Makna Suatu Kemerdekaan
Kategori: Artikel
Diposting oleh admin pada Rabu, 18 Agustus 2010
Sejak 17 Agustus 1945 telah 65 kali bangsa kita merayakan kemerdekaan. Jepang itu telah tidak ada lagi. Demikian juga dengan para kompeni yang selama ratusan tahun eksis di negeri ini. Bendera merah putih bebas berkibar. Setiap warga negara bebas ikut Pilkada. Apakah hanya sekedar itu makna suatu kemerdekaan?
Makna suatu kemerdekaan pastilah berbeda bagi setiap orang. Bagi pedagang telok abang, makna suatu kemerdekaan ketika ia dengan bebas berdagang "dimana saja" untuk menjual telok abang dengan berbagai produk ikutannya. Ada kapal-kapalan, miniatur perahu jukung. Baginya kemerdekaan adalah bebas berdagang. Apalagi jika kebebasan itu tidak disertai pungutan uang jasa oleh preman atau pungutan liar oleh aparat pemerintah.
Kemerdekaan bagi seorang narapidana adalah keluar dari jeruji, bebas berkeliaran kemana saja tanpa ada pembatasan. Sudah pasti dengan status narapidana, kemerdekaan serupa itu tidak ada lagi padanya. Bagaikan burung dalam sangkar. Tidak bisa berbuat apa-apa. Terbatas dalam pembatas yang mengelilinginya. Sang narapidana baru menyadari betapa berharga suatu kemerdekaan yang selama ini dimiliki. Mungkin terbayang perbuatan yang lalu yang menjadikannya berstatus narapidana. Jika dituduh sebagai seorang koruptor, mulai dia mengingat-ingat apa yang salah dengan kelakuannya itu. Jika jelas-jelas korupsi dapat dimaklumi, tapi tidak sedikit dari mereka menyandang gelar koruptor akibat suatu "kecelakaan semata." Akibat salah kebijakan, administrasi yang sulit mereka fahami.
Bagi seorang pejuang kemerdekaan, makna suatu kemerdekaan pastilah mengalami perubahan. Jika pertama-tama makna kemerdekaan itu diartikan lepas dari cengkeraman Belanda dan Jepang maka kini setelah puluhan tahun tahun Indonesia merdeka, pastilah kualitas kemerdekaan itu harus berubah. Bukan hanya sekedar itu. Para pejuang memaknai kemerdekaan sebagai suatu keadaan dimana bangsa Indonesia telah berhasil mengisi kemerdekaan. Bangsa Indonesia telah menjelma menjadi bangsa yang handal "sejajar" dengan bangsa-bangsa penjajah itu.
Kamus Besar Bahasa Indonesia juga mengartikan kata kemerdekaan sebagai tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Cukup luas maknanya. Tetapi paling tidak diartikan bangsa Indonesia tidak terikat lagi dengan Jepang dan Belanda. Dua negara yang pernah "semena-mena" dengan Indonesia. Kedua negara ini tidak lagi menentukan warna dan segala tindak tanduk bangsa Indonesia.
Bagi rakyat Indonesia kebanyakan, makna suatu kemerdekaan sederhana saja. Mereka tidak begitu faham soal protokoler negara. Tidak juga peduli dengan teori-teori tentang kemerdekaan. Mereka menuntut hal-hal yang sederhana saja sebagai bukti negara ini telah benar-benar merdeka dan berhasil mengisi kemerdekaan itu. Rakyat kecil itu memaknai kemerdekaan negara dengan kemampuan negara menyediakan kebutuhan dasar. Itu saja.
Bagi rakyat kebanyakan kemampuan negara menyediakan kebutuhan dasar mereka, itu sudah berarti negeri ini merdeka. Disaat mereka membutuhkan penerangan, negara sanggup menyediakan listrik yang murah dan mudah. Kenyataannya, listrik itu bukan hanya mahal tetapi juga tidak mudah didapat. Hanya dikota Palembang saja terdapat sekitar 6.000 orang antri untuk memasang listrik. Macam-macam saja alasan PLN dengan kondisi itu.
Kemerdekaan juga dikaitkan dengan kemampuan negara memberikan rasa aman kepada mereka. Dulu, rasa takut luar biasa diberikan oleh Belanda dan Jepang. Tapi apakah sekarang ini bangsa Indonesia bebas dari rasa takut dalam berbagai bentuknya? Amankah kita berkendaraan di jalan raya? Amankah anak-anak kita berjalan kaki ke sekolah? Amankah kita naik ojek, naik bis, belanja ke pasar tradisional, menarik uang di Anjungan Tunai Mandiri, menggunakan tabung gas? Amankah negara kita dari para koruptor yang kesehariannya tampil ramah dengan baju seragamnya baik di lembaga legislatif, eksekuitif, yudikatif bahkan di sektor-sektor swasta? Ternyata setelah 65 tahun merdeka, kita masih ragu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tegas.
Teliti saja hanya di bulan Juli-Agustus 2010, sudah berapa rakyat kita yang bunuh diri karena alasan himpitan ekonomi? Pastilah pemerintah mempunyai argumentasi bahwa bunuh diri itu bukan karena alasan ekonomi. Tetapi faktanya memang karena alasan himpitan ekonomi. Bagi sebagian keluarga, hidup ini semakin sulit. Upah tidak begitu tinggi, tidak pararel dengan kenaikan kebutuhan hidup mereka. Seorang buruh bangunan hanya mengandalkan upah Rp 60.000,- per hari. Konon itu sudah bagus, bagaimana dengan kuli di pasar, tukang ojek, tukang beca, dan lain-lainnya dihadapkan dengan harga yang terus melambung tinggi. Belum lagi kebutuhan berobat dan kebutuhan biaya sekolah anak-anak mereka. Upah itu baru ada jika mereka bekerja. Jika mereka sehat. Pastilah kemerdekaan dengan suasana seperti itu kurang bermakna bagi mereka.
Bagi saya kemerdekaan itu antara lain berarti negara ini berhasil menyediakan kebutuhan dasar (basic needs) bagi setiap warga negara. Para pemimpin yang benar-benar "siang-malam" mencari jalan agar tercapai kesejahteraan warganya. Para wakil rakyat benar-benar memikirkan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Bukan yang aneh-aneh. Bagaimana tidak aneh jika dibulan suci ramadhan seorang wakil rakyat dari partai berbasis agama ditangkap aparat kepolisian karena sedang siap-siap pesta shabu menjelang berbuka puasa. Merdeka tidak berarti bangsa kita tersesat oleh budaya bangsa lain termasuk mengkonsumsi obat-obat terlarang. Faktanya, hampir tidak ada wilayah provinsi di Indonesia yang bebas dari pengaruh obat-obat terlarang itu. Jangan-jangan itulah penjajah baru bangsa kita. Merdeka memang berarti kita bebas melakukan "berbagai hal." Tetapi janganlah kita tersesat oleh kata merdeka. Pegangan kita tetap pada cita-cita para pendiri bangsa ini bahwa makna kemerdekaan adalah kesejahteraan (welfare) bagi seluruh rakyat Indonesia. Kata kunci yang mestinya terpatri dalam jiwa para pemimpin kita.
Prof. Amzulian Rifai,Ph.D
Dekan Fakultas Hukum UNSRI
Panduan Membuat Website (Pendahuluan)
Kategori: Web Development
Diposting oleh admin pada Sabtu, 14 Agustus 2010
Website atau biasa disebut juga dengan web saja, atau ada juga yang menyebutnya dengan situs atau situs web. Jika Anda belum mengerti tentang bagaimana membuat website, hal pertama yang harus Anda pahami adalah tentang HTML (HyperText Markup Language). HTML digunakan sebagai dasar pembuatan website.
Website menggunakan HTML untuk menyajikan dan menampilkan data kepada siapa saja yang mengunjungi website Anda. Untuk itu, kita menyimpan website kita dalam file-file dengan ekstensi *.html, misalnya: index.html, profil.html, dan bukutamu.html. Semua file-file html tersebut merupakan sumber daya yang dimiliki oleh sebuah website. Semakin banyak file-file html tersebut maka akan semakin banyak pula sumber daya yang dimilikinya, dan jika semakin banyak sumber daya itu maka akan semakin besar pula website Anda.
File-file html tersebut disimpan dalam direktori/folder utama sebuah website. Katakanlah sebuah website memiliki alamat yaitu www.unsri.ac.id. Maka struktur penyimpanan file-file html dalam website tersebut adalah sebagai berikut:
| Website | Direktori/ Folder |
File HTML | Alamat Akses |
|---|---|---|---|
| www.unsri.ac.id | / | index.html | www.unsri.ac.id/index.html |
| www.unsri.ac.id | / | profil.html | www.unsri.ac.id/profil.html |
| www.unsri.ac.id | / | bukutamu.html | www.unsri.ac.id/bukutamu.html |
Direktori di atas yaitu tanda "/" (baca: "slash" ) adalah direktori utama sebuah website yang menandakan bahwa file-file HTML diletakkan dalam direktori utama.
Jika file-file html tersebut di simpan dalam subdirektori/subfolder sebuah website, maka struktur penyimpanan file-file html dalam website tersebut adalah sebagai berikut:
| Website | Direktori/ Folder |
File HTML | Alamat Akses |
|---|---|---|---|
| www.unsri.ac.id | /myweb | index.html | www.unsri.ac.id/myweb/index.html |
| www.unsri.ac.id | /myweb | profil.html | www.unsri.ac.id/myweb/profil.html |
| www.unsri.ac.id | /myweb | bukutamu.html | www.unsri.ac.id/myweb/bukutamu.html |
Nama subdirektori/subfolder ditentukan secara bebas oleh kita sendiri. Seperti pada contoh di atas, kita membuat sebuah subdirektori dan kita beri nama /myweb. Bagaimana membuat subdirektori dalam sebuah direktori utama? caranya sebenarnya tidaklah berbeda ketika kita ingin membuat subdirektori dalam sebuah direktori dengan menggunakan Windows Explorer. Klik File pada menu utama, kemudian pilih New, kemudian pilih Folder, kemudian ketik nama folder/direktori, dan tekan enter.
Ketika Anda "berhasil" melakukan langkah-langkah di atas, kemudian Anda tentunya ingin mencoba mengakses situs Anda melalui browser. Jika komputer Anda sudah terkoneksi ke internet, Anda dapat menggunakan software yang disebut dengan internet browser, katakanlah seperti Internet Explorer, Mozilla Firefox, Opera dan sebagainya. Kemudian Anda ketik pada bagian alamat/address alamat akses ke website di atas seperti berikut ini:
http://www.unsri.ac.id/myweb/index.html
atau:
http://www.unsri.ac.id/myweb/profil.html
atau:
http://www.unsri.ac.id/myweb/bukutamu.html
Di sini Anda lihat bahwa http:// akan muncul otomatis pada browser walaupun Anda tidak mengetiknya. HTTP (HyperText Transfer Protocol) merupakan cara standar seluruh browser dalam mengakses sebuah website.
Setelah Anda memahami konsep di atas, maka langkah selanjutnya adalah mempelajari tentang HTML untuk membuat website seperti pada bahasan di atas yang akan kita bahas pada kesempatan yang lain.
Serah Terima Mahasiswa Baru: BEM Tandatangani Deklarasi Anti Perpeloncoan
Kategori: Universitas Sriwijaya
Diposting oleh admin pada Rabu, 11 Agustus 2010

BEM Unsri, Rektor, dan Wakil Gubernur Sumsel menandatangani Deklarasi Anti Perpeloncoan pada acara serah terima mahasiswa baru dari Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru di Gedung Auditorium Unsri Inderalaya, 3 Agustus lalu.
Penandatanganan Deklarasi Anti Perpeloncoan oleh para gubernur BEM fakultas yang diketahui Presiden Mahaiswa, Rektor, Pembantu Rektor III, dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan Edy Yusuf, SH disaksikan seluruh mahasiswa baru.
Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Sriwijaya tahun akademik 2010/2011, Prof. Dr. Zulkifli Dahlan, M.Si. menyerahkan 6.123 orang mahasiswa baru kepada Rektor Unsri Prof. Dr. Badia Perizade, MBA. Jumlah itu terdiri dari 3.188 mahasiwa kampus Inderlaya, 2.243 mahasiswa Kampus Palembang, dan 822 mahasiswa Program Pascasarjana.
Penerimaan dilakukan melalui lima jalur penerimaan, yakni penelusuran Minat dan Prestasi (PMP), Program Beasiswa Kemitraan Daerah (PBKD), Program Beasiswa Bidik Misi, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), dan Ujian Saringan Masuk (USM) tahun ajaran 2010/2011.
Melalui jalur PMP Unsri mengirim 2.579 formulir ke 303 sekolah di 15 provinsi, 2.042 formulir dan kelengkapanya kembali sebagai pendaftar. Setelah melalui tes administrasi dan tes wawancara 573 dinyatakan lulus, namun yang mendaftar ulang hanya 457 orang.
Melalui jalur PBKD menerima 20 orang yang berasal dari tiga provinsi, yakni Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Bengkulu, dan Bangka Blitung.
Melalui Program Bidik Misi yang merupakan Program Dikti, Unsri diberikan kesempatan untuk menerima 400 orang mahasiswa. Sedangkan yang mendaftar sebanyak 851 orang, hanya 334 orang yang dinyatakan lulus karena adanya penumpukan di salah satu program studi tertentu. Untuk memenuhi target yang telah ditentukan Dikti, Unsri mengambil 61 orang mahasiswa yang lulus dari program SNMPTN dan 5 orang dari program PMP.
Kepala BAAK, Drs. Cik Zen kepada Warta mengatakan, peserta pendaftar Program Bidik Misi menumpuk di jurusan atau program studi tertentu, di sisi lain ada program studi tertentu yang tidak ada peminatnya. Oleh karena itu untuk program studi yang sepi peminat diambilakn dari mahasiswa yang lulus melalui program SNMPTN dan PMP.
Melalui program SNMPTN dari 14.828 peserta ujian, 2.910 dinyatakan lulus, namun yang mendaftar ulang hanya 2.311 orang.
Mahasiswa Unsri Kampus Palembang diterima melalui tiga macam jalur penerimaan, yakni PMP dari 83 orang yang dinyatakan lulus, 9 orang tidak mendaftar ulang. USM dari dari 3.524 peserta tes, 2.303 dinyatakan lulus sedangkan yang mendaftar ulang hanya 1.942 orang. Khusus program kualifikasi FKIP dari 45 orang yang dinyatakan lulus 42 orang yang mendaftar ulang. Diploma dari 391 peserta ujian, 338 orang dinyatakan lulus, sedangkan yang mendaftar ulang sebanyak 259 orang.
Sedangkan Program Pascasarjana dari 822 peserta ujian, 733 dinyatakan lulus, 692 orang mendaftar ulang. terdiri dari Program strata dua (S2) 640 mahasiswa dan Strata tiga (S3) 52 orang mahasiswa.
Program Pengenalan Kampus
Dari Rektor, mahasiswa baru diserahkan kepada para Dekan Fakultas. Mahasiwa mengikuti kuliah umum Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Edy Yusuf, SH sebelum mendengar pengarahan Pembantu Rektor, III DR. Anis Sagaf, M.Sc., pengenalan ormawa, universitas, dan BEM fakultas.
Presiden Mahasiwa mengatakan kepada Warta bahwa mahasiswa akan akan mendapatkan berbagai pengetahuan tentang kampus melalui program pengenalan kampus yang dilakukan selama lima hari dengan agenda yang telah ditentukan. Masing-masing fakultas memiliki agenda selama dua hari, yakni tanggal 04 dan 05 Agustus untuk program pengenalan fakultas dan pengenalan jurusan bagi fakultas yang memiliki banyak jurusan ke jurusan masing-masing.
Pada hari keempat mahasiswa baru kembali mengikuti acara BEM Unsri untuk mendapatkan pelatihan kepemimpinan yang bertema Menejemen Diri Masa Transisi dengan dengan pembicara dari Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Hari kelima Grend Opening Asistensi Mata Kuliah Agama Islam dengan pembicara Ketua ICMI Pusat Jakarta, Ilham Habibie sekaligus merupakan acara penutupan Program Pengenalan kampus (P2K).(Yo*)
Posting Terbaru Lainnya
-->


