Mengatasi Suara (Sound) Tidak Keluar dari Toshiba NB205 yang Menggunakan EasyPeasy 1.6
Kategori: Belajar Linux
Diposting oleh baitullahsipilunsri pada Minggu, 25 November 2012
Setelah berhasil menginstall EasyPeasy 1.6 di Toshiba NB205, saya coba untuk mengeksplor lebih dalam tentang pemakaian distro ini. Namun, kurang afdol rasanya kalau tidak mendengarkan musik. Tanpa disangka-sangka, ternyata tidak ada suara yang keluar dari netbook walaupun Banshee Media Player berjalan dengan normal. Kesal juga dibuatnya, setelah lama menemukan distro yang berjalan dengan ringan, lengkap dan tampilannya bagus untuk netbook kesayangan (sebelumnya sudah gonta ganti distro linux lainnya), tapi malah tidak mengeluarkan suara.
Upaya sudah saya lakukan dengan mengupdate melalui Update Manager, tapi tidak kunjung juga menyelesaikan masalah di atas. Akhirnya usaha selama hampir seharian browsing dan mencari di google membuahkan hasil. Masalah suara yang tidak keluar di Netbook Toshiba NB205 pun terselesaikan dengan baik. Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan. Sebelumnya maaf jika istilah yang digunakan tidak tepat, karena saya juga masih awam dengan Linux.
1. Buka Accessories>Terminal. Setelah jendela Terminal terbuka, ketikkan perintah berikut (tanpa tanda petik):
"sudo gedit /etc/modprobe.d/alsa-base.conf"
2. Kemudian masukkan password user yang diminta.
3. Setelah jendela alsa-base.conf terbuka, ketikkan atau copy-paste kode di bawah ini (tanpa tanda petik) setelah baris terakhir:
"options snd-hda-intel index=0 model=auto"
4. Simpan dan keluar dari jendela alsa-base.conf.
5. Restart komputer.
6. Coba kembali pemutar musik atau media playernya. Seharusnya sekarang suara sudah bisa keluar.
Berikut ini saya sertakan tautan aslinya http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=1491379
Sekian pengalaman ini saya bagikan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat membantu teman lainnya yang pemula dalam menggunakan Linux.
Linux Itu Mudah!
Kategori: Belajar Linux
Diposting oleh baitullahsipilunsri pada Minggu, 25 November 2012
Ceritanya begini.
Waktu itu tahun 2009 (kalau tidak salah), saya sedang mencoba untuk menginstall ulang komputer jadul (prosesornya masih AMD Sempron 1,5 GHz) yang sudah saya gunakan untuk keperluan kuliah sehari-hari dari S1 sampai dengan selesainya S2 (makasih banyak komputer, atas semua jasa-jasamu!). Saat itu, terpikir bagaimana kalau coba migrasi ke OS Linux? Kenapa tidak! Sekalian mencoba untuk melepaskan diri dari ketergantungan OS Windows XP yang selama ini digunakan. Setelah lama coba-coba searching di Google, ketemulah dengan Ubuntu 9.10. Kebetulan waktu itu, masih ada layanan ShipIt yang langsung saja saya manfaatkan. Alhasil, setelah 2 minggu berselang, ternyata beneran dikirim oleh perusahaan Canonical langsung dari luar negeri (saat ini layanan tersebut sudah berbayar). Keping CD yang diperoleh waktu itu ada 6 buah, yaitu 3 buah Ubuntu dan 3 buah Kubuntu. Langsung saja diinstall ke komputer. Setelah instalasi Ubuntu selesai (jauh lebih cepat dari install OS Windows XP), hal yang terbesit pertama kali melihat tampilan desktop Ubuntu adalah hampir sama dengan Windows XP, hanya saja sederhana dan lebih indah efek grafisnya. Kalau di Windows XP, umumnya tombol start ada di pojok kiri bawah, nah di Ubuntu ada di pojok kiri atas. Kemudian, saya coba untuk melihat isi Ubuntu lebih jauh, namun pada saat mau memutar lagu mp3, ternyata butuh codec yang dapat diinstal secara online (berikut aplikasi lainnya). Berhubung gak punya koneksi wireless di rumah, dan gak tahu juga bagaimana install modem di Ubuntu, akhirnya nyerah dan dalam hati berkata "Linux Itu Sulit". Ya, bagi saya yang awam (maklum, baru kenal komputer tahun 2005 dan sudah terbiasa dengan windows) dan benar-benar sebagai pemula dalam dunia Linux, hal tersebut membuat saya berpikir ulang untuk menggunakan Linux dalam rutinitas sehari-hari dengan komputer. Alhasil, saya kembali lagi ke Windows XP dan CD Linux yang diperoleh menjadi sia-sia (sorry...).
Setelah waktu berlalu sampai dengan saat ini, keinginan untuk mencoba dan menggunakan Linux itu kembali datang. Disamping itu, saya juga dihadapkan persoalan untuk install ulang netbook saya (Toshiba NB205) yang lama-kelamaan semakin lambat, sering hang, dan muncul peringatan error akibat terkena virus. CD Ubuntu dulu yang tidak terpakai pun kembali dicari. Setelah bertemu dan menginstallnya, ternyata Ubuntu 9.10 cukup lancar berjalan di netbook yang notabene-nya merupakan laptop dengan resources terbatas. Namun, persoalan kembali menghadang. Setelah mempunyai koneksi internet, eh malah repository untuk download aplikasi dan sebagainya secara online sudah tidak didukung lagi. Sempat juga coba mencari tahu solusinya di Google dan ketemu dengan repository lokal. Kembali lagi, saya yang masih awam merasa kesulitan untuk melakukan konfigurasi, update dan sebagainya menggunakan perintah-perintah dalam Ubuntu. Tidak merasa putus asa, saya coba download Ubuntu terbaru yaitu versi 12.04 LTS. Namun, setelah didownload dan diinstall, ternyata berat dan lambat berjalan di netbook walaupun dapat install aplikasi dengan baik secara online. Tidak sampai disitu, saya coba cari-cari info distro lain yang cocok dengan netbook ini. Sempat sih install Linux Mint 14 edisi MATE. Distronya lengkap, mudah, tampilannya bagus dan dapat melakukan koneksi langsung dengan modem tanpa perlu ribet menggunakan perintah-perintah yang rumit. Namun, sekali lagi saya tidak puas dengan agak lambatnya Linux Mint ini berjalan di netbook saya. Walaupun demikian, saya yakin distro ini pasti akan sangat baik digunakan pada komputer desktop mengingat tampilannya yang sangat indah, aplikasi pra-instalasi yang lebih lengkap dibanding Ubuntu, sekaligus dukungan codec multimedia yang membuat pengguna tidak perlu kesulitan lagi memainkan file mp3, mpeg, dan multimedia lainnya.
Setelah 1 dan 2 hari mencari-cari kembali di Google mengenai distro yang paling cocok untuk netbook, akhirnya saya putuskan menggunakan EasyPeasy 1.6. Distro kali ini sukses berjalan di netbook dengan lancar dan terbilang ringan. Disamping itu, tampilannya juga terasa cocok untuk digunakan pada netbook. Kali ini sepertinya saya akan terus menggunakan distro tersebut. Namun karena terbilang baru, maka saya belum dapat menceritakan lebih jauh mengenai kelebihan distro ini. Walaupun demikian, saya terus memberikan motivasi pada diri sendiri sambil berkata "Linux Itu Mudah!" . Insya Allah pada postingan selanjutnya, mudah-mudahan saya dapat lebih membagi pengalaman bersama distro ini. maupun distro Linux lainnya. Go Open Source!
KAJIAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN MENGGUNAKAN SWMM 5
Kategori: Tutorial
Diposting oleh baitullahsipilunsri pada Senin, 06 Agustus 2012

Pada tulisan kali ini, saya akan memberikan satu bagian dari modul “Drainase Perkotaan” yang saya tulis sendiri, yaitu tentang kajian sistem drainase perkotaan menggunakan software SWMM. Bab ini pada dasarnya memberikan penjelasan dasar (tutorial) penggunaan SWMM dalam memodelkan suatu sistem drainase yang sederhana. Modul ini sebelumnya telah saya sampaikan untuk mata kuliah Drainase Perkotaan di Jurusan Teknik Sipil FT UNSRI. Dengan bekal keinginan untuk berbagi pengetahuan, memperoleh masukan, dan bahkan koreksi dari pembaca yang tentu akan membantu saya dalam meningkatkan kualitas pengajaran di bidang drainase perkotaan.
Materi kajian sistem drainase perkotaan menggunakan SWMM dapat diunduh disini : Tutorial SWMM (Dasar)
Sebagai catatan, file tutorial di atas disimpan dalam format rar dan untuk mengekstraknya dibutuhkan password. Bagi yang berminat silahkan kirimkan e-mail kepada penulis. Diharapkan juga untuk meninggalkan komentarnya pada halaman yang disediakan di bawah ini.

