TUTORIAL EPANET 2.0 (DASAR)

Kategori: Tutorial
Diposting oleh baitullahsipilunsri pada Minggu, 05 Agustus 2012

Apa itu EPANET?

EPANET merupakan program komputer untuk pemodelan jaringan pipa yang bersifat public-domain yang dikembangkan oleh U.S. Environmental Protection Agency (US.EPA). EPANET dapat mensimulasikan perilaku hidraulika dan kualitas air dalam jaringan pipa. Simulasi perilaku hidraulika dapat dilakukan untuk waktu tunggal (single period) atau beberapa waktu (extended period) misalnya selama 24 jam. EPANET pertama kali hadir pada tahun 1993 dan telah dilakukan beberapa kali pengembangan. Versi terbaru dari EPANET adalah EPANET 2.0 yang dirilis pada tahun 2008. Program komputer ini dapat diunduh secara gratis dari website resmi US.EPA pada http://www.epa.gov/nrmrl/wswrd/dw/epanet.html.

Mengapa Dibutuhkan Program Komputer?

Permasalahan klasik aliran dalam jaringan pipa menyebutkan bahwa debit aliran dan energi tekanan titik dalam jaringan pipa merupakan parameter yang hendak diketahui. Dua persamaan dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Persamaan pertama mensyaratkan konservasi debit (kontinuitas) terpenuhi di setiap node pipa (junction). Persamaan kedua merupakan hubungan nonlinier antara debit dan kehilangan energi di setiap pipa, seperti persamaan Darcy-Weisbach dan Hazen – Williams. Kapan pun sebuah jaringan terdiri dari loop (jaring tertutup), persamaan-persamaan tersebut membentuk pasangan persamaan nonlinier. Kenyataannya, persamaan ini hanya dapat diselesaikan menggunakan metode iterasi, yang bahkan untuk sebuah jaringan yang kecil pun membutuhkan bantuan komputer. Karena umumnya jaringan pipa terdiri dari loop, program komputer menjadi suatu kebutuhan untuk menganalisis perilaku hidraulika jaringan pipa tersebut.

Tutorial ini akan membahas penggunaan program komputer EPANET untuk analisis jaringan pipa sederhana (dasar). Klik tautan berikut: Tutorial EPANET

Sebagai catatan, file tutorial di atas disimpan dalam format rar dan untuk mengekstraknya dibutuhkan password. Bagi yang berminat silahkan kirimkan e-mail kepada penulis. Diharapkan juga untuk meninggalkan komentarnya pada halaman yang disediakan di bawah ini.



POTENSI PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) DI INDONESIA

Kategori: Opini
Diposting oleh baitullahsipilunsri pada Minggu, 05 Agustus 2012

Kemarin malam (4/08/2012), saya dan istri menyempatkan diri ke swalayan Pasaraya Citra (PRC) Kota Muara Enim untuk membeli keperluan sehari-hari, terutamanya untuk sahur. Tepat di depan pintu swalayan, secara sekilas saya melihat-lihat majalah yang dipajang pada rak yang tersusun rapi. "Barangkali ada yang menarik dan ingin kubeli" pikirku. Pandanganku pun tertuju pada satu majalah TEKNOPRENEUR edisi khusus Juli - September 2012. Yang membuat saya tidak bisa berpaling dari majalah tersebut adalah judulnya yaitu "Energi Terbarukan Kini Menguntungkan" dan salah satu dari beberapa topik yang dibahas adalah mengenai mikro/mini hidro, yang mungkin ke depannya ingin saya dalami sesuai dengan bidang keilmuan saya yaitu teknik sipil sumberdaya air.

Setelah dibaca, paling tidak ada 3 hal utama yang dibahas mengenai mikro/mini hidro dalam majalah tersebut diantaranya adalah:

  1. Perkembangan PLTMH, mulai dari aspek keteknikan, teknologi, fabrikasi, sumberdaya manusia, pengelolaan, dan kebijakan pemerintah.
  2. Teknologi PLTMH.
  3. Pertumbuhan investasi pembangunan PLTMH.

DEFINISI

Mikdrohidro berasal dari kata Micro dan Hydro, dimana padanan kata tersebut adalah istilah yang dipopulerkan oleh kalangan NGO (Organisasi non-pemerintah) yang bergerak dalam pengembangan Teknologi Tepat Guna (appropriate technology). Desain hydropower dirancang dengan desain sebagai berikut: berlandaskan sumberdaya lokal, dapat dibangun, dikelola, dan dimiliki sendiri oleh konsumen atau masyarakat lokal, dapat dioperasikan, dipelihara, diperbaiki oleh teknisi lokal, menggunakan sistem runoff river (aliran sungai), tanpa dam, tinggi bendung < 2 m, dan genangan yang tidak luas, menggunakan komponen yang umum digunakan dalam konstruksi teknik dan tersedia di pasar lokal; generator, kabel, transmission belt, pipa, dan sebagainya, serta turbin dapat dibuat oleh bengkel lokal, tidak perlu kerja cor seperti turbin cross flow.

Menurut Ketua Asosiasi Mikrohidro Bandung (AMB), Sentanu Hidrakusuma, REN 21 (Renewable Energy Network) membagi skala batasan PLTH sebagai berikut:

  1. Pico Hydro, untuk skala sampai dengan 1 kW,
  2. Micro Hydro, untuk skala 1 kW - 100 kW,
  3. Mini Hydro, untuk skala 100 kW - 1.000 kW (1 MW),
  4. Small Hydro, untuk skala 1 MW - 10 MW.

Berdasarkan pembagian tersebut maka batasan kapasitas PLTMH adalah antara 1 kW - 100 kW, tetapi di Indonesia sudah lazim Mini Hydro dengan kapasitas daya hingga 1.000 kW juga masih dikelompokkan sebagai PLTMH.

Sebagai gambaran, Tabel 1 berikut menunjukkan skala sistem dari PLTH.

Tabel 1. Skala sistem PLTH

Teknologi Power Output Sumber Energi Aplikasi Utama Harga Satuan
Pico Hydropower < 20 kW Air Lampu, TV, radio, pengisian baterai handphone, perlengkapan kantor sederhana $4,000 per kW terpasang
Micro Hydropower < 100 kW Air Kebutuhan di daerah pedesaan $3,000 per kW terpasang
Mini Hydropower < 1 MW Air Dihubungkan dengan utility grid $1,200 per kW terpasang
Small Hydropower < 10 MW Air Pengaliran ke PLN $1,200 per kW terpasang

KAPASITAS POTENSI

Indonesia sudah mengantongi kapasitas potensi energi mikrohidro sebesar 3.456.650,2 kW yang tersebar di Indonesia. Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri memiliki kapasitas potensi sebesar 90.290 kW. Sedangkan jumlah dari total 2.407 desa di Sumsel, masih 621 desa yang belum teraliri listrik.

TEKNIS

Secara teknis, PLTMH memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin, dan generator. Pada prinsipnya alur kerja energi mikrohidro ini memanfaatkan beda ketinggian dan jumlah debit air yang ada pada aliran air di saluran irigasi, sungai, atau air terjun. Aliran air ini akan memutar poros turbin sehingga menghasilkan energi mekanik. Energi ini selanjutnya menggerakan generator dan menghasilkan listrik. Pembangunan PLTMH perlu diawali dengan pembangunan bendung untuk mengatur aliran air yang akan dimanfaatkan sebagai tenaga penggerak PLTMH. Yang paling membanggakan saat ini adalah Indonesia telah mampu membuat turbin air sendiri dan juga sudah terdapat beberapa pabrikan mikrohidro di beberapa wilayah di Indonesia. Turbin produk Indonesia sudah mulai diekspor guna kebutuhan PLTMH di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Filipina dan Malaysia.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN

Beberapa keuntungan penggunaan PLTMH diantaranya adalah:

  1. Menggunakan energi terbarukan
  2. Ramah lingkungan
  3. Indonesia memiliki potensi energi air yang besar
  4. Jumlah sumberdaya manusia yang banyak
  5. Indonesia telah mampu membuat turbin air sendiri
  6. Telah ada pabrikan mikrohidro di beberapa wilayah Indonesia
  7. Ada insentif dan bantuan fiskal kepada para pengembang yang tertera dalam Permen ESDM No. 04 Tahun 2012 Tentang Pembeliah Harga Jual Energi Listrik ke PLN pada kapasitas tegangan rendah dan menengah

Beberapa kerugian dalam pembangunan PLTMH diantaranya adalah:

  1. Tidak semua aliran air dapat digunakan untuk pembangunan PLTMH. Faktor debit aliran sangat menentukan.
  2. Beberapa jenis turbin air sangat sensitif terhadap fluktuasi debit air.
  3. Perlu konservasi daerah tangkapan air, terutama di daerah hulu sungai
  4. Biaya investasi pembangunan masih relatif mahal
  5. Biaya perijinan sebagai syarat untuk memperoleh Power Purchase Agreement (PAA) dalam membangun PLTMH juga masih relatif tinggi. Padahal PPA merupakan syarat untuk memperoleh kredit dari Perbankan
  6. Kemampuan teknisi lokal yang masih terbatas dan sering menimbulkan kesalahan yang fatal



Sumur Kering, Sungai Dangkal

Kategori: Berita
Diposting oleh baitullahsipilunsri pada Rabu, 01 Agustus 2012

MARTAPURA – Kemarau mulai menimbulkan dampak, di antaranya sulit mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sumur banyak yang kering, sementara kondisi daerah aliran Sungai (DAS) Komering mulai dangkal. Warga pun mulai kebingungan, apalagi saat ini bertepatan dengan bulan Ramadan.

Di wilayah Belitang warga mulai mengungsi ke saluran irigasi untuk mandi dan mencuci. “Air sulit sekarang, sumur kering, ini sangat merepotkan kami selaku ibu rumah tangga,” kata Wati (35), warga di kawasan hilir Komering.

Kondisi ini, lanjutnya, sudah berlangsung sebulan terakhir. “Meski berdekatan dengan aliran sungai, tentunya warga cukup kesulitan. Apalagi aliran sungai sudah dangkal dan mudah keruh,” katanya.

Kondisi yang sama kini melanda Desa Bantan, Kecamatan Buay Pemuka Peliung. Akibat minimnya curah hujan, sumur hanya berisikan pasir. “Sejak dibangun tiga tahun lalu, sumur ini langganan kering kalau musim kemarau,” ujar Hanafi (35).

Dikatakan, jika kering sumur ini hanya berisi pasir, sebab mata air yang berada di dalam sumur akan menyusut. Untuk mengatasi hal ini, biasanya warga kembali menggunakan air sungai. “Kalau kering seperti sekarang, terpaksa mandi lagi di sungai,” tukasnya.

Di Kecamatan Belitang juga sama, masyarakat banyak yang memanfaatkan aliran air irigasi di BK untuk keperluan MCK (mandi cuci kakus). Ini dibuktikan dengan ramainya warga mandi dan mencuci di aliran BK pada pagi dan sore hari. “Tak ada pilihan lain, meski jauh dari rumah kami mulai memanfaatkan saluran irigasi,” tukasnya.

Sumber: Sumatera Ekspress