Bung Hatta: Kepala Keluarga, Pemimpin Rumah Tangga

Kategori: Bung Hatta
Diposting oleh ditalia pada Senin, 24 Oktober 2011
[305 Dibaca] [3 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

Kesan apa yang Anda miliki tentang Bung Hatta, ayah Anda? Pesan-pesan apa yang beliau berikan kepada Anda? Dua pertanyaan itu amat sering ditanyakan kepada saya hampir tiap tahun oleh insan pers, menjelang peringatan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, karena hanya pada saat itulah, di sepanjang tahun, nama Bung Hatta sering disebut-sebut orang. Sekaligus tampak di sini bahwa insan pers masa kini pun, yang umumnya masih berusia muda, tidak banyak tahu tentang proklamator kemerdekaan Indonesia, sehingga hanya mengajukan pertanyaan yang umum dan senada saja sebagai materi wawancara. Namun saya maklum, publikasi tentang Bung Hatta memang amat langka diperoleh sejak sekitar tiga dasawarsa terakhir.

Sejumlah orang muda yang belum lahir atau masih kecil ketika Bung Hatta wafat mengatakan kepada saya bahwa yang mereka dengar, Bung Hatta itu pendiam, kaku, tidak mudah dipahami, tidak humoris, dan kutu buku. Lalu bagaimana saya melihat ayah saya, Bung Hatta dalam posisinya sebagai kepala keluarga kami?

Memang betul, Bung Hatta terkesan pendiam dan kaku. Namun mungkin yang lebih tepat adalah, ia hemat bicara, yang selalu memilih kata-kata yang singkat, tetapi padat isinya jika berbicara. Hanya orang-orang yang sempat mengenalnya secara akrab saja yang bisa mengatakan bahwa Bung Hatta sebetulnya bukan orang yang pendiam dan kaku. Sebagai anak, saya melihatnya sebagai ayah yang berwibawa tetapi penuh kasih-sayang. Kewibawaan Ayah terasa khas, munculnya tidak dibuat-buat, yang sekedar untuk menunjukkan otoritas seorang Ayah kepada anaknya. Sebaliknya, kewibawaan memang sudah terbentuk dalam dirinya. Jika kini istilah “inner beauty” makin sering terdengar, saya dan kedua adik saya, Gemala dan Halida, dari kecil telah merasakan kewibawaan yang memancar dari dalam diri Ayah kami secara alamiah. Menurut saya, sifat semacam ini merupakan anugerah khusus dari Tuhan, karena tidak banyak orang yang memilikinya. Karena kewibawaannya itu kami bertiga selalu merasa hormat kepada beliau, tidak berani memeluk Ayah semaunya, meskipun suasana hati tetap akrab dan penuh kasih-sayang.

Curahan rasa kasih sayang pun terasa unik, karena Ayah bukan orang yang suka memuji, membelai, atau menyanjung kami berkepanjangan, apalagi bercanda ria seperti kebanyakan ayah masa kini terhadap anak-anaknya. Sebaliknya, kami merasakan kasih sayang itu melalui tutur katanya yang lembut jika berbicara kepada kami, bahkan sejak kami masih kanak-kanak, Ayah tidak pernah menyapa kami dengan sebutan “kamu”, melainkan dengan nama. Misalnya, “Meutia sudah membaca tulisan ini?” atau , “Gemala, di mana Gemala letakkan buku tadi?” Bahasa Indonesia yang digunakan adalah Bahasa Indonesia standar, tanpa kata-kata nggak, dong, deh, gitu, atau semacamnya. Mungkin ini pula yang menyebabkan nilai Bahasa Indonesia kami bertiga di sekolah 8 atau 9, karena kami terbiasa mendengar ayah menggunakan Bahasa Indonesia standar. Maka kalau sekali-kali terdengar ucapan “dong” mewarnai ucapannya, itu pasti karena bergurau, dan kami semua tertawa, karena tidak sari-sarinya beliau menggunakan seperti itu.

Pancaran kasih sayang terlihat pada mata dan senyumnya yang khas. Meskipun tidak suka melawak, sifat humorisnya ada, dan komentar-komentarnya sering membuat ibu dan kami bertiga tertawa geli. Misalnya ketika bola lampu di villa kami di Megamendung hilang, padahal seminggu sebelumnya sudah dilengkapi oleh Ibu, Ayah bertanya kepada penjaga villa. “Mana bola lampunya? Dimakan kucing?” Pertanyaan ini muncul karena sebelumnya si penjaga villa memberikan alasan yang tak logis ketika ada barang lain yang “menghilang”. Kami tersenyum mendengarnya. Namun ketika di luar dugaan, jawaban sang penjaga villa adalah “ya” (mungkin karena bingung), maka meledaklah tawa kami. Itu pun hanya sebentar karena segera Ayah menyetop kami agar tidak keterusan mengolok-olok si penjaga villa kami, karena meskipun orang kecil, dia adalah orang tua yang harus dihargai oleh kami yang masih kanak-kanak dan remaja.

Rasa kasih sayang inilah yang menyebabkan kami selalu merasa janggal dan sepi jika Ayah sedang bepergian ke luar kota selama beberapa hari. Keberadaan Ayah di rumah membuat kami dan ibu merasa terlindung, walaupun kami berada di kamar yang berbeda, masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Kehilangan yang sama juga terasa oleh para pembantu rumah tangga kami, apalagi Bung Hatta sedang bepergian. Bagi mereka, Ayah bukan saja majikan, melainkan juga tempat mereka memperoleh ketentraman. Lebih dari itu, kecintaan kepada Ayah terbawa hingga masa sesudah beliau wafat. Itulah mungkin, mengapa sebagian dari mereka tetap tinggal atau bekerja di rumah peninggalan Ayah Jalan Diponegoro 57, Jakarta, hingga kini. Salah satunya, Pak Andono, yang bekerja sejak tahun 1958, sampai hari ini masih tetap membersihkan ruangan kerja dan buku-buku Bung Hatta setiap hari, sama seperti ketika beliau masih hidup. Padahal, Ayah telah 22 tahun meninggalkan kami semua.

Dalam rumah tangga, kami hidup dalam Indonesia kecil. Ayah orang Minangkabau. Ibu lahir dari Ayah yang Jawa dan Ibu yang Aceh. Sekretaris pribadi Bung Hatta, Pak Wangsa orang Sunda yang Islam dan Oom Hutabarat adalah orang Batak yang Kristen. Dulu pustakawan Ayah orang Ambon yang Kristen. Di “barisan belakang”, sopir orang Betawi, sedangkan para pembantu orang Jawa dan Sunda. Bung Hatta juga pernah mempunyai “anak angkat” dari Aceh bernama Banta Sidi, dari Sangir Talaud bernama Gemma Kansil-Pontoh dan dari Banda Naira bernama Des Alwi. Kami tidak membedakan mereka atas dasar suku bangsa atau agama, karena dasar hubungan kami adalah hubungan antar-personal, lepas dari atribut agama dan suku bangsa.

Sejak mudanya, Bung Hatta berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dan untuk kemajuan tanah air dan bangsanya. Karena perjuangan kemerdekaan itu pula, Bung Hatta bersumpah takkan menikah sebelum Indonesia merdeka, sehingga baru pada usia 43 tahun, tepatnya pada tanggal 18 November 1945, beliau menikah. Itu pun karena dijodohkan oleh Bung Karno dengan Rachmi Rachim (ibu saya), yang saat itu berusia 19 tahun, putri sulung Bapak dan Ibu Abdul Rachim, teman baik Bung Karno. Bung Karno mengenal ibu saya itu sejak ia masih menjadi gadis kecil.

Bagi kami, Ayah dan Ibu mejadi satu tim pendidik yang saling melengkapi. Kalau Ayah lembut dan hampir tak pernah marah, ibu sering bersikap keras dalam mendidik kami. Ibu pasti marah kalau kami datang meminta tanda tangan karena nilai ulangan jelek. Namun bukan berarti kami mudah mencari perlindungan kepada Ayah untuk menghindar dari sikap ibu yang galak. Ayah akan menjelaskan, kenapa ibu marah, apa salah kami, dan minta kami memperbaiki diri. Kalau pun Ayah tidak setuju dengan cara keras ibu mendidik kami, Ayah tak mengkritiknya langsung. Mereka kemudian bisa berargumentasi keras tentang hal itu, tetapi tidak di muka anak-anak. Ayah benar-benar menjaga ibu, meski usia ibu 24 tahun lebih muda dari Ayah.

Ibu juga merupakan pribadi unik. Pertama kali Ibu muncul di masyarakat sebagai istri Ayah, sehingga identitas dan citranya terkait dengan nama besar Bung Hatta. Namun melalui pengalaman hidupnya hingga akhir hayatnya, ibu telah membuktikan bahwa beliau bukan sekadar pendamping Ayah, melainkan Ibu Rahmi Hatta yang mempunyai nama dan tempatnya sendiri di hati orang Indonesia. Segala nuansa pengalaman hidupnya telah membentuknya untuk menjadi figur tersendiri dalam periode sejarah Indonesia yang memunculkan nama dan peranan Hatta. Salah satu bentuk keteguhan prinsip ibu adalah tidak menghalangi Ayah, yang demi prinsipnya, mundur dari jabatan Wakil Presiden RI, yang amat dihormati orang pula. Ibu tegar menghadapi kehidupan yang sulit dengan pensiun Ayah yang kecil, padahal usianya baru 30 tahun. Umumnya istri-istri pejabat, pada usia sekian, enggan suaminya meletakkan jabatan dan meninggalkan fasilitas dan penghormatan formal dari orang banyak, apalagi berhentinya bukan karena dipecat! Ibu tetap tegar waktu di suatu periode yang cukup lama, sebagian dari pejabat dan handai-tolan “takut” bertemu Ayah, kuatir dicap “berseberangan” dengan Bung Karno jika mereka kelihatan dekat dengan Bung Hatta.

Ibu adalah istri yang mampu menjaga citra, harkat, dan martabat suami dengan mengasah pengetahuan dan gaya hidupnya hingga mencapai taraf yang canggih. Setelah Ayah wafat, ibu tetap menjadi tiang keluarga dalam menjaga hati nurani, prinsip dan martabat Bung Hatta. Membandingkan kehidupan kami dengan keluarga pejabat lain yang berkelimpahan dengan kemewahan, ibu hanya berkata, “kita sudah cukup hidup begini, yang kita miliki hanya nama baik, itu yang harus kita jaga terus”. Mengapa ibu dapat menjadi seperti itu, tak lain karena kewibawaan Ayah yang diselubungi kasih sayang, yang membuat ibu, sepeninggal Ayah, sampai akhir hayatnya dapat terus-menerus membimbing kami agar tetap berada dalam jalur prinsip hidup Ayah.

Pendidikan memang penting dalam keluarga, meskipun demikian, pendidikan yang utama adalah pendidikan untuk menjadi bagian dari masyarakat dan lingkungan. Tak ada gunanya nilai bagus terus di rapor, kalau di luar sekolah kami tidak tanggap tentang “dunia dan isinya”. Karena itu, pergi ke villa Megamendung bukanlah sekedar melancong, melainkan untuk mendidik kami agar bisa menikmati keindahan alam, melihat isi alam tumbuh dan berkembang, mulai dari bunga-bunga, hewan peliharaan (ikan-ikan di kolam), kebun teh dan cara hidup dan bekerjanya orang desa. Sambil jalan-jalan di kebun teh, kami dapat menyaksikan, bagaimana pemetik teh bekerja. Melewati sawah, kami melihat, bagaimana petani mencangkul dan menanami sawahnya. Mungkin ini pula yang menyebabkan Halida begitu prihatin melihat bahwa 57 tahun setelah Indonesia merdeka, pendidikan belum berhasil membuat orang Indonesia tanggap lingkungan, menjaga kebersihan dan hidup menurut aturan. Di lingkungan masyarakat yang kompleks ataupun terpencil, sifat-sifat seperti ini masih tetap saja ditemukan.

Di rumah, kami dididik untuk hidup teratur menurut jadwal, berpakaian sesuai tempat dan acaranya, dan tetap ada imbangan antara menjalankan kewajiban dunia dan akhirat, antara adat-istiadat dan agama. Di sekolah kami belajar ilmu pengetahuan, di rumah kami belajar mengaji, membaca Al-Quran, dan shalat. Kehidupan rutin dan teratur ini dijalankan dalam kegiatan menerima tamu, belajar, makan bersama orang tua, dan rekreasi bersama pada akhir minggu di villa Megamendung, tempat Ayah dan Ibu menikah di bulan November 1945.

Kami melihat bahwa Ayah menerapkan disiplin kepada kami sesudah beliau mendisiplinkan dirinya sendiri dalam mengatur jadwal kegiatan tiap hari yang rutin maupun tidak rutin. Yang juga penting, beliau selalu “sama kata dengan perbuatan”. Maka apabila Ayah mengatakan, “Jangan membaca sambil berbaring”, beliau memang tidak pernah satu kali pun melakukannya sendiri. Jika mengatakan agar kami menaruh barang di tempatnya, beliau pun sudah lebih dahulu memberi contoh demikian. Kalau beliau mengingatkan, “makanlah dengan rapi dengan sendok-garpu secara benar”, itulah pula yang lebih dulu ditunjukkannya.

Karena sifat santunnya, cara menegur kami yang belum bisa makan dengan rapi pun khusus, yaitu dengan komentar dan senyum, “Kalau cara makannya seperti itu, tidak bisa Meutia (atau Gemala, atau Halida) makan dengan Eisenhower.” “Seperti itu” berarti cara memegang sendok-garpu salah, atau sendok-garpu beradu keras dengan piring sehingga berisik. Lalu, memotong daging harus dengan pisau, tak boleh dengan sendok, dan saat menyuap nasi ke mulut, siku tak boleh terangkat ke atas, “seperti bangau yang sedang terbang tinggi”. Kalau sedang mengunyah, tak boleh bicara. Sekaligus anak-anak belajar mengenai siapa Eisenhower (Presiden AS saat itu), dan tata cara makan orang Barat. Bahkan kami belajar dari Ayah, bagaimana makan durian dengan pisau dan garpu. Ternyata bisa juga, dan untungnya, tangan tetap bersih pula!

Disiplin memenuhi jadwal rutin, seperti makan siang dan makan malam, tidak menjadikan beban karena acara itu selalu diisi dengan kegiatan yang bermutu. Makan bersama terasa menyenangkan, karena selain bisa berkumpul, kami biasa membicarakan berbagai macam persoalan, dari teman, pelajaran sekolah hingga berita koran dan TV tentang keadaan ibukota atau negara saat itu. Namun kadang-kadang Ayah tak mendengarkan kami bila topik beralih kepada urusan baju, aksesoris, atau urusan wanita lainnya. Beliau sibuk dengan pikirannya sendiri sambil makan. Sementara kami makan siang atau malam, kucing-kucing peliharaan kami sudah duduk dengan rapi dan diam disamping kursi makan Ayah. Begitu selesai makan, Ayah mempersiapkan piring-piring untuk diisi nasi dan daging giling bagi si kucing-kucing. Begitu Ayah bangkit dari kursi makannya, larilah mereka ke dekat meja telpon, karena di situlah Ayah menaruh piring-piring makan bagi kucing-kucingnya. Kata Gemala, “Di rumah kita, kucing-kucing pun ikut disiplin”.

Kami juga dibiasakan terlibat dalam pergaulan orang tua kami dan sejak kecil terbiasa untuk menjadi tuan-rumah kecil dalam acara-acara open house di rumah, saat Idulfitri atau ulang tahun Ayah dan Ibu. Ini telah berlangsung sejak kami masing-masing masih kecil. Kami juga terbiasa mengantar tamu pulang hingga di pintu depan, ketika mereka masuk mobil. Karena itu saya bersyukur bahwa jika membaca nama-nama pelaku sejarah di buku-buku sejarah, saya bukan saja mengenal mereka, melainkan juga mampu mengenang mereka sebagai teman Ayah dan Ibu, lengkap dengan ingatan mengenai gaya bicara mereka, atau pengalaman khusus tertentu. Karena itu pula maka lama setelah Ayah meninggal pun, kami masih tetap bisa menjalin silaturahmi dengan teman-teman beliau. Di kala orang tua, kakek-nenek, paman, dan bibi kami sendiri sudah meninggal, kami masih memiliki mereka sebagai sesepuh yang dihormati dan menjadi tempat bertanya.

Bagaimana dengan karir? Belum lama ini, ketika saya dan Halida mencoba memahami hakikat kehidupan rumah tangga kami, sampailah kami pada kesimpulan bahwa Ayah membedakan antara kehidupan di luar rumah tangga, yaitu untuk perjuangan kemerdekaan dan kemajuan Indonesia, dengan kehidupan di dalam rumah tangga. Perjuangannya di luar rumah sudah jelas tertera dalam sejarah. Sebaliknya membangun keluarga bagi Bung Hatta adalah membangun karakter manusia, anak-istrinya sendiri, yang dilandasi kasih sayang. Karena itu kami masing-masing dididik untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri, dengan pilihan karirnya sendiri. Landasannya cuma satu, yakni harus tetap taat pada tatacara dan prinsip-prinsip yang telah diletakkan dasarnya oleh orangtua kami.

Dengan kata lain, Bung Hatta mendidik kami untuk menjadi manusia yang baik, bukan menjadi tokoh politik, sebagaimana beliau dulu terjun ke bidang politik. Karena itu pula perjalanan karir kami berbeda dengan perjalanan karir Indira Gandhi yang sudah dipersiapkan ayahandanya, P.M. Nehru, atau Benazir Bhutto yang dipersiapkan ayahandanya, P.M. Ali Bhutto. Mereka masing-masing membangun karir politik, lewat pendidikan formal di bidang politik, kemudian menjadi tokoh politik dan pemimpin negara ketika kesempatannya masing-masing sudah tiba. Andaikata waktu itu di antara kami ada yang ingin menjadi tokoh politik, itu haruslah atas kemauan diri sendiri, dan ayah akan memberikan jalannya melalui pendidikan yang sesuai maupun nasihat.

Meskipun tidak menetapkan harus menjadi ahli atau tokoh apa pun, pengaruh tak langsung dari cara Ayah mendidik kami terasa dalam perjalanan hidup kami, yaitu bahwa secara formal maupun tidak formal, kami terbiasa untuk menyukai pekerjaan dan kegiatan sebagai pendidik. Di perguruan tinggi kami mendidik secara formal, di tengah masyarakat, kami senang jika bisa mengajarkan sesuatu kepada orang-orang tertentu mengenai hal-hal yang belum diketahuinya, yang dapat menaikkan gengsinya.

Bung Hatta kutu buku? Memang, namun membaca tidak membuat Ayah menjadi text-book thinking. Sebaliknya beliau mencerna substansi buku-buku itu, apakah pandangan pengarangnya perlu diadopsi, diadaptasi atau bahkan secara fundamental disanggah. Misalnya, secara tegas beliau membedakan antara demokrasi Barat ala Rousseau (Volkssouvereiniteit) yang dibangun atas dasar individualisme, dengan demokrasi Indonesia (kerakyatan) yang berdasarkan atas asas kekeluargaan atau kolektivisme. Dalam demokrasi Barat, rakyat berdaulat dalam bidang politik, tetapi dalam bidang ekonomi dan pergaulan sosial masih berlaku otokrasi. Sebaliknya dalam demokrasi Indonesia, rakyat berdaulat dalam bidang politik dan ekonomi. Sama halnya, Bung Hatta menguasai benar pengetahuan tentang kapitalisme dan komunisme, tetapi menganggap kedua paham itu membahayakan kemandirian Indonesia.

Koleksi bukunya menyebabkan Bung Hatta termasuk dalam “kelompok langka orang Indonesia” yang memiliki buku pribadi hampir 10.000 judul. Namun yang membuat kagum kami, anak-anaknya, ialah cara Ayah memelihara buku-bukunya. Termasuk di sini adalah buku-bukunya yang digunakannya pada tahun-tahun pertama kuliahnya di Negeri Belanda, antara 1921-1924, yang hingga kini masih kami simpan baik-baik. Kondisi fisik buku-buku itu, meskipun kini sudah berusia hampir sama dengan usia beliau sendiri, merupakan bukti nyata dari sifat rapi dan penghargaannya terhadap ilmu pengetahuan, yang jarang ditandingi orang. Begitu pula dengan catatan-catatan kuliahnya yang rapi. Suatu hal yang memukau saya adalah cara beliau menulis karangan. Ibaratnya, sebagian terbesar kesalahan kalimat sudah “disetip” di kepala, sebelum tertuang di atas kertas tulis. Artinya, draft pertama tulisannya saja sudah jarang mengandung coretan. Kalau masih dirasa perlu mencoret, hal itu dilakukannya dengan rapi, berbentuk garis yang berombak-ombak. Andaikata di masa itu sudah ada komputer, tentu tombol delete akan jarang digunakannya, berkat sistematika berpikirnya yang luar biasa cermatnya itu. Lain dengan kita sekarang yang muda-muda, yang rajin mencoret, menyilang, memindahkan alinea, dan men-delete kalimat-kalimat sewaktu membuat draft makalah, apalagi draft pertama.

Tentu saja kecintaan Bung Hatta terhadap buku menyebabkan Ibu dan anak-anak “ketularan” mencintai buku. Kami masing-masing memiliki koleksi buku sendiri sejak masa kanak-kanak. Waktu kami masih kecil, pilihan buku masih dipandu oleh Ayah atau Ibu, yang membelikan kami buku-buku terbitan Balai Pustaka. Namun menjelang remaja, kami mulai lebih banyak memilih koleksi kesukaan masing-masing, baik novel maupun buku ilmiah. Kami juga suka membaca sebagian dari koleksi buku Ayah dan Ibu. Belajar menyukai buku adalah juga sekaligus belajar bagaimana cara membaca yang baik, yaitu duduk di depan meja baca, tidak boleh sambil berbaring atau telungkup di tempat tidur. Buku tak boleh dilipat kulit maupun lembar kertasnya, apalagi dikotori dengan minuman dan makanan.. Kami bersyukur memiliki orangtua yang mengoleksi buku-buku bermutu, klasik, dan modern, yang kaya variasi, diantaranya bahkan yang mutunya diakui secara internasional. Hingga kini pun kami masih selalu suka buku, walaupun minat dan waktu untuk membaca kami jauh berkurang dibandingkan dengan Ayah dahulu. Maklum, zaman berbeda pengalaman dan aktifitas berbeda pula. Di antara kami, Halida yang lebih gencar menekuni buku-buku mutakhir, terutama karena ia sempat bertahun-tahun tinggal di Tokyo, New York, dan Bogota, mengikuti suaminya yang bertugas sebagai diplomat Indonesia.

Perjalanan hidup saya sebagai anak sulung Bung Hatta terasa kaya nuansa. Di waktu kecil, saya melihat Ayah saya sebagai Bung Hatta, Wakil presiden RI yang dicintai rakyat. Saya melihat sendiri, waktu turne ke daerah, rakyat datang berbondong-bondong menyambut dengan bendera kecil merah-putih di tangan. Mereka menyalaminya dengan hangat. Kabarnya, ada yang selama seminggu tidak mencuci tangannya setelah bersalaman dengan Ayah. Mungkin itu dibesar-besarkan, namun di beberapa tempat di negara kita, kebiasaan semacam itu ternyata memang ada. Yang jelas, rakyat secara tulus menyalaminya, karena merasa dekat dengan pemimpinnya.

Kami tinggal di rumah dinas Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Selatan 13, yang besar, bergaya kolonial, kebunnya luas dengan pohon semacam beringin, dan angker pula. Haunted, kata orang Inggris, meskipun belum termasuk the scariest place in the world. Walaupun keluarga Wakil Presiden dihormati oleh para pelayan, tukang kebun, sopir, dan paswalpamwapres, kami sekeluarga akrab dengan mereka sehingga sering ngobrol bersama. Mereka dan Ibu, Eyang Putri dan Eyang Kakung H.A.Rachim, sering melihat sosok hantu dalam berbagai rupa, atau mendengarnya, lalu saling bertukar cerita tentang itu. Hanya Ayah dan anak-anak saja yang tidak diganggu. Hasilnya, saya tumbuh menjadi anak yang luarbiasa penakut, berbeda dengan kedua adik saya. Sia-sia Ayah menghilangkan sifat penakut saya, karena cekokan tiap hari tentang cerita hantu dari semua warga “Merdeka Selatan 13” jauh lebih ampuh daripada penjelasan Ayah bahwa “hantu itu tidak ada, itu khayalan Meutia saja”.

Kini rumah itu sudah tidak ada, di zaman Orde Baru dihancurkan untuk dijadikan bangunan perkantoran berlantai 20-an, sekarang menjadi Kantor Pusat Garuda Indonesia. Entah apakah hantu-hantu itu mendapat kamar-kamar baru di kantor itu.

Dari anak Wakil Presiden menjadi anak orang biasa, saya juga mengalami perubahan sikap teman-teman saat masih di kelas IV SD. Pada suatu hari, teman dekat saya mengatakan, “tahun depan ayah kamu tidak jadi Wakil Presiden lagi”. Saya tidak begitu menanggapinya. Entah ada kaitannya atau tidak, saya tidak tahu, namun teman yang sama, ketika Ayah sudah bukan Wapres lagi, menghimpun hampir satu kelas untuk “musuhan” dengan saya. Mungkin hal itu diawali oleh suatu pertengkaran antara dia dan saya, yang saya telah lupa alasannya. Maka selama lebih dari dua bulan saya benar-benar dikucilkan, kecuali oleh teman sebangku saya dan sebagian anak laki-laki yang duduk dekat bangku saya di kelas. Karena itu Ibu merasa perlu meminta kepada Kepala Sekolah agar saya dipindahkan ke kelas IV B, di mana saya memperoleh teman-teman baru yang menerima saya di kelas dengan hati tulus. Di kelas baru saya bisa membangun persahabatan dengan tiga orang teman. Kami bahkan berjanji, kalau kelak sudah menikah, kami harus mempunyai satu rumah besar yang dibagi empat, masing-masing hidup dengan anak dan suami, agar tetap dekat sampai tua. Tim kami ini diberi nama “Sufamea”, kependekan dari Sutanti, Farini, Meutia, dan Aida.

Kecilnya pensiun bekas Wakil Presiden yang mengharuskan kami hidup hemat, menyebabkan saya di kelas VI hanya mempunyai tiga buah baju sekolah, masing-masing dipakai dua kali seminggu. Maka ketika saya mempunyai baju baru, sopir saya yang menjemput di sekolah kaget karena tiba-tiba saya sudah membuka pintu mobil. Katanya “Eeeh, bajunya lain sih, jadi Pak Dali kira masih di kelas”. Sebagai anak sulung saya biasa mengalah dalam fasilitas. Saat kuliah di Rawamangun, saya pulang-pergi naik bus. Mobil hanya dipakai mengantar adik-adik ke sekolah di Lapangan Banteng. Waktu SD saya bisa dijemput dengan mobil karena Gemala bersekolah di tempat yang sama, sedangkan Halida yang masih balita belum bersekolah.

Namun saya juga mengalami pengalaman khusus yang saya syukuri, yaitu dapat bertemu dengan Ketua Mao Tse Tung (Mao Ze Dong) dan PM Chou En Lai dan para pejabat tinggi terkemuka lainnya di RRC, ketika saya mengikuti kunjungan Ayah dan Ibu ke RRC selama 10 hari, pada bulan Oktober 1957. Bung Hatta tidak cocok dengan PKI dan faham komunis, namun karena integritasnya, beliau disambut di Bandara Beijing oleh PM Chou sebagaimana layaknya kepala negara. Ratusan atau barangkali seribuan orang RRC menyambut di bandara yang luas itu dalam upacara yang megah. Demikian seterusnya sampai pelepasan di bandara ketika kami meneruskan perjalanan ke Tokyo, juga atas undangan resmi Pemerintah Jepang.

Penyambutan Bung Hatta yang tidak jauh dari penyambutan kepala negara, termasuk undangan bagi rombongan kami menghadiri upacara kenegaraan 1 Oktober di Tien An Men, memberikan kenangan tersendiri hingga saat ini. Hadiah sebuah buku perangko yang penuh berisi perangko-perangko RRC dari PM Chou En Lai telah mendorong minat saya sebagai kolektor perangko hingga hari ini.

Undangan bagi Ayah ke Eropa dari pemerintah yang bersangkutan biasanya termasuk pendamping. Karena itu Ibu dan salah satu anak, Pak Wangsa (atau juga Oom Hutabarat), dapat ikut. Di sana kami tidak sekedar melancong, tetapi belajar banyak, melihat banyak museum, istana kuno, mesjid atau gereja terkemuka di negara-negara yang bersangkutan, serta sejumlah pertunjukan konsert musik klasik, opera dan play (sandiwara), dan … toko buku. Semua ini telah memperkaya pengetahuan kami tentang seni-budaya Eropa yang bernilai tinggi. Begitu pula waktu ke New York, AS.

Sebagai anak sulung, saya diberi Ibu tugas “berat” untuk mendampingi Ayah ketika beliau di tahun 1968 menjadi Senior Fellow di East-West Center, di Honolulu, Hawaii selama 6 bulan. Saya ikut Ayah, yang berarti sekaligus menjadi pengurus rumah, harus masak, mencuci, setrika, menyapu, dan mengepel. Saya sudah kuliah di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI. Di masa itu belum ada sistem SKS, sehingga saya diizinkan absen kuliah, asalkan membuat sejumlah makalah yang ditugaskan dosen-dosen saya di UI pada semester itu.

Saya pun ikut “kursus” kilat masak pada Mbah Surip, koki kami yang sudah ikut Ibu sejak saya berusia 6 bulan dan sering menyebut saya “putune mbah” (cucu saya/Mbah Surip). Ia biasa memanjakan saya, maka dilarangnya saya mempraktikkan masak. “Cukup lihat saja, nanti tangannya kotor”, begitu katanya, seperti biasanya sejak saya masih kecil. Akibatnya pada hari pertama di apartemen kami di Honolulu, di hadapan kompor gas mutakhir saat itu, lengkap dengan penggorengan, botol minyak goreng, sodet, dua butir telur, tahu, dan sayuran yang sudah saya potong-potong sesuai petunjuk dalam “catatan kuliah masak” Mbah Surip yang sudah saya siapkan, saya tercenung karena bingung, saya harus mulai dari mana? Ayah menangkap kebingungan saya dan segera mengambil sodet dari tangan saya. Mulailah beliau memasak, diawali dengan membuat telur mata sapi goreng hingga tumis sayuran. Saya heran, kapan terakhir Ayah memasak? Memang Ayah lama membujang, tetapi sudah selama itu, kok masih bisa? Sementara itu, saya sendiri yang perempuan, sudah berusia 21 tahun saat itu, masih sedemikian bodohnya. Peristiwa ini takkan terlupakan seumur hidup, namun telah pula menjadi cambuk bagi saya untuk bisa melakukan pekerjaan rumah tangga selama berada di Honolulu. Ayah juga tak pernah menegur keras kalau saya lalai atau “bekerja berantakan”. Paling jauh beliau mengatakan, “Wah, bersih ya rumah hari ini”, atau “Harum ya bau ruangan ini” (tandanya lantai sudah bersih setelah beberapa hari absen mengepel karena sibuk membuat makalah di perpustakaan universitas).

Persahabatan saya dengan para mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas of Hawaii menyebabkan saya belajar macam-macam masakan dari Mbak Aida Idris, dan suka diajak jalan-jalan oleh rombongan mahasiswa Indonesia ke Chinatown untuk mencari cabai di toko makanan Korea. Waktu itu cabai sulit dijumpai di supermarket Amerika. Suatu hari kami undang mereka makan malam di rumah, Mbak Aida dan saya yang memasak. Tentu saya Cuma menjadi asisten, karena Mbak Aida amat mahir memasak. Pada akhir makan malam, saya bertanya, “Mau minum teh atau kopi”, dan mereka pun menentukan pilihannya. Dua dari mereka, Mas Does Sampoerno dan Mas Kuswata Kartawinata (kini keduanya telah menjadi guru besar), terlonjak kaget dari tempat duduknya, karena Bung Hatta sendiri yang membuatkan kopi dan mengantarnya kepada mereka. Rupanya perjanjian antara Ayah dan saya bahwa Ayah yang membuat kopi (untuk dirinya sendiri), dan saya membuat teh (untuk saya sendiri) tetap berlaku pada jamuan makan itu, walaupun malam itu Mbak Aida dan saya yang memasak. Kami berdua tertawa-tawa melihat kedua kawan yang terperangah karena dibuatkan kopi oleh Bung Hatta. Dari pengalaman ini saya melihat bahwa Ayah tidak menuntut penghormatan. Sebaliknya dengan menghormati orang lain, termasuk yang jauh lebih muda daripadanya, Ayah memperoleh penghargaan dan penghormatan dari mereka yang merasa dihormati olehnya. Secara keseluruhan, berada di Hawaii dengan Ayah menyebabkan saya belajar banyak, dari ilmu sampai belajar hidup mandiri tanpa ditolong pembantu, dan belajar menjadi seseorang yang menghargai orang lain.

Hidup dalam aneka pengalaman yang telah saya jalani menyebabkan saya tidak canggung menghadapi bermacam-macam lingkungan yang kontras satu sama lain. Hari ini hadir dalam upacara perkawinan gemerlapan yang dihadiri Presiden Soeharto, tiga hari kemudian berada di tengah masyarakat, miskin waktu penelitian. Amat sering saya bertemu orang tanpa mereka tahu siapa Ayah saya. Dengan begitu, saya beruntung karena orang melihat saya sebagaimana adanya. Jika mereka menyukai saya, itu adalah karena memang saya dinilai baik oleh mereka, bukan karena saya anak Bung Hatta. Kalau mereka tak menyukai saya, bukan karena mereka tak menyukai Ayah saya, melainkan karena persoalan antara mereka dengan saya sendiri.

Apakah dengan cara pendidikan yang kami terima, lalu kami berkualitas lebih dari orang lain? Tidak juga! Ayah dan Ibu mengajarkan prinsip hidup dan aturan, namun masing-masing individulah yang harus menerapkannya pada dirinya dan keluarganya kelak, sementara masing-masing pribadi mempunyai sifat, pembawaan, dan kemampuan yang berbeda. Dalam praktik juga tidak mudah. Zaman berubah, formula baru dalam membina keluarga diperlukan. Waktu saya mau menikah, nasihatnya cuma satu, “Dalam perkawinan harus ada toleransi”. Saya melihat bahwa nasihat ini sangat bermanfaat. Namun kami bertiga harus mencari sendiri formula mendidik anak tunggal, karena kami masing-masing hanya mempunyai satu anak. Itu tak dialami Ayah dan Ibu. Belum lagi tantangan masa kini yang dulu juga tidak mereka alami waktu mendidik kami. Namun tatacara sopan-santun dan prinsip dasar untuk hidup dalam masyarakat dan membantu masyarakat, tetap kami ajarkan kepada anak-anak kami.

Ada pertanyaan yang sering pula diajukan kepada saya, “apakah saya terbebani menjadi anak Bung Hatta?” Kalau menyangkut atribut, saya tidak merasakannya, karena saya sering pergi ke mana saja tanpa orang tahu, saya anak siapa. Yang penting, bersikap dan berperilaku baik.

Namun memang saya merasa “terbebani”, karena merasa bahwa sebagai pendidik dan antropolog, saya belum bisa memberikan kontribusi yang cukup untuk membuat masyarakat kita hidup cerdas, sesuai cita-cita Bung Hatta. Bukan cerdas otaknya, tetapi cerdas hidupnya, artinya tahu harkat dan martabatnya, tidak rendah diri, dan berkarakter kuat. Begitu banyak masyarakat kita, kaya maupun miskin, yang kini masih belum cerdas hidupnya. Mereka belum tanggap lingkungan, hidup tanpa disiplin diri dan tidak taat aturan di berbagai lingkungan kehidupan, sebagian lagi berbuat jahat atau kejam karena alasan sepele. Banyak yang kaya-raya tetapi belum bisa menyesuaikan perilakunya dengan peralatan canggih yang mereka bisa beli, bahkan menjadi sombong dan egoistis. Sebagian lagi pandai tetapi mudah didikte orang asing, karena karakternya lemah, Akibatnya, negara pun ikut amburadul diisi oleh orang-orang yang tidak cerdas hidupnya, apalagi jika mereka sempat menjadi penguasa. Mendisiplinkan diri sendiri, sebelum mendisiplinkan orang lain, jauh dari nilai-nilai yang mereka anut. Apalagi mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi sebagai penguasa.

Mengenai hal itu, saya sering berpikir, berapa banyakkah keluarga-keluarga Indonesia yang mempunyai kepala keluarga dan pemimpin rumah tangga seperti yang saya pernah miliki?

Meutia Farida Hatta Swasono, Bung Hatta, Penerbit Buku Kompas, Oktober 2003

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

30 Juni 2012 pukul 18:03 WIB
Ayu mengatakan...
E iya salah Sorry ya

30 Juni 2012 pukul 18:02 WIB
Ayu mengatakan...
bgus cool smile

03 November 2011 pukul 15:21 WIB
hihi mengatakan...
huuuuuuuu...panjang banget tulisannya. Tp tetap Bung Hatta memang yang terbaik...


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion