Teori Belajar Konstruktivisme

Kategori: Teori Belajar dan Pembelajaran
Diposting oleh NurulB pada Selasa, 24 Mei 2011
[3009 Dibaca] [1 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

1.  Teori Konstruktivisme

Salah satu prinsip yang terpenting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus dapat membangun pengetahuan didalam benaknya. Peran guru disini adalah sebagai menciptakan cara mengajar yang mampu membuat informasi yang disampaikan menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa untuk menuangkan ide-idenya. Intinya guru sebagai motivator dalam pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan diatas, sebenarnya sudah terjadi revolusi di dalam psikologi pendidikan. revolosi itu terjadi karena telah munculnya teori konstruktivistik. Menurut Brooks dalam Slavin (2000:256) mengatakan “’ the essence of contructivist theory is the idea that learners must individually discover and transform complek information if they are to make it their own.

Menurut Von Glasersfeld dalam Suparno (1997) “Kontruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita konstruksi (bentukan) kita sendiri’. Hal ini berarti bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan yang ada. Tetapi pengetahuan merupakan akibat dari suatu kunstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang. Dalam kontruktivis menyatakan bahwa semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri, maka mereka menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada yang lain bahkan secara prinsipil.

Menurut Slavin (2000:256) contructivist theories of learning, theories that state that state that learners must individually discover and transform complekkx information, cheking new information against old rules and revising rules when they no longer work.

Jadi teori konstruktivis adalah teori yang menyatakan bahwa perolehan pengetahuan atas bentukan sendiri dari pebelajar untuk menjadi miliknya dan mentransfer informasi secara komplek menjadi sederhana bermakna, agar menjadi miliknya sendiri

2.      Sejarah Kontruktivisme

Konstruktivis lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam memahami informasi-informasi baru.

Pembelajaran sosial ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky. Menurut Karpov dan Bransford dalam Slavin (2000) yang digunkakan dalam menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek dan penemuan.

Empat kunci yang diturunkan dari teori ini adalah pertama, penekanannya pada hakikat sosial dari pembelajaran yaitu siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Kedua, zona perkembangan terdekat atau zone of proximal development yaitu bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. ketiga, pemagangan kognitif atau cognitife apprenticeship yaitu proses dimana seseorang tahap demi tahap berkesepakatan dalam belajar dengan seseorang apakah seorang yang dewasa atau teman sebaya yang lebih tinggi. Dan yang keempat adalah scaffolding atau mediated learning yaitu siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks sulit, dan realistic dan kemudian diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugasnya .

3.  Prinsip dan karakteristik Belajar Konstruktivis

Dalam teori belajar konstruktivistik (Brooks, 1990. Slavin,2000) ciri khas belajar kontruktivis adalah pebelajar harus secara individual menemukan dan mengubah informasi yang kompleks menjadi sederhana bermakna, agar menjadi miliknya sendiri. Teori ini berpendapat bahwa pebelajar selalu membandingkan informasi yang satu dengan informasi yang lain jika tidak cocok ia berupaya untuk mengubahnya agar sesuai dengan skemanya. Jadi pebelajar bersifat konstruktif, artinya membangun makna, pemahaman dari bermacam-macam informasi pengertian konstruktif dapat digambarkan sebagai proses berpikir pada saat terjadinya penemuan ilmiah, pemecahan masalah, menciptakan sesuatu, kegiatan tersebut melibatkan eksplorasi, eksperimentasi, kreatifitas, ketekunan, kesabaran, rasa ingin tahu, dan kerjasama. Pandangan ini mempunyai implementasi yang sangat besar untuk pembelajaran karena mendorong pebelajar berperan lebih aktif dalam belajarnya.

Suparno (1997) mengidentifikasi 4 prinsip kontruktivis dalam belajar yakni sebagai berikut; (1) pengetahuan dibangun oleh mahasiswa sendiri baik secara personal maupun sosial, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkanb dari pebelajar kepada pebelajar, kecuali dengan keaktifan mahasiswa itu sendiri untuk menalar, (3) pengajar sekedar membantu pebelajar dengan menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi pebelajar berlangsung secara efektif dan efisien.

Implikasi prinsip-prinsip belajar tersebut dalam proses pembelajaran diantaranya bahwa mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pembelajar kepada pebelajar, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan pebelajar membangun sendiri pengetahuannya sendiri, mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi

Sedangkan Slavin (1997) mengidentifikasi 4 karakteristik belajar dengan pendekatan konstruksi yaitu : (1) Proses Top-Down, yang berarti bahwa siswa mulai dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dan selanjutnya memecahkan atau menemukan (dengan bantuan guru) ketrampilan-ketrampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh siswa dapat diminta untuk menuliskan suatu susunan kalimat, dan baru kemudian belajar tentang mengeja, tata bahasa, dan tanda baca. (2) pembelajaran kooperatif yaitu siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temanya. (3) Generative learning (pembelajaran generatif) yaitu belajar itu ditemukan meskipun apabila kita menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka harus melakukan operasi mental dengan informasi itu untuk membuat informasi masuk kedalam pemahaman mereka. (4) pembelajaran dengan penemuan yaitu, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang mmungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

4. Pembelajaran Menurut Konsep Kontruktivisme

Menurut konsep kontruktivisme, pengetahuan seseorang bersifat temporer, terus berkembang, terbentuk dengan mediasi masyarakat dan budaya. Pengetahuan itu tidak pernah berhenti berkembang. Pengetahuan dalam diri seseorang terbentuk ketika seseorang mengalami tempaan kognitif. Melalui persepektif ini belajar dapat dipahami sebagai proses terbentuknya konflik kognitif yang bergulir dengan sendirinya dalam diri seseorang ketika yang bersangkutan memperoleh pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan kegiatan melakukan refleksi.

Para pendidik yang telah mencoba mewujudkan paradigma konstruktivisme didalam kelas kemudian mendiskripsikan prinsip-prinsip pembelajaran berdasarkan paradigma tersebut. Catherine Twomey Fosnot, ketika memberikan pengantarnya untuk buku berjudul “ In Search of Understanding the Case for Contructivist Classroom” karya Grennon Brooks dan Brooks (1993) mengformulasikan 5 prinsip belajar menurut paradigma konstruktivisme yang satu dengan yang lain berjalin berkelindan, yaitu: (1) menghadapkan peserta didik kepada problem yang saling berkaitan; (2) membuat struktur pembelajaran lewat konsep pokok dan disekitar pikiran dasarnya; (3) mendorong dan menghargai munculnya pandangan dari dalam diri peserta didik ; (4) kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan dan kemauan peserta didik, dan (5) selalu menilai kemajuan peserta didik melalui konteks pembelajaran. Kelima prinsip akan menjadi subur didalam kelas apabila guru dengan iklas menerima dan mendorong tumbuhnya otonomi dalam diri siswa, data mentah hasil belajar dan sumber utama rekaman hasil belajar lainnya dijadikan dasar untuk meneliti kemajuan belajar siswa. Kelas akan menjadi hidup dan suasana kelas kontruktivisme akan mendapatkan lahan yang subur apabila guru menerima dengan lapang dada terbuka dan memberikan tempat terhadap munculnya pikiran siswa, rasa ingin tahu, keinginan meneliti, dialog guru siswa dan siswa-siswa, serta keberanian mempersoalkan sesuatu yang belum jelas.

Driver dan Oldham dalam suparno (1997) menyatakan beberapa ciri mengajar kontruktivis, sebagai berikut :

  1. Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topik yang hendak dipelajari.
  2. Elicitasi, murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain. Murid diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa yang diobservasikan, dalam wujud tulisan, gambar, ataupun poster.
  3. Restrukrisasi ide. Dalam hal ini ada 3 hal yaitu; (1) klasifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain/ teman lewat diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seseorang dapat terangsang untuk mengkonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok ; (2) membangun ide baru, ini terjadi bila dlam diskusi itu idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan teman.;(3) mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen, kalau dimungkinkan ada baiknya gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan percobaan atau persoalan yang baru.
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi. Ide atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan dalam banyak situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap, bahkan lebih rinci dengan segala pengecualiannya.
  5. Review, bagaimana ide itu berubah. Dapat terjadi bahwa dalam aplikasi pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, seseorang perlu merevisi gagasannya entah dengan menambah sesuatu, atau mengubahnya menjadi lebih lengkap.

5.   Model Pembelajaran dengan Pendekatan Kontruktivis

Model pembelajaran yang di kembangkan dengan pendekatan Konstruktivistik adalah Model pembelajaran berdasarkan Masalah (Problem based Learning ). Dan pembelajaran kooperatif (cooperative learning).Model pembelajaran ini mencakup pendekatan pembelajaran luas, dan menyeluruh (Areunds ,1997;7)

Model problem based learning meliputi kelompok–kelompok belajar pembelajaran. Bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah di sepakati bersama. Pebelajar menggunakan bermacam-macam keterampilan dan prosedur, pemecahan masalah dan berfikir kritis, dengan demikian modal pembelajaran yang di kembangkan menggunakan sejumlah keterampilan metodologi dan posedural seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan , melakukan penelitian , berdiskusi dan memperdebatkan temuan, bekerja secara kolaboratif , menciptakan suatu karya ,dan melakukan presentasi.

Beberapa alasan yang di jadikan pijakan dalam mengembangkan model pembelajaran ini, yakni (1) rasional, teorik yang logis yang di susun oleh para pengembang (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana pebelajar belajar (3) tingkah laku mengajar yang di perlukan agar tujuan pebelajaran dapat tercapai. Dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

Karakteristik pengembangan model pembelajaran berdasarkan masalah (PBM) dan pembelajaan kooperatif (PK).

 

Tabel 2

Perbedaan pembelajaran Berdasarkan Masalah dan Kooperatif

Ciri-ciri

Pembelajaran berdasarkan masalah

Pembelajaran kooperatif

Landasan teori

Teori belajar kognitif, teori kontruktivis

Teori belajar Sosial, Teori Kontruktivis

Pengembang Teori

Dewey, Vygotsky, Piaget

Dewey, vygotsky, Slavin, Piaget

Hasil Belajar

Ketrampilan akademik dan inkuiri

Ketrampilan akademik dan sosial

Ciri Pembelajaran

Proyek berdasarkan inkuiri yang dikerjakan dalam kelompok/ individu

Fleksibel, demokratis berpusat pada pebelajar

Berdasarkan tabel tersebut model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif dilandasi teori belajar kontruktivisme :

  1. Berpandangan bahwa pembelajaran perlu dimulai dari permasalahan nyata yang pemecahannya memerlukan kerjasama kolaborasi diantara pebelajar.
  2. memandang peran pebelajar sebagai pemandu pebelajar dalam merinci rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan yang dapat dilakukan oleh pebelajar .
  3. kemudian memandu bagaimana menggunakan keterampilan dan strategi yang diperlukan agar tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan .
  4. bergantung pada mempertahankan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan.

a.       Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning)

Menurut Resick dan Glaser dalam Bell gredler (1991:257) masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemukannya diwaktu sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk memenuhi atau mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang seharusnya.

Pemecahan masalah adalah suatu proses menemukan suatu respon yang tepat terhadap suatu situasi yang benar-benar unik dan baru bagi pemecahan masalah. Kemampuan memecahkan masalah adalah salah satu bentuk kemampuan tingkat tinggi dan hierarki belajar (Dahar. 1988). Dalam pengembangan pembelajaran ini pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses atau upaya untuk mendapatkan suatu penyeleseian tugas atau situasi yang benar-benar sebagai masalah dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah diketahui.

Model pembelajaran berdasarkan masalah menurut Areund (1997:157) penggunaannya didalam pengembangan tingkat berpikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah termasuk pembelajaran bagaimana belajar. Model pembelajaran ini juga mengacu kepada pembelajaran –pembelajaran lain. Seperti pengajaran berdasarkan proyek (proyek base Instruction). Pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience base instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna pada pembelajaran ini pebelajar berperan mengajukan permasalahan atau pertanyaan memberikan dorongan, memotivasi dan menyediakan bahan ajar, dan fasilitas yang diperlukan pebelajar. Selain itu pebelajar memberikan dukungan dalam upaya meningkatkan temuan dan perkembangan intelektual pebelajar.

Pembelajaran ini banyak menumbuhkembangkan kreatifitas belajar, baik secara individual maupun secara kelompok hampir setiap langkah menuntut keaktifan pebelajar, sedangkan peranan pebelajar lebih banyak sebagai stimuli ,membimbing kegiatan pebelajar, dan menentukan arah apa yang harus dilakukan oleh pebelajar.

Beberapa kelebihan dalam pembelajaran ini adalah;

  1. Pebelajar lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut.
  2. Melibatkan secara aktif memecahkan maslah dan menuntut ketrampilan berfikir pebelajar yang lebih tinggi
  3. Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki pebelajar sehingga pembelajaran bermakna.
  4. Pembelajar dapat merasakan manfaat pembelajaran sebab masalah-masalah yang diseleseikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan pebelajar terhadap bahan yang dipelajari.
  5. Menjadikan pebelajar lebih mandiri dan dewasa mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif diantara pebelajar.
  6. Pengkondisian pebelajar dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajaran dan temuannya sehingga pencapaian kesempatan belajar pebelajar dapat diharapkan.

Karakteristik pembelajaran berdasarkan masalah menurut Areunds Richards adalah

  1. Pengajuan pertanyaan / masalah
  2. Keterkaitan dengan didiplin ilmu lain
  3. Menyelidiki autentik
  4. Memamerkan hasil kerja
  5. Kolaborasi.

Menurut Ibrahim (2002) dalam buku pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.

Tabel 3: Sintaks PBM adalah sebagai berikut :

Fase-fase

Perilaku pendidik

Fase 1 : memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada peserta didik.

Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.

Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti

Pendidik membantu peserta didik mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan permasalahannya.

Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan kelompok

Pendidik mendorong peserta didik untuk mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari penjelasan dan solusi.

Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit

Pendidik membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

Pendidik membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.

                                                                                    Ibrahim.(2002)

David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :

  1. Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
  2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
  3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
  4. Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
  5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)

Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :

Tabel 4: Tahapan Penyelesaian Masalah

Tahap-tahap

Kemampuan yang diperlukan

Merumuskan masalah

Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas

Menelaah masalah

Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari beberapa sudut.

Merumuskan hipotesis

Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif penyelesaian.

Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis

Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, dan table.

Pembuktian hipotesis

Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan.

Menentukan pilihan penyelesaian

Kecakapan membuat alternative penyelesaian
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.

                                                                               

Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil.

Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya. 

b. Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian

Menurut Slavin (2000) Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil. Banyak terdapat pendekatan kooperatif yang berbeda satu dengan yang lain.

Aktivitas pembelajaran kooperatif dapat memainkan banyak peran dalam pembelajaran. Didalam satu pelajaran tertentu pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk tiga tujuan yang berbeda. Misalnya saja dalam pelajaran matematika para siswa bekerja sebagai kelompok-kelompok yang sedang berupaya menemukan sesuatu (misalnya saling membantu mengungkap bagaimana memecahkan soal pecahan), setelah jam pelajaran yang resmi terjadwal itu habis, siswa dapat bekerja sebagai kelompok-kelompok diskusi. Akhirnya, siswa mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala sesuatu tentang pelajaran tersebut dalam persiapan untuk kuis, bekerja dalam suatu format belajar kelompok. 

2.  Metode-metode Pembelajaran Kooperatif

Telah dikembangkan dan diteliti berbagai macam metode pembelajaran kooperatif yang amat berbeda dengan yang lainnya. Metode pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini diterapkan tipe jigsaw, namun tidak ada salahnya kita akan membahas beberapa metode pembelajaran kooperatif lain yang paling ekstensif, dievaluasi dan dideskripsikan adalah sebagai berikut :

a)            Cooperative Jigsaw, guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kecil yang terdiri dari 4 – 5 orang siswa dengan kemampuan yang heterogen, yang disebut kelompok asal atau kelompok induk (home group), sehingga setiap siswa bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap subtopic yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok asal yang bertanggungjawab terhadap subtopic yang sama berkumpul membentuk kelompok yang disebut kelompok ahli (expert group), siswa-siswa dalam kelompok ini bekerjasama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya, dan siswa pada kelompok ahli membubarkan diri dan kembali ke kelompok asal, maka siswa tersebut sebagai ahli dalam subtopic bagiannya dan mengajarkan informasi penting dari subtopic tersebut kepada temannya di kelompok asal.

b)            Student Teams- Achievement Division (STAD), dalam STAD (Slavin, 2000), siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang ( tidak terlalu besar). Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggotanya menguasai pelajaran itu. Selanjutnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu, pada waktu kuis ini mereka tidak boleh saling bantu. Kontribusi siswa terhadap prestasi kelompok dinilai dari peningkatan performansi murid itu sendiri tanpa dibandingkan dengan murid-murud lain.

c)       Team-Games Tournaments (TGT), guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi bahan ajar yang sama. guru juga harus bisa mengkondisikan kelas kedalam suasana berkompetisi. Kelompok mana yang menyelesaikan tugas dengan baik benar mendapat poin. Kemenangan kelompok ditentukan oleh besarnya poin yang mereka raih.

d)       Team Assisted Individualization (TAI), kegiatannya hampir sama dengan STAD. Perbedaannya terletak pada ketidaksamaan bahan pelajarannya pada masing-masing kelompok.

e)        \Cooperative Integrated Reading and composition (CIRC). CIRC adalah meliputi program pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar dan sekolah lanjutan.

3.  Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Menurut Areunds (1997) terdapat enam tahap utama dalam belajar kooperatif. Keenam tahapan tersebut dapat disajikan sebagai berikut:

Tahap 1 Pemberian informasi tujuan belajar

Tahap2 Analisis masalah guna mencapai maksud pembelajaran sebagaimana dimaksud tahap 1 dalam hal ini pembelajar dapat mengunakan metode demonstrasi

Tahap 3 Pembentukan atau mengatur pembelajar dalam team belajar

Tahap 4 Team belajar bekerja/ melakukan belajar secara kooperatif

Tahap 5 Penyajian hasil kerja team/ unjuk kerja team

Tahap 6 Pemberian masukan dan penghargaan atas prestasi dan usaha individual maupun kelompok.

Menurut Ibrahim (2002) dalam buku pembelajaran kooperatif, strategi pembelajaran kooperatif terdiri dari 6 fase atau langkah.

            Tabel 5: Sintaks / Langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase-fase

Perilaku pendidik

Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Pendidik menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2 : menyajikan informasi

Pendidik menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi/presentasi menggunakan multimedia atau lewat worksheet/LKS yang dibagikan.

Fase 3 : mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar

Pendidik menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok-kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Fase 4 : membimbing kelompok bekerja

Pendidik membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5 : Evaluasi

Pendidik mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau tiap-tiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6 : memberikan penghargaan

Pendidik mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

   

                                                                                                Ibrahim.(2002)

Berdasarkan tahapan ini nampak bahwa dalam pembelajaran kooperatif pembelajar bekerja sama dan saling mempunyai ketergantungan pada tugas-tugas tujuan dan tingkat keberhasilan belajarnya.

Dengan demikian peran pembelajar dalam pembelajaran kooperatif jelas berbeda dengan pembelajaran kelompok tradisional, dalam pembelajaran kelompok tradisional, pembelajar masih dominan dalam pemberian informasi kepada pembelajar yang dalam hal ini cenderung membentuk komunikasi satu arah. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kooperatif, pada pembelajaran kooperatif pembelajar lebih bersifat mengamati pebelajar dengan seksama, pembelajar cenderung sebagai pengelola konflik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Areunds Richards  1997. Classroom Instruction and Managemen. New York

                  ;MC Grew-Hiil’’

 

Bell Gredler, Margaret E. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta:CV.

                  Rajawali

 

Brooks J.G. dan Brooks M.G. 1993. In reseach of Understanding The Case of

                  Instrusional Classroom. Alexandria. Virginia: AECO.

 

Dahar, Ratna Willis. 1988. Teori-Teori Belajar.Jakarta : Erlangga

 

Dimyati, Mohamad. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud Dirjen

                  Dikti.

 

Ibrahim, dkk. 2002. Pembelajaran Kooperatif. University Press: Surabaya

 

Slavin, Robert E. 2000. Educational Psycology: Theory and Practice. USA:

                  Allyn Bacon

 

Slavin, Robert E. 1997. Cooperative learning jigsaw: Theory, Research, and

                  Practice(second edition). USA; Allyn Bacon

 

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta:

                  Kanisius.

 

Suharno, N. (1991). Pengembangan Model Pembelajaran Pemecahan

Masalah Penerapan di Bidang Akuntansi: Desertasi PPS IKIP Malang

 



PDF | DOC | DOCX


Komentar:

11 September 2012 pukul 21:05 WIB
jojo mengatakan...
thks


Kirim Komentar Anda:

Nama Anda (wajib diisi) E-Mail (tidak dipublikasikan) http:// Website, Blog, Facebook, dll (wajib diisi)


<-- isi kode di atas (wajib diisi)

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion