header-photo

PANTUN DAERAH KOMERING

Kategori: Sastra Daerah
Diposting oleh Rahmawati pada Jumat, 22 Juni 2012
[1150 Dibaca] [0 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

PANTUN DAERAH KOMERING

PENDAHULUAN

Oleh: Rahmawati

 

Sastra daerah adalah “… karya sastra yng terdapat di seluruh Indonesia yang lahir dalam bahasa daerah….(Gani, 1994). Apabila diperhatikan, sastra daerah sebagaimana sastra pada umumnya adalah peristiwa bahasa dan peristiwa seni (Enre, 1988:1 dalam Gani, 1994). Sebagai peristiwa bahasa, sastra daerah ini perlu dibina, dilestarikan dalam upaya mengembangkan dan memperkaya khazanah bahasa Indonesia dan khazanah budaya bangsa sebagai salah satu unsur kepribadian bangsa; dan sebagai peristiwa seni, sastra daerah perlu dipelihara terus supaya tetap mampu menjadi budaya pengungkap masyarakatnya (Gani, 1994). Hal yang demikian itu tidak terkecuali bagi sastra daerah di Sumatera Selatan perlu dibina dan dilestarikan agar bermanfaat bagi pengembangan seni budaya bangsa Indonesia  

Usaha untuk meneliti hasil-hasil sastra daerah di Sumatera Selatan telah beberapa kali dilakukan, antara lain oleh para dosen FKIP dan beberapa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sriwijaya, serta Balai Bahasa Palembang. Aspek yang diteliti dalam penelitian-penelitian tersebut cukup beragam, di antaranya sastra lisan, yaitu karya sastra yang diungkapkan atau digunakan dengan media bahasa secara lisan/dituturkan.

Mengingat banyaknya sastra daerah yang dituturkan secara lisan, maka sangat perlu diadakan pelestarian terhadap sastra daerah tersebut agar tidak punah sekalipun sang penutur telah tiada.

Untuk melestarikan sastra daerah dari kepunahan, perlu adanya peng-inventarisasian dan pendokumentasian terhadap sastra daerah tersebut.

Dari hasil penginventarisasian sastra daerah khususnya sastra lisan ini diharapkan agar sastra lisan itu akan tetap lestari . Selain itu kita dapat mengambil nilai luhur yang terkandung di dalam sastra daerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. PANTUN RAKYAT KOMERING

 

 

 

2.1  Pantun

Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama. Dari beberapa macam bentuk puisi lama, pantun merupakan bentuk puisi lama yang tertua. Pantun terdiri dari empat baris, tiap baris terdiri dari 8 – 10 suku kata yang bersajak (rima) “ab ab”. Tiap bait pantun, isi atau maksudnya terdapat pada baris yang terakhir, yaitu baris ketiga dan keempat. Dua baris atasnya, yaitu baris pertama dan kedua disebut sampiran, tidak mempunyai arti yang terang atau jelas.

Menurut isi dan maksudnya tersebut, pantun dapat dibedakan sebagai berikut.

1. Pantun anak-anak, terdiri atas:

a. pantun gembira/suka cita;

b. pantun teka-teki.

2. Pantun muda, terdiri atas:

a. pantun dagang;

b. pantun perhubungan, terbagi atas:

1) pantun berkenalan;

2) pantun berkasih-kasihan atau percintaan;

3) pantun berpisahan atau perceraian

4) pantun berduka cita.

c. Pantun jenaka.

3. Pantun tua, terdiri atas:

a. pantun nasihat;

b. pantun adat;

c. pantun agama.

Dari hasil penginventarisasian yang telah penyusun lakukan terhadap pantun rakyat  Komering, banyak ditemukan jenis pantun untuk muda-mudi yang lazim disebut pantun muda. Contohnya sebagai berikut.

 

1) Pantun Muda

 

No.

 

Bahasa Derah

 

Bahasa Indonesia

1.

Biduk putuk

Sarak bak kunang-kunang

Maranai mirak kabujuk

Iya rabai kona bodang

Perahu pendek

Penuh oleh kunang-kunang

Bujang mencari perhatian

Dia takut kena pukul

2.

Sai pitu rik sai walu

Bilangan lima bolas

Api hagamu payu

Asak radu anggotas

Yang tujuh dengan yang delapan

Hitungan lima belas

Apa maumu jadi

Asal selesaikan dulu panen

3.

Mongan bajumpuk-jumpuk

Nasak bucanting-canting

Pangliakku mak tungguk

Pangasamu kok goring

Makan sejemput-sejemput

Masak bekaleng-kaleng

Penglihatanku tidak sampai

Perasaanmu sudah senang

4.

Anggulai pidang lawas

Iwakna batu hulu

Mongan na kok mawas

Jama-jama rik mantu

Masak pindang laos

Ikannya kepala batu

Makannya sudah siang

Sama-sama dengan menantu

5.

Lapah-lapah ti Minanga

Paliak murli lagak

Amon niku mimang haga

Ratong ko indok bapak

Jalan-jalan ke Minanga

Melihat gadis cantik

Kalau kamu memang suka

Datangkan orang tua mu

6.

Dang mandi di wai bulok

Cak tian lamon buha

Dang manjau di murli tulok

Dituilko ompai maha

Jangan mandi di air keruh

Kata orang banyak buaya

Jangan berkunjung di gadis tuli

Disenggol baru tertawa

7.

Alang tuha du urai

Lokok pacak tingangas

Amon tuha meranai

Tinggal pacungas-cungas

Alangkah tua buah pinang

Masih bisa dipakai nyirih

Jika tua membujang

Tinggal berangan - angan

8.

Manuk handak

Mandi di liba pulau

Meranai minjak mulak

Nyopok murli sai holau

Burung putih

Mandi di ilir pulau

Anak laki-laki meranjak bujang

Mencari gadis yang cantik

9.

Bismillah laju lapah

Kulhu laju liu

Najin di padang arfah

Mak mundur tunai radu

Bismilah terus pergi

Kulhu terus lewat

Walau di Padang Arafah

Tidak mungkin mundur lagi

 

10.

Sirokda pai ijanmu

Ompai nyak haga cakak

Tanyada pai rik sai tuhamu

Marik mak suka dinyak

Ikatlah dulu tanggamu

Baru saya mau naik

Tanyalah dulu dengan orang tuamu

Kalau tidak setuju denganku

11.

Ijan radu kusirok

Lantai radu kupaku

Kiyai lajuda cakak

Sai tuha ku kok panuju

Tangga sudah kuikat

Lantai sudah kupaku

Kakak silakan naik

Orang tua ku sudah setuju

12.

Alang kuat ilmumu

Jakpamu butitawai

Basa pacotok niku

Basing gawi tikacai

Alangkah kuat ilmumu

Darimana kamu belajar

Kalau teringat kamu

Segala kerja terbengkalai

13.

Amun niku juduku

Mak kujuk payah-payah

Kukurukko lom gudu

Kugantungko di galah

Kalau kamu jodohku

Tidak kusuruh payah-payah

Kumasukkan di botol

Kukalungkan di leher

14.

Amun niku juduku

Mak kujuk payah-payah

Gawimu dunggak sapu

Nyoruk celana bodah

Kalau kamu jodohku

Tidak kusuruh payah-payah

Kerjamu di atas pondok

Menjahit celana sobek

15.

Alang bangik du jambu

Kiriman jak Jukarta

Puluh tahun kutunggu

Asak nyak tahmat sikola

Alangkah enaknya jambu

Kiriman dari Jakarta

Sepuluh tahun kutunggu

Asal saya selesai sekolah

16.

Lapah-lapah ti Botung

Kudo jaoh Minanga

Ombai ambukbuk tiung

Kadongian runggakna

Jalan-jalan ke Betung

Tidak seberapa jauh dari Minanga

Nenek merebus terong

Kedengaran mendidihnya

17.

Sabidang kombang kipas

Tilailai di haluan

Tinggal kas tinggal bokas

Tinggal uti-utian

 

Kain kembang kipas

Dijemur di muka

Tinggal bekas tinggal bekas

Tinggal ceritanya saja

18.

Nanom punti lom lioh

Bubuah sanga sikat

Nyak pandai niku jawoh

Galak-galak bukirim surat

Menanam pisang di dalam alang-alang

Berbuah satu ikat

Aku tahu kamu jauh

Sering-sering berkirim surat

19.

Kamangi dilom lioh

Wat ombau mak kanahan

Mak bangik amun jawoh

Kacah ipi-ipian

Kemangi di dalam ilalang

Ada bau tidak kelihatan

Tidak enak kalau jauh

Selalu jadi impian

20.

Nyak mirak nanom cabi

Nyak rabai dilalakna

Nyak mirak ngalaki

Nyak rabai dinganakna

Aku ingin menanam cabai

Aku takut dipedasnya

Aku ingin bersuami

Aku takut melahirkannya

21.

Alang holau du balai

Isina pari ronik

Alang holau tinadai

Sayangna lokok ronik

Alangkah bagusnya balai

Isinya padi kecil

Alangkah bagus pacar

Sayangnya masih kecil

22.

Sembahyang hari Jumat

Kapal terbang tiliu

Sembahyang salah niat

Bak nyak ngingokko niku

Sembahyang hari Jumat

Kapal terbang lewat

Sembahyang salah niat

Oleh aku teringat denganmu

23.

Bubiduk di wai doros

Timbana bawak joring

Saro-saro kutodos

Asak lapah buginding

Beperahu di air deras

Timbanya kulit jengkol

Susah-susah kutahankan

Asal pergi bergandeng

24.

Anak iwak dikanik iwak

Anak kucing dikanik kucing

Amon mirak cawako mirak

Amon goring cawako goring

Anak ikan dimakan ikan

Anak kucing dimakan kucing

Kalau ingin katakan ingin

Kalau senang katakan senang

25.

Dang kuti mandi dija

Tangga sikam tanggolom

Dang kuti nadai dija

Murli sikam puliom

 

Jangan kalian mandi di sini

Tangga kami tenggelam

Jangan kalian berpacaran di sini

Gadis kami pemalu

26.

Dang nulis dunggak kaco

Nulisda dunggak mijah

Dang miwang bak cinta

Miwangda bak dusa

Jangan nulis di atas kaca

Nulislah di atas meja

Jangan menangis karena cinta

Menangislah karena dosa

27.

Kamincak busapatu

Tikus bukaruk hulu

Ya Allah ya Tuhanku

Idan nyak mongsa judu

Kodok besepatu

Tikus berikat kepala

Ya Allah ya Tuhanku

Kapan kudapat jodoh

28.

Howi sah-sah kabolah

Tikirim ti Bengkulu

Sapada haga pindah

Api nyak api niku

Rotan kecil sebelah

Dikirim ke Bengkulu

Siapa yang mau pindah

saya atau kamu

29.

Mojong di pinggir tobing

Ngilunko wai Tiliba

Hujan panas ngaliling

Jak miwang tumpak maha

Duduk di pinggir tebing sungai

Mengikuti arus air ke hilir

Hujan panas mengelilingi

 Dari menangis lalu tertawa

30.

Amon hatimu dinyak

Kok saka kukapandai

Anjuk wai campur minyak

Bayang ga padom posai

Kalau hatimu disaya

Dari dulu kutelah tahu

Seperti air campur minyak

Bayangan akan hilang sendiri

31.

Itik ronik

Bulangai di wai doros

Kabayan lokok ronik

Makkung pacak bupulos

Itik kecil

Berenang di air deras

Pengantin masih kecil

Belum bisa bersanggul

32.

Katutu mandu padu

Bupawai di galigih

Sikola kok haga radu

Ganta nyak kok haga milih

Perkutut manggut-manggut

Berjemur di ranting bambu

Sekolah sudah hampir selesai

Sekarang saya mau milih

33.

Alang pandaimu tupai

Caramu nobuk nyiwi

Alang pandaimu kiyai

Caramu nyopok murli

 

Alangkah pandaimu tupai

Caramu melubangi kelapa

Alangkah pandaimu kakak

Caramu mencari gadis

34.

Sai pitu sai walu

Hitungan lima bolas

Niku mak haga radu

Dunia lokok luas

Yang tujuh yang delapan

Hitungan lima belas

Kamu tidak mau sudah

Dunia masih lebar

35.

Sai pitu rik sai walu

Bilangan lima bolas

Nyak makkung mikirko niku

Nyak mikirko cakak kolas

Yang tujuh yang delapan

Hitungan lima belas

Aku belum memikirkan kamu

Aku memikirkan naik kelas

36.

Buah lamasa puluk gitohna

Buah kapuk warnana handak

Nyak nanya pai sapa golarna

Nyak haga bak du ia lagak

Buah nangka lengket getahnya

Buah kapuk warnanya putih

Aku tanya dulu siapa namanya

Aku mau karena dia tampan

37.

Kuak-kuak di lobak

Betutu  batang hari

Dang miwang niku Jambak

Ubakmu lapah haji

Suara burung di lebak

Ikan betutu di sungai

Jangan menangis kamu, Jambak

Bapakmu pergi haji

38.

Sikam nom sikam pitu

Nasak tolu ngacanting

Pak tongah tiliyu

Taka kincingna rawing

Kami berenam kami bertujuh

Masak tiga kaleng susu

Paman pertengahan lewat

Serta periuknya pecah

39.

Haga di wai di wai dapai

Pangkalan laju mandi

Haga nadai nadaida pai

Mari mak nyolsol lagi

Mau ke sungai ke sungailah dulu

Pangkalan terus mandi

Mau pacaran-pacaranlah dulu

Supaya tidak menyesal lagi

40.

Nyak amit niku kantur

Pasiban najin sosat

Najin kita titabur

Howi sai dang pogat

Aku pergi meninggalkan sekolah

Menuju ke pertemuan

Walau kita berpisah

Rotan satu jangan putus

41.

Bunga cempaka handak

Ina kok haga layu

Ganta tinggalkoda nyak

Mak buguna di niku

 

Bunga cempaka putih

Itu sudah hampir layu

Sekarang tinggalkan saya

Tidak berguna denganmu

42.

Lapah-lapah bumotor

Lapahna ngambai-ambai

mon haga jadi pintor

Sikolah dang rabai-rabai

Jalan-jalan bermotor

Jalannya berombongan

Kalau mau jadi pintar

Sekolah jangan takut-takut

43.

Lading-lading kucangking

Sumadi mak sibosi

Parawatin tiladin

Sumadi mak ngalaki

Pisau-pisau kujinjing

Daripada tidak punya pisau

Bapak-bapak dilayani

Daripada tidak punya suami

44.

Garincing bunyi paku

Tumpak tipotak guk luwah garang

Kusolik layon niku

Ngahumpas laju miwang

Gemerincing bunyi paku

Langsung terpental ke teras

Kulihat bukan kamu

Membanting badan lalu menangis

45.

Amon wat rama-rama

Labuh di batang jambu

Malaikat ku yonna

Haga singga rindu niku

Kalo ada kupu-kupu

Hinggap di dahan jambu

Pujaankulah itu

 

Mau singgah rindu kamu 

46.

Cakak jurambah loli

Pangatinganna kok burak

Wat dilom mimpi

Niku ga ninggalko nyak

Naik jembatan berayun

Pegangannya sudah buruk

Ada terlintas dalam mimpi

Kamu akan meninggalkanku

47.

Wai balak watak paha

Ngahanyukko roba buluh

Lohotku di mantuha

Kirim pai iwak ngoluh

Air besar setinggi paha

Menghanyutkan sampah bambu

Pesanku di mertua

Kirim dulu ikan asin

48.

Wai balak watak paha

Nga hanyukko roba buluh

Lohotku di mantuha

Mulang-mulang di tiuh

Air besar setinggi paha

Menghanyutkan sampah bambu

Pesanku di mertua

Sering-sering pulang ke kampung

49.

Lapah-lapah ti darak

Paliak karangjang burak

Pangasaku ngolap nyak

Bokahna  nguikui kurak

 

Jalan-jalan ke darat

Terlihat keranjang buruk

Perasaanku manggil saya

Rupanya menggaruk kurap

50.

Kuruk masigit manom

Masolah bulung nyiwi

Di uwai niku kosolom

Di apui kucamburi

Masuk masjid gelap

Sajadah daun kelapa

Di air kamu keselami

Di api kuceburi

51.

Hujan kodok di hulu

Halipu kumarayap

Mak haga niku radu

Mak munih ga kuharap

Hujan lebat di hulu

Keong banyak merayap

Tidak mau kamu sudah

Tidak pula kuharap

52.

Amon tuha sinomai

Lokok pacak titanom

Amon tuha meranai

Diliyak murli liyom

Kalau tua bibit padi

Masih bisa ditanam

Kalau sudah tua bujang

dilihat gadis malu

53.

Bunga cempaka handak

Ina kok haga layu

Ganta tinggalkoda nyak

Mak beguna di niku

Bunga cempaka putih

Itu hendak layu

Sekarang tinggalkanlah aku

Tidak berguna padamu

54.

Tinggal kas tinggal bokas

Tinggal utian-utian

Di badan mak ongkah kas

Di hati paraduan

Tinggal bekas tinggal bekas

Tinggal ingat-ingatan

Di  badan tidak ada bekas

Di hati tertanam

55.

Cabi cungak mak lalak

Timboli jak kalangan

Bak api hatiku cugak

Bak adik mak ongka kalioman

Cabai rawit tidak pedas

Dibeli dari kalangan

Mengapa hatiku kecewa

Karena adik tidak punya perasaan malu

56.

Nyak amak ti Mangulok

Nyak haga ti Rasuan

Nyak mak haga meranai tulok

Ga ngumung kacah tuilan

Saya tidak mau ke Mangulak

Saya mau ke Rasuan

Saya tidak mau bujang yang tuli

Tiap bicara selalu mau dicolek

57.

Sembahyang di pinggir wai

Sujud di lambung batu

Tuhan hoda sai pandai

Wat niatku di  niku

 

Sembahyang di pinggir sungai

Sujud di atas batu

Tuhan tula yang pandai

Ada niatku denganmu

58.

Sa sa salopa

Salopa bawak joring

Mintah nyak maha-maha

Pangasamu nyak goring

Ini wadah tembakau

Wadah tembakau dari kulit jengkol

Mentang saya tersenyum

Perasaanmu saya senang

59.

Ngawil di uncuk roba

Umpannya karing-karing

Manjau di murli tuha

Kalapahna nyang giring

Mancing ikan di ujung kayu

Umpannya ikan asin

Mengunjungi di gadis tua

Jalannya miring-miring

60.

Lapah-lapah di jerambah

Pahalu meranai tolu

Sai holauna di tongah

Sayangna mak juduh

Jalan-jalan di jembatan

Bertemu bujang tiga

Yang tampannya di tengah

Sayangnya tidak jodoh

 

 

2) Pantun Tua

Selain pantun muda tersebut, dari hasil penginventarisasian yang telah dilakukan terhadap pantun rakyat Komering juga ditemukan jenis pantun yang digunakan oleh para orang tua baik yang berupa nasihat mapun agama atau yang dikenal dengan jenis pantun tua. Pantun-pantun tersebut adalah sebagai berikut.

 

 

 

No.

 

Bahasa Derah

 

Bahasa Indonesia

61.

Masak-masak da punti

Paronti angguai bingka

Masak-masak da bujudi

Urung mak kuruk neraka

Masak-masaklah pisang

Dapat dibuat kue

Masak-masaklah berjudi

Tidak urung masuk neraka

62.

Alang polik du hati

Nginang sanak puhiwang

Kanianna kok roti

Lokok haga kampolang

Alangkah peliknya hati

Mengasuh anak mudah menangis

Makanannya sudah ada roti

Masih mau kemplang (kerupuk)

63.

Sembahyang harani Jumat

Kapal torbang tiliu

Amon niku umat Nabi Muhammad

Sembahyang lima waktu

 

Sembahyang hari Jumat

Kapal terbang lewat

Kalau kamu umat Nabi Muhammad

Sembahyang lima waktu

64.

Harani sija harani Jumat

Kapal terbang tiliu

Amon ingok Nabi Muhammad

Gawiko sembahyang lima waktu

Hari ini hari Jumat

Kapal terbang lewat

Kalau ingat Nabi Muhammad

Kerjakan sembahyang lima waktu

65.

Jakpa ratongna lintah

Jak huma rogoh ruk kali

Jakpa ratongna perintah

Jak Alloh rogoh ruk Nabi

Darimana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Darimana datangnya perintah

Dari Allah turun ke nabi

66.

Kartutu mandu pandu

Dunggak batang langkupa

Dunia butambah maju

Sayang badan kok tuha

Perkutut mangut-manggut

Di atas batang jambu bol

Dunia bertambah maju

Sayang badan sudah tua

67.

Amon ga ngali lawas

Adaiya tambilang bosi

Amon haga cakak kolas

Dang galak disaingi

Kalau mau menggali laos

Ini dia linggis besi

Kalau mau naik kelas

Jangan mau di saingi

68.

Baju handak kancing pak

Baju halom kancing nom

Handakmu nyak mak mirak

Halomku nyak mak liom

Baju putih berkancing empat

Baju hitam berkancing enam

Putihmu aku tidak ingin

Hitamku aku tidak malu

69.

Riyang-riyang di pulau

Sarati turun mandi

Mak ongka guna holau

Amon jahat perangi

Riyang-riyang di pulau

Itik serati pergi mandi

Tidak ada guna cantik

Kalau jahat perangai

70.

Kartutu mandu pandu

Bupawai di galigih

Gawi sikam kok radu

Ngucapko turima kasih

Perkutut manggut-manggut

Berjemur di ranting bambu

Kerja kami suda selesai

Diucapkan terima kasih

71.

Bak api niku moguk

Api sai dipoguki

Bagianmuna kok tungguk

Mak pacak nyolsol lagi

 

Mengapa kau termenung

Apa yang direnungkan

Bagianmu sudah sampai

Tidak bisa menyesal lagi

72.

Tiliba pai guk Pulimbang

Mari niku mak bingung

Nyopok pengalaman dang maralang

Rugi pai mari untung

Pergi dulu ke Palembang

Supaya kamu tidak bingung

Mencari pengalaman jangan tanggung

Rugi dulu baru untung

 

Di antara jenis pantun tua yang ditemukan. ada yang berupa kisah atau cerita. Di daerah tersebut dikenal dengan “pangisah”. Pantun tersebut saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan membentuk suatu cerita. Contoh yang ditemukan se-bagai berikut.

 

 

No.

 

Bahasa Derah

 

Bahasa Indonesia

73.

 

 

 

 

74.

 

 

 

 

75.

Amon ngitung ko irak

Mirak iyot di rami

Anying hati ku cugak

Di tunggu jas bahari

 

Kucikanna bupak-pak

Anying mak ongka aji

Dipa galahna togak

Sapisir mak wat ngisi

 

Kancing na kancing kawak

Cak pulimbang na peniti

Lapahna ngakak akak

Maklum mak ulah tirami

Jikalau mikirkan kemauan

Kepingin ikut keramaian

Tapi hati ku kecewa

Cuma punya jas bahari

 

Sakunya berempat-empat

Tapi tidak ada arti

Yang mana kerahnya tegak

Sesenpun tak punya isi( duit)

 

Kancingnya kancing kawat

Kata orang Palembang peniti

Jalannya celingak-celinguk

Maklum tidak pernah ke tempat ramai

76.

 

 

 

 

77.

 

 

 

 

78.

 

 

 

 

79.

 

Bunyina jak nga huma

Anying mak mongsa pari

Bagi hulun sai mongsa

Kok bola ti juali

 

Alang nomon budaya

Alang puas bu boli

Pangintangan mak ongka

Najin wat mak mada’i

 

Tiap pagi ho ngopi

Mamis na layon gula

Mih nuang ko tangguli

Kanian punti ngura

 

Ompai ga tomu hati

Anying nanna jadida

Asak tanihi ngisi

Cerita nya dari besawah

Tetapi tidak dapat padi

Bagi orang yang dapat

Sudah habis dijuali

 

Alangkah seringnya berupaya

Alangkah seringnya belanja

Mata pencaharian tak ada

Walaupun ada tapi tidak memadai

 

Setiap paginya ngopi

Manisnya bukan gula

Hanya menuangkan cairan gula

Makanan pisang muda

 

Baru mau mulai besar

Tetapi nya jadila

Asal perut berisi

80.

 

 

 

 

81.

 

 

 

 

82.

Nyak lapah di huma

Ngusung bubu rua

Kupasangko kona

Kona botuk rua

 

Kupanggang ia bangik

Tiguring sor hingan

Sayangna mih cutik

Kurang-kurangan

 

Ga nasak mak si bias

Ga mawai mak si pari

Badan bolah bak agas

Kalambu mak kaboli

Aku pergi ke sawah

Membawa bubu dua

Kupasangkan kena

Kena ikan betok dua

 

Kupanggang ia enak

Digoreng apalagi

Sayangnya Cuma sedikit

Kekurangan

 

Mau masak tidak ada beras

Mau menjemur tidak ada padi

Badan habis oleh nyamuk

Kelambu tidak terbeli

 

 

3) Pantun Anak-anak

Di samping pantun tua dan pantun muda yang telah ditemukan, juga terdapat beberapa pantun anak-anak, yaitu sebagai berikut.

 

No.

 

Bahasa Derah

 

Bahasa Indonesia

83.

Amon haga ti Pulimbang

Cakak da mobil pagi

Kita murid dangkung mulang

Amon mak jam satu donti

Kalau mau ke Palembang

Naiklah mobil pagi

Kita murid jangan dulu pulang

Kalau tidak jam satu nanti

84.

Lapah kalangan amboli modu

Modu tiinum manis rasana

Amon mojong mapah dagu

Cubada torka api golarna

Pergi ke pasar membeli madu

Madu diminum manis rasanya

Kalau duduk bertopang dagu

Cobalah terka apa namanya

 

2.2 Pemakaian Pantun

 

Wilayah pemakaian pantun tersebut adalah di daerah pesisir sungai komering.  

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Komering dialek Kangkung. Penggunaan pantun-pantun tersebut adalah sebagai berikut.

1)  Pemakaian pantun muda.

 

Pantun muda digunakan pada saat pertemuan antar muda-mudi.  yaitu dalam acara menjelang perkawinan, yang lebih dikenal dengan acara “ningkuk’ untuk wilayah daerah sekitar tersebut.. Para muda-mudi berkumpul di suatu acara khusus yang diadakan pada malam hari hingga pagi, Pada acara ini para muda-mudi mengungkapkan perasaan hatinya kepada orang yang disukainya. Pada umumnya pantun ditulis terlebih yang ditujukan kepada seseorang, lalu akan dibacakan atau diberikan langsung kepada siapa yang dituju. Acara ini biasa digunakan oleh para muda-mudi dalam mencari pasangan. 

Cara menggunakannya, saling bersahutan antara yang satu dan yang lain yang sudah berkumpul dengan diiringi terbangan (rebana). Terbangan dibunyikan secara bergantian oleh pihak pemudi atau pemuda ketika sedang tidak berpantun. Misalnya dari pihak pemudi ada yang sedang berpantun maka pihak pemudanya membunyikan terbangan sambil mendengarkan pantun.

Fungsi pantun-pantun tersebut selain untuk meramaikan acara pada malam hari (menghibur), juga berfungsi sebagai pengungkap perasaan para muda-mudi baik perasaan cinta, sedih, maupun gembira. Sebagai penutup acara, dituturkanlah pantun-pantun perpisahan, diantaranya yang telah penyusun tuliskan pada bagian pantun di atas.


2). Pemakaian pantun tua

Tidak seperti pantun-pantun sebelumnya, pantun tua tidak digunakan secara bersahutan. Pantun ini hanya digunakan oleh para orang tua kepada anaknya atau orang lain ketika pada acara perkawinan, misalnya dalam acara nyelimut (cacap-cacapan atau suap-suapan) dan ketika akan melepaskan kepergian anaknya atau orang lain yang dikenalnya.

Sesuai dengan isi dan maksudnya, yaitu berisi nasihat, adat, dan agama, pantun ini pada umumnya berfungsi untuk memberikan nasihat, walaupun pantun tersebut merupakan jenis pantun adat, agama, ataupun sindiran.

            Khusus pantun yang berupa kisahan “Pangisah”, digunakan pada waktu keramaian, persedekahan yang dimainkan oleh orang dewasa, sembari bermain terbangan yang disebut dengan istilah Hadara Mumbai.  Maksud dari inti pantun hanya untuk humor atau guyon yang menceritakan misalnya cerita  kesulitan atau keadaan  seseorang. Pantun ini juga sering digunakan dalam beradu pantun antara satu dusun dengan dusun yang lain atau malah antardaerah dengan daerah yang lain masih dalam wilayah Komering. Melihat banyaknya pantun yang berupa kisahan ini, dan belum terkumpul semuanya, untuk itu penyusun buat khusus kedalam kumpulan pantun yang berupa kisahan (dalam kelompok inventarisasi yang terpisah).

 

 

3). Pemakaian pantun anak-anak

Pantun anak-anak digunakan pada waktu mereka sedang bermain baik pada siang maupun malam hari (malam bulan purnama).

Seperti halnya pantun muda, pantun anak-anak ini juga digunkan secara ber-sahutan anatara anak-anak itu sendiri. Pantun yang sering mereka gunakan adalah teka-teki. Sambil bermain atau ketika sedang berkumpul bersama, mereka melontarkan pantun teka-teki tersebut dengan teman-temannya, kemudian yang lain mencoba untuk menebak dan menjawabnya.

Fungsi pantun-pantun tersebut hanyalah sebagai hiburan dan permainan bagi anak-anak.

 





 

 

 

 

 

 

3. PENUTUP

 

 

 

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penginventarisasian pantun di Daerah Komering, khususnya di Desa Kangkung-Sukanegeri, dapat disimpulkan bahwa di daerah tersebut masih  banyak terdapat pantun-pantun sebagai salah satu budaya masyarakat daerah tersebut.

Pantun itu dapat digolongkan ke dalam pantun muda, pantun tua, dan pantun anak-anak seperti penggolongan pantun dalam karya sastra pada umumnya. Isi dan maksud pantun muda kebanyakan berisi percintaan, duka cita, dan perpisahan. Pantun tua banyak berisi nasihat sedangkan pantun anak-anak berisi teka-teki.

Pemakaian pantun saat ini mulai berkurang. Pantun hanya digunakan di saat menjelang ada acara pernikahan untuk muda-mudi yang dikenal dengan acara ningkuk dan di kalangan orang tua hanya di saat adanya keramaian/persedekahan, di saat memberi nasihat kepada sanak keluarga atau sebagai hiburan dengan diiringi musik-terbangan. Sedangkan pantun anak-anak digunakan hanya diwaktu mereka bermain, bersenda gurau sesama mereka.

 

 

3.2 Saran

Penginvetarisasian sasta daerah bertujuan untuk melestarikan warisan budaya daerah itu sendiri. Diharapkan di masa-masa yang akan datang, penginvetarisasian terhadap sastra daerah dapat terus dilakukan secara berkesinambungan, sehingga sastra daerah itu tidak akan punah.

 

 

 

 

 

 

 

 

IDENTITAS INFORMAN

 

 

  1. Nama                           : Edi Habson

Tempat/tanggal lahir   : Palembang,  30 Mei  1961

Alamat                                    : Desa Kangkung, Kecamatan Semendawai Barat

                                      Kabupaten OKU Timur

Agama                         : Islam

Status                          : Guru di MTsN Kangkung

 

  1. Nama                           : Ismail

Tempat/tanggal lahir   : Kangkung, 1923

Alamat                                    : Desa Kangkung, Kecamatan Semendawai Barat

                                      Kabupaten OKU Timur

Agama                         : Islam

Status                          : Pensiunan Pertamina Plaju-Palembang



PDF | DOC | DOCX


Komentar:


belum ada komentar...


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion