, abused, dan diskriminasi anak, sebagai wujud pelunasan kewajiban konstitusional negara, dan realisasi komitment HAM Internasional yang dianut bangsa – bangsa beradap (civilized). Pembiaran dan inpuniti atas pelanggaran hak – hak anak adalah refleksi rendahnya derajat keberadaban dan lemahnya empati kemanusiaan.

3.       Anak – anak dalam situasi darurat (bencana alam, konflik sosial, krisis) berhak atas perhatian yang khusus. Dalam hal itulah  mendesak pemerintah dan Badan Rekonstruksi dan Rekonsiliasi Aceh – Nias agar menambah Rencana Induk Rekonstruksi Aceh dan Nias pasca tsunami, yakni mestilah mengintegrasikan hak-hak anak dan mainstream prinsip kepentingan terbaik bagi anak (the best interest for the child, bukan hanya sekedar menempelkan saja sebagai “asesoris” dalam pemulihan Aceh – Nias pasca bencana. Hingga hampir 1 tahun bencana tsunami, hak – hak anak masih belum terkonsolidasikan baik pada tataran kebijakan, “blue print” rekonstruksi dan realisasi praktis di lapangan.

4.       Untuk mengatasi masalah anak, tidak dapat selesai dengan Program Sosial atau proyek sosial kendatipun berskala besar, pendidikan adalah strategi yang beradab dan elegan untuk menanggulangi masalah perlindungan anak. Dalam level kebijakan segera mensahkan Undang – Undang Penanggulangan Bencana, Undang – Undang Sistem Kesejahteraan Nasional dan membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang independent dan non – profit sebagaimana perintah Pasal 28 ayat 3, Pasal 34 UUD 1945, dan Pasal 5 ayat 1 Undang – Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

5.       Karenanya dana alokasi untuk Program Bantuan Tunai Langsung (BLT) berupa cash payment kompensasi BBM sebesar 6 milyar dapat dikelola sebagai sumber bagi Jaminan Sosial Nasional, khususnya untuk Jaminan Sosial anak (social security for children).

6.       Untuk mencegah serapan anak atas media yang tidak sehat, vulgar, satanic, pornografis, dan sarat dengan kekerasan, maka dituntut penghentian sinetron dan acara siaran yang destruktif bagi tumbuh kembang anak. Dalam Konvensi Hak Anak, pemerintah, orangtua, bertanggungjawab untuk memberikan arahan (direction) dan panduan (guidelines) kepada anak, karena mereka masih membutuhkan itu dalam proses evolusi kapasitasnya (evolution capacity) untuk menjadi personal yang tidak lagi dependent dan menuju kedewasaannya.

 

REFERENSI

 

-                Harian kompas, 14 April 2008.

-                Dalyono, M. Drs. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

-                Sumantri, M dan Syaodih, N. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Universitas Terbuka.

-                Undang – Undang RI No.23 tahun 2002, tentang perlindungan anak.

-                http://www.google.co.id



MAKALAH UJIAN AKHIR

Kategori: Welcome
Diposting oleh hirzati pada Minggu, 28 November 2010

 

MATRIKULASI

 

 

 

 

 

Oleh    :

 

Nama   : Hirzati Yusro

NIM     : 20102513010

Kelas    : B / Sore

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SRIWIJAYA

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

TAHUN PELAJARAN 2010/2011

 

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah syukur kepada Allah SWT atas izin – Nya saya dapat menyelesaikan makalah ujian akhir Matrikulasi tentang Psikologi dan hubungannya dengan pendidikan

Isi makalah ini berkenaan dengan peran aspek – aspek psikologi yang berpengaruh terhadap belajar dan pembelajaran didunia pendidikan baik disekolah, perguruan tinggi, dan lembaga lainnya.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dr. Yosef, M.A dan Ibu Dr. Sri Sumarni, M.Pd yang telah membimbing dan mengarahkan saya selama matrikulasi mata kuliah psikologi.

Makalah ini berusaha menjawab pertanyaan ujian akhir matrikulasi mata kuliah psikologi dengan harapan dapat merupakan sumbangan bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mengembangkan budaya belajar untuk menyongsong era industrialisasi, semoga.

 

 

 

Palembang, 12 Juli 2010

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata pengantar            ……………………………………...……………….            ii

Daftar isi         ……….………………………………………………….......            iii

BAB I : PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang …………………………………………………           1

B.      Rumusan Masalah ………………………………………………          2

C.      Tujuan …………………………………………………………..          2

BAB II : PEMBAHASAN

A.      Proses Belajar …………………………………………………..           3

B.      Tujuan Belajar ………………………………………………….           3

C.      Faktor – Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Belajar ………….          3

BAB III : PENUTUP

A.      Kesimpulan ……………………………………………………..          9

B.      Saran ……………………………………………………………          9

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….          10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Dalam era industrialisasi, bangsa Indonesia membulatkan tekadnya untuk mengembangkan budaya belajar yang menjadi prasyarat berkembangnya budaya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Namun dalam mengembagkan budaya belajar tersebut perlu belajar yang mana dan bagaimana itu diupayakan untuk diwujudkan. Dengan kata lain, persoalan belajar sebagai budaya yang akan dikembangkan, tidak bisa dipisahkan dengan pemaknaan hakikat manusia baik yang belajar maupun yang membelajarkan. Secara tersirat persoalan – persoalan itu mestinya menjadi rujukan dalam membahas masalah – masalah belajar.

Masalah belajar adalah masalah yang selalu aktual dan dihadapi oleh setiap orang. Maka dari itu banyak ahli – ahli membahas dan menghasilkan berbagai teori tentang belajar. Dalam hal ini tidak dipertentangkan kebenaran setiap teori yang dihasilkan, tetapi yang lebih penting adalah pemakaian teori – teori itu dalam praktek kehidupan yang paling cocok dengan situasi kebudayaan kita.

Pemakaian teori – teori belajar dengan situasi formal lebih dibatasi dalam lembaga pendidikan formal yaitu sekolah. Pandangan/teori tentang belajar menurut ahli tertentu akan menentukan bagaimana seharusnya “menciptakan” belajar itu sendiri, dan usaha itu lazimnya dikenal dengan mengajar. Sehingga tinjauan tentang belajar tidak bisa dipisahkan dengan mengajar.

Tidak bisa disangkal bahwa dalam belajar seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Sehingga bagi pelajar sendiri adalah penting untuk mengetahui faktor – faktor yang dimaksud. Hal ini menjadi lebih penting lagi tidak hanya bagi pelajar tetapi juga bagi pendidik, didalam mengatur dan mengendalikan faktor – faktor yang mempengaruhi belajar hingga dapat terjadi proses belajar yang optimal.

Dalam keseluruhan proses belajar – mengajar terjadilah interaksi antara berbagai komponen. Masing – masing komponen diusahakan saling pengaruh – mempengaruhi hingga dapat tercapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Salah satu komponen yang utama adalah siswa, hal itu dapat dipahami karena yang harus mencapai tujuan adalah system dan oleh karena itu siswalah yang harus belajar. Sehingga pemahaman terhadap siswa adalah penting bagi guru maupu pembimbing agar dapat menciptakan situasi yang tepat serta memberi pengaruh yang optimal bagi siswa untuk dapat belajar yang berhasil.

 

B.    Rumusan Masalah

Permasalahan yang muncul adalah bagaimana kita dapat mengenal siswa, aspek atau karakteristik apa yang dimilikinya serta bagaimana cara – cara mempengaruhinya.

 

C.    Tujuan

Agar dapat mengenal siswa, aspek atau karakteristik apa yang dimiliki serta bagaimana cara – cara mempengaruhinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Proses Belajar

Perhatian para ahli psikologi pendidikan mengenai belajar terutama berpusat pada kondisi yang dapat memberi fasilitas belajar, sehingga proses belajar dapat mudah dan lancar. Belajar adalah suatu aktivitas yang menuju kearah tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan itu perlu adanya faktok – faktor yang perlu diperhatikan.

Dalam masalah belajar, metode mengajar akan banyak mempengaruhi cara belajarnya orang yang sedang belajar. Apabila mata pelajaran diberikan tanpa tujuan dan murid diharuskan mengingat – ingat dan mendapatkan hal yang tidak bertujuan, ini akan melemahkan semangat belajar. Sebaliknya apabila mata pelajaran diatur dan mempunyai tujuan tertentu serta murid mempunyai pengertian yang luas, maka semangat belajar akan datang dengan sendirinya tidak hanya mendapatkan keterangan dan kecakapan tetapi juga menambah kekuatan untuk mengartikan, kecakapan untuk mempergunakan, dan mengubah sikap. ( Mustaqim & Wahib : 60 - 62 )

 

B.    Tujuan Belajar

Belajar merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu. Karena itu perlu diketahui seluk – beluk belajar, terutama bagaimana.Belajar dapat didefinisikan suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan didalam diri seseorang mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. ( Dalyono : 48 - 49 )

 

C.    Faktor – Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Belajar

Kemampuan belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Didalam proses belajar tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan konsep diri. ( Djaali : 101 )

Faktor psikologis misalnya, faktor inteligensi, minat, perhatian, bakat, motivasi, kematangan, dan kesiapan peserta didik sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar peserta didik disekolah. ( Hadis : 64 )

Sekurang – kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar., faktor – faktor itu yakni :

a)      Inteligensi

Adalah kecakapan yang terdiri dari 3 jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapai dan menyesuaikan kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajari nya dengan cepat. ( Slameto : 56 )

Inteligensi merupakan kemampuan “problem solving” dalam segala situasi yang baru atau yang mengandung masalah. Problem solving mencakup permasalahan pribadi, permasalahan sosial, permasalahan akademik kultural serta permasalahan ekonomi keluarga. ( Dalyono : 185 )

b)      Perhatian

Menurut Gazali, perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu semata – mata tertuju kepada suatu objek ( benda atau hal ) atau sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika tidak diperhatikan maka timbul kebosanan sehingga tidak lagi suka belajar. ( Slameto : 56 )

Ada bermacam – macam perhatian, yang pada pokoknya meliputi :

Þ        Menurut cara kerjanya, perhatian spontan ( tidak sengaja ) dan perhatian reflekship ( sengaja )

Þ        Menurut intensitasnya, perhatian intensif ( dikuatkan oleh rangsangan ) dan perhatian tidak intensif ( kurang diperkuat oleh rangsangan )

Þ        Menurut luasnya, perhatian terpusat dan perhatian terpencar.

( Soemanto : 35 )

c)      Minat

Minat adalah kencenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus – menerus yang disertai dengan rasa senang.

Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran tidak sesuai dengn minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan baik. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar( Slameto : 57 )

d)     Bakat

Bakat atau aptitude menurut Hilgard adalah “the capacity to learn”,kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Misalnya orang yang berbakat mengetik, akan lebih cepat dapat mengetik dengan lancar dibandingkan dengan orang lain yang kurang atau tidak berbakat dibidang itu.

Jelaslah bahwa bakat itu mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu. Adalah penting untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar disekolah yang sesuai dengan bakatnya. ( Slameto : 57 )

e)      Motivasi dan Motif

Menurut Sumadi Suryabrata, motivasi adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktifitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan.

Menurut Gates dan kawan – kawan, motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara tertentu.

Menurut Greenberg, motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan dan memantapkan perilaku arah suatu tujuan. ( Djaali : 101 )

James Drever memberikan pengertian tentang motif “Motive is an effective – conative factor which operates in determining the direction of an individual’s behavior towards an end or goal, consioustly apperehended or unconsioustly.”

Jadi motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Didalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya. ( Slameto : 58 )

Menurut Woodworth dan Marques, motif adalah suatu tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktifitas tertentu dan untuk tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya. ( Mustaqim & Wahib : 72 )

Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan menunjang belajar. Motif yang kuat sangatlah perlu didalam belajar, didalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilaksanakan dengan adanya latihan atau kebiasaan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat, jadi latihan atau kebiasaan itu sangat perlu dalam belajar. ( Slameto : 58 )

f)       Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat – alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Misalnya anak dengan kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dengan jari – jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berpikir abstrak, dan lain – lain.

Kematangan belum bearti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus – menerus, untuk itu diperlukan latihan – latihan danpelajaran. Dengan kata lain anak yang sudah siap atau matang belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap atau matang. Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar. ( Slameto : 58 )

Kematangan dicapai oleh individu dari proses pertumbuhan fisiologisnya. Kematangan terjadi akibat adanya perubahan kuantitatif didalam struktur jasmani dibarengi dengan perubahan kualitatif terhadap struktur tersebut. Kematangan memberikan kondisi dimana fungsi fisiologis termasuk sistem saraf dan fungsi otak menjadi berkembang. Dengan berkembangnya fungsi otak dan sistem saraf, akan menumbuhkan kapasitas mental seseorang dan mempengaruhi hal belajar seseorang itu. ( Soemanto : 119 )

g)      Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani ( bersifat psikis ).

Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran didalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian – bagian tertentu.

Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilakan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala dengan pusing – pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah – olah otak kehabisan daya untuk bekerja. Kelelahan rohani dapat terjadi terus – menerus memikirkan masalah yang dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal – hal yang selalu sama atau konstan tanpa ada variasi dan mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiaannya.

Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan dengan cara – cara sebagai berikut :

1.      Tidur

2.      Istirahat

3.      Mengusahakan variasi dalam belajar dan bekerja

4.      Menggunakan obat – obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah misalnya obat gosok

5.      Rekreasi dan ibadah yang teratur

6.      Olahraga secara teratur

7.      Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi sarat – sarat kesehatan

8.      Jika kelelahan sangat serius cepat – cepat menghubungi seorang ahli misalnya dokter, psikiater, konselor, dan lain – lain.

( Slameto : 59 – 60 )

Kondisi lelah bisa ditimbulkan oleh kerja fisik. Akan tetapi sering kali apa yang dianggap sebagai kelelahan, sebenarnya karena tidak ada atau hilangnya minat terhadap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang itu sendiri. Membaca buku pelajaran secara terus – menerus, dapat mengakibatkan anak mengemukakan kelelahan dan timbulah keinginan untuk menghentikan belajarnya. Akan tetapi, jika dia mengalihkan dari buku tersebut kepada buku baru atau buku lainnya yang menarik minat, dia bisa terus membacanya sampai berjam – jam. ( Djaali : 122 )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dengan mengetahui faktor – faktor psikologis berupa inteligensi, minat, perhatian, bakat, motivasi dan motif, kematangan serta kesiapan peserta didik serta berbagai faktor psikologis lainnya berkontribusi secara signifikan, kita dapat mengenal siswa, aspek atau karakteristik yang dimilikinya serta cara – cara mempengaruhinya. Dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa disekolah, yang pada akhirnya berpengaruh kepada peningkatan kualitas pendidikan baik disekolah, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan lainnya.

 

B.    Saran

Para calon guru dan para guru disekolah harus memperhatikan berbagai faktor psikologis tersebut guna meningkatkan kualitas dan proses pembelajaran disekolah. Faktor – faktor psikologis tersebut perlu diketahui dan difahami oleh para calon dan para guru sebagai upaya untuk meningkatkan inteligensi, minat, perhatian, bakat, motivasi dan motif, kematangan serta kesiapan peserta didik serta berbagai faktor psikoogis lainnya agar proses pembelajaran yang dikelolah oleh guru dikelas dapat maksimal dan optimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka

        Cipta.

Soemanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Mustaqim, Wahib. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Dalyono. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Hadis. 2008. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Djaali. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

 

 



LANDASAN TEORI DAN KONSEP SISTEM

Kategori: Welcome
Diposting oleh hirzati pada Minggu, 28 November 2010

 

 

A.Pendahuluan

      Teknologi pendidikan merupakan konsep yang kompleks, dapat dikaji dari berbagai segi dan kepentingan. Teknologi pendidikan sebagai suatu bidang kajian ilmiah, senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang mendukung dan mempengaruhinya. Pada awal perkembangannya, teknologi pendidikan selalu dikaitkan dengan adanya peralatan terutama yang berupa audiovisual yang hanya berfungsi sebagai alat bantu guru dalam mengajar. Perkembangan ini disebut sebagai paradigma pertama. Perkembangan berikutnya atau paradigma kedua bertolak dari pendekatan sistem dan teori komunikasi dalam kegiatan pendidikan. Paradigma ketiga bertolak dari pendekatan manajemen proses instruksional, dimana masing-masing unsur mempunyai fungsi yang berbeda dijalin secara integral. Paradigma keempat bertolak dari pendekatan ilmu perilaku  yaitu dengan memfokuskan perhatian kepada diri peserta didik agar mereka dapat belajar secara efektif dan efisien. Kemudian ini tercipta melalui suatu proses kompleks dan terpadu serta dirancang dan dilaksanakan secara cermat. Paradigma baru atau paradigma kelima merupakan perkembangan internal untuk lebih menegaskan identitas teknologi pendidikan. Fokus teknologi pendidikan adalah memecahkan masalah belajar yang bertujuan, terarah, dan terkendali (http://rosdianablog.blogspot.com/2009/06/landasan teori dan konsep sistem.html).

    Dalam perkembangannya, terminologi “teknologi pendidikan” dipersempit menjadi “teknologi pembelajaran”. Hal ini terkait dengan fungsi teknologi pendidikan yang mengarah pada upaya pemecahan masalah belajar yang terjadi pada diri manusia, berlangsung sepanjang hayat, dimana saja, kapan saja, dengan cara apa saja, dengan apa, dan siapa saja. Masalah belajar adalah masalah yang dialami oleh setiap manusia dalam kehidupannya baik secara individu maupun secara bersama-sama dalam suatu komunitas tertentu. Penggunaan terminologi pembelajaran didasarkan pada pertimbangan bahwa belajar merupakan aktivitas manusia yang lebih terfokus, lebih terkontrol, lebih terukur dibandingkan dengan aktivitas pendidikan (Fatah Syukur, 2008:xiii).

    Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktik dalam merancang , mengembangkan,  memanfaatkan, mengelola, dan menilai proses dan sumber untuk belajar. Secara operasional teknologi pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses yang bersistem dalam membantu memecahkan masalah belajar pada manusia (http://rosdianablog.blogspot.com/2009/06/landasan teori dan konsep sistem.html).

    Pokok-pokok permasalahan yang dikaji berkenaan dengan sistem meliputi konsep sistem (system concept) dan pendekatan sistem (system approach), adapun pokok-pokok permasalahan yang akan dikaji berkenaan dengan sistem pendidikan meliputi definisi pendidikan sebagai suatu sistem, kategori sistem pendidikan berdasarkan jenis-jenis sistem, sumber input sistem pendidikan, jenis-jenis input sistem pendidikan, berbagai komponen dan fungsi komponen sistem pendidikan, proses transformasi dalam sistem pendidikan, output sistem pendidikan dan model sistem pendidikan. Pengertian sistem menunjuk kepada dua hal pokok yaitu kepada sesuatu wujud (entity) atau benda tertentu dan kepada sesuatu tata cara atau metode pemecahan masalah yang dikenal sebagai pendekatan sistem. Pendekatan sistem digunakan dalam rangka memahami sesuatu sebagai keseluruhan yang terpadu dan atau dalam rangka memecahkan permasalahan tertentu, misalnya tentang pendidikan (Dinn Wahyudin,2008:83).

    Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimanakah peranan landasan teori dan konsep sistem dalam pendidikan ?. Dalam pembuatan makalah ini tentunya bertujuan agar mahasiswa dapat mendalami peranan landasan teori dan konsep sistem dalam pendidikan dengan baik.

 

B.Pembahasan

    Teknologi pembelajaran (instructional technology) merupakan suatu bidang kajian khusus (spesialisasi) ilmu pendidikan dengan objek formal “belajar” pada manusia secara pribadi atau yang tergabung dalam suatu organisasi. Tujuan utama teknologi pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Teknologi pembelajaran sebagai perangkat lunak yang berbentuk cara-cara yang sistematis dalam memecahkan masalah pembelajaran semakin canggih dan mendapatkan tempat

secara luas dalam dunia pendidikan (Suparman dan Zuhairi,2004:345-346 dalam Bambang Warsita,2008:1-10). Dengan demikian, aplikasi praktis teknologi pembelajaran dalam pemecahan masalah belajar mempunyai bentuk konkret dengan adanya sumber belajar yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar.

    Teknologi pendidikan dapat membuktikan dirinya sebagai suatu bidang garapan khusus, yang mempunyai teknik intelektual  yang unik, serta mempunyai kegunaan dalam memecahkan masalah belajar pada diri manusia dengan segala kaitannya. Banyak teori-teori yang berasal dari disiplin keilmuan lain yang dipinjam dan diramu menjadi teori baru :

§   Landasan teori dari ilmu perilaku

Lumsdaine (1964,h.373) berpendapat bahwa ilmu perilaku, khususnya teori belajar, merupakan ilmu yang utama untuk memperkembangkan teknologi pembelajaran. Bahkan Deterline (1965,h.407) berpendapat bahwa teknologi pembelajaran merupakam aplikasi teknologi perilaku, yaitu untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistematik guna keperluan pembelajaran. Tujuan perilaku menurut Mager merupakan ciri yang harus ada dalam setiap model pengembangan pembelajaran yang merupakan salah satu bentuk konsepsi teknologi pendidikan.

§   Landasan teori dari ilmu komunikasi

Edgar Dale (1953,h.3) menyatakan bahwa teori komunikasi merupakan suatu metode yang paling berguna dalam usaha meningkatkan efektivitas bahan audiovisual. Hoban (1956,h.9) berpendapat bahwa pendekatan yang paling berguna untuk memahami dan meningkatkan efisiensi bidang audiovisual adalah melalui konsep komunikasi. Orientasi komunikasi ini menyebabkan lebih diperhatikannya proses komunikasi informasi secara menyeluruh. Teori dan model komunikasi telah membawa pengaruh dalam bidang pendidikan atau saling memengaruhi hingga timbul perkembangan berbagai kecenderungan pendidikan.

§   Landasan teori dari disiplin lain

Pada awalnya instrumentasi merupakan ciri utama teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan memang berkembang pada masa yang menurut Eric Ashby disebut revolusi yang ditandai oleh elektronika.  Maka konsepsi teknologi pendidikan sangat dipengaruhi oleh konsepsi di bidang elektronika itu. Karakteristik yang menonjol menurut Finn adalah

 

 

 

 

konsep sistem yang mengkoordinasikan orang-mesin-informasi, adanya informasi untuk pengendalian, dan adanya analisis yang menyeluruh serta perencanaan jangka panjang (Yusufhadi Miarso,2009:111-121).

    Teknologi pendidikan merupakan bidang garapan yang tidak digarap oleh bidang atau disiplin lain. Penggarapan ditopang oleh sejumlah teori, model, konsep, dan prinsip dari bidang dan disiplin lain seperti ilmu perilaku, ilmu komunikasi, ilmu kerekayasaan, teori/konsep sistem, dan lain-lain yang tidak dapat diperinci satu per satu. Penggarapan itu dilakukan dengan sistematik dan sistemik.

    McAshan (1983) mendefinisikan sistem sebagai strategi yang menyeluruh atau rencana dikomposisi oleh satu set elemen yang harmonis, merepresentasikan kesatuan unit, masing-masing elemen mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang logis. Immegart (1972) mengatakan esensi system adalah suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, bagian itu berelasi satu dengan yang lain, serta peduli terhadap konteks lingkungannya (Made Pidarta, 2007:27).

    Kegiatan yang bersistem mengandung dua arti yaitu sistemik atau beraturan dan sistemik atau beracuan pada konsep sistem. Kegiatan yang beraturan adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan yang dilakukan dengan langkah-langkah mengkaji kebutuhan itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merumuskan tujuan, mengidentifikasikan pencapaian tujuan dengan mempertimbangkan kendala yang ada, menentukan criteria pemilihan kemungkinan, memilih kemungkinan yang terbaik, mengembangkan dan menguji cobakan kemungkinan yang dipilih, melaksanakan hasil pengembangan, dan mengevaluasi keseluruhan kegiatan maupun hasilnya. Pendekatan yang sistemik adalah yang memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang menyeluruh (komprehensif) dengan segala komponen yang saling terintegrasi. Keseluruhan itu lebih bermakna dari sekadar penjumlahan komponen-komponen. Tiap komponen mempunyai fungsi sendiri dan perubahan pada tiap komponen akan mempengaruhi komponen lain serta sistem sebagai keseluruhan (http://rosdianablog.blogspot.com/2009/06/landasan teori dan konsep sistem.html).

 

 

 

    Jadi sistem itu memiliki struktur yang teratur. Sistem terdiri dari beberapa subsistem,

setiap subsistem terdiri dari sub-subsistem, selanjutnya setiap sub-subsistem terdiri dari beberapa sub-sub-subsistem, begitu seterusnya sampai bagian itu tidak dapat dibagi lagi yang disebut komponen.

 

Peranan landasan teori dan konsep sistem dalam pendidikan

    Saettler (1968,h.50) menelusuri sejarah teknologi pembelajaran, dan berpendapat bahwa Thorndike (1901) dengan teori psikologi perkembangannya merupakan landasan pertama ke arah teknologi pembelajaran. Tiga dalil utama yang diajukan oleh Thorndike adalah dalil latihan dan ulangan, dalil akibat, serta dalil kesiapan. Selanjutnya kontribusi Thorndike dalam teknologi pembelajaran dengan rumusannya tentang prinsip-prinsip aktivitas diri, minat/motivasi, kesiapan mental, individualisasi, dan sosialisasi. Menurut Rogers dan Kincaid (1981,h.38-39) dalam teori komunikasi konvergensinya tidak membedakan antara sumber dan penerima karena peranan itu dapat berlangsung secara bersamaan pada seseorang dalam suatu konteks komunikasi. Proses itu tidak berlangsung antar individu saja melainkan dalam suatu realitas sosial. Teori ini juga menegaskan bahwa komunikasi itu berlangsung tanpa awal dan akhir, sepanjang manusia sadar akan diri dan lingkungannya. Teori dan model komunikasi tersebut telah membawa pengaruh dalam bidang pendidikan atau saling memengaruhi hingga timbul perkembangan berbagai kecenderungan pendidikan. Kecenderungan itu meliputi :

  1. Pendidikan seumur hidup yang berlangsung sepanjang orang sadar akan diri dan lingkungannya
  2. Pendidikan gerak cepat dan tepat yang lebih mengacu pada kemampuan untuk hidup di masyarakat
  3. Pendidikan yang mudah dicerna dan diresapi
  4. Pendidikan yang menarik perhatian dengan cara penyajian yang bervariasi dan merangsang sebanyak mungkin indera
  5. Pendidikan yang menyebar baik pelayanan maupun peranannya
  6. Pendidikan yang mustari (tepat saat) menyusup tanpa niat sebelumnya yaitu pada saat ada kekosongan pikiran.

Kesemuanya ini merupakan landasan strategis dalam perkembangan teknologi pendidikan. Hoban (1960,h.110) menekankan perlunya konsep sistem dalam pendidikan. Kegunaan konsep sistem adalah gagasan adanya komponen dalam sistem, integrasi diantara komponen itu, dan peningkatan efisiensi sistem (Yusufhadi Miarso,2009:111-121).

    Dengan demikian teknologi pendidikan berusaha mengidentifikasi hal-hal yang belum jelas/belum terpecahkan dan mencari cara baru yang inovatif sesuai dengan perkembangan budaya dan hasrat manusia untuk memperbaiki dirinya. Atas dasar itu perlu diperhatikan serangkaian strategi penelitian. Penelitian itu perlu dilakukan terus menerus dan dipakai sebagai dasar untuk membuat prediksi untuk perkembangan yang akan datang. Penelitian tersebut tidak hanya yang bersifat empirik, melainkan juga penelitian dasar yang menghasilkan sejumlah teori dan model.

    Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan. Sistem didefenisikan sebagai satu keseluruhan dari sejumlah komponen yang saling berhubungan dan berfungsi dalam mengubah masukan (input) menjadi hasil (output) sesuai tujuan yang telah ditetapkan (Dinn Wahyudin,2008:8.4). Tujuan suatu sistem adalah untuk mencapai suatu tujuan (goal) atau mencapai suatu sasaran (objectives). Goal meliputi ruang lingkup yang luas sedangkan objectives meliputi ruang lingkup yang sempit(http://ftsi.files.wordpress.com/2007/09/si-akuntansi.pdf).

    Dengan demikian, sistem merupakan suatu totalitas dari bagian-bagian yang saling berhubungan, dimana fungsi dari totalitas tersebut berbeda dengan jumlah fungsi dari bagian-bagiannya. Contohnya mobil, sepeda motor, komputer, jam tangan, tubuh manusia, organisasi kemahasiswaan, pendidikan, perusahaan, ilmu, filsafat, masing-masing wujud tersebut dapat dipandang sebagai sistem.

    Menurut Gordon B. Davis, William A. Shrode, dan Dan Voich (Tatang M. Amirin, 1996:59-61) jenis-jenis sistem terdiri dari :

  1. Berdasarkan wujudnya, sistem dibedakan menjadi empat jenis yaitu sistem fisik (mobil), sistem konseptual (ilmu), sistem biologi (tubuh manusia), dan sistem sosial (sekolah)
  2. Berdasarkan asal usul kejadiannya, sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem alamiah (tata surya) dan sistem buatan manusia (pendidikan)
  3. Berdasarkan daya gerak yang ada di dalamnya, sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem mekanistik/deterministic (sepeda motor) dan sistem organismik/probabilistic (organisasi)
  4. Berdasarkan hubungan dengan lingkungannya, sistem dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem terbuka (sistem yang berinteraksi dan memiliki ketergantungan kepada lingkungan atau sistem lain yang ada di dalam suprasistemnya, mengambil input dari lingkungannya dan memberikan output kepada lingkungannya dan sistem tertutup (sistem yang tidak berhubungan dengan lingkungan) (Dinn Wahyudin,2008:8.4-8.5).

Ciri-ciri umum suatu sistem adalah :

  1. Merupakan suatu kesatuan atau holistic
  2. Memiliki bagian-bagian yang tersusun sistematis dan berhierarki
  3. Bagian-bagian itu berelasi satu dengan yang lain
  4. Konsem/peduli terhadap konteks lingkungannya (Made Pidarta,2007:28).

    Contohnya balpoin sebagai suatu sistem merupakan suatu kesatuan. Bagiannya terdiri dari tutup dan badan. Badan terdiri dari bagian luar dan isi. Isi terdiri dari buluh, tinta, dan bola/ujung. Bagian-bagian itu adalah bertingkat atau berhierarki dan berelasi satu dengan yang lain. Sedangkan konsep terhadap lingkungan tampak pada badannya yang enak dipegang ketika menulis, bola/ujungnya lancip sehingga tulisan menjadi baik, dan tutupnya diisi cantelan sehingga bisa digantungkan di kantong.

    Suatu sistem biasanya disajikan dalam bentuk model. Menurut Elias M. Awad, model adalah suatu representasi sistem yang nyata atau yang direncanakan. Murdick dan Ross menjelaskan bahwa model merupakan abstraksi realitas, namun karena model tidak mampu menyajikan realitas secara rinci atau detail maka model hanya menyajikan bagian-bagian atau ciri-ciri tertentu yang penting saja dari realitas (Tatang M.Amirin,1996:78). Karhi Nisjar S dan Winardi (1977:65) menjelaskan bahwa salah satu cara menggambarkan sistem adalah dengan menekankan unsur input, proses, dan outputnya (Dinn Wahyudin,2008:8.6).

    Pendidikan merupakan sistem terbuka, sebab tidak mungkin pendidikan dapat melaksanakan fungsinya dengan baik bila ia mengisolasi diri dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan adalah filsafat negara, agama, sosial, kebudayaan, ekonomi, politik, dan demografi. Ketujuh faktor ini merupakan suprasistem dari sistem pendidikan (Made Pidarta,2007,30-31).

    Jadi pendidikan sebagai sistem berada bersama, terikat, dan tertenun di dalam suprasistemnya yang terdiri dari tujuh sistem tersebut di atas. Berarti membangun suatu lembaga pendidikan baru atau memperbaiki lembaga pendidikan lama, tidak dapat memisahkan diri dari suprasistem tersebut.

    Pendidikan dapat didefenisikan sebagai keseluruhan yang terpadu dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu dalam rangka membantu anak didik agar menjadi manusia terdidik sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Ditinjau dari asal usul kejadiannya, pendidikan tergolong kepada sistem buatan manusia   (a man            made system); ditinjau dari wujudnya, pendidikan tergolong kepada sistem sosial, sedangkan jika ditinjau dari hubungan dengan lingkungannya pendidikan merupakan sistem terbuka (Dinn Wahyudin,2008:8.7).

    Setelah membahas pendidikan sebagai sistem di tengah-tengah suprasistemnya, pembahasan dilanjutkan dengan lembaga pendidikan sebagai sistem. Sistem sekolah atau perguruan tinggi dalam garis besarnya terdiri dari subsistem-subsistem tujuan, manajemen, prosesing peserta didik, dan lingkungan. Selanjutnya system lembaga atau organisasi pendidikan bila ditinjau dari instrument untuk memproses peserta didik memiliki subsistem dan sub-subsistem sebagai berikut :

  1. Subsistem perangkat lunak yang mencakup :
    1. Sub-subsistem manajemen
    2. Sub-subsistem struktur
    3. Sub-subsistem teknik
    4. Sub-subsistem bahan pelajaran
    5. Sub-subsistem informasi
  2. Subsistem perangkat keras yang mencakup :
    1. Sub-subsistem prasarana seperti jalan, lapangan olahraga, dan halaman sekolah
    2. Sub-subsistem sarana/fasilitas seperti gedung, laboratorium, perpustakaan, media pendidikan, alat-alat belajar, dan alat-alat peraga
    3. Sub-subsistem biaya
    4. Sub-subsistem orang mencakup pengelola, pengawas, pendidik, pembimbing, dan tenaga-tenaga penunjang pendidikan lainnya.

Sistem manajemen mencakup subsistem-subsistem struktur, teknik, personalia, informasi, dan lingkungan. Pendidikan sebagai sistem adalah sistem pengembangan input menjadi output atau pengembangan peserta didik baru masuk sampai lulus adalah

  1. Subsistem input : peserta didik yang baru masuk
  2. Subsistem proses : proses belajar mengajar
  3. Subsistem output : lulusan lembaga pendidikan itu

Bila proses belajar mengajar dipandang sebagai sistem , maka subsistem-subsistemnya adalah bahan pelajaran, metode belajar mengajar, alat belajar/alat peraga/media belajar, lingkungan/iklim belajar, manajemen/administrasi kelas, para siswa/mahasiswa, pendidik, pengawas, dan evaluasi/umpan balik (Made Pidarta,2007:32-34).

    Philip H.Coombs (Depdikbud, 1984/1985:68) mengidentifikasi adanya 12 komponen pokok sistem pendidikan yaitu :

  1. Tujuan dan prioritas, fungsinya untuk mengarahkan kegiatan sistem
  2. Anak didik, fungsinya belajar hingga mencapai tujuan pendidikan
  3. Pengelolaan, fungsinya merencanakan, mengkoordinasikan, mengarahkan, dan menilai sistem
  4. Struktur dan jadwal, fungsinya mengatur waktu dan mengelompokkan anak didik berdasarkan tujuan tertentu
  5. Isi/kurikulum, fungsinya sebagai bahan yang harus dipelajari anak didik
  6. Pendidik/guru, fungsinya menyediakan bahan, menciptakan kondisi belajar, dan menyelenggarakan pendidikan
  7. Alat bantu belajar, fungsinya memungkinkan proses belajar mengajar menarik, lengkap, dan bervariasi
  8. Fasilitas, fungsinya sebagai tempat terselenggaranya pendidikan
  9. Teknologi, fungsinya mempermudah atau memperlancar pendidikan
  10. Pengawasan mutu, fungsinya membina peraturan dan standar pendidikan
  11. Penelitian, berfungsi mengembangkan pengetahuan, penampilan sistem, dan hasil kerja sistem
  12. Biaya, berfungsi sebagai petunjuk efisiensi sistem

Dalam sistem pendidikan terjadi proses transformasi yaitu proses mengubah raw input (anak didik) agar menjadi manusia terdidik sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, semua komponen pendidikan melaksanakan fungsinya masing-masing dan berinteraksi satu sama lain yang mengarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Adapun output atau hasilnya adalah manusia terdidik yang diperuntukkan bagi masyarakat atau sistem lain yang berada di dalam suprasistem. Dalam sistem pendidikan terdapat komponen pengawasan mutu atau kontrol kualitas.Pelaksanaan fungsi komponen ini akan menghasilkan umpan balik yang digunakan untuk melaksanakan koreksi untuk proses transformasi berikutnya. Dengan adanya kontrol kualitas yang menghasilkan feedback untuk melakukan perbaikan dalam proses transformasi berikutnya, ini diharapkan agar sistem pendidikan mampu mempertahankan eksistensi dan meningkatkan prestasinya (Dinn Wahyudin, 2008:8.9-8.10).

    Jadi makna memandang pendidikan sebagai sistem adalah dalam menangani pendidikan, baik mempertahankan yang sudah ada, memperbaiki , maupun mengadakan sesuatu yang baru hendaklah memperhatikan bagian-bagiannya atau semua subsistemnya secara berimbang atau proporsional. Hanya dengan cara ini perbaikan dan kemajuan pendidikan diharapkan tercapai.

                           

C.Kesimpulan

    Teknologi pendidikan dapat membuktikan dirinya sebagai suatu bidang garapan khusus, yang mempunyai teknik intelektual yang unik serta mempunyai kegunaan dalam memecahkan masalah belajar pada diri manusia dengan segala kaitannya. Banyak teori-teori yang berasal dari disiplin keilmuan lain yang dipinjam dan diramu menjadi teori baru antara lain :

§   Landasan teori dari ilmu perilaku : untuk menghasilkan perilaku tertentu secara sistematik guna keperluan pembelajaran

§   Landasan teori dari ilmu komunikasi : untuk memahami dan meningkatkan efisiensi bidang audiovisual

§   Landasan teori dari disiplin lain (misal ilmu elektronika) : untuk mengkoordinasikan orang-mesin-informasi, adanya informasi untuk pengendalian, dan adanya analisis yang menyeluruh serta perencanaan jangka panjang.

    Esensi system adalah suatu keseluruhan yang memiliki bagian-bagian yang tersusun secara sistematis, bagian itu berelasi satu dengan yang lain, serta peduli terhadap konteks lingkungannya.

    Pendidikan merupakan keseluruhan yang terpadu dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan melaksanakan fungsi-fungsi tertentu dalam rangka membantu anak didik agar menjadi manusia terdidik sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Ditinjau dari asal usul kejadiannya, pendidikan tergolong kepada sistem buatan manusia; ditinjau dari wujudnya, pendidikan tergolong kepada sistem sosial; ditinjau dari hubungan dengan lingkungannya, pendidikan merupakan sistem terbuka.

D.Daftar Pustaka

1.  Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya, Jakarta : 

     Rineka Cipta, 2008                                        

2.  Dinn Wahyudin, Pengantar Pendidikan, Jakarta : Universitas Terbuka, 2008

3.  Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan, Semarang : RaSAIL Media Group, 2008

4.  Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2007

5.  Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta : Kencana        

     Prenada Media Group, 2009

6.http://rosdianablog.blogspot.com/2009/06/landasan teori dan konsep sistem.html

7.http://ftsi.files.wordpress.com/2007/09/si-akuntansi.pdf