Pengelompokan alat ukur

Kategori: EVALUASI
Diposting oleh ega pada Jumat, 21 September 2012
[132 Dibaca] [2 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

PENGELOMPOKKAN ALAT UKUR (TES DAN NON TES)
A.    TES

Pengertian Tes
Proses atau kegiatan untuk menilai sesuatu merupakan pengertian sederhana dari evaluasi, untuk dapat menenetukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, dilakukanlah pengukuran, dan wujud pengukuran itu adalah pengujian. Pengujian dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes. Dalam bahasa Inggris tes ditulis test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “ujian” atau “percobaan”. Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian (Sudijono, 2011:66).
Adapun dari segi istilah, menurut Anne Anastasi (dalam Sudijono, 2011:66) yang dimaksud dengan  tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu, sedangkan Menurut F.L. Goodenough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu dengan yang lain. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan tes adalah cara atau prosedur dalam  rangka penilaian atau pengukuran dalam bidang pendidikan yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas sehingga dari hasil pengukuran tersebut diperoleh nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi objek peniliaian, lalu nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai standar tertentu.
Berdasarkan Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.
    Secara umum ada beberapa macam fungsi tes  di dalam dunia pendidikan , yaitu :
1.    Tes dapat berfungsi sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa dan juga sebagai alat untuk mengukur keberhasilan program pengajaran.
2.    Tes berfungsi sebagai motivator dalam pembelajaran.
3.    Tes dapat berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran.
Dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran ada tiga jenis tes yang perlu dibahas yaitu tes penempatan, tes diagnosis, dan tes formatif. Tes formatif adalah penilaian tentang prestasi siswa, yang terintegrasi dalam rencana pelajaran. Tes formatif dilakukan pada setiap periode waktu tertentu dan digunakan untuk memonitor kemajuan siswa. Tujuan tes formatif  adalah untuk membantu siswa dan guru dalam proses belajar mengajar pada materi-materi yang khusus (tertentu) sehingga siswa mempunyai penguasaan yang tuntas (mastery). Berdasarkan bentuknya tes formatif dapat dibagi menjadi dua yaitu : (i) tes uraian/subjektif dan (ii) tes objektif.
Menurut Widoyoko (2009:46) bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dilihat dari segi sistem penskorannya dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Kedua tes tersebut merupakan bagian dari tipe evaluasi yang direalisasiskan dalam bentuk tes tertulis (Sukardi, 2008:11).
Secara umum  tes objektif terdiri dari tiga tipe, yaitu: (1) benar salah (true false); (2) menjodohkan (matching); (3) pilihan ganda (multiple choice). Tes subjektif terdiri dari bentuk, yaitu : (1) tes uraian bebas (extended response test); (2) tes uraian terbatas (restricted response test). Pengelompokkan tes subjektif tersebut didasarkan pada kebebasan peserta untuk menjawab soal tes uraian.
Baik tes objektif maupun subjektif keduanya memilki kelebihan dan kekurangan, hal ini dipengaruhi oleh karakteristik dan cakupan materi yang digunakan dalam tes tersebut. Sebagai contoh : kelebihan tes objektif adalah  lebih refresentatif mewakili isi dan luas bahan, mudah dan cepat dalam hal memeriksanya, tidak ada unsur subjektif. Tetapi pada saat yang sama memilki kekurangan diantaranya: membutuhkan persiapan yang lebih sulit daripada soal tes uraian, memungkinkan siswa berspekulasi ketika menjawab dan kerja sama antar siswa pada saat  tes lebih terbuka. Sedangkan  tes subjektif memiliki kelebihan diantaranya: dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan ide/gagasannya, dan tidak banyak kesempatan untuk berspekulasi dalam menjawab. Sedangkan beberapa kekurangannya adalah : tingkat reliabilitas rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa jawaban, dan jawaban peserta kadang disertai dengan karangan yang tidak sesuai dengan jawaban dimaksud.
Tes Objektif memberi peluang bahwa siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama, sedangkan  tes subjektif adalah tes yang pada umumnya berbentuk uraian yang penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor disamping jawaban maupun respon yang diberikan peserta tes dengan kata lain jawaban yang sama dapat memiliki skor yang berbeda,  butir-butir tes uraian sangat efektif mengukur hasil belajar tingkat yang tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan bentuk tes uraian/subjektif  yaitu :
1.    Dari segi isi yang diukur hendaknya ditentukan dengan jelas abilitasnya (pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis dari suatu permasalahan, dan aspek kognitif lainnya).
2.    Dari segi bahasa, gunakan bahasa yang baik dan benar, sederhana, singkat, jelas apa yang hendak ditanyakan.
3.    Dari segi teknis penyajian soal, jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama. Perhatikan waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal tersebut. Bedakan bobot penilaian untuk setiap soal disesuaikan dengan tingkat kesukaran soal.
4.    Dari segi jawaban, setiap pertanyaan yang hendak diajukan sebaiknya telah ditentukan jawaban yang diharapkan atau dengan kata lain adanya satu jawaban yang benar.
 Menurut Sudijono (2011:67) sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan. Jika penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik, maka tes dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu : (1) tes seleksi; (2) tes awal; (3) tes akhir; (4) tes diagnostik; (5) tes formatif dan (6) tes sumatif. Jika penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap, maka tes dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu: (1) tes intelegensi (intellegency test); (2) tes kemampuan (aptitude test); (3) tes sikap (attitude test); (4) test kepribadian (personality test) dan (5) tes hasil belajar (achievement test). Adapun penggolongan tes lain yang berdasarkan banyaknya yang mengikuti tes (individual/ grup), waktu yang disediakan (tidak terbatas/cepat), bentuk respon (verbal/non verbal) maupun cara mengajukannya (tertulis/lisan) merupakan penggolongan tes lain-lain.
Dalam pengukuran pada umumnya menggunakan teknik tes, tetapi teknik tersebut bukan satu-satunya cara yang dapat ditempuh sebab masih ada cara melakukan pengukuran tanpa harus melakukan pengujian berupa tes, yaitu dengan teknik nontes. Dengan teknik non tes maka penilaian peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan dalam bentuk pengamatan secara sistematis (observation), wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis). Teknik non tes pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap hidup (affective) dan keterampilan (psychomotoric), sedangkan teknik tes digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah proses berpikirnya (cognitive).
Berdasarkan uraian mengenai teknik-teknik dalam melakukan evaluasi, pemilihan teknik tes harus mempertimbangkan sistem penskoran yang akan digunakan, fungsi tes sebagai alat ukur, waktu yang tersedia, responden yang akan dihadapi serta bagaimana cara mengajukannya. Dengan demikian evaluasi yang kita lakukan bisa mengungkap informasi yang dibutuhkan dalam rangka ketercapaian tujuan pembelajaran.
B.    NON TES
Tehnik penilaian non tes berarti tehnik penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tehnik  penilaian ini umum nya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Penilaian non tes diantaranya adalah angket (kuisioner), observasi, wawancara, sosiometri, checklist, concept map, portofolio, student jurnal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya.
1.    Angket
Adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang dikirimkan ke responden untuk mengungkap pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri responden sendiri maupun diluar dirinya. (Arikunto, 1988:77)
Berdasarkan jenis data, angket dibagi menjadi :
1)    Angket langsung
Yaitu mengungkap diri orang yang menjawab.
2)    Angket tidak langsung
Yaitu mengungkap orang lain yang menjawabnya diutarakan oleh orang yang mengisi angket, misalnya informasi tentang anak kecil angket diberikan kepada Bapak atau ibunya.
Sebelum angket digunakan, angket harus diujicobakan terlebih dahulu kepada subjek yang mempunyai ciri-ciri dan karakteristik yang sama dengan subjek yang akan dijadikan responden penelitian. Kegiatan uji coba menurut Arikunto (1988:79) dimaksudkan untuk :
1)    Mengetahui apakah rumusan kalimat yang ada dalam angket sudah cukup dipahami (tidak membingungkan).
2)    Mengetahui cara mengadministrasikannya dengan tepat (misal : Bagaimana teknik menyampaikan, berapa lama waktu pengisian, dan sebagaimnya).
3)    Mengetahui apakah-apakah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam angket cukup lengkap atau perlu ditambah sehingga memperjelas data.
4)    Mengetahui reaksi responden terhadap pertanyaan angket atau kesediaan untuk mengembalikan, dan sebagainya yang bersifat meningkatkan kualitas perolehan data penelitian.

2.    Wawancara (Interview)
Diawali dengan menyusun pedoman wawancara atau check-list sesuai dengan data yang akan dikumpulkan. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat harus sesuai  dengan permasalahan. Pada saat wawancara sebaiknya menggunakan alat perekam (tape recorder), karena untuk menghindari :
1)    Ketidaklengkapan data yang disebabkan oleh faktor lupa.
2)    Jika ada jawaban yang terlewat atau belum ditanyakan, segera mengulangi wawancara.
Keuntungan wawancara menurut Arikunto (1988:81) dibandingkan angket adalah jawaban yang diberikan oleh responden tidak mungkin berbentuk “tidak tahu” karena pewawancara dapat mengejar atau memaksa (dengan cara halus) responden agar mau menjawab pertanyaan dan memberikan informasi yang diperlukan.
3.    Pengamatan (Observasi)
Observasi menurut Wardhani adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara mencatat hasil pengamatan terhadap objek tertentu. Teknik penilaian observasi digunakan biasanya pada saat menggunakan penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian produk, portofolio, dan penilaian afektif.
Ditinjau dari cara pencatatannya, pengamatan menurut Arikunto (1988:86) ada empat macam, yaitu :
1)    Pencatatan dengan jangka waktu
Menggunakan alat pencatat waktu misalnya stop watch. Pengamat harus menunggu sampai selesai tugas yang diberikan dan dihitung reliabilitas pencatatan waktu dari dua pengamat dalam waktu yang berbeda.
2)    Pencatatan penghitungan frekuensi
Mencatat munculnya kejadian yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Biasanya pengamat menggunakan tally (jari-jari hitungan).
3)    Pencatatan dengan interval
Dilakukan oleh pengamat untuk melakukan pengamatan terhadap sejumlah kejadian dalam interval waktu tertentu. Interval pengamatan dilakukan, merentang antara sepuluh detik samapai satu menit.
4)    Pengamatan terus-menerus
Pada pengamatan ini menuliskan semua kejadian yang muncul pada subjek atau sekelompok subjek dalam satu penggalan waktu tertentu, misalnya satu jam pelajaran disuatu kelas. Pengamat membuat catatan kejadian secara kronologis dan rinci, termasuk narasi yang terjadi.
Pada pengamatan proses yang sudah diketahui pemunculannya ini pengamat mengadakan pengecekan dan penilaian dengan maksud antara lain :
a)    Muncul tidaknya sesuatu peristiwa, kegiatan atau kejadian.
b)    Berapa kali (frekuensi) munculnya peristiwa, kegiatan atau kejadian tersebut dalam kurun waktu (penggalan waktu) tertentu.
c)    Berapa lama munculnya peristiwa, kegiatan atau kejadian dimaksud.
d)    Urutan pemunculan suatu peristiwa, kegiatan atau kejadian dibandingkan atau dihubungkan dengan pemunculan peristiwa, kegiatan atau kejadian lain.
e)    Kualitas setiap pemunculan peristiwa, kejadian atau kegiatan ditinjau dari ukuran yang seharusnya.

4.    Dokumentasi
Metode dokumentasi mirip dengan pengamatan dan alat yang digunakan adalah check-list (daftar) atau pedoman pengamatan. Dalam dokumentasi yang diamati adalah dokumen. Data yang terkandung dalam dokumen dapat digali, dicacah, dikumpulkan dengan menggunakan daftar centang ataupun pedoman dokumentasi seperti halnya pengamatan
 
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1988. Penilaian Program Pendidikan. Jakarta : PT Bina Aksara.
Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta. Depdiknas.
Putri, Ratu Ilma Indra. 2010. Assessment Mathematics Education.  Palembang. UNSRI
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya.Jakarta. Bumi Aksara.
Wardhani, Sri. 2012. Penilaian Hasil Belajar Matematika. Yogyakarta : PPPPTK Matematika
Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

21 September 2012 pukul 09:29 WIB
Lisnanipcmtk mengatakan...
Asikkkk dapat bahan hehehhee....Horeee...

21 September 2012 pukul 09:04 WIB
Gustina mengatakan...
ada contoh cara perhitungan untuk alat ukur Tes nya gak?


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion