MENDESAIN SENDIRI SOAL KONTEKSTUAL MATEMATIKA

Tuntutan undang-undang, munculnya kurikulum baru, inovasi pembelajaran dan tanggung jawab terkait suksesnya siswa pada  ujian Nasional, mengharuskan guru matematika disekolah saat ini untuk mampu mendesain sendiri soal-soal yang akan digunakan siswa. Hal ini didasari oleh Pasal 10 UU guru dan dosen yang menyebutkan bahwa guru dan dosen yang professional harus mempunyai empat kompetensi utama yaitu: kemampuan pedagogic, professional, kepribadian dan sosial.

            Arah pendekatan pembelajaran matematika di sekolah saat ini adalah penggunaan konteks dalam pembelajaran matematika, yang diterapkan dengan pendekatan Contextual Teacher Learning(CTL), dan Realistic Mathematics Education (RME).

            Tujuan pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya untuk menjadikan siswa sebagai ahli matematika yang mengerti matematika, tetapi juga diharapkan siswa menjadi masyarakat global yang kritis untuk bekal mereka bekerja. Dalam praktek pengajaran hanya tujuan yang pertama yang difokuskan tanpa memperhatikan pentingnya tujuan yang terakhir di atas.

            Menurut de Lange ada empat masalah konteks atau situasi:

  1. Personal Siswa, situasi yang berkaitan dengan kehiduapan sehari-hari siswa baik di rumah maupun di sekolah.
  2. Sekolah/Akademik, sistuaisi yang berkaitan dengan kehidupan akademik.
  3. Masyarakat/Publik, situasi yang terkait dengan kehidupan dan aktivitas
  4. Saintifik/Matematik, situasi yang berkaitan dengan fenomena dan substansi secara saintifik atau matematika itu sendiri.

 

Dalam PMRI, de Lange mengelompokkan soal-soal kontekstual ke dalam tiga bagian yaitu:

  1. Tidak ada konteks sama sekali.
  2. Konteks Dress-up(kamuflase)

Pada kelompok ini soal-soal biasa diubah menggunakan bahasa cerita.

  1. Konteks yang relevan dengan konsep

Pada bagian ini soal-soal betul-betul memiliki konteks yang relevan dengan konsep matematika yang sedang dipelajari.

 

Selainitu kesulitan soal kontekstual matematika bagi siswa dibagi ke dalam tiga level yaitu:

Level I: Mudah-Reproduksi, definisi, prosedur standar, fakta yang hanya memerlukan satu konsep matematika

Level II: Sedang-Kombinasi, Integrasi, Koneksi, yang membutuhkan paling tidak dua konsep matematika dan tipe soalnya cenderung merupakan problem solving.

Level III: Sulit – matematisasi, reasoning, generalisasi, modeling. Sama dengan di level II, hanya saja soal pada level ini mengarah kepada generalisasi dan modeling.

Fungsi konteks dalam matematika adalah: 1) pada level ketiga: konteks berfungsi sebagai karakteristik dari proses matematisasi; 2) pada level kedua: konteks berperan sebagai alat untuk mengorganisasi dan menstruktur serta menyelesaikan suatu masalah realitas; 3) pada level pertama: tidak ada konteks atau jika ada maka hanya kamuflase saja.

            Guru matematika sangat penting mempunyai kemampuan mendesain sendiri soal-soal kontekstual, mencobakannya pada siswa yang juga akan bermanfaat dalam menyiapkan siswa dalam ujian nasional sekaligus membuat siswa lebih menyenangi dan mengerti matematika.

 

                       



PDF | DOC | DOCX

Komentar:

 

belum ada komentar...
 


Kirim Komentar Anda:
Nama Anda (wajib diisi)
 
E-Mail (tidak dipublikasikan)
 
Website, Blog, Facebook, dll
 
(wajib diisi)
 

<-- isi kode di atas (wajib diisi)
 
 
grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion